
Aku sudah bersiap dengan cutter yang kutempelkan di pergelangan tangan kiriku.
Kriett... Pintu kamarku terbuka.
Aku terkejut. Dan,
Sret!
Satu sayatan melintang pada pergelangan tanganku.
"Kak Vita! Ah, Mamah! Papah! Kak Vita berdarah! Mamah, papah!"
"Auh, assh. Perih, huft huft huft," Aku meniupi pergelangan tanganku dan kukipas-kipas dengan sebelah tanganku. Rasanya pedih pada luka yang kusayat sendiri dengan cutter berwarna kuning itu. Baru sekali sayatan, banyak darah yang merembes keluar, lalu menetes ke lantai. Mungkin karena aku menyanyatnya cukup dalam.
Di saat yang bersamaan, adikku yang berada di tengah pintu berteriak memanggil mamah papah.
"Nara, ada apa?" Kudengar suara langkah mamah di dekat kamarku.
"Mah, kak Vita berdarah. Lihat!" Adikku yang berusia tujuh tahun itu menunjukku dengan jari telunjuknya. Aku tidak juga pingsan atau mati, yang kurasakan malah sakit yang teramat perih di pergelangan tanganku.
"Ya Allah, Vita! Apa yang terjadi?" Mamah terkejut melihat banyak darah yang menetes di lantai.
Ku simpan di bawah bokongku cutter yang telah kugunakan untuk menyayat pergelangan tanganku ini. "Kamu kenapa sih?" Mamah menarik beberapa tissue.
Bukan menjawab, aku malah mengaduh karena semakin lama rasanya semakin sakit saja. "Mah, perih, Mah. Sakit, huks. Sakit, Mah. Huks huks huks."
"Perih, Mah. Aku gak mau mati, Mah. Aku gak mau mati sekarang, Mah."
Dengan bantuan mamah yang menempelkan beberapa lembar tisu untuk menghentikan perdarahan di pergelangan tanganku. Mamah bergetar saat mencoba menghentikan darah yang terus menetes ke lantai.
"Kamu kenapa sih, Kak? Kenapa ngelakuin ini?" Kurasakan tubuhku semakin lemas, tapi masih bisa mendengar suara Mamah yang terus berbicara, tidak terlupa beliau memberikan serentetan omelan.
"Pah, papah. Kak Gio! Tolong ini Pravita! Dek, panggilkan Papah." Adikku yang sedang memegang kotak tisu dan berada di sampingku, dia berlari keluar memanggil Papah.
Tidak tahu sudah berapa banyak darah yang telah keluar dari pergelanganku. Namun, yang kulihat banyak sekali kapas berwarna merah berserakan di bawah.
"Mah, aku lemas." Ungkapku pada mamah.
"Vita, tunggu sebentar, Vita." Mamah berusaha membopongku, tapi kami yang hampir sama besarnya membuat mamah tidak kuat membokongku sendirian. Mamah tidak seimbang, berujung pada diriku yang jatuh ke lantai.
Rasanya sakit bertubi-tubi, "Vita!" Itu teriakan mamah yang terakhir kudengar sebelum semuanyaterasa gelap dan sunyi.
Pandanganku kabur, mataku sulit untuk terbuka meski aku menginginkan untuk bangun.
"Pravita, kamu sudah sadar?" Kudengar suara seseorang di dekatku. Karena pandanganku yang begitu buram dan semua objek tampak berputar-putar, serta kepalaku yang berdenyut membuatku sulit mengenali wajah orang yang menggunakan jubah berwarna biru atau hijau itu.
Kukedipkan mata berulang kali, semakin lama bayangan objek semakin nyata. Datang beberapa orang berjubah biru muda mengelilingiku, kurasakan ada benda yang menyentuh dan sedikit menekan dadaku bagian kiri dan kanan bergantian.
__ADS_1
"Nona Vita, halo." Orang dengan stetoskop di lehernya melambaikan tangan kepadaku.
"Nona, bisa mendengarku? Bisa melihatku?" Tanya orang yang kusangka dokter itu. Responsku mengangguk.
"Good! Sus, pindahkan ke ruang rawat."
Di luar, kudengar percakapan dokter dan seseorang, "Dok, bagaimana keadaannya?"
"She is good, dia sudah sadar."
Brankar yang kugunakan bergerak dan berjalan. Di satu tempat berhenti sejenak, dan kurasakan ada tangan yang memegang kepalaku dan mengusapnya sebentar. Entah, tangan siapa.
"Pravita! Vita, kamu sudah bangun, sayang?" Mamah datang dan mengecup dahiku berulang-ulang.
Aku terharu kalau mamah seperti itu, padahal aku bukan anak kecil lagi, Mah.
"Mah?" Panggilku. Mamah berhenti menciumi wajahku. Beralih, mataku dan mamah bertatapan.
"Iya, iya? Ada apa? Apa yang kamu mau, hem?" Tanya mamah. Kini mamah menggenggam jemariku dan mengecupnya.
