Hanya Berperan

Hanya Berperan
Bab 9. Memulai Peran


__ADS_3

Hari ini aku diperbolehkan pulang, bukan pulang ke rumahku, tetapi pulang ke rumah dia. Ya, aku menyebutnya sebagai suami jadi-jadian. Sungguh, dia selalu ada tapi kehadirannya tidak pernah aku harapkan.


Mamah dan Papah jelas tidak keberatan sama sekalai, mereka malah terlihat bahagia saat aku dibawah pergi oleh pria ini. Mungkin mereka bahagia karena satu beban besar di keluarga berkurang.


"Nanti kabarin mamah ya kalau udah ada bayi di sini?" Ucap mamah seraya mengelus perutku.


"Mamah apa-apaan deh." Aku menampik tangan mamah. Malulah, aku aja belum siap menikah, tidak mungkin ada anak.


Perjalananya jauh, ya, dia tinggal di Bandung sedangkan Mamah dan Papah berada di Jakarta. Ada jarak yang memisahkan aku dan keluargaku. "Aku masih boleh melanjutkan studiku kan?" Tanyaku.


"Tentu."


"Aku boleh hang-out bareng temen-temanku?"


"Boleh."


"Aku boleh nginep di rumah temanku?"


"Boleh."


"Aku boleh ke klub dan minum-minum?"


"Bebas."


"Wah, senang sekali. Apa yang tidak boleh?"


"Perceraian." Jawabnya.


"Ah? Tidak-tidak, aku tetap mengingkan itu." Tukasku.


"Tapi, aku tidak."


"Kenapa?" Aku mengubah posisiku, menghadapnya.


"Ya, karena banyak alasannya." Mengapa dia selalu saja memepersulit satu perkara mudah ya? Aneh.


"Jangan bilang sampai mati aku akan tetap seperti ini." Ujarku penuh kekhawatiran.


"Kau bebas melakuan apapun, tapi ingat dengan statusmu. itu yang menjadi batasanmu dalam bertingkah."


"Itu sama saja dengamu yang mengekangku," Cetusku.


"Tidak." Elaknya.


"Jika aku mengekangmu, tidak kuperbolehkan kau keluar dari rumah. Mau?"


Aku memprotesnya, "Tapi itu menyulitkan. Bagaimana jika  aku menemukan jodohku, lalu kita akan menikah?"


"Ya, itu perkara mudah. Kalian bisa melakukannya tanpa perlu menikah bukan? Seperti yang kau lakukan di klub-   klub malam itu?" Benar-benar di luar nalar mendengar jawabannya.

__ADS_1


"Tidak semudah itu, Bambang. Aku juga mau memiliki kehidupan di masa depan, aku ingin memiliki keluarga yang bahagia meski bukan sekarang. Suami yang mencitaiku, anak-anak, kehidupan yang lengkap." Terangku menjelaskan satu per satu dengan menghitung keinginanku dengan jari tanganku.


Bukannya mengiyakan, dia malah terkekeh. Menertawakan impianku.


"Terlalu jauh ya impianmu? Padahal mudah saja kalau kau mau punya anak, sedangkan suamimu ada di sampingmu." Ujarnya disertai kekehan.


"Kurang ajar! Aku tidak semudah itu, hey!" Kurang ajar mulutnya itu.


"Intinya, selama denganku kau bebas melakukan apapun dengan dua syarat. Saat di depan keluargaku dan media, jadilah istri yang baik."


"Hah? Kita berperan?" Tanyaku.


"Iya."


"Lalu, syarat yang satunya?" Tanyaku lagi.


"Kau tidak boleh hamil dulu." Berkata ia dengan sangat percaya dirinya.


"Gila. Mana mungkin kalau hamil?"


"Mungkin saja, ya itu bisa terjadi jika kau tidak berhati-hati dan kebobolan." Ujarnya yang benar-benar seenak jidat.


"Kurang ajar! Sudah kukatakan, aku tidak semudah dan semurah itu!" Aku memukuli lengannya. Sejak dulu hingga saat ini, sifatnya tidak pernah berubah. Selalu merendahkanku.


"Baiklah. Kalau begitu, aku juga punya syarat." Ucapku.


