Hanya Berperan

Hanya Berperan
Bab 19. Sepulang Acara


__ADS_3

Pravita dan Binta menjadi akrab dalam waktu sekejap. Bagaikan teman lama yang dipertemukan kembali, keduanya sangat ceria walau tidak pada tempatnya. Mengingat hal-hal seru saat bersama dulu, bahak tawa mewarnai sudut ruangan acara empat bulanan tersebut.


Mereka tidak akan berhenti tertawa dan bercerita jika saja tidak ada yang memanggil dan mengganggu keseruan yang tengah berada pada puncaknya.


"Binta."


"Pravita."


Suami Binta dan Naufan memanggil istri mereka masing-masing. Dua orang wanita itu segera menghentikan obrolan dan Binta segera berdiri saat suaminya menghampiri dan tengah menggendong seorang anak perempuan. Tidak seperti Binta, Pravita masih tetap duduk di kursi yang sama, malah wajahnya berpaling memandang sesuatu yang lain.


Suami Binta–dia memberikan satu anggukan yang langsung dimengerti oleh wanita berperut sedikit buncit itu. Binta memint memegang bahu Pravita dan mengisyaratkan jika dia harus pergi sekarang, Pravita mengangguk dan tersenyum. Menggenggam tangan Binta dan mempersilakan dia untuk menuruti apa perintah suaminya.


"Bang Nauf, Binta pergi dulu ya. Mari." Binta yang melihat Naufan berdiri di dekat suaminya meminta izin juga. Pria itu mengangguk sebagai jawaban mempersilakan wanita itu pergi.


"Pulang?" Tanya Naufan pada Pravita.


"Yuk." Seru Pravita langsung menyelempangkan tas pada bahunya. Niatnya ingin bergegas, jika perlu lari, tapi kakinya tidak menghendaki.


"Aauh, ssh," rintinhnya mendesis kala kaki kanannya terasa berdenyut saat berdiri. Dia menekan pahanya supaya rasa sakit di kaki bagian bawah mereda.


"Kau harus ke rumah sakit,"


"Tidak perlu." Bantah gadis itu.


"Mau sampai kapan sakit begitu?"


"Seminggu saja pasti sudah sembuh, auh. Shhh." Bukan Pravita namanya jika dia tidak keras kepala. Dengan kesakitan itu membuat jalannya pincang, dia tetap bertahan dengan egonya.


"Kadang keras kepala tidak membawa kebaikan untukmu, Pravita." Kesal mendengar rintihan di sepanjang jalan, Naufan segera membopong gadis itu supaya cepat sampai di parkiran.


"Ah, apa yang kau lakukan?! Hei! Turunin! Turunin akuu!" Kaki gadis itu mengayung-ayun seperti putri duyung. Tidak menerima penolakan, pria itu semakin cepat berjalan dan membelah kelautan manusia.


Sampai di parkiran, lebih tepatnya di sisi mobil milik Naufan, Pravita membuka matanya.


Plak! Pukulan mendarat di dada pria tersebut. Niat hati ingin memasukkan si gadis ke dalam mobilnya, tapi tidak jadi karena dia sudah bangun dan kembali meronta-ronta.


Bugh! Tubuh Pravita terjatuh dalam posisi terduduk di atas beton tempat parkir.

__ADS_1


"Aduh, anjing!" Umpat gadis itu memegangi bokongnya.


"Kenapa dibanting?"


"Licin bajumu." Jawab Naufan, dia yang sejak merasa kepayahan membopong tubuh Pravita yang menggunakan pakaian dengan bahan satin membuatnya harus berusaha ekstra saat Pravita meronta minta diturunkan di tengah lautan orang.


"Salah sendiri bikin kaget."


"Malu-maluin aja, kenapa mesti pake acara dibopong juga sih? Kan malu!" Dumal Gadis itu seraya berusaha bangkit dari duduknya.


"Kalau kamu gak meronta-ronta mana ada malu? Yang ada malah romantis, dasar bego."


Tidak sampai hati, pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu Pravita bangun dari posisinya.


Saat jalan yang ditempuh berbeda dengan arah jalan pulang, Pravita bertanya, "Kemana?"


Bukan lagi pertanyaan, tapi pernyataan. Pria itu tak lagi meminta persetujuan dari gadis untuk membawanya ke sebuah klinik keluarga.


"Luka bakarnya cukup dalam sampai merusak jaringan kulit di bawahnya." Ujar dokter wanita memberitahu pasangan suami istri itu.


