Hanya Berperan

Hanya Berperan
Bab 8. Perbincangan di Taman


__ADS_3

Pagi hari aku ingin keluar dari kamar ini. Aku sudah sehat, tapi entah mengapa dokter tidak memperbolehkan aku untuk pulang. Hari ini Anida datang, dia temanku yang masih awet sampai saat ini.


"An, aku mau ke taman." Aku berucap seraya bangkit dari posisi berbaringku, menurunkan kaikiku, dan menuju kursi roda. Anida yang semula duduk di sofa dan sedang menata buah-buahan, mendekat dan membantuku.


"Ke taman mana?"


"Itu di bawah, sepertinya segar. Bosan aku di sini."


Anida memapahku sampai aku duduk di kursi rodaku.


"Kamu tuh masih butuh istirahat, Pravita. Mengapa maksa buat bangkit?"


"An, kalau aku terus dimanjain yang ada gak sehat-sehat dong."


Pintu terbuka. Bukan karena Anida atau aku yang membukanya, tapi dia. "Mau kemana?"


"Hm, ehm... Pravita, dia minta ke taman." Jawab Anida, sedangkan aku malas.


"Ayo, An. Antar aku ke sana."


"Tidak boleh. Kembali." Malah aku mendapat larangan dari pria ini.


Kini kursiku berputar, kembali ke tempat semula. "Kenapa aku dilarang pergi?"


"Kamu belum sehat, di luar lagi banyak debu ada banyak pasir dan semen beterbangan di gedung sebelah."


Aku tidak peduli, memutarkan lagi kursi rodaku dan menuju pintu.


"Berhenti, Pravita." Lagi-lagi dia menahan kursiku sampai tidak bisa bergerak.


"Aku mau ke taman aja, kenapa dilarang-larang?" Protesku seraya menyingkirkan tangannya dari pegangan kursi rodaku.


"Pravita, benar di luar sedang banyak debu. Ada renovasi di lantai bawah." Anida mendukungnya.


"Tapi aku mau ke taman, masa gak boleh sih, An?"


"Ya udah, tapi pakai masker ini." Laki-laki yang dulu menyebalkan ini memasangkan masker pada wajahku, kemudian ia yang mendorong kursiku keluar dari kamar ini.


Meski benar, teryata tak semuanya taman itu segar.  Tanahnya gersang dan  banyak debu yang beterbangan. "Gimana, mau balik ke kamar aja?" Dia bertanya.


"Nggak,"


"Hahaha, dia keras kepala ya?" Anida ini kenapa? Dia malah menertawaiku.


"Pravita, aku ke toilet sebentar ya?"


"Oke, jangan lama-lama ya."

__ADS_1


Lantas hanya ada aku dan laki-laki ini di sini. Dia mendorongku kursiku supaya mendekat ke bawah pohon dan ada kursi panjang di sana. Duduk.


Melihat jari manisnya terselip sebuah cincin yang sama yang pernah kupakai, aku antas bertanya,"kapan kita bercerai?"


"Kenapa buru-buru ingin bercerai?" Jawabnya yang membuatku menyipitkan mata, menatapnya sinis.


"Apa yang kamu dapatkan setelah kita bercerai?" Imbuhnya dengan bertanya.


"Tentu saja banyak, aku bisa menikah lagi. Jelas dengan orang yang aku cintai."


"Sudah pasrti akan seperti itu?"


Belum tahu, tapi jauh lebih baik jika kau sendiri bukan denganmu.


"Dengan laki-laki bernama Andrew itu?" Bagaimana dia bisa tahu? Sedangkan Andrew saja sepertinya tidka tahu jika aku sedikit menyukainya. Mungkin asal tebak saja.


SOK TAHU!


"Bukan, siapa dia?" Aku memalingkan wajahku.


"Bagaimana tidak tahu, dia teman seprofesiku." Jawabnya.