"Apa?"


"Hm, tergantung."


"Tergantung apa?" Tuntutku. Dengan mudah aku mengiyakan semua persyaratannya. Mengapa dia masih ada syarat di atas syarat?


"Tergantung, apakah itu menyangkut diriku atau tidak. Kalau ada hubungannya denganku, maka aku berhak mencampuri urusanmu." Terangnya.


"Apa-apaan itu?"


"Semua sesuai dengan persyaratan awal, kau harus berperan sebagai istriku yang baik. Jika urusanmu itu mempengaruhi syaratku, maka aku akan ikut campur dan pasti akan melarang-larangmu." Dia menampilan senyuman menjengkelkan yang pernah ada.


"Menyebalkan."


----


Sampai di rumahnya hari sudah mulai gelap, ternyata di rumahnya tidak sepi. Banyak orang dan beramai-ramai orang duduk di sofa.


"Wah, ini dia pengantin yang kita tunggu-tunggu."


"Waduh, mereka tampak berseri-seri ya?"


"Harum sekali, mereka ini. Wah, sepertinya bayinya perempuan."

__ADS_1


Waduh, gawat. Tidak di rumah mamah tidak di sini, semua membahas soal bayi.


Aku menatap ke bawah, tangan kananku seketika tergenggam kuat olehnya. Dia menggenggam tanganku. Dia tersenyum semringah menyauti semua pujian dari orang-orang sekitarnya, sedangkan aku masih belum percaya apa yang dia lakukan saat ini.


"Bahkan saat berperan pun, dia sangat pandai dan tidak terlihat ada keragu-raguan." Ujarku dalam hati.


Tawanya meledak dan terdengar renyah bersamaan dengan candaan yang dilemparkan oleh orang-orang di ruangan ini.


"Bagaimana pendapatmu, Pravita tentang keponakan tante yang brandal ini? Tante harap kamu menyukainya ya?"


"Eh, memangnya sudah melewati malam pertama ya? Kok Pravita masih biasa saja?"


Ujar tante-tante yang saling menggunjingku secara terang-terangan.


"Hahaha, tante bisa aja. Tentu pasti kami menikmatinya, ya kan sayang?" Kini dia menjawabnya, dan disusul dengan kecupan di pelipisku.


Cup.


Hal yang membuatku hampir melepasakan jantungku untuk sesaat. Bisa-bisanya dia melakuan hal yang teramat jauh dalam berperan.


"Ah?" Aku memegang pelipisku, menatapnya, sednagkan dia tersenyum dan mengedipkan satu matanya.


"Benar-benar seorang aktor."


Saat di tengah perbincangan ringan, ada seseorang yang datang dan membisikan sesuatu di antara aku dan laki-laki di sampingku ini."Kak Naufan, kakek ingin bertemu."


"Dimana Kakek?"


"Di atas."Jawab seorang anak laki-laki yang mash berwajah SMP itu.


Tanpa melepaskan genggaman tangannya padaku, dia membawaku untuk mengikuti langkahnya. Meninggalkan semua yang ada di ruangan itu.


"Permisi dulu ya Tan, kakek memanggilku."


"Lho, kok Pravita dibawa?"


"iya, biar sepaket, Kakek juga kan belum melihat cucu menantunya."


Cup. Lagi-lagi dia mengecup kepalaku.


"Hahaha, baiklah-baiklah. Seperti rantai yang selalu terpaut ya." Tante-tante itu menertawakan tingkah konyolnya yang sedikit-sedikit mengecup kepalaku. Seperti tidak ada pekerjaan lain saja.


"Ibumu mana? Aku tidak melihat."


"Sedang ada urusan." Jawabnya acuh dan nada bicaranya berubah, tidak ada senyuman seperti yang dia tunjukkan pad tante-tantenya seperti tadi.


"Aku harap, kau bersikap semanis yang kau bisa di depan kakek."


"Untuk apa kalau kau saja sendiri bisa melakukannya tanpa bantuanku?" Sejak tadi dia hanya berperan semaunya sendiri, tidak ada skrip atau skenario untukku bermain peranku.

__ADS_1


"Ini adalah salah satu misi berperan kita."


__ADS_2