
"Aku tidak suka ya dengan istrimu itu, penampilannya seperti badut sirkus. Carilah yang lain!" Bisik Lee Minna saat wanita itu berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah.
"Hahaha," Naufan menanggapinya dengan tawanya. Mengingat kembali apa yang dikenakan oleh Pravita, gadis itu memakai piyama pink dengan berbagai corak yang berwarna merah, kuning, dan hijau. Bandana kelinci berwarna biru dan sendal berwarna magenta. Semua yang menempel pada tubuhnya sungguh berwarna warni. Tidak salah jika Lee Minna menjulukinnya sebagai badut sirkus.
Di dapur, gadis itu sedang mengemas peralatan memasak dan mencucinya. Sebagian tempat sudah bersih dan kompor yang mengkilap seperti baru.
"Rajin juga dia." Lirih Naufan melihat Pravita yang sedang beres-beres di dapurnya.
Gadis itu melirik ke belakang, kebetulan ada seseorang yang bisa dijadikan sasaran pelampiasan kelelahannya. "Hei, kau! Kemari kau!" teriak gadis itu melambaikan lap panci kepada Naufan. Pria itu mendekat.
"Rumah sebesar ini, nggak da niatan buat sewa orang bersihin ini rumah apa? Aku kan capek bersih-bersih mulu."
"Gak, kalau capek ya nggak usah dibersihin dong. Ribet amat." Saut pria itu.
"Dasar laki-laki pelit!"
"Biarin." Naufan melenggang dan berjalan ke lantai atas.
Di dalam kamar, Pravita akan mengambil salep oleh untuk kakinya. Karena buru-buru menuang air panas yang baru mendidih pada gelas berisi teh hijau kemarin, tumpahan air panas itu tidak sengaja mengenai kakinya.
"Lihat salepku di sini tidak?" Tanya Pravita mencari benda yang sejak pagi dia rasa menaruhnya di atas ranjang. Naufan yang sedang duduk dan mengecek ponselnya, seketika bergerak mengangkat tubuhnya sedikit ke kanan dan kiri, dia mencari benda yang sekiranya ada di bawah pantatnya.
"Tidak ada." Jawabnya.
"Ck, ada. Tadi aku taruh di sini, mana mungkin gak ada."
"Gak ada." Elak pria itu membenarkan jawabannya.
"ada! Coba kamu berdiri dulu deh." Perintah gadis itu.
Pria itu berdiri, dan... Plak! gadis itu menabok pantat suaminya.
"Nah, kan. Aku bilang apa? Ada di sini."
"Hust, hus, diam. Kakek menelepon." Naufan mengacungkan jari telunjuknya di depan mulutnya.
"Halo, Kek. Oh iya iya, baik Kek. Bisa, Okey." Saut Naufan bersama kakeknya.
"Sore nanti akan ada undangan pesta 4 bulanan." Ujar Naufan memberi tahu.
"Siapa?"
"Teman kakek." Jawab Pria itu.
"Kenapa kita harus datang? Aku malas."
"Ini perintah! Tidak boleh dilanggar, menyangkut kakek berarti menyangkut kepentinganku dan merujuk pada persyaratanku yang pertama." Ucap pria itu. Pravita jengah mengingat persyaratan itu. Ya, dia masih mengingatnya.
"Acara habis ashar." Tambah Naufan memberi tahukan informasi tambahan.
"Habis Ashar kita berangkat?" Tanya Pravita.
"Habis Ashar acara dimulai. Kita berangkat jam 2 karena perjalanannya jauh." Jawab pria itu.
Bukan seorang kaum hawa jika tidak diberikan kelonggaran waktu untuk bersiap. Seperti halnya Pravita yang menolak informasi dadakan seperti itu. "Egh, lah ko? Itu mah, ini udah jam 1 lho. Gimana bisa aku bersiap cuma dalam waktu sejam?"
"Bisa, cepat makannya mandi. Gadis kok belum mandi jam segini." Ujar Naufan seraya berjalan keluar dari kamar itu.
"Hei, mana bisa disebut gadis kalau sudah bersuami?!" Pravita melemparkan bantal ke punggung pria itu.
"Sudah tak gadis ta?" Naufan–pria itu bertanya dengan melongokan kepalanya di daun pintu kamar itu.
"Kurang ajar!"
__ADS_1
Hanya tinggal menggunakan heels, maka Pravita sudah siap pergi. Tapi, gadis itu dilemma. Model bagian depan sepatunya mengerucut, sedangkan kakinya melepuh terasa sakit jika dipaksakan.
