
Wanita yang begitu tegas dengan kharismanya. Cara berjalannya yang berwibawa, senyumnya yang lembut, membuktikan bahwa dia bukan wanita biasa. Mungkin piyayi, seperti yang sering ku dengar nasihat dari almarhumah nenekku dulu.
..."Jadilah wanita yang berharga, bukan hanya cantik dan pintar semata. Namun, punya adab dan etika. Bertingkah lakulah sebagaimana kodratnya. Kuasai hati yang tenang, hidup akan damai dan tentram, berjalan yang anggun, bertutur kata yang sopan dan berperilaku santun layaknya seorang piyayi." nasihat nenek padaku saat usiaku bahkan belum genap sepuluh tahun waktu itu....
Wanita itu sekilas mengingatkanku pada kalimat yang sering nenek katakan padaku. Seperti dapat kulihat sosok nenek dari wanita paruh baya yang kini duduk berhadapan dengan lelaki yang berstatus sebagai suamiku.
Dari kejauhan, memang ada mirip-miripnya dengan perangai nenekku dulu. Tapi, entah. Mungkin orang-orang seusia itu akan menampilkan sikap dan gelagat yang hampir sama di golongan usianya. Sepertinya, usia ibu mertuaku ini sama seperti usia nenekku dulu sebelum meninggal dunia.
"Hei!" Satu tepukan mengenai pergelangan tangaku, sontak menimbulkan suara karena sendok dan cangkir berbenturan.
"Malah ngelamun, tehnya sudah jadi belum?" Dia datang dan mengambil alih tehnya dariku.
"Ada cicilan apa sampai terlihat stress begitu?" Kali ini aku tidak ingin membalas ucapannya. Biarkan otot-otot pipiku relaks untuk hari ini.
Dia membawa tehnya menuju ruang depan, "Tunggu!"
"Aku saja yang berikan pada ibumu." Pintaku seraya mengambil alih cangkir itu dari tangannya. Sekilas tatapannya mengerut, tapi tidak ada penolakan atas permintaanku.
Wanita paruh baya dengan dress midinya. Aku terkesan dengan penampilan dan sikapnya, meski jika diingat dulu itu aku pernah diancam olehnya. Namun, aku merasa suasana hati ibu saat itu dan hari ini berbeda. Aku ingin lebih dekat dengannya.
Tersenyum padanya, aku berlutut untuk meletakkan cangkir di meja. "Terima kasih." Ucapnya simpel tapi terdengar berharga.
"Teh herbal dengan tambahan sedikit gula aren, Bu. Ucapku masih berada di posisi yang sama. Berlutut dan menunggu teh itu diminumnya.
Cangkir berada di tepi bibirnya, bahkan saat minum saja terlihat begitu elegan dan mempesona. Alisnya mengerut, memperlihatkan garis-garis di dahinya terlihat semakin jelas.
Ekspresinya yang seperti itu membuatku ikut menyamakan raut wajahnya. "Tidak enak ya Bu?" Tanyaku.
__ADS_1
Seperti susah untuk ditelan, tapi ia menggeleng. "Enak, segar. Harum rempahnya sangat menenangkan jiwa, jadi relaks." Ulasannya pada teh buatanku.
Seketika senyumku merekah, "terima kasih, kalau ibu suka."
"Seenak apa sih Bu?" Laki-laki menyebalkan itu datang dari belakang.
"Kamu belum pernah?" Ibunya bertanya seraya menolehkan kepalanya menyamping, saat anak laki-lakinya yang menyebalkan itu memeluknya dari belakang.
"Tidak, aku tidak pernah dibuatkan teh seperti itu. Dia hanya membuatkanku kopi hitam pahit tanpa gula." Ujarnya menjelek-jelekkanku. Padahal, aku tidak pernah membuatkan minuman apapun untuknya.
Tidak pernah dibuatkan saja, dia menjelekkanku. Apalagi jika kubuatkan sesuautu? Pasti akan diulas semakin jelek dan menjadi bahan cerita ke seruluh populasi dunia.
