
Brak!
Pria itu membanting pintu mobilnya. Selanjutnya, mobil bergerak ke mundur dengan sangat cepat seperti di dalam adegan film action.
Melaju sangat cepat ke belakang, memutar setir ke kanan, dan melesat di jalan raya yang luas itu. Untunglah jalan raya sedang dalam keadaan sepi kendaraan.
Pravita yang berulang kali tubuhnya terhempas ke depan dan belakang, berakhir dia yang terbentur dashbord mobil dengan keras saat Naufan menancap gas tanpa perasaan.
Gadis itu mengusap dahinya, tidak ada benjolan yang muncul. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, melihat tingkah pria di sampingnya yang selalu membuat ulah, kali ini dia tidak marah. Yang ada malah tertawa, dia tertawa melihat ekspresi pria di sampingnya yang saat ini memasang wajah kesal dan penuh dendam.
"Kamu marah ya?" Tanya Pravita menahan tawanya. Dia segera memasang sabuk pengaman, takut jika pria itu menancap gas atau menginjak rem secara mendadak.
"Kok tiba-tiba marah sih? Apa aku salah?" Ujar Pravita lagi.
"Siapa yang marah, sok tahu." Balas Naufan jutek. Pria itu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Kalau tidak marah, kenapa bawa mobilnya kayak orang kerasukan? Lu kira ini lagi di gelanggang F1?" Ujar Pravita seraya cekikikan.
Tiba-tiba mobil yang melaju sangat kencang itu, berangsur pelan. Semakin pelan sampai kecepatan berada di bawah 30 km per jam.
Tiba di depan pekarangan rumahnya, Naufan keluar dari mobil tanpa sepatah kata pun. Dia meninggalkan Pravita yang sedang kesusahan mengeluarkan kakinya dari mobil karena selandalnya terlepas dan kakinya yang membengkak sulit untuk menggunakan sandal jepitnya.
"Hei, kau tak mau membantuku?" Teriaknya saat pria itu berjalan dengan santai di depannya.
"Dasar pria menyebalkan!" Gumam Pravita sembari mengangkat sebelah kaki kanannya untuk keluar dari mobil.
Dia tidak menggunakan sendal itu, berjalan pincang karena luka bakar di kakinya semakin terasa berdenyut.
Berjalan sampai di ruang tamu, dia mempercepat langkahnya untuk segera sampai di sofa.
Bruk! Tubuhnya dijatuhkan di sofa tersebut, Pravita mendesis merasakan nyeri pada kaki kanannya.
"Bersihkan dulu kakimu, lalu oles obat ini." Pravita terkejut saat Naufan tiba-tiba datang dan memberikan handuk. Saat Pravita menerima handuk tersebut, rupanya handuk itu hangat dan baru dia sadari jika di meja kini sudah ada air hangat untuk mengompres kakinya.
"Terima kasih," ujar Pravita.
Pravita membuka boks kecil berisi salep yang akan dioles pada kakinya. Namun, dia kesulitan dan tidak bisa menekukkan kakinya hingga mudah dijangkau tangan.
__ADS_1
Naufan yang berdiri di depannya merasa kesal, dia membopong tubuh Pravita untuk sepenuhnya berada di atas sofa dengan posisi kaki yang lurus.
"Ehh!" Pravita terkejut saat kedua kakinya diangkat dan hendak diletakkan di atas pangkuan pria itu. Dia akan menarik mundur kakinya, tapi tidak bisa.
"Kamu bisa nggak sih, sehari aja jadi manusia yang pintar? Entah kenapa sejak dulu, otakmu selalu tak terpakai. Padahal seorang dokter." Dumal Naufan memangku kaki Pravita.
Pria itu bahkan meniup kaki Pravita supaya cepat kering bekas air kompresan sebelumnya. Mengipas-kipas kaki itu dengan telapak tangannya, lalu mengoleskan salep secara pelan ke permukaan luka bakar yang memerah tersebut.
"Lain kali jangan ceroboh, kakimu jadi sakit kan? Memangnya sakit tuh enak? Gak kan?" Naufan mengomeli Pravita, menatap gadis itu yang hanya diam membeku mendapat omelan darinya.
"Kenapa kamu jadi perhatian padaku? Hem?" Pravita merapatkan bibirnya, ada denyutan di dalam dadanya yang tidak bisa dia artikan rasanya.
"Sudah, tidur." Ucap Naufan, setelah meletakkan kedua kaki Pravita di sofa. Dia lantas pergi menuju lantai atas.
Pravita tertidur di sofa, dia membiarkan kakinya lurus selagi menunggu obat salep itu meresap. Namun, tak lama karena sekarang Naufan membangunkan istrinya.
