Hanya Berperan

Hanya Berperan
Bab 11. Rencana Kabur


__ADS_3

Esok pagi, sebelum fajar menyingsing aku sudah siap dengan satu buah koper besar berisi baju-baju yang akan aku bawa kembali ke Jakarta alias rumah Papah dan Mamah.


Orang tuaku seakan membuangku cuma-cuma karena aku telah dinikahi, karena aku sudah ada yang menangungjawabi. Padahal kenyataannya bukan seperti itu, laki-laki itu menikahiku hanya karena kepentingannya. Namun, orangtuaku sepertinya tidak tahu kebusukan menantunya ini.


Sebelum ada yang melihat, aku bergegas pergi meninggalkan dia yang masih tertidur pulas di atas sofa. Malam tadi, aku terpaksa tidur seranjang karena dia yang sudah terlelap di bawah selimut, sementara aku baru saja selesai mandi dan bebersih. Tak ingin semalaman tidur seranjang bersama dan aku tidak mau mengalah dengan tidur di sofa. Ide berlian muncul seketika, sengaja aku menendang bokongnya keras-keras supaya dia terjengkal dan jatuh ke lantai.


Bugh! Suaranya begitu renyah saat aksiku berhasil membuatnya seperti suatu benda besar dan berat terjatuh dari ketinggian.


"Auh." Hanya rintihan yang kudengar sekilas. Segera kutarik mundur kakiku dan memposisikan tubuhku tidur dalam keadaan semanis mungkin membelakanginya supaya dia tidak curiga denganku.


Kutahu, dia pasti tidak akan mau seranjang denganku. Kuraba perlahan bagian kasur di belakangku, tidak kudapati dirinya di sampingku. Berpura-pura memutar posisi, ternyata dia masih berdiri seraya menggaruk rambutnya frustrasi. Hal tak terduga terjadi saat dia menarik kasar selimut yang melekat pada tubuhku secara langsung.


Sedikit terkejut dengan perlakuannya, aku mengeliat. Membuka sedikit mataku, berpura-pura terganggu. Setelah itu, kurenangakan tangan lebar-lebar dan menendang apapun yang berada di dekat kakiku.


"Dasar perempuan bar-bar." dumalnya yang masih dapat kudengar seraya ia berjalan ke arah sofa di sudut kamar ini.


"Hahaha, senangnya seranjang sendiri."


Terakhir kulihat pagi tadi, dia masih mendengkur halus dengan posisi tubuh telungkup dengan berbantalkan telapak tangannya. Selimut sudah tersingkir di lantai, pakaian kotor, tidak sempat mandi. Uh, biar saja, manusia seperti itu tidak perlu dikasihani.


Memesan taksi online via aplikasi, setengah jam berlalu tidak juga mendapat notifikasi mendapatkan driver dari pesananku. Sesusah itu memang hidup di kota, tapi tak ada bedanya dengan pedalaman. Sinyal timbul tenggelam, tidak ada angkutan atau kendaraan umum, sunyi, dan terkesan perumahan elit yang angker. Sangkin mahalnya mungkin, jadi nggak ada yang betah tinggal berlama-lama di sini sampai. Alhasil, seperti bangunan mewah terbengkalai.


"Ogah banget tinggal di sini. Mending tinggal di perkampungan deh." Ujarku sedikit sewot karena berdiri lama sampai kaki terasa pegal karena heels yang aku kenakan lama-kelamaan menyiksa.


Bahkan hari mulau terang, taksiku belum juga sampai. Membatalkan pesanan dan melakukan pemesanan ulang, tidak ada perubahan sama sekali. Masih terus menunggu dengan kaki yang sudah pegal berdenyut nyeri.


"Pravita, mau kemana kamu?" Sontak aku membalikkan badan, melihat pria yang berambuk acak-acakan, pakaian kusut, celana yang dilipat separuh, empat kancing kemeja yang terbuka sampai menampakkan dadanya. Sungguh, terlihat seperti orang kurang waras dengan penampilannya yang berantakan dan memalukan.


"Ke Jakarta." Jawabku tak acuh dan kembali menatap ponselku yang masih belum ada tanda-tanda akan mendapatkan taksi pesanan.


Greb!

__ADS_1


Terasa lenganku dicekal dari belakang, membuatku tersentak dan refleks membalikkan badan ke belakang. Menatapnya dengan kesal, "Apa?" Tanyaku dengan nada suara tinggi.


"Sudah dibilang, jangan pergi karena ibuku akan datang kemari." Ujarnya dengan nada rendah yang membuatku merasa bersalah karena memekik keras di pinggir jalan.


"Kapan? Itu tidak pasti. Aku mau berangkat kuliah." Jawabku dengan nada yang lebih rendah.


"Hari ini jam 9, cepat kembali! Untuk apa bawa koper sebesar ini? Seperti dideportasi saja." Komentarnya padaku.


"Kan aku mau nginep seminggu seperti yang sudah kubilang. Kalau pun ada yang dideportasi, harusnya kamu. Kudeportasi kau ke ragunan, habitat asal!" Balasku.


Dengan terpaksa, aku membawa kembali koperku masuk ke dalam rumah. Dengan susah payah, aku mengangkat sedikit demi sedikit koper besar ini untuk sampai di lantai dua ke kamar semula.


