
pov authoress.
Pada akhirnya, Pravita tidak menepati janjinya. Dia tidak hanya pergi selama seminggu, lebih dari sebulan dia tinggal di rumah orang tuanya. Papah dan Mamah sudah beberapa kali memberikan peringatan hingga ancaman, tetapi mau bagaimana? Koas dilakukan di rumah sakit yang jarak tempuhnya lebih dekat dari rumah orang tua daripada rumah suaminya yang notabene jauh dan sulit akses kendaraan umum.
"Kenapa tidak minta suamimu belikan mobil untuk bolak-balik?" Tanya Mamahnya.
"Iuh, gak Mah. Dia pelit." Cibir Pravita, sebenarnya bukan itu alasannya karena dia sendiri tidak pernah membicarakan terkait minta dibelikan mobil pada Naufan.
"Lagian kenapa sih mah, masa aku anak sendiri nggak boleh tinggal di rumah orang tuaku sendiri? Setiap hari diomelin, aku kan jadi pusing." Ungkap Pravita seraya melepaskan sepatu pantofelnya.
"Masalahnya, kamu itu sudah menikah. Nggak boleh gitu, dong. Kalau suamimu jajan sama wanita lain, baru tahu rasa kamu." Seperti biasa, mamah bagi seorang Pravita hanyalah dia yang selalu memberikan peringatan dan ancaman saat sikapnya tidak sesuai harapan. Pravita sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu sejak kecil dulu.
"Bodo amat, aku juga gak takut. Cerai sekalipun aku siap-siap aja." Ujar Pravita. Seperti didikan orang tuanya yang keras, Pravita tumbuh menjadi gadis yang keras kepala dan berkeinginan kuat.
"Hus, jangan kurang ajar kamu. Mamah akan telepon Naufan buat jemput kamu sekarang." Wanita paruh baya itu mengambil ponselnya dan mendial nomor menantunya. Mengaktifkan ikon loudspeaker.
"Halo, selamat malam, Mah. Ada apa?" Ujar Naufan di seberang telepon.
"Nak, tolong jemput istrimu untuk pulang. Kalau tidak, dia akan selamanya keluyuran dan gak akan pulang ke rumahmu." Ujar mamah mertua satu ini yang membuat menantunya tertawa.
"Mah!" Pravita merebut ponsel itu dari meja dan memutuskan sambungan.
"Mamah apa-apaan sih? Kenapa sebegitunya ikut campur kehidupanku? Kalau mamah bicara seperti itu, aku kayak nggak punya harga diri tahu?!" Anak gadisnya itu marah.
"Kalau mamah nggak suka aku tinggal di sini, okey! Aku akan cari penginapan lain saja." Pravita tidak jadi pergi ke kamarnya, tujuannya kini bukan lagi ke kamarnya tapi pergi keluar rumah itu.
Di depan rumah, ada pria yang baru saja keluar dari mobilnya. "Pravita? Mau kemana? Kenapa cemberut seperti itu?" Papahnya bertanya, pria itu memegang lengan putri sulungnya dan khawatir karena raut wajah Pravita suram.
"Bertengkar lagi sama Mamah?" Tanya sang Papah. Pravita hanya menggeleng, malas membicarkan hal yang tidak penting menurutnya.
"Ayo, masuk rumah. Masuk-masuk." Perintah ayahnya sedikit menarik lengan anaknya. Pravita menahan dirinya, dia berat melangkah masuk ke dalam rumah.
"Mamah sudah mengusirku, Pah." Ucap Pravita kemudian. Dia enggan untuk masuk ke dalam rumah itu lagi jika ujung-ujungnya akan mendapatkan omelan.
"Tidak, tidak mungkin. Mamah seperti itu karena memang sudah sifatnya keras," pria itu memberikan pengertian pada anaknya.