Pria itu kembali memastikan ke kamar, bertanya butuh berapa lama lagi untuk bersiap. Tidak ada jawaban dari dalam, pria itu membuka pintu kamar itu. Pravita yang sedang terduduk di tepian ranjang menatap ke bawah.
"Sudah siap belum?" Naufan bertanya. Gadis itu menggeleng.
"Boleh tidak aku gak usah ikut?"
"Kenapa?" Pria itu mendekat.
"Sepatunya tidak muat, kakiku bengkak dan rasanya sakit kalau dipaksakan." Pravita memberitahu, sepatunya yang berwarna pink itu tergeletak di lantai, sedangkan kakinya berada di lantai dengan keadaan membiru melepuh, dan membengkak.
"Kakimu sampai bengkak dan berair begini, kita ke dokter saja ya?" Pria itu menunduk.
"Gak usah, masalahnya heels-ku ini tidak bisa dipakai."
"Pakai yang lain saja yang flat."
"Ish, mana bisa. Aku terlihat pendek, tidak-tidak." Sebagai seseorang yang mempunyai tinggi badan tidak mencapai 160 sentimeter membuat Pravita tidak percaya diri jika tidak menggunakan sepatu berhak tinggi.
"Lebih penting mana, keselamatan atau penampilang?" Ujar suaminya.
"PAKAI YANG LAIN." Tambahnya.
Pravita keluar kamar dengan menggunakan sepatu flat berwarna pink, wajahnya muram.
"Kenapa lagi?"
"Apanya?" Gadis itu memperhatikan penampilannya sendiri dari atas hingga bawah.
"Wajahmu, kenapa muram begitu?" Tanya pria itu.
"Lihatlah kakiku, terlihat sangat pendek huk huk huks." Bibir gadis itu maju hampir lima senti.
"Hehehe, imut. Sudah, ayo." Kekehan keluar dari mulut suaminya.
Naufan–dia menggandeng tangan istrinya memasuki gerbang pesta terlaksana. Seperti pesta milik orang kaya, semua yang terjadi sangat mewah. Dekorasi, makanan, pelayan, musik, hingga para tamu yang datang pun terlihat seperti bukan orang kalangan menengah bawah.
"Aku sangat malu. Aku terlihat sangat pendek, tidak?" Ujar Pravita yang menggandeng lengan suaminya dan berbicara pelan seraya berjalan beriringan di atas karpet merah di dalam sebuah gedung.
"Tidak," jawab Naufan, meskipun di dalam hatinya ia tertawa dan geli berjalan dengan seorang perempuan yang tingginya bahkan tidak sampai batas bahunya.
Tiba-tiba ada seseorang yang menyapa,
"Hai, Tuan muda kita! Pak Naufan atau Mas Naufan? Sangat fresh ya setelah menikah?!" Ujar seorang pria menyapa Naufan.
"Hai, Bas! Iya, syukurlah jika aku terlihat bahagia." Saut Naufan bersalaman dengan orang itu.
"Halo, nyonya Naufan. Apa kabarnya?" Sapa pria itu pada Pravita.
"Halo, kabar baik," Pravita menyalami tangan yang terulur padanya.
Lantas, pria itu berbisik pada Naufan. "Apa istrimu sedang hamil?"
Pria yang ditanya itu menoleh pada istrinya, "tidak, hem. Sepertinya belum, kenapa?"
"Coba periksakan, sepertinya sedang hamil karena betis dan kakinya bengkak." Ujar pria itu berbisik pada Naufan. Pravita mendengarnya, lantas dia menarik lengan suaminya yang tengah ia rangkul.
"Bahahaha, iyaa baiklah. Setelah ini akan aku bawa ke dokter kandungan." Perkataan Naufan itu membuatnya mendapat cubitan keras pada lengannya.
"Jangan mengompor-ngompori kenapa? Mana mungkin aku hamil jika persyaratan mu pun melarangnya. Dasar orang aneh!" Dumal Pravita pada suaminya.
Gadis itu berjinjit-jinjit mencari seseorang. "Dimana kakekmu?" Tanya Pravita.
__ADS_1
"Kenapa mencari kakek?" Ia membenarkan lingkupan tangan Pravita pada lengannya.
"Aku rindu." Jawab Pravita.
"Sungguh? Kau rindu pada kakekku?" Anggukan Pravita menjawab pertanyaan pria di sampingnya.
