Hanya Berperan

Hanya Berperan
Bab 13. Bahas Mantan


__ADS_3

Sesuai ucapannya, setelah ibunya pergi aku diperbolehkan pergi ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah. Sebentar lagi akan masa Co-Asist atau koas, dan tidak lama lagi aku akan menjadi dokter.


Berbeda dengannya sudah bekerja dan menjadi pengacara muda, sekolahku jauh lebih lama ketimbang dirinya yang lulus bisa langsung kerja.


"Hai, aku sedang mengambil S2 bisnis ya." Ucapnya tidak terima saat aku menyebutkan pekerjaannya dengan kalimat 'Pengangguran Banyak Acara'.


Ya, baiklah, meskipun selain menjadi seorang pengacara dia pun menggeluti bisnis keluarganya, sekaligus sebagai pewaris utama–katanya.


"Sama saja, tetap aku akan lebih hebat darimu. Karena hartamu atas namaku. Hahaha." Pongahku.


Koper besar yang kemarin sempat aku bereskan, kini kupakai kembali. Menata ulang barang-barang yang akan aku pakai selama di rumah mamah papah.


Melihatku yang kesusahan membawa koper itu turun dari lantai 2, dia di bawah berkacak pinggang. Hanya melihat, tanpa membantu.


"Percuma punya suami, kalau apa-apa sendiri. " Lirihku sendiri.


"Mau kuantar ke rumah Papahmu?"


"Tidak usah." Tolakku.


Untuk apa? Hanya ingin cari muka di depan orangtuaku? Kalau dia seorang laki-laki yang baik, pastinya tidak hanya ingin dilihat baik di hadapan orang lain saja.


Buktinya, sekarang saja dia tidak peka membantuku yang jelas-jelas sedang kesusahan. Dan ya, betisku sudah bergetar karena heels ini membuatku berjalan tidak seimbang dengan beban berat yang kubawa.


Dan, di akhir anak tangga aku terpeleset.


"Waaaauh. Ahhh!"


Greb! Pinggangku tersokong dari belakang. Sebuah telapak tangan menyangga tubuh bagian belakangku.


"Hais, hati-hatilah. Jalan yang benar." Nasihatnya. Uh, sok-sokan menasihati.


"Dasar tidak peka!" Cibirku, lalu tangan yang menyokongku ditariknya lagi begitu saja membuatku terjatuh ke lantai. Walau kali ini aku sudah ada persiapan, karena tidak percaya jika orang ini akan menyokong lebih lama.

__ADS_1


"Tidak tahu terima kasih." Cibirnya padaku.


"Mau kuantar, tidak?"


"Aku bilang nggak usah!" Pekikku sekali lagi.


"Mau ke sana pakai apa? Di sini tidak ada kendaraan umum seperti taksi." Ujarnya memberitahuku


"Tenang saja, aku minta bantuan pacarku saja," ucapku seraya memiringkan bibir.


"Oh." Tanggapannya.


Aku sudah mengirim chat pada Bryan, teman lelakiku. Sebenarnya dia bukan pacarku, tapi kami bersahabat dan sangat dekat sejak kuliah semester pertama. Biarkan aku mengakui dia sebagai pacarku di depan orang ini. Toh, tidak akan ada bedanya jika aku punya pacar atau tidak karena itu bukan urusannya.


Bryan sudah berada di halaman depan sesuai lokasi yang aku bagikan, dengan mobil sportnya dia turun dari mobilnya dan membantuku membawakan koper besar ini di jok belakang. Sangat berbeda dengan sikap laki-laki itu yang tidak peka hanya soal membawakan koper saja.


Saat melirik ke belakang, ternyata laki-laki menyebalkan itu berada di pintu. Kukira dia akan melambaikan tangan atau pura-pura ramah di depan orang lain alias Bryan ternyata tidak, dia hanya ingin menutup pintu rumahnya.


"Ah, baik. Biasa saja. Tidak ada perubahan yang signifikan setelah menikah, selain statusku yang tidak single lagi." Jawabku santai.


"Sudah bersuami jadinya double ya, Vit. Malah sebentar lagi mau triple ya, Vit?" Kelakarnya.


"Nggak ah, aku childfree." Balasku.


"Eh, beneran? Waw!" Bryan bertepuk tangan.


"Gimana hubunganmu sama Binta, lancar?" Tanyaku pada Bryan, setahuku Binta adalah pacar terbarunya.


"Putus, aku selingkuh." Jawabnya dengan nada sedih.


"Hahaha, bodoh. Binta–perempuan sealim itu tega lo sslingkuhin, bro! Parah sih, pasti nyesel dah Lo."


"Gak nyesel lagi, gua. Malah dia sekarang udah nikah sama laki lain." Kesedihannya terasa sampai hatiku.

__ADS_1


"Ya Allah, kasihan banget. Tapi, mampus sih Lo." Ujarku, sedih dan miris aku rasakan bersama-sama melihat kelakuan temanku ini.


"Abisnya gua capek hati, Vit. Dia nggak pernah bisa aku sentuh walau hanya bergandeng tangan doang, lalu apa dong yang gua dapatin dari pacaran?"


"Ya itu esensinya, sabar Brow! Malah itu kan yang buat lu penasaran ama dia. Dan pastilah terjaga kemurniannya. Malah dilepas, dancuk tenan." Kekehku.


"Terjaga kemurniannya, kayak ada manis-manisnya ya?" Tanggapannya menambahkan jargon iklan minuman kemasan


Kami tertawa bersama. "Yang buat aku kesel sekaligus menyesal itu karena suaminya." Bryan memukul setir kemudi.


"Kenapa suaminya?" Tanyaku,


"Dia nikah sama duda anak dua, mana anak yang pertama usianya cuma terpaut tiga tahun darinya. Gila sih itu."


"Kok bisa?!" Aku shock parah. Benar-benar shock berat mendengar kabar Binta–si designer cantik itu.


"Gua nangis setelah tahu kabar itu dari temen gua. Tahu gitu, gak akan gua putusin si Binta. Masih mending ama gue, walau bukan bujang tapi bukan duda dan lagi, gua belum punya anak."


"Gak ada mendingnya sih, sama lu juga ntar si Binta sakit hati mulu karena lo doyan selingkuh." Ucapku.


"Selingkuh kan buat selingan, cinta utama ya dia. Duh, Binta, Binta, buat gua gagal move on aja." Sesalnya yang tiada berarti.


"Suami lo gimana?" Kini Bryan bertanya tentangku.


"b–aja." Jawabku singkat.


"Kok gitu?" Dia mengerutkan dahinya menatapku sekilas.


"Gua nggak cinta dia." Jawabku lesu.


Saat seorang mengatakan kesedihannya pada seorang teman, lalu jika dia teman dekat pasti akan mengatakan hal atau kemungkinan segamblang-gamblangnya seperti yang Bryan katakan saat ini.


"Sepertinya bau-bau perceraian nih." Sindirnya padaku, tanpa ragu dan tidak munafik aku mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2