
Kondisiku telah pulih, aku merasa tubuhku sudah sehat dan bugar kembali. Mamah dan Papah datang setiap sore hari dan menemaniku sampai esok paginya, tapi jika siang hari aku ditemani oleh dia. Alhasil, aku akan memilih tidur sepanjang hari dari pada melihat,apalagi mengobrol dengannya.
Padahal, dia tidak selalu ada di kamar ini. Setiap lima menit sekali aku akan terganggu dengan dering ponselnya. Pasti ponselnya berbunyi, dan dia akan beranjak dari sofa dan keluar untuk menjawab telepon itu.
Saat asyik memainkan ponselku dan menggulir beranda akun media sosialku, tiba-tiba, “Pravita.” Suara itu membuatku mengantuk seketika, tidak ingin menoleh yang aku inginkan hanya memejamkan mata dan tidak ada obrolan yang terjadi.
Aku memejamkan mata lebih rapat, berharap ini adalah mimpi dan bila kubuka mata ini, semua menjadi normal seperti sebelumnya tanpa ada dia di sini. Aku harap ini hanya mimpi.
1,2,3 kubuka mataku…
Wah, sama sekali tidak ada yang berubah, selang infus ini masih menusuk kulitku.
Sampai sore hari, aku tidak lagi melihatnya masuk ke dalam ruangan ini. Sampai mamah dan papah datang, aku tidak berjumpa dengannya lagi. Penasaran kemana dia pergi, aku bertanya pada mamah.
“Kemana dia?” Tanyaku saat mamah dan papah tiba.
Mamah malah memutar matanya dan senyam-senyum tidak jelas, “Apa sih mah?”
“Kenapa sekarang bertanya?”
“Heuh?” Apa maksud mamah?
“Kamu khawatir dia pergi dengan wanita lain?” Mamah mencubit daguku. OMG, mamah berpikir sejauh itu. Aku bahkan berniat dia bisa meninggalkanku selamanya, asal mamah tahu saja.
Bukan hanya mamah yang senyam-senyum tidak jelas, tapi papah juga.
“Mamah sama papah apaan sih? Orang aku Cuma tanya aja kok, emang salah ya?”
Papah menggeleng, jemarinya yang mengepal menutup mulutnya yang terus tersenyum tidka jelas.
“Ih, aneh.” Dumalku seraya menyibakkan selimut yang seharian ini menutupi tubuhku. Kakiku bergerak satu per satu untuk turun dar brankar ini, penggilan alam sudah menyapaku beberapa menit yang lalu. Mumpung ada mamah dan papah yang bisa membantuku untuk ke kamar mandi, harusnya dari tadi tapi lelaki itu tidak kuketahui kemana perginya.
“Mau kemana?” Tanya mamah, memegangi lenganku.
“Kamar mandi, Mah.”
“Bentar,” Mamah memegangi infusku yang menggantung supaya posisinya tetep berada di atas dan tidak tertarik oleh karena pergerakanku.
“Ah, mah. Sakit.” Jarum infusan ini sepertinya tegang di dalam kulitku, aku tidak sengaja menabrak tepian brankar yang berbahan besi itu.
“Ish, ayo sini pegang Papa.” Papah datang dan menunutnku untuk berjalan.
Kukira kaki ini sudah kuat dan dapat berjalan dengan mudah, ternyata tidak. Namun, ternyata ragaku masih lemas. Kakiku gemetar.
“Pah,”
“Kenapa?”
__ADS_1
Aku menguatkan cekalanku pada lengan papah, sebelum sampai di kamar mandi, aku sudah tidak mampu melangkahkan kakiku lagi. Ditambah pergelangan tanganku yag terasa pegal karena jarum infusan yang tidak sengaja terbentur tadi.
Lututku semakin menekuk, aku sepertinya tidak kuat menopang tubuhku sendiri. Dan dalam beberapa detik kemudian, dugaanku benar. Aku terduduk jatuh, meski mamah dan papah memegangi kedua lenganku.
“Pravita!”
“Apa yang terjadi, pah, mah?” Dia datang dan membantuku untuk berdiri.
Tanpa banyak berkata, dia membopongku kembali ke ranjangku. Tanpa berniat menolaknya, aku melingkarkan tangaku pada lehernya. Mendudukanku di tepian ranjang dan dia bertanya, “Mau kemana?”
“Kamar mandi.”
“Kenapa nggak panggil aku sih?”
“Gak butuh!” Ucapku meski dalam hati aku berkata, kamu kemana aja sejak siang tadi?
Darah keluar dan naik ke selang infus, dengan spontan dia memencet bel untuk memanggil perawat.
“Hati-hati ya, bu, lain kali.” Dia memanggilku.
"Bu?" mentang-mentang terlihat masih muda dia memanggilku seenaknya.
“Ibu, aku pikir aku sudah jadi ibu-ibu.” Lirihku yang membuat seisi ruangan itu tersenyum.
Setelah dari kamar mandi, aku kembali ke ranjangku.
“Mah, kenapa bilang seperti itu?”
“Kenyataannya memang begitu, tidurlah. Mamah dan papah mau keluar dulu cari angin.” Papah membelai rambutku. Melihat mereka yang pergi, aku melihat kedua punggung itu yang memang tidak sama seperti dulu lagi. Mamah dan papah semakin bertambah usia, tenaga mereka sudah berbeda. Mamah dan papah kini sudah tergolong lansia.