__ADS_1
"Pah, mamah itu selalu merendahkan aku di depan Naufan atau keluarganya. Itu membuatku seakan tidak berharga di mata mereka, terkesan kalau mamah itu terlalu meminta-minta supaya aku tidak dibuang oleh Naufan dan keluarganya. Kenapa sih Pah, mamah begitu?" Ucap Pravita pada ayahnya.
Berbeda dengan sang mamah, sang papah lebih perhatian pada Pravita. Jika memberi nasihat, pria itu tidak pernah menyudutkan posisi anaknya dan tidak pula memberikan ancaman yang berarti. Walau kadang tujuan dari pemikiran antara suami dan istri itu sama terkait kebaikan untuk anakknya.
"Iya, papah mengerti. Tapi, coba. Lain kali posisikan diri di sudut pandang orang tersebut. Di sudut pandang mamah, misalnya." Sosok ayah itu mengelus lengan Pravita.
"Melihat dari sudut pandang yang seperti apa? Jika yang mamah lihat adalah kehidupan dan kebahagiaanku, atau aku yang berlimpah harga. Itu tidak benar, aku hidup dengan uangku sendiri. Naufan hanya menjadikanku alat untuknya, alat untuk dia mendapatkan warisan keluarganya." Terang anak itu pada ayahnya. Terdengar pilu, tetapi pria itu hanya menanggapi dengan kekehan dan gelengan kepala.
Bukan dukungan yang berati yang diberikan kepada anaknya, Pravita lagi-lagi dibuat tidak mengerti dengan yang terjadi dan yang dipikirkan orang tuanya. "Kamu hanya belum mengerti saja. Percayalah, akan ada kebaikan yang didapatkan." Ucap ayahnya.
Esok hari, Naufan datang ke rumah mertuanya. Karena permintaan mertua, sebagai seorang yang sedang berperan menjadi menantu yang baik hati, dia menuruti semua ucapan mertuanya.
"Nak, kamu tidak keberatan kalau istrimu berada di sini selama itu?" Tanya mamah mertua.
Laki-laki itu tersenyum dan hanya mengangguk-angguk, "itu sudah dibicarakan, Mah. Sebelumnya, kami sepakat untuk bertemu di rumah seminggu sekali atau aku yang berkunjung kemari. Tapi, sepertinya Pravita enggan dan saya juga akhir-akhir ini sedang sibuk-sibunya." Jelas Naufan pada kedua mertuanya.
"Tuh, kan. Kamu pasti sibuk, sedangkan kalau di akhir pekan Pravita hanya rebahan di kamar. Dia nggak inisiatif datangin kamu. Anak ini ya memang keterlaluan." Mamah berkomentar mengenai perangai anaknya yang menurutnya tidak peka akan keadaan. Satu jeweran mendarat di daun telinga kiri Pravita.
"Aduh, Mah!" Protes Pravita. Seketika telinga nya menjadi merah padam karena jeweran maut dari mamahnya.
"Sepasang suami istri itu harusnya saling melengkapi kekurangan. Apa yang tidak dimiliki pasangan, kita sebagai pasangannya bertanggung jawab menutupinya. Bukan malah semakin membuka keburukan rumah tangga secara lebar dan tidak peduli antar sesama. Bukan seperti itu konsepnya." Lanjut mamah memberi wejangan pada anak dan menantunya.
"Ya sudah, sekarang baiknya gimana? Kalian sudah dewasa, mamah harap sudah tahu jalan terbaik yang harus diambil. Terutama kamu, Pravita."
"...." Diam sejenak.
"Kalau saya, terserah pada Pravita saja, Mah. Dia mau apa saja, akan Naufan penuhi selagi membuatnya bahagia." Tutur anak menantunya itu yang membuat hati mertua berbunga-bunga karena merasa anaknya dimuliakan.
"Lihat, Pravita. Suamimu sudah bersikap baik seperti itu, kenapa kau malah memberi kesempatan lalat-lalat hinggap? Jangan biarkan dia sendiri atau kau akan menyesal nanti. Istri macam apa kamu ini? Laki-laki sebaik itu kau bilang kau tidak peduli dengannya? Kau bilang dia pelit?" Mamah memukul bahu Pravita berkali-kali yang membuat ia sangat kesal dengan tingkah suaminya yang pandai menjilat itu.