Aku menggeleng, aku tidak menginginkan apapun. Bersyukur masih diberi kesempatan hidup di dunia dan bisa bertemu lagi dengan mamah dan keluargaku. Di belakang mamah ada Papah, Kak Gio, mereka keluargaku. Melihat Papah yang mengusap air mata, aku turut menangis. Apa yang sudah aku lakukan sebelumnya? Mengapa kuberniat untuk mengakhiri hidupku sendiri?
"Kenapa menangis? Jangan menangis, sayang." Mamah mengusap air mataku.
"Mah, huks."
"Iya, sayang. Lupakan yang sudah terjadi. Sekaran Vita harus sehat, harus kuat, ya?" Ujar mamah seraya mengelus punggungku.
"Vita anak mamah yang cantik, yang kuat, yang sehat. Calon ibu dokter gak boleh lemah dong." Ucap mamah di dekat telingaku.
"Tunggulah, sebentar lagi suamimu akan ke sini. Dia sedang mengurus ad...."
"Mah?" Spontan kutarik mundur tubuhku. aku bertanya dan mengerutkan dahiku, heran.
"Suami?"
Mama memutarkan bola matanya, lalu tersenyum kepadaku. "Iyaa, suamimu. Naufan."
Mendengar nama itu, mengarantarkan ikatanku pada satu orang yang paling aku benci selama ini.
"Kapan aku menikah?" Tanyaku terheran-heran.
"Kemarin. Sudah tiga hari keadaanmu kritis, sayang. Mamah dan keluarga besan sepakat untuk tetap melangsungkan pernikahan itu."
Aku tersenyum kecut. Jawaban yang mamah sampaikan membuatku terheran-heran. Rupanya keadaanku yang seperti ini, tidak ada ubahnya. Tidak bisa menghentikan pernikahan itu.
Aku memalingkan wajahku ke samping kiri. Mencoba untuk meredam emosi, tapi ternyata aku tidak bisa. Kembali kutatap mamah, "Mah, aku sudah bilang aku tidak mau menikah dengan dia!" Gigiku bertautan. Aku benci hal ini.
__ADS_1
"Hush. Kamu..." Ucapan mamah terpotong karena ada seseorang yang datang.
"Assalamualaikum," Terdengar suara orang membuka dan menutup pintu.
Semua mata tertuju padanya, termasuk diriku. Sial, bahkan sekarang dia berada di depan mataku. Aku memalingkan wajahku dari semua orang.
"Dia suamimu, bersikap baiklah padanya. Dia sangat tampan dan kaya." Mamah berbisik di telinga kananku.
"Mamah tinggal dulu ya, kalian bisa bicara berdua." Mamah memundurkan tubuhnya, melepaskan genggaman pada jemariku.
"Mah!" Aku menggeleng-geleng. Aku tidak mau hanya berdua dengannya. Mamah berbalik menggeleng kepadaku dan berusaha melepaskan cekalanku pada baju yang mama gunakan.
Ya, inilah situasi terburuk itu. Hanya ada aku dan dia di dalam ruangan putih ini. Aku tidak mau memandangnya, lebih tepatnya tidak sudi jika boleh kukatakan.
Kurasakan kasur busa yang kutempati melesak, dia duduk di dekat kakiku. Dia menyentuh kakiku, beraninya dia menyentuh tubuhku.
Aku menendang tangannya dengan kakiku yang lainnya. "Pravita, bisa kita bicara?" Ucapnya.
Mendengarnya, membuatku teringat suara lelaki jahat beberapa tahun lalu. Suara yang memuakan dan membuatku ingin membunuhnya saat itu juga.
Wajahku masih berpaling. Aku tidak menangis, aku tidak mau membuang air mataku dengan sia-sia.
"Aku minta maaf." Kalimat itu, aku memejamkan mataku dan menarik napasku dalam-dalam. Mudahnya dia mengatakan maaf.
"Pravita, aku sudah menjadi suamimu. Kita sudah menikah kemarin, kita...."
"Aku tidak pernah ingin menikah denganmu. Kamu bukan suamiku!"
"Kita sudah sah. Bukankah sebelumnya kamu yang menyetujui hubungan ini?"
"Aku tidak tahu jika itu adalah kamu. Aku tidak akan mau menikah jika kutahu kalau kau orangnya." Ketusku.
"Itu alasanku, mengapa waktu itu aku ingin mengakhiri hidupku." Sambungku.
"Tapi Tuhan yang mengingnkan kita untuk tetap bersama."
"Bullshit! Bukan keinginan Tuhan, tapi manusia-manusianya yang memaksakan. Keluarlah, aku tidak ingin melihatmu."
"Aku akan menemanimu di sini."
"Keluar, aku bilang keluar! Jangan pernah ganggu hidupku!" Bentakku. Bahkan kali ini aku menatapnya, kulihat dia tersentak dengan sikapku. Namun, dia tetap tersenyum seperti semuanya baik-baik saja.
"Pergi." Ucapku sekali lagi.
"Dan ingat, jangan pernah menganggap aku ini istrimu atau sebaliknya. Aku tidak sudi jadi pasanganmu!" Ucapku meski wajahku tidak pernah menatapnya saat mengucapkan sesuatu.
"Kau benar. Kita tidak saling mencintai. Tenang saja, setelah ini kita bercerai." Ujarnya.
__ADS_1
"Bagus." Sautku.