Hanya Berperan

Hanya Berperan
Bab 7. Masa Lalu 4


__ADS_3

"Di lapangan mana? Kenapa sangat sepi?" Tanyaku sendiri. Aku bertanya pada penjaga yang berada di meja resepsionis. Menujukkanku jalan ke lapangan tempat yang aku maksud. Ternyata tidak terlalu jauh.


Ya, aku bisa meliat ada keramaian di sana. Aku bahkan melihat Eliza yang sedang tertawa dengan teman-teman lainnya.


"Kau datang juga?" Eliza menyambut tanganku memintaku duduk di sampingnya dan ternyata mereka sedang memainkan game ToD.


"Kamu ikut ya?" Eliza bertanya padaku, aku menggleng, Tidak suka dengan permainan itu.


"Ikut! Semua yang duduk di sini harus ikut." saut salah satu yang duduk di atas kain karpet beludru ini.


Seketika botol berputar, dan berhenti tepat mengarah padaku. "Yak! Pravita, pilih Truth or Dare?" Ricko bertanya dengan meriah.


"HAHAHA. Baru saja ikut langsung kena!"


"Jawab, Pravita."


"Ayo, kamu mau pilih mana? Truth or Dare?" Eliza menyenggol lenganku.


"Dare saja."


"Dare, guys. Siapa yang mau ngasih dare?"


"Gue, gue!" Rayden mengangkat tanganya"


"Coba lu ajak ketua OSIS kita buat minum bareng."


"Gak!" Tolakku penuh.


"Yah,yah, yah, penonton kecewa."


"Yah gak seru ah, Pravita!"


"Bubar deh, bubar." Semua orang yang duduk menyudutkanku.


"Jangan-jangan kamu gak pernah minum ya?" Rayden bertanya.


"Ya kan ini gak boleh, acara sekolah guys." jawabku.


"hei, ini zona bebas. Percuma dong kalau aku bawa banyak bir, tuh!" Rayden menunjuk beberapa botol di atas meja.

__ADS_1


"Aman, Pravita. Ini semua di bawah kendali kita, guru-guru gak ada yang tahu. Kecuali ya kalau kamu takut buat minum." Eliza memegang pundakku dan berkata seakan mendukung mereka.


"Ayolah, dia nggak pernah minum lho. Makanya aku kasih dare buat kamu, berhasil gak kalau kamu yang ajak." Kata Rayden. Tiba-tiba Rania membawakan dua gelas berisi bir dengan sedikit busa pada gelasnya.


"Ini, ayo." Ujajr Rania memberikan dua gelas itu padaku.


"ayo ayo ayo!" Eliza bertepuk-tepuk tangan dan membuat semua orang di atas karpet beludru ini menyorakiku untuk menerima tantangan dari Rayden.


Mau tidak mau aku berdiri. Medekat dengannya yang sedang mengiris roti dan memanggang beef di atas grilled.


Dia menyadari kedatanganku, melihatku dan apa yang ada di tanganku. "Mau minum denganku?" Tanyaku padanya.


Dia tidak menjawab, hanya melihatku dan gelas itu bergantian. Dia tidak mengatakan sesuatu apapun dan kembali mengiris beberapa roti serta mengisisnya dengan saus dan mayonaise.


"Tolonglah, bantu aku untuk minum ini. Kau tidak, mereka akan menganggapku gagal membujukmu." Pintaku. Bukannya mengabulkan permintaanku, dia malah pergi dan meninggalkanku. Aku berbalik menatap orang-orang yang sedang memperhatikanku dari belakang.


"Kejar, Pravita." teriak Rania


"Kejar sampai berhasil." -Rayden


Entah dia mau pergi kemana, aku mengejarnya yang sudah terlampau jauh dari tempatku berdiri.


"Tunggu, hei! Tunggu!"


"Tunggu dulu, hosh hosh hosh." Napasku hampir terputus karena berusaha mengejar langkahnya dengan langkah cepatku.


"Minum ini cepat,"


"Kamu sampai segitunya ya?"