"Maaf, Mah. Apa yang tadi mamah bilang?"
"Oh tidak-tidak, mamah kelepasan saja." Mamah mertua itu salah tingkah, terlalu banyak kalimat yang keluar dari mulutnya tanpa sadar keceplosan.
"Benarkah Pravita mengatakan jika aku pelit Mah?" Tanya anak menantunya itu.
__ADS_1
"Ah, uh. Hm, iya. Pravita berkata seperti itu kemarin. Katanya, di lingkungan rumah tidak ada kendaraan umum ya?"
"Oh iya benar, tapi saat kutawari dia sebuah mobil dia mengatakan jika ia tidak bisa mengemudi, Mah. Dan malas belajar untuk saat ini." Jelas Naufan. Bohong, tapi ada benarnya juga.
Bohong kalau dia mengatakan jika dirinya pernah menawarkan Pravita sebuah mobil, itu tidak pernah. Namun, ada benarnya juga karena sebenarnya Pravita tidak bisa menyetir. Untuk itu, selama ini dia selalu menggunakan taksi atau kendaraan umum.
Toel.
Mamah menonyor kepala Pravita, "bodoh! Anak bodoh, kamu itu ya. Kenapa bisa memfitnah suamimu sendiri?"
"Memang benar-benar anak mamah yang satu ini, sangat keras kepala. Sabar ya kamu sebagai suaminya."
"Okey, mah. Fine. Terus saja mamah membangga-banggakan menantu kesayanganmu itu. Biar, biarlah aku jadi cecunguk di matanya. Biar saja aku hilang harga diri di pandangan laki-laki–menantumu, Mah. Okey, fine. Kenapa nggak sekalian mamah hanyutkan aku di kolam ikan supaya dia bisa tertawa puas?" Ucap Pravita di dalam hatinya dengan kekesalan yang telah membuncah, seperti melihat lawan yang tengah tertawa dalam hatinya.
Mau tidak mau, Pravita akhirnya pulang bersama suaminya. Dengan hati terpaksa dan sangat berat berada di dalam satu mobil dengan pria yang biasa dia sebut dengan 'laki-laki menyebalkan'.
"Hahaha, 1-0. Aku sepertinya berhasil merebut hati mamah mertua." Ucap Naufan mengompori hati istrinya.
Pravita telah menduga jika laki-laki itu akan menertawakannya di belakang.
"Tapi, aku bagaimana? Lagi koas, sayang banget kalau nggak lanjut deh." Pravita memanyunkan bibirnya, dia tidak mempedulikan nasibnya yang sedang menjadi bahan tertawaan musuhnya.
"Kenapa tidak minta antar jemput sama pacarmu itu?" Saran yang Naufan berikan bukanlah solusi untuk Pravita.
"Dia tidak bisa setiap saat ada untukku, kami punya kesibukkan masing-masing!" Sentak Pravita.
"Lalu maumu apa?" Tanya Naufan.
"Kau mau tidak mengantarku besok dan seterusnya?" Terus terang ia meminta bantuan kepada suaminya, meski dia yakin seratus persen tidak ada gunanya meminta bantuan pada laki-laki menyebalkan itu.
"Tidak. Aku juga punya kesibukkan masing-masing." Jawaban itu tidak membuat Pravita heran.
"Susah banget jadi aku, Ya Allah."
"Ya sudah menjadi risiko." Tanggapan Naufan. Bagi Pravita, laki-laki di sampingnya itu tidak pernah mengerti hatinya. Tidak pernah peka akan kesulitannya.
__ADS_1
"Susah ya kalau diskusi sama orang gila." Cibir Pravita yang sudah lelah dan hanya bisa pasrah pada keadaan.