
Plak Plak Plak.
Bugh, Bugh, Bugh.
Pravita menampar pipi dan memukul dada pria itu berkali-kali. Namun, Naufan tak kunjung membuka matanya, meski Pravita tahu jika pria itu hanya sedang berpura-pura mati.
"Baiklah, jika kamu memaksa." Lirih gadis itu.
Dan, hup! Pravita–gadis itu menubrukkan tubuhnya diatas perut suaminya, membuat pria itu tidak bisa menahan untuk tidak bersuara.
"Aopp! Akh!"
"Aduh!" Naufan–dia menahan sakit pada perutnya karena hantaman dari tubuh istrinya.
"Aduh, kau gila." Ujar Naufan. Tidak merasa bersalah, Pravita malah tertawa melihat rintihan suaminya yang menahan sakit.
Gadis itu tak langsung pergi dari atas tubuh suaminya, ya, dia masih tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dan ekspresi lara yang diderita suaminya.
"Hahaha, bagaimana rasanya, Bos?" Tanya Pravita, kali ini dia menyingkir dari atas perut Naufan.
"Lambungku sepertinya pecah."
"Hahaha, ada-ada saja." Plak, "Cepat bangun!" Pravita, dia mengulurkan tangan pada Naufan untuk membantunya bangkit. Pria itu masih bergerak ke kanan dan ke kiri sembari memegangi perutnya.
Gadis itu kembali berlutut, memeriksa keadaan suaminya. "Apa benar-benar sakit?"
"Mikirlah, kau meggencetku. Bagaimana tidak sakit?!" Pekik Naufan yang masih gelisah. Perutnya kram, tidak bisa bangkit dari posisinya.
"Yang benar, padahal aku kurus lho." Ujar Pravita memengangi pinggangnya yang kecil.
"Berapa?"
"50 kg." Pengakuan Pravita.
"Akh, bodoh. Itu setengah kuintal, seberat karung beras!" Cibir Naufan pada istrinya.
"Hai, enak aja! Ini ideal, jangan bandingkan aku dengan karung beras ya!"
__ADS_1
Sejahat apapun Pravita, dia ternyata tidak tega juga melihat orang lain kesakitan. Melihat seorang pria yang terus merintih kesakitan, ia tidak tega membiarkannya.
"Ayo, aku bantu." Dengan perlahan, Pravita mengangkat leher dan menahan punggung Naufan supaya pria itu bisa duduk. Setelah itu, gadis itu menuntun tangan besar suaminya untuk melingkar di lehernya.
Dengan langkah pelan dan tertatih-tatih, Pravita hanya bisa membantu Naufan untuk sampai di sofa ruang tamu.
Pria itu masih memegangi perutnya, membaringkan tubuhnya secara perlahan dan dia memejamkan matanya.
"Dia tertidur?" Bisik Pravita sendiri.
Ia pergi ke dapur membuatkan minuman wedhang jahe yang dipelajarinya dengan mamahnya dulu. Minuman itu akan terasa hangat dan nyaman di perut, niatnya akan memberikannya pada pria itu saat dia terbangun.
Air putih, daun serai, jahe bakar, sedikit bubuk kayu manis direbusnya dalam panci kecil dan diaduk sampai mendidih. Selagi menunggu itu dingin, dia kembali mengecek pria yang tertidur di sofa.
Tubuh pria itu meringkuk ke samping. Ruangan memang terasa dingin, baiklah, dia berinisiatif mengambilkan selimut dari kamarnya.
Merasa ada yang bergerak-gerak pada tubuhnya, Naufan yang tidak sedang terlelap membuka sedikit matanya. Terlihat seorang gadis yang kerasnya luar biasa, kini ia sedang memasangkan selimut di tubuhnya dengan lembut.
Hati Naufan seperti dibuat ternyuh, tapi langsung dihancurkan saat mendengar gadis itu berkata,"dasar pria lemah."
"Hei! Jangan bersikap seperti bocah ya!" Pekik Pravita, yang dia tahu pria itu tengah tertidur dan mungkin sedang bermimpi karena sikapnya tidak wajar.
Lagi, selimut itu dipasangkannya kembali dan menyelip-nyelipkannya pada tubuh Naufan supaya tidak mudah terlepas kareba gerakan pria itu.
Ponselnya berdering keras, Pravita bergegas menuju ke kamarnya di lantai atas. "Halo, dok?"
"Oh ya, baik, maaf saya sedang tidak enak badan sekarang. Iya, baik, dok. Mohon maaf sekali saya tidak bisa ke rumah sakit saat ini. Iya, dok, terima kasih. Sekali lagi, saya minta maaf." Ujar Pravita. seraya menuruni anak tangga. Hari ini terpaksa dia tidak datang ke rumah sakit untuk Koas. Dengan alasan tubuh kurang fit, itu lebih baik daripada mengatakan bangun kesiangan.
Saat di bawah, dia melihat Naufan sudah duduk di sofa. Gadis itu sedikit berlari menuju dapur meski dengan kaki pincangnya yang membuat larinya terseok-seok.
"Ini, minumlah." Ujar Pravita menyodorkan secangkir minuman yang masih berasap
"Apa?"
"Wedhang jahe." Jawab Pravita.
"Aku tidak suka jahe, baunya wle." Pria itu menerima, tapi saat mencium aroma jahe ia mual.
__ADS_1
"Coba dulu, jangan wla wle wla wle. Rasanya enak. Coba!" Pravita mengambil kembali cangkir yang diletakkan Naufan di meja. Dia mengarahkan cangkir itu ke mulut Naufan.
"Cepat, buka mulutku."
slurrupp... Pria itu menyesap sedikit.
"Auh, panas." Rintih Naufan memegangi bibirnya yang hampir melepuh.
Pravita salah, dia menarik mundur cangkir itu dan meniupkan udara ke permukaan minuman itu. Mengulangi lagi, mengarahkan gelas tersebut ke mulut Naufan.
"Bagaimana? Enak?" Tanya Pravita.
Pria itu menggeleng, "enak, tapi aku tidak terlalu menyukai jahenya. Ditambah susu boleh gak?"
"Oh, ya baiklah. Tunggu bentar!" Pravita kembali ke dapur, menambahkan sedikit susu ke cangkir tersebut.
Untuk kali ini, Naufan mau meminumnya hingga tandas. Rasa dan aroma jahe pudar karena aroma susu yang lebih mendominasi indera penciumannya.
"Perutmu masih sakit?" Tanya Pravita seraya menerima gelas cangkir yang telah kosong itu.
"Sedikit, hanya kram. Paling besok sembuh." Jawab Naufan.
"Apa perlu pergi ke rumah sakit untuk di-rontgen atau pemeriksaan USG?" Tanya Pravita sekaligus menawarkan solusi.
"Untuk apa?" Pria itu terheran-heran.
"Siapa tahu ada tulang rusuk yang patah atau lambungmu meledak betulan, kan bisa terlihat dengan pemeriksaan itu."
"Hahaha. Kamu terlalu rasional dengan pemeriksaan itu, tapi tidak mungkin. Otot perutku saja tadi tidak siap menerima hantamanmu." Naufan terkekeh melihat reaksi Pravita yang memesang wajah cemas, dan dia merasa gadis itu kini tengah mengkhawatirkannya.
Kruyukk... kryuk kryuk. Terdengar suara aneh yang beruntun.
"Heih. Suara apa itu?"
"Suara lambungku." Jawab Pravita seraya mengusap perutnya.
"Aku lapar," tambahnya.
__ADS_1