"Huah, apa?" Tanya Pravita.
"Bangun, saatnya minum obat." Di tangan pria itu sudah menggenggap bungkus plastik berwarna biru berisi pil-pil obat resep dokter.
"Mau kemana?" Tanya Naufan saat sebelah kaki Pravita turun dari sofa.
"Aku mau ke kamar."
"Pegang!" Naufan memberikan bungkus obat yang sedang dipegangnya pada Pravita. Pria itu lalu mencingcing celananya dan membungkukkan sedikit badannya. Dia menyelipkan kedua tangannya di bawah leher dan kaki Pravita.
Pria itu membopong tubuh Pravita, "aku bisa jalan sendiri." Elak gadis itu.
Tangan Pravita refleks melingkar di leher pria itu, saat posisinya sudah benar-benar berada di dalam bopongannya, Pravita melihat wajah suaminya dari bawah. Pria itu yang memandang lurus, terlihat mempesona dari bawah.
"Aku bisa jalan sendiri," ujar Pravita sekali lagi.
"Lakukan itu saat tidak ada aku."
Pravita sedikit meronta-ronta. "Maksudmu?" Tanya Pravita.
Kini, wajah yang memandang lurus berubah menunduk dan menatap balik mata Pravita. Gadis itu terkejut dan segera memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Bisa diam, tidak? Kau ini gendut. Aku bisa menjatuhkan tubuhku di lantai sekarang juga."
Di dalam kamar miliknya, "kok disini?" Seharusnya dia berada di kamar tamu yang ditempati sebelumnya.
"Terlanjur, kenapa baru bilang." Jawab Naufan meletakkan tubuh istrinya di atas ranjang miliknya.
Pravita mengibas-kibaskan tangannya. Dia mencium aroma menyengat dari pengharum ruangan kamar pria itu. "Huh, baunya kopi! Aku tidak suka!"
"Ini segar!"
"Gak ah, pusing! Sebelumnya nggak bau kopi kok." Ucap Pravita.
"Iya, aku yang menyeprotnya dengan ini." pria itu menujukkan sprai pengharum ruangan beroma kopi.
"Jauhkan dariku, aku benci aroma kopi yang menyengat ini." Pekik Pravita memalingkan muka.
"Aku menyemprotnya karena kamu sebelumnya menghiasi kamarku dengan wewangian bunga, itu menyeramkan seperti aroma kuburan." ujar Naufan.
"Ngawur, itu wangi floral yang menenangkan. Bisa bikin tidur nyenyak, enak aja bau kuburan. Ini nih, biasanya kalau aroma kopi malah yang disukai kuntilanak." Gadis itu terus menutup hidungnya.
Bagi sebagian orang, mungkin aroma kopi sangat menyegarkan dan dapat menenagkan pikiran. Namun, berbeda dengan Pravita yang membenci aroma pengharum ruangan beraroma kopi yang menyengat.
Tidak ada yang bisa dilakukan gadis itu, selain pergi dari ruangan itu. Dengan kaki tanpa alas, dia turun dari ranjang dan bersiap untuk berdiri. "Mau kemana?"
"Bau kopi, rasanya aku mau mati." Ucap Pravita. Dia berdiri, dan detik berikutnya gadis itu jatuh pingsan. Untunglah, ada tangan yang siap menopang tubuhnya.
Esok pagi.
Begitu mata terbuka, Pravita bertanya-tanya. ini bukan pemandangan kamar di rumah Naufan. dia tersentak dan segera bangun dari posisinya.
Namun, tubuhnya tertahan kala satu tangan besar melingkupi perutnya. Sontak dia menolehkan kepalanya ke sisi kanan. Di tepian tempat tidur, seorang pria tertidur di satu bantal dan selimut yang sama.
Tangan pria itu masih berada di atas perutnya, tidak tega membangunkan dia yang saat ini tengah pulas tertidur dengan napas yang teratur. Tidak jadi beranjak, Pravita kembali tertidur di bantal yang sama dengan pria di sebelahnya.
Gadis itu menoleh ke samping kanan, memandang wajah pria yang masih menutup matanya dan tertidur dengan tenang. Jika melihat wajah polos pria yang saat ini tertidur dengan sangat damai, ada sesuatu yang di dalam dada Pravita yang sejenak mampu menggantikan semua kekesalan hatinya dengan rasa yang berbeda pada pria itu.
Lantas, hatinya tergerak dan memerintahkan tangan untuk meraba pipi pria di sebelahnya, bibirnya lirih berujar, "benarkah kamu suamiku? Sampai kapan?"
__ADS_1