
"Ayo makan. Atau mau makan di luar?" Ajak Naufan.
"Dimana?" Tanya Pravita, dia sudah sangat lapar.
"Restauran depan."
"Aku sudah sangat lapar," gadis itu sudah kelaparan.
Kruyuuuk. Bluk bluk, kruyuuk. Perutnya terus saja berbunyi.
"Aku sudah sangat lapar. Di dapur ada apa? Aku mau masak saja." Pravita berujar, dia melangkah ke dapur dan membuka rak-rak atas dan menemukan bahan makanan pasta instan.
"Aku buat pasta ya, mau tidak?" Teriaknya dari dalam dapur.
"Ya!" Saut pria yang berperan menjadi suaminya itu.
Pasta dengan saus bolognese, itu yang terpikirkan dalam otak Pravita saat ini. Pertama, dia merebus tomat. Menyiapkan air rebusan untuk pastanya. Menunggu pasta itu dalam kematangan Le dente, Pravita mencincang bawang putih dan bawang bombai.
Mencari salah bahan utama dalam saus pastanya, daging. Di dalam lemari pendingin tidak ada daging. "Hei, dimana dagingnya?" Teriak Pravita.
"Daging apa?" Sautnya meski tidak sekeras teriakan perempuan itu.
"Daging tikus!" Tidak ada daging atau slices beef di dalam kulkaa atau freezer. Pria itu datang dengan langkah yang tertatih-tatih.
"Cari daging untuk apa?" Tanya pria yang berjalan membungkuk dan memegangi perutnya itu.
"Buat bikin pasta. Untuk apaa lemari es sebesar ini tapi tidak lengkap isinya? Membuang-buang uang saja, boros listrik." Cibir Pravita.
Dia meniriskan rebusan tomat pada air dingin supaya mudah dikupas kulitnya, lalu meletakkannya pada cuttingboard dan siap untuk dicincang.
"Kalau bahannya kurang, aku jadi malas masak." Lagi-lagi dia mengingat satu bahan, keju permesan. Dan sekali lagi, bahan itu tidsk ada di kulkas.
Prang! Gadis itu seperti orang yang kesurupan, dia melemparkan pisau di meja.
"Sudahlah, aku tidak jadi masak. Menyebalkan, tidak ada apa-apa di sini. Malas!" Dia mendumal dan melepaskan apron pada tubuhnya, niatnya akan pergi dari dapur itu, tapi lengannya tertahan.
"Memangnya bahan apa saja yang kurang?" Naufan bertanya.
"Banyak. Keju permesan, lada, basil, oregano, daging sapi," sebutnya mendikte satu per satu bahan yang dibutuhkan.
"Apa lagi?" Naufan mencatat pada ponselnya apa yang tadi dikatakan Pravita.
"Apa ya? Garam sudah ada, hem. Oh ya, micin! Aku butuh micin." Riang gadis itu berhasil mengingat sesuatu.
"Pakai micin?" Tanya Naufan.
"Ah, iya sedikit. Micin atau penyedap rasa ya." Ujar Pravita girang.
Telepon Naufan berdering, "Halo, Pak Budi. Iya pak, tolong belikan bahan-bahan itu. Iya, benar Pak, dia suka memasak. Baik, terima kasih ya Pak." Naufan menutup teleponnya.
"Lima belas menit lagi Pak Budi sampai membawa pesananmu." Ucap Naufan memberi tahu.
"Wah, cepat sekali. Siapa itu pak Budi?"
"Bawahannya kakek." Jawab Naufan. Menunggu lima belas menit bukanlah waktu yang lama, tetapi sudah hampur setengah jam orang yabg ditunggu tidak kunjung datang.
__ADS_1
"Pak Budi tahu rumah kita kan?" Tanya Pravita.
"Tahu, sudah share location, kok."
"Kok lama banget?" Gadis itu tidak sabar, pastanya telah matabg dan sudah dingin di dalam wadah berisi air es.
"Pastaku hampir membeku sangkin lamanya menunggu." Lagi-lagi gadis itu mulai kesal.
Ting-tong. Bel rumah berbunyi.
"Itu pasti Pak Budi ya?" Celetuk Pravita menerka siapa yang datang memencet bel rumah.
Pravita yang berjalan sedikit pincang menarik perhatian Naufan. "Kakimu itu melepuh?"