"Cepatlah, tidak usah banyak bicara. Minum!" Aku menarik tangannya supaya memegang gelas yang kupegang.


Melihatnya minum air berwarna cokelat gelap dalam sekali tegukan itu aku menganga.


Ia menyerahkan kembali gelas kosong itu padaku dan bertanya, "kalau aku sudah minum, selanjutnya bagaimana?"


Selanjutnya aku yang minum. Mencoba menghabiskan dalam sekali tegukkan seperti dia, tapi tidak bisa. Rasanya menusuk dan aneh di lidahku. Baru sekali sesapan, perutku sudah bergejolak dan mual.


"Habiskan."

__ADS_1


"Aku tidak bisa." Aku memegangi perutku yang ingin memuntahkan segala di dalamnya.


"Habiskan! Mengapa kau menerima tantangannya jika kau tidak bisa?"


Aku menghabiskan air itu meski membutuhkan waktu yang lama. Namun, rasanya mataku tidak bisa terbuka. Sangat berat dan kepalaku sangat pusing. Aku merasa kakiku lemasa dan tidak bisa berjalan dengan baik, aku sempoyongana dan terasa ringan untuk berjalan.


"Bodoh! Harusnya tidak usah dipaksakan."


----


"Pravita, pravita bangun! Pravita bangun"


"Naufan, Naufan, bangun!"


Terdengar sayup-sayup seseorang memanggil-manggil namaku. Mataku berat dan kepalaku sangat pusing, berputar.


Aku yang mencoba bangkit, meski tubuhku terasa pegal-pegal. Melihat ada miss Diana yang melambai-lambaikan tangan di depan wajahku, "Oh, Miss Diana? Ada apa?"


"Pravita, sadar. Apa yang kamu lakukan?"


"Maaf, apa Miss?" Ternyata tidak hanya Miss Diana, ada beberapa guru-guru yang berada di kamarku.


"Apa yang kamu lakukan dengan Naufan di sini?"


Aku mendelik. Naufan?


"Apa? Siapa....?"


"Akkkh! Ya Tuhan! Misss!" Aku tersadar jika aku berada di atas tubuh Naufan. Sontak, aku langusng bangkit. Ingin aku berlai, tapi ada yang terasa aneh saat selimu ini mengenai kulitku yang ternyata tidak ada pakaian pada tubuhku.


"Akkh! Ini kenapa! Kenapa ada dia? Miss apa yang terjadi padaku?"


"Miss, katakan padaku. Apa yang terjadi, huks, huks, husk." Aku menangis.


Aku melihat tubuhkny yang terbuka tanpa ada kais yang menempel ditubuhku. "Hah! Miss, apa yang telah terjadi? Mengapa aku ada di sini? Mengapa aku bisa begini?"


"Apa yang telah terjadi padaku? Mamah! Papah!"


Sejak saat itu, aku tahu jika aku bukan lagi seorang gadis suci. Aku sudah ternoda, aku benar-benar kotor karenanya. Karena laki-laki kurang ajar itu. Sampai pihak sekolah memberitahuku dan memutuskan untuk mengeluarkanku karena kejadian ini, tapi aku memohon supaya tidak dikeluarkan melainkan mengajukan pemindahan sekolah meski seharusnya bukan aku yang salah.

__ADS_1


Mamah dan Papah sampai saat ini tidak tahu apa yang terjadi di dalam hotel itu saat campschool ke Jepang kala itu. Aku juga yang meminta pihak sekolah untuk tidak memberitahukan berita ini kepada orang tuaku dan dengan mudahnya orang tuaku mengabulkan keinginankau untuk pindah ke sekolah lain karena alasan yang kubuat sendiri dengan ceritaku.


Akan jadi seperti apa jika mamah dan papah tahu jika anaknya sudah tidak lagi suci. Untuk itu, aku sangat membenci orang itu, aku sangat membencinya. Benar-benar membencinya sampai langit ke tujuh. Namun, mengapa sekarang dia hadir di dalam hidupku bahakan menjadi suamiku? Kutukan apa ini?


__ADS_2