"Kakek nggak ada, kita yang datang mewakili. Kalau rindu, nanti mampir ke rumah kakek." Ujar Naufan.
Mereka berjalan ke pusat acara, di sana berdiri dua calon orang tua atau sepasang kekasih yang sedang berbahagia dengan calon buah hatinya. Pria dan wanita yang menggunakan stelan busana biru dengan si wanita yang menggunakan jilbab syar'i nya dan si pria yang menggunakan jas hitam dan kemeja biru. Nuansa acara ini adalah biru, terlihat dari dekorasi dan anggota keluarga yang menggunakan busana seragam berwarna biru yang berada di sekeliling calon orang tua tersebut.
Saat mendekat ke arah sepasang calon orangtuan itu, tiba-tiba datang bocah perempuan yang menabrak dan menginjak kaki Pravita.
"Auhh!" Pekik Pravita saat luka bakar yang melepuh itu terinjak sepatu bocah kecil berkepang dua.
Pravita hampir terjengkal jika saja tangannya tidak memegang lengan Naufan dengan kuat.
"Auh, sssttt." Gadis itu meringis. Semua orang menatap ke sumber teriakan Pravita yang melengking.
"Maaf, Tante. Ayesha tidak sengaja, maaf tante." Bocah itu menggigit kuku-kuku jarinya. Dia ketakutan karena Pravita sempat berteriak kencang.
Tidak tega, Pravita langsung mengusap kepala gadis kecil itu, "iya, nggak papa. Tante baik saja, okey?" Ujar Pravita.
Datanglah seorang wanita berbusana biru dan berjilbab lebar dan panjang meraih tubuh gadia kecil bernama Ayesha itu. "Ayesha, apa yang terjadi?"
"Bunda, Ayesha tidak sengaja menginjak kaki tante itu. Ayesha tidak melihatnya tadi," bocah itu memeluk wanita berbusana biru yang menjuntai menyapu lantai itu.
"Sudah minta maaf?" Tanya wanita itu pada anak kecil di pelukannya.
"Sudah."
"Maafkan anak saya ya, Nyonya. Maafkan saya juga, dia tidak sengaja." Ujar wanita itu.
"Binta?" Celetuk Pravita menyebutkan satu nama yang terlintas di pikirannya saat melihat wanita berbusana gamis biru muda dan hijab syar'i-nya.
"Mbak Vita?" Saut wanita itu.
Wanita bernama Binta itu memeluk Pravita, mereka saling terkejut dipertemukan di acara itu. Seperti yang dikatakan Bryan–mantan pacar Binta sebelumnya, ternyata kabar itu bukan hanya sekadar kabar burung. Malam itu, dengan mata kepala Pravita sendiri, dia melihat Binta dan suaminya yang jauh lebih berusia daripada usia Binta yang masih sangat muda.
"Boleh bertukar nomor WA, Bin?" Pravita bertanya,
"Iya kak. Omong-omong, Kak Vita nikah sama bang Naufan kapan?"
"Kemarin, ya belum ada sebulan." Jawab Pravita.
"Oh ya, aku waktu itu lagi ke Turki sama suamiku. Bang Naufan itu saudara dari suamiku, mbak." Binta memberitahu.
Pravita meneguk jus jeruk dari gelasnya, "hem. Oh ya? Hubungannya sebagai apa?" Tanya Pravita setelah menelan jus dari mulutnya.
"Hem, berati..... keponakan." Ujar Binta yang membuat Pravita hampir terdesak air udahnya sendiri karena terkejut dan tidak percaya.
"Berati aku panggil kamu bibi dong Bin?" Ucap Pravita berbisik dan mencondongkan wajahnya pada Binta.
"Hahaha, ya begitulah. Panggil Binta saja seperti biasa juga aku gak keberatan,"
"Ah, Bibi Binta." Gurau Pravita mencolek lengan Binta, teman dekat sekaligus adik tingkat dulu.
"Kita fotbar, yuk." Ajak Pravita pada Binta. Beberapa foto telah terabadikan dengan berbagai gaya sekaligus memasang filter aminasi yang lucu.
"Hahaha, lucu-lucu fotonya. Aku kirim ke Bryan, biar dia panas." Ucap Pravita.
"Mbak, jangan mengompori begitu deh. Aku gak enak sama dia." Pinta Binta.
"Tidak apa-apa, ini hanya bercanda saja. Hehehe." Satu foto terkirim ke Bryan lewat pesan online.
__ADS_1