Puk puk. Ibu itu menepuk sofa dan memintaku duduk di sebelah kirinya. Aku menurut, setelah itu memerintahkan anaknya untuk duduk di sebelahnya.
Mengambil tanganku dan menggenggamnya dalam pangkuan. Aku menatapnya bingung, semakin dibuat bingung dengan situasi ini saat ibu menanyakan sesuatu di luar nalar. "Apa kamu benar mencintai anakku?"
Jika boleh kukatakan, sesungguhnya tidak ada sedikit pun cinta. Kalau pun aku mau, sekarang juga aku meminta cerai darinya. Aku benar-benar tidak mencintainya. Mungkin dulu sempat ada rasa, tapi setelah pernah diabaikan rasanya sudah berbeda dan menjadi sebaliknya.
"...." Aku hanya diam dan menunduk.
"Aku tahu jawabanmu. Sangat jelas dengan sikapku yang seperti itu. Kalau begitu, jangan halangi anakku untuk mencari wanita yang lebih pantas untuknya." Ia mengembalikkan tanganku di pangkuanku.
Aku mengernyit, mengapa aku merasa kalimat itu tidak sesuai dengan penampilan seorang nyonya piyayi itu. Walaupun tidak ada salahnya dengan kalimat itu, dan aku tidak keberatan jika anaknya mau menikah lagi atau apa. Tetapi, seharusnya kalimat itu tidak keluar dari bibir wanita paruh baya di depanku ini yang sekilas wibawanya mirip dengan nenekku.
Dia menepuk-nepuk pipi putranya itu yang masih sama diamnya sepertiku. Entah aku dihadapkan dengan situasi apa ini?
"Ada makanan apa? Belum ada ya? Mau ibu masakan apa, hem?"
__ADS_1
Laki-laki itu hanya menggeleng. Saat ibunya hendak bangkit, dia menahannya. "Bu, aku tidak mungkin menikahi orang yang tidak kukenal Bu." Ujarnya pada ibunya.
Ibunya tersenyum dan berkata, "kenal saja belum tentu cinta."
"Tidak perlu cinta, Bu."
"Lalu, dengan dasar apa menerima dan jaminan kesetiaan jika tanpa ada cinta? Kamu terlalu muda untuk mengerti kehidupan, sayangku." Ujar ibu pada anaknya itu.
"Tidak, Bu. Dengannya aku sudah merasa cukup. Pravita tidak menjawab pertanyaan ibu secera langsung, bukan berati dia tidak mencintaiku Bu. Ibu tidak boleh menyimpulkan begitu."
"Ibu sudah tahu sejak awal, bahkan sejak dulu masa SMA mu." Ibunya berdiri dan berjalan ke arah dapur.
Tanpa diduga, laki-laki itu ikut beranjak dari kursinya dan kembali bersuara, "Jika dia tidak mencintaiku. Maka, biarkan aku yang mencintainya dan akan terus mengikatnya untuk selalu berada di hidupku."
Lebih dari itu, sekarang dia menarikku untuk bangkit dan membawaku dalam rangkulannya. Respons wanita itu hanya tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala.
Saat ibu mertuaku itu kembalu berjalan menuju arah dapur, laki-laki ini berbisik padaku.
"Kau harus memainkan peran yang bagus dan meyakinkan semua orang kalau kita saling mencintai, bodoh!" Desisnya dengan cengkeraman di lengan bagian atas tangan kiriku.
"Issh, mengapa harus aku jika kau saja bisa menghandelnya. Lagi pula pertanyaannya soal cinta, jelas jawabannya 'tidak'. Aneh, dasar tolol Uh!" Balasku yang sama-sama mendesisnya.
Tangaku yang melingkup di pinggangnnya, menjadi kesempatan untukku mencubik pinggangnya.
Cetit! Mencubit sebagian kecil lemak ditambah gerakan memutar 180 derajat. Membuatnya tersengal.
"Ssshhh. Apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
"Memilin sedikit lemakmu. Hihihi." Entah apa yang terlintas di kepala mertuaku saat aku dan dia terjengkal-jengkal karena mencoba saling mencubit pinggang dengan cubitan yang maha dahsyat sebisa mungkin.