Hanya Berperan

Hanya Berperan
Bab 15. Waktu yang Ditunggu-Tunggu untuk Membunuh


__ADS_3

Pov authoress


Malam hari, sebagai seorang pria mengalah untuk tidur di kamar tamu. Karena tentu, istrinya yang gila kekuasaan itu selalu ingin mendapatkan apa yang dia inginkan.


Namun, aneh, di pagi hari belum belum terlihat batang hidung gadis itu dan belum ada tanda-tanda jika gadis itu sudah bersiap untuk koas.


"Pravita!"


"Pravita!"


"Ish, dimana dia? Jam segini kok belum keluar kamar." Naufan–dia berteriak dari lantai bawah. Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul tujuh tepat.


Laki-laki itu berlari menuju kamar Pravita. Langkahnya yang lebar dapat menjangkau beberapa lantai sekaligus dengan mudah. Tak butuh waktu lama, laki-laki itu sudah sampai di depan pintu kamar Pravita.


Dug, dug, dug!


Dug, dug, dug!


Laki-laki itu menggedor-gedor pintu kamar seorang gadis yang kini berada di dalam kamarnya.


"Pravita, bangun!"


"Mau berangkat, tidak? Hei!" Teriak laki-laki itu di depan kamar.


"Dasar kerbau!"


Mengumpulkan segenap tenaga dalam, pria itu menekan engsel dan mendorong pintu dengan kuat.


Duar! Pintu berhasil di dobrak dengan sekali hentakan. Memperlihatkan seseorang yang masih terlelap dengan sprei dan selimut yang sudah tidak beraturan, serta keadaan kamar yang begitu berantakan.


Melihat kondisi gadis yang terlelap dengan kepala di bawah bantal, laki-laki itu tidak tega berteriak memanggilnya. Perlahan dia masuk ke dalam kamar Pravita, berjalan mendekat dan memungut sprei yang terlepas dari ranjangnya.


Menarik bantal yang menutupi kepalanya. Ia kebingungan, dengan cara apa supaya Pravita dapat bangun tanpa perlu berteriak di dekat telinganya.


"Pravita, bangun."


"Pravita." Laki-laki itu menggoyangkan sebelah bahu Pravita.


Greeeeit. Srek srek. Gadis itu menggeliat, menendang-nendang selimutnya, lalu menguap dengan sangat lebar.


"huaah, ah, lima menit lagi Mah." Igau gadis itu membuat Naufam tersenyum.


"Pravita. Pravita, bangun." Sekali lagi pria itu mencoba membangunkan Pravita. Menepuk-nepuk kaki gadis itu, tapi respons yang didapatkan malah membuat laki-laki itu tertawa.


"Mah, sabar ya. Aku bilang menit lagi, tunggu alarmku bunyi." Alisnya terangkat-angkat seperti saat dia berkomunikasi secara nyata, tapi kali ini matanya dalam keadaam terpejam.

__ADS_1


"Hei, bangun hei!" Naufan sudah benar-benar geli melihat tingkah gadis itu.


"hek hek hek. Diam, Mah. Sebentar saja." Gadis itu merengek-rengek enggan dibangunkan, kaki-kakinya menedang-nendang ke atas udara seperti bayi yang kelaparan.


Tak mau ambil pusing, laki-laki itu pergi meninggalkan kamar Pravita dengan kekehan. Dia merasa puas karena berhasil merekam momen berharga dari seorang Pravita yang merengek enggak dibangunkan.


"Hahaha, gadis konyol!" Ucapnya. Di dalam pikirannya masij terngiang-ngiang dengan tingkah Pravita yang begitu kocak dan menggelikan.


Terdapan panggilan suara yang masuk, ponselnya berdering. Nama Pravita berada di kayar ponsel pria itu.


"Tumben." Ujar pria itu, lalu menggeser ikon gagang telepon berwarna hijau.


"Hai, laki-laki menyebalkan! Kenapa kau tidak bangunkan aku?" Pekiknya sesaat ponsel menempe di telinga.


"Hai, bodoh. Kenapa tidak bangunkan aku, hek heke hek." Pravita–gadis itu terus menyalahkan dan terdengar suara rengekan yang sama seperti tadi di akhir ucapannya.


"Kau dimana? Aku sangat menyesal, terlambat bangun. Hari ini bagaimana bisa aku ke rumah sakit? Hek hek hek. Mamah, tolong."


Laki-laki itu tergugu, tertawa kecil sampai bahunya naik turun. Dia memasang airpods di telinganya dan mendengarkan rengekan Pravita dengan senang hati.


"Hei, kamu dimana? Kenapa tidak ada suaranya? Ah, aduh, panas!"


"Pravita? Ada apa?" Tawanya surut seketika mendengar Pravita mengaduh.


"Halo, Pravita? Apa yang terjadi di sana." Bagaimanapun, pria itu khawatir, dia menjadi panik sendiri karena tidak lagi terdengar suara di seberang sambungan.


"Aduh, uffh uffh." Pria itu merasa lega saat kembali terdengar suara Pravita di telinganya.


Dengan kecepatan sedang, akhirnya mobil kembali terparkir di halaman rumah. Bergegas masuk ke dalam rumah dan ia langsung menuju kamar Pravita.


Tanpa mengetuk atau berucap salam permisi, pria itu langsung masuk dan menerobos pintu kamar mandi. Kosong.