"Bukan urusanmu! Cepat jawab, kapan kita bercerai?"


"Tidak akan."


"Apa!" Aku terjingkat.


"Kenapa tidak akan?" Desisku mengerutkan seluruh otor-otot wajahku.


Dia mengangkat alisnya, sepertia ada kebehagiaan tersendiri untuknya, "aku suka melihatmu menderita. Dengan hidup bersamaku, maka kau akan terlihat hidup menderita." Ucapnya dengan cengiran.


"Orang gila."


"Baiklah, aku yang akan menggugatnya sendiri pulang dari sini." Ucapku.


"Ituah mengapa aku memerintahan dokter utnuk tidak moleh mengizinkan kamu pulang."


"Kurang ajar, mengapa kau begritu padaku hah?"


Bugh bugh bugh, aku memukuli lengannya.


"Karena kau pasti akan bertindak gila,."


"Makanya, kalau nggak mau kau jadi gla. Secepatnya aku minta berpisah."


"Biar ku beri tahu. Aku adalah pewaris pertama perusahaan ayah."

__ADS_1


"Informasi tidak penting. Apa hubungannya denganku? Aku tidak tertarik dengan warisan keluargamu."


"Bukan itu masalahnya. Masalahnya ada di aku." Ujarnya.


"Ya jelas itu masalahmu. Mengapa berimbas kepadaku? Mengapa kau bawa-bawa aku? Aku tidak mau ikut campur urusanmu." Aku menlipat kedua tanganku.


"Kau harus ikut, karena ini menyangkut keluargamu."


Aku mengernyyit, menautkan alisku. "menagapa ada keluargaku di urusan keluargamu? Kau menjadikan keluagaku alat ya?"


"Alat apa"


"Sudah kutebak, pasti ada kepentingan di balik pernikahan ini."


"Ya, pasti."


Dia berubah ekspresi saat wanita tua berjalan mendekta pada kami. "Ibu?" Bisiknya.


"Ibu? Ibumu?"


Samar-samar aku mengingat pemilik wajah itu. Ya, aku ingat wanita itu. Dia dengan kharismanya yang tidak pernah berubah sejak dulu, terakhir kali aku melihatnya saat SMA, sebelum aku pindah.


"Kamu mengapa di sini?"


"Ibu kenapa kemari?" Ibu dan anak itu saling bertanya di waktu yang sama.


"Oh, iya, Pravita ingin keluar." Jawab anak kepada ibunyai tu.


Tidak ada jawabna apapun dari ibunya, dia hanya tersenyum tipis menatapku sekilas.


"Baiklah, ibu ada kepentingan di dalam. Tinggal dulu ya." Ujar wanita itu. Laki-laki itu mencium tangan ibunya dengan santun. Apa aku juga harus melakukan hal yang sama?


Baru saja tangan kanan ini akan terangkat untuk meminta salamnya, tetapi wanita itu pergi tanpa melihatku untuk kedua kalinya. Aku manatap kepergiannya yang di kawal oleh beberapa orang pria yang berjalan di belakangnya.


Setelah kepergiaannya, aku merasa aneh saja dengan sikapnya. Aneh bukan sekadar aneh biasa, tapi aneh saja jika dia masih mengingat masa lalu saat aku tidak sengaja mencelakai anaknya ini.


"Ayo, kita kembali ke kamarmu."


"Itu ibumu? Apa dia tidak tahu kalau aku ini?" Mengapa aku merasa seakan tidak dianggap, meskipun aku tidak menginginkan hubungan ini?


"Tahu, mungkin." Sautnya.


Tidak mungkin apa? Seperti tahu saja apa yang aku tanyakan.


"Besok kita pulang, ke rumahku."


"Apa? Aku tidak mau."

__ADS_1


"Tidak ada penolakan, Pravita."


"Kenapa kehidupanku penuh dengan pemaksaan kehendak Ya Tuhan!"


__ADS_2