Mengingat semua perbuatanku yang seringkali melawan dan membangkang, aku semakin sadar jika perbuatanku yang seperti itu salah. Aku bahkan belum pernah melihat kedua orang tuaku bangga pada diriku. Aku yang selalu dan terus bergantung pada mereka bahkan sampai detik ini.
Aku menangis.
“Kenapa menangis?” Perhatianku teralihkan. Hanya dengan mendengar suaranya, orang ini mampu membuatku langsung bisa menghentikan air mataku. Merusak suasana saja.
Kini dia malah berdiri di dekat wajahku, menundukan tubuhnya. “Kamu sedih kenapa?” dia bertanya lirih kepadaku.
“salah satunya karenamu. Kamulah sebab kesedihanku, kamu tahu?” Aku menjawabnya dengan mengubah posisiku dan kukesampingkan wajahku supaya tidak berhadapan dengannya.
“Kapan percerian kita berlangsung?” Tanyaku.
Tidak ada jawaban apapun.
“Aku bertanya, kapan per…”
“Bisa kita bicarakan ini nanti?” Ujarnya memotong ucapanku.
__ADS_1
Kini aku menoleh, menatapnya. “kenapa tidak sekarang? Kenapa harus nanti?”
“Ada banyak pertimbangannya.” Alasan yang dilontarkan sangat klise.
“Ck!” aku berdetak, ku benahi selimutku dan menariknya sampai batas bahu.
“kenapa semua orang selalu ingin mempersulit diri mereka sendiri?” Ujarku.
“tidak hanya mamah atau papahku yang selalu membuat semua terasa serba sulit, tentang pernihakan ini. Andai kau tahu, dua hari sebelumnya aku sudah mengatakan tidak akan melanjutkan pernikahan itu. Mamah dan papah tetap bersikukuh, sampai pada akhirnya aku berniat membunuh diriku sendiri. Dan sekarang…”
“Kamu ingin membunuh dirimu sendiri hanya karena pernikahan ini?”
Lagi-lagi dia memotong kalimatku, “iya karena kamu tahu aku tidak akan mau menikah denganmu karena apa yang telah kamu lakukan padaku dulu.”
“Dulu? Aku pernah melakukan apa padamu?” Jawabnya seperti memojokanku.
Dia bersikap seperti seolah lupa dengan apa yang pernah dilakukannya dulu, bahkan sampai sekaranga ku masih mengingat betul rincian kelakuannya.
“Tidak usah sok polos begitu, aku masih hafal dengan semua detail kejadiannya dan aku tahu betul apa yang menjadi tabiatmu. Yang…”
“Kau bicara apa, Pravita? Tabiatku yang mana?”
“Intinya aku membencimu sampai kapanpun.” Kini aku menutup tubuhku sepenuhnya, menyembunyikan wajahku di balik selimut.
“Kapan perceraian itu diurus?” Aku keluar dari persembunyianku. Menghentikan langkahnya dengan satu pertanyaan yang aku sampaikan.
“Bicarakan lain kali.”
“Kenapa kau terus menunda perbincangan ini? Apa susahnya mengajukan gugatan cerai? Datangi saja pengacara. Aku tahu kau bukan orang yang tidak punya uang, untuk membayar pengacara pasti mudah bagimu. Ajukan penggugatan cerai untukku, sidang, lalu beres urusan kita. Sudah, apa yang susah?” Tegasku.
“Bukan soal perceraian yang susah, tapi menurunkan egomu.” Jawabannya tidak ada kaitannya dengan topik perbincangan.
“Ayolah, kita masih sama-sama muda. Kamu pasti tidak mau berdua denganku dalam waktu yang lama karena aku pun begitu. Kita tidak pernah cocok sejak dulu.” Ucapku panjang lebar.
Kin aku mengubah posisiku, mendudukan diri di ranjangku.
"Kau selalu berbicara tentang yang dulu-dulu itu, apa yang pernah terjadi memangnya semasa dulu?" Dia seperti orang yang hilang ingatak dan menyangkal semua kejahatan yang pernah dia lakukan.
Sebelum dia pergi melewati pintu keluar, aku menghentikannya. “Ya, kalau kau tidak mau melakukannya, biar aku yang datang ke pengadilan dan mengajukkan gugatan cerai.”
Dia membalikkan badan, mendatangiku sampai kita bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. “Bisa tidak kita bicarakan ini nanti? Tidak kah kau berpikir, pernikahan ini baru terlaksana kemarin siang? Pikir dengan otakmu bukan dengan mulutmu!” Ucapnya disertai jari telunjuknya yang berani menudingku.
“Apa yang perlu dipertimbangkan? Apa maksudmu memikirkan pendapat orang? Bisik-bisik tetangga? Untuk apa?” Ucapku seraya menantangnya.
“Kita hidup untuk diri kita sendiri, orang lain tidak ada pegaruhnya. Untuk apa mendengarkan kata orang, hah?” Kini amarahku memuncak. De javu, sepertinya aku pernah berada di situasi perdebatan yang sama persis dengan kejadian saat ini.
“Kau mengira hidup untukmu sendiri, tapi tidak denganku. Aku hidup bukan untuk diriku sendiri, Prav. Ada orang lain di sekitarku.” Ujarnya yang sok-sokan itu
__ADS_1
“Ciuh! Nggak akan maju pemikiran kolot seperti itu. Sama seperti mamah dan papahku yang takut akan kehilangan kolega dan hartanya jika pernikahanku batal. Kau pun sama. Kuno!” Ketusku. Kini ku tarik lagi selimutku sampai menutupi seluruh tubuhku. Tidak berapa lama, terdengan suara pintu tertutup yang berarti dia sudah pergi dari ruangan ini.