"Sedang apa kamu?" Tanya Pravita yang muncul secara tiba-tiba di belakang si pria.


"Aih, mengagetkan saja. Apa yang terjadi, kenapa tadi kau aduh-aduhan di telepon?" Tanya Naufan seraya memperhatikan dari ujung kepala sampai pangkal kaki.


Tidak ada yang salah, kecuali telapak kakinya yang memerah dan terlihat melepuh. Pravita yang masih memakai piyama mendekat dan berjalan pincang.


Kini mereka saling menatap dengan jarak yang begitu dekat. Pravita–gadis itu mwndongakkan kepala, menatap mata Naufan dalam-dalam dan yang terjadi selanjutnya adalah....


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi kiri pria itu,"ada apa?" Tanya pria itu terheran-heran.


"Beraninya kau masuk ke dalam kamarku tanpa izin?" Gadis itu melotot dan berkacak pinggang.

__ADS_1


"Apa kau sedang nafsu?!" Prasangka Pravita membuat pria di depannya menganga.


"Hah? Jangan ngarep!" Naufan, dia mencomot wajah gadis itu. Dia lantas pergi,


"Hei, kenapa kau tidak membangunkan aku?!" Teriak gadis itu.


"Kau saja yang kerbau, bahkan aku sudah membobil pintu kamarmu dan kau tidak bangun. Kerbau!" Balas pria itu seraya berjalan santai keluar dari kamar si gadis.


Pravita melek lebar-lebar. Dia berlari dan mengecek pintu kamarnya, benar. Kuncinya rusak dan engselnya patah. Segera dia menyilangkan tangannya di depan dada. Satu yang terpikirkan olehnya, "Apa dia sudah melakukan pelecehan terhadapku?"


Dia mengintip di balik piyama yang digunakan, ternyata tali bra sudah dalam keadaan terbuka. "Hah? Benarkah ini kedua kalinya dia melecehkanku?"


"Ah, dasar laki-laki menyebalkan! Akan kubunuh, kau!" Gadis itu berusaha berlari mengejar si pria, meski dengan kaki yang pincang, ia tetap berusaha mendapatkannya. Di lantai bawah, dia menemukan sosok yang tengah dicari.


Satu sergapan yang Pravita lakukan mampu membuat tubuh pria yang sedang berhalan itu terhuyung ke belakang. Hilang keseimbangan, keduanya jatuh terlentang dan bertumpukan dengan posisi Pravita berada di bawah.


Bruk!


"Aduh!" Meski gadis itu mengaduh, tetapi lengan kanan Pravita berhasil mengunci leher Naufan. Gadis itu mencekik kuat leher pria tersebut hingga membuat si pria menjulurkan lidahnya.


Tangannya menepuk-nepuk lantai di samping, lidahnya kelu tak bisa berucap. Pravita tidak memberi ampun, ini yang dia inginkan sejak dulu. Membantai pria yang sejak dulu menyandang julukan laki-laki menyebalkan.


"Hum! Mati, kau. Tahu rasa! Apa yang sudah kau lakukan padaku? Kenapa masuk ke kamarku? Salahmu melakukan pelecehan padaku berulang kali! Laki-laki menyebalkan harus mendapatkan ganjarannya!" Ujar Pravita sengit.


Kedua kaki gadis itu melingkupi pada badan pria yang sekarang menjadi suaminya. Meski meronta, tenaga yang Pravita keluarkan malah semakin besar. Seperti menggunakan tenaga dalam, bahkan untuk menyingkirkan lengan yang melilit lehernya, pria itu kewalahan.


"Lepas, nanti kau jadi janda." Ujar Naufan, meski dengan suara yang tidak jelas.


"Apa katamu? Hum, rasakan." Pravita–gadis itu semakin memperkuat lingkupan sikunya.


"Hek," suara cekekan dari pria tersebut membuat kepuasan sendiri di batin Pravita. Saat tangannya sudah berhenti menepuk-nepuk lantai, kakinya sudah berhenti meronta-ronta, dan perutnya sudah tidak berkembang kempis. Pravita mengedurkan lengan yang melilit pria itu, kedua kakinya turun dari tubuh suaminya.


Tubunya menjadi terasa sangat berat menopang pria itu di atasnya. Gadis itu berusaha meloloskan diri, memeriksa keadaan suaminya yang sudah diam dan terlihat sangat damai.


Merasa aneh dengan keadaan itu, Pravita memeriksa jalan napas pria yang kini tergeletak di lantai. Mendekatkan telinga ke hidung pria itu, tidak terdengar embusan napas. Memperhatikan gerak perut dan dadanya, tidak terlihat gerakan kembang-kempis. Mengecek denyut nadi pada lehernya, dan...


"Hei, bangun bodoh!"


"Hoy, bangun. Sudah, selesai."


Puk-puk! Pravita menepuk-nepuk perutnya.


"Apa? Dia mati?!" Pekiknya tiba-tiba di depan wajah suaminya.


Plak plak plak! Pukulan keras bertubu-tubi mendarat di pipi kanan dan kiri pria tersebut

__ADS_1


"Hai, bangun! Sudah, cepat bangun. Jangan bercanda." Namun, tetap saja. Tidak ada respon dari pria itu. Ia hanya diam dan semakin membujur kaku.


__ADS_2