Enaknya dia yang berjalan di depanku dengan santainya tanpa ada niatan membantu membawakan. Toh, aku gak memerlukan bantuannya, akan kutolak mentah-mentah jika ada tawaran bantuan darinya.


Sedikit ada rasa peka. Saat dia sudah berada di puncak dan aku masih berada di setengah tangga, dia berputar arah. Turun lagi beberapa tangga, lalu berhenti lima tangga dari tempatku berdiri.


Sengaja berhenti beberapa saat karena koper ini terlalu berat. Jangan berharap mendapatkan bantuan, karena kini dia berkacak pinggang dan berkata, "Cepat, jangan lelet. Jalan aja kok begitu lamban. Kayak siput!"


"Brengsek!" Kukira dia akan peka dan membantuku, ternyata malah memakiku. Benar-benar laki-laki menyebalkan!


Mengeluarkan nada suara dengan lepas setiap kali perdebatan dengannya, membuat emosiku terluapkan juga. Ada sesuatu yang terasa longgar di dada setiap mengeluarkan nada suara tinggi hanya untuk membalas semua ucapan atau perkataannya yang selalu menyudutkanku.


Seperti saat ini, "Untuk apa mempunyai banyak pakaian seperti itu kalau yang dipakai hanya itu itu saja?" Komentarnya yang datang dan duduk di atas ranjang saat aku kembali menata baju ke dalam almari dan menggantungkan beberapa set pakaianku.


"Terserahlah, apa urusanmu?"


"Lebih baik dipisah, yang kekurangan bahan seperti itu bisa buat kain serbet dapur atau lap toilet." Ujarnya memberi saran padaku saat aku memasangkan hanger pada gaun miniku yang didesain satu lengan rumbai sebelah kanan dan terdapat garis terbuka di bagian perutnya.


"Ini baju mahal dari desainer terkenal, enak saja jadi kain lap dapur! Harusnya pakaianmu yang pantas dijadikan pengganti kain pel!" Cibirku memberi saran positif.


"Huh, pakaianku? Jangankan pakaian, kain yang digunakan untuk mengambil loyang dari pemanggangan saja terbuat dari bahan celana dalamku yang adem, empuk, dan elastik." Dia berbicara tanpa ada rasa malunya.

__ADS_1


"Jorok!" Komentarku melemparkan satu pakaian yang sedang kulipat padanya.


"Lho? Seperti itulah kalau menerapkan aturan 3R, reuse reduse recycle. Lebih baik daripada dibuang jadi limbah 'kan?" Ujarnya seraya memainkan kuku-kuku jari tangan kanannya.


"Mending jadi limbah daripada jadi serbet makanan. Bisa-bisa terkontaminasi dan jadi wabah keracunan serakyat." Ulasku.


Bruk!


Sial, dia menabrakku di depan kamar mandi.


"Mau apa kau?" Tanyanya dengan menyolot.


"Mandi!" Pekikku. Mau apa lagi kalau dia bisa melihat aku yang membawa seperangkat alat mandi dan menuju kamar mandi?


"Enak saja, ini kamar mandiku." Ucapnya, lalu berjalan mendahului. Cepat-cepat aku menghadangnya.


"Apa kamu kamu bilang? Aku yang berjalan ke sini duluan! Enak saja menyerobot, antre dong." Kini aku berada selangkah di depannya. Berjalan memasuki kamar mandi.


Tidak semudah itu saat dia menarik tanganku dan memaksaku keluar dan melewati pintu kamar mandi itu.


"Apa-apaan ini? Aku yang pertama!" Teriakku saat dia dengan cepat mengambil alih posisiku dan kini pintu makan mandi sudah tertutup.


"Tidak bisa, aku yang datang pertama!" Kubuka pintu itu dengan menekan engselnya.


Ceklek, jebret! Pintu terbuka dan terbanting dengan keras. Menampilkan dia yang sedang membuka pakaiannnya di dekat cermin dengan posisi membelakangiku. Dari cermin tersebut, dapat terlihat jelas wajah dan posisiku yang berada di belakangnya.


Jangan tanyakan apa yang aku lihat, sesuatu yang tidak pernah ingin kulihat. Tidak kusangka dia dapat melepaskan pakaian secepat itu. Aku yang tengah melolot karena tidak sengaja melihat penampakan mengerikan itu, sedangkan dia tanpa rasa malu malah memiringkan wajahnya, tersenyum padaku dari pantulan cermin dan tanpa ragu bertanya, "oh, mau mandi bareng denganku?" Ucapnya dengan cengiran lebar.


"Tidak sudi!" Segera kututup pintu itu dengan keras.


Oh My God! Apa yang telah aku lihat? Mataku sudah ternodai. Mengendikan bahuku karena terus terbayang-bayang sesuatu yang pertama kalinya aku lihat dari seorang laki-laki dewasa. Bukan lagi laki-laki, tapi seorang pria dewasa.

__ADS_1


"Ahhh, memalukan sekali. Huhuhu!" Rasanya aku ingin menangis dan menyesali perbuatanku barusan.


Masih shock dengan kejadian itu, langkahku menuntunku pada ranjang dan duduk bersandar dan bersila di atasnya. Seperti orang gila yang kambuh, kuraup wajahku dengan kasar berulang kali. Ini benar-benar membuatku depresi, "Ahhh hah! Harusnya belum saatnya aku ternodai dengan pemandangan seperti itu. Mengerikan! Aku menyesal!"


__ADS_2