"Lalu bagaimana, Dok? Apa perlu diganti dengan kaki kuda?"


"Hahaha, tidak. Tidak sampai diganti pakai kaki kuda, hanya saja ini akan lebih pas jika diganti dengan kaki seribu." Tambah dokter wanita itu.


"Anjay!" Naufan dan dokter wanita itu tertawa terbahak-bahak. Pravita diam, dia menunduk dan kesal.


"Pak, sepertinya istri Anda marah." Ujar dokter itu.


Setelah mendapatkan resep dokter, mereka harus ke apotek untuk mendapatkan obat yang dianjurkan. Pelataran apotek yang ramai kendaraan memperlihatkan jumlah manusia yang mengantre di dalam apotek tersebut.


"Kamu di sini saja, biar aku yang antre." Ujar Naufan saat menarik rem tangan.


Dua jam berlalu, tidak ada tanda-tanda pria itu kembali dan membawakan obat untuknya. Sampai berkali-kali Pravita tertidur dan terbangun, tapi tidak jua ditemukan batang hidung suaminya yang muncul dari balik pintu apotek.


Berniat menyusul, memastikan apakah ada sesuatu yang terjadi atau bagaimana, gadis itu terpaksa memasang sepatu flatshoesnya dengan hati-hati.


"Jangan-jangan dia tidak tahu caranya menunggu antrean?" Ujar Pravita bertanya-tanya saat memasangkan sepatu pada kakinya.

__ADS_1


Hari semakin malam harusnya antrean sudah berkurang, tapi yang terjadi malah semakin ramai dan parkiran semakin padat sampai-sampai saat Pravita membuka pintu mobil, tanpa sengaja pintu itu mengenai badan mobil lainnya padahal sebelumnya tidak ada mobil di sebelah mobilnya.


"Uh!" Pekik Pravita yang terkejut karena ia membuka pintu cukup keras.


Goresan terlihat jelas di badan mobil tersebut, seseorang di balik kemudi lantas keluar.


"Maaf, maaf, saya tidak sengaja. Sebelumnya tidak ada mobil di sini, tapi ternyata mobil Anda bera–" gadis itu memohon-mohon, takut jika pemilik mobil akan marah besar karena mobilnya lecet karena ulahnya.


"Pravita?"


"Ha? Anda tahu saya? Kita pernah berjumpa?" Gadis itu seakan pikun, dia terlupa dengan seorang pria yang kini berdiri di hadapannya.


"Pravita, bukan?" Tanya seorang pria itu memastikan.


"Iy, iya benar aku Pravita. Kamu siapa?" Tanya Pravita.


"Aku jelly." Kelakar pemuda berpakaian rapi tersebut. Tanpa sadar keduanya tersenyum tipis meski belum pasti salah orang atau tidak.


"Aku Revan, kamu lupa? Kakak tingkat masa kuliah, hem?" Ucap pria itu, Pravita mengingat-ingat.


"Oh, maaf. Tapi sungguh, aku terlupa." Ucap Pravita. Sesungguhnya dia tidak enak hati sekaligus berjaga-jaga apakah di depan matanya ini benar teman lamanya atau penipu belaka.


"Mantanmu, Ya Tuhan. Apa iya semudah itu melupakan mantan?" Sontak ucapan itu membuat mata Pravita terbelalak lebar, dia mendongak dan membuka matanya lebar-lebar. Sedetik kemudian tersirat satu siluet abstrak wajah mantan kekasihnya dulu saat di bangku kuliah masa awal.


"Oh Ya Allah, Kak Revan! Maaf, aku lupaa!" Pekik gadis itu yang riang karena berhasil memunculkan ingatan sekaligus membuka kenangan silam.


"Nah, iya. Kalau gak ketemu berati aku udah kamu buang jauh-jauh ke dasar palung ingatanmu ya?"


"Ah, tidak." Gadis itu malu-malu dan sejak dulu, dia tidak bisa jika tidak tersipu dengan mantan pacarnya itu.


"Apa kabar? Gimana sekarang? Sudah jadi dokter?" Tanya pria tersebut.


"Belum, Kak. Harus ikut koas dan ujian dulu." Jawab Pravita.


"Lama tidak berbincang, mau ngopi dulu?" Tanya pria bernama Revan itu.


"TIDAK!"

__ADS_1


"Pravita ini obatmu, ayo kita pulang."


__ADS_2