"Gak, aman. Udah kuoles salep!" Teriaknya menanggapi seraya berjalan menuju pintu masuk utama.
"Apa Pak Budi itu seorang perempuan? Dia ini siapa? Membawa bingkisan di tangannya. Apa dia suruhan Pak Budi?" Ujar Pravita dalam hati.
"Permisi, ini kediamannya Naufan ya bik?" Tanya seorang wanita yang berdiri di depan Pravita. Wanita berperawakan tinggi semampai ditambah heels setinggi tujuh senti meter dan menggunkan dress maroon yang ketat sepanjang lututnya.
"Iya, ini suruhannya Pak Budi ya?" Pravita balik tanya.
"Siapa, Pravita?" Teriak Naufan dari dalam.
"Oh ya, itu dua suara Naufan. Permisi, Bik. Saya mau bertemu dia." Wanita itu masuk dan melenggang melewati Pravita begitu saja.
"Lincah sekali wanita suruhan Pak Budi." Ujar Pravita lirih dan menggeleng-geleng.
"Hei, Lee Minna?" Pekik Naufan saat melihat kedatangan wanita itu. Naufan berjalan mendekat pada wanita bernama Lee Minna itu. Yang membuat Pravita terkejut adalah saat mereka berpelukan erat dan bercipika-cipiki di depan mata Pravita.
"Melihat wanita cantik, tubuhnya langsung tegak, dan sakitnya langsung sembuh. Dasar pria hidung belang!" Cibir Pravita.
Ting tong. Bel rumah kembai berbunyi, pintu yang masih terbuka dapat terlihat seorang pria tua mengenakan kameja yang membawa plastik berisi belanjaan.
Pravita mendekat, "Pak Budi?" Terka gadis itu.
"Iya, ini pesanan Nyonya. Maaf, tadi saya cari micin. Di mall susah, Nyonya." Pengakuan Pak Budi menunduk-nunduk merasa bersalah.
"Oh ya? Biasanya saya beli micin di toko kelontong, Pak. Tidak pernah beli di mall. Ya sudah, makasih. Mampir dulu Pak Budi?" Pravita bersikap ramah kepada pria tua tersebut.
"Tidak, saya ada pekerjaan lain. Terima kasih, Nyonya. Saya permisi dulu." Pamit pak Budi.
Pravita dengan jalan pincangnya, berjalan kembali ke dapur. "Pravita, tolong buatkan teh untuk Lee Minna. Model kondang ini."
"Teh?" Pravita mengernyit.
"Iya, teh hijau tanpa pemanis ya Bi. Aku tidak mengonsumsi black tea dan gula." Ujar Lee Minaa.
"Bi?" Naufan bertanya.
"Iya, memangnya dia siapa? Pembantu rumah ini kan? Apa aku salah?" Lee Minna beranggapan.
"Bukan, dia istriku."
"Istri? Oops!" Wanita cantik berambut panjang bergelombang itu menutup mulutnya. Memandang Pravita dan Naufan dengan tidak percaya.
__ADS_1
"Brodi, apa kau tidak salah? Dia itu istrimu?" Bisik Lee Minna pada Naufan yang diangguki oleh pria itu.
Pravita kesal, dia mencari teh hijau untuk dibuat minuman dan disajikan sesuai permintaan tamu.
"Kurang ajar, beraninya dia menganggapku babu!" Dumal Pravita seraya mengaduk teh hijau hangat itu.
Gadis itu membawa cangkir pada nampan dan meletakkan secangkir teh hijau di meja. Tanpa berkata terima kasih, wanita itu malah menutup hidungnya.
Pravita sontak mencium kedua lengan bajunya. "Bau." Komentar Lee Minna saat Pravita berdiri sedikit mencondongkan tubuhnya saat meletakkan cangkir teh di meja.
"Ya, maaf. Aku memang belum mandi." Pravita berterus terang.
"Bau ketiak, kamu orang miskin ya?" Ujar Lee Minna.
"Mandilah! Tidak pantas kau bersanding dengan Naufan dan menggantikan posisiku." Ujar Lee Minna.
Pravita yang semula berusaha bersikap tetap ramah, kini tidak lagi. Dia merasa dihina oleh orang asing yang datang bertamu.
"Ingin kutinju nih orang. Dasar Samina-samina kurang ajar." Pravita mendesis sengit.
Menu makanan yang harusnya dimakan waktu sarapan, jadi menu brunch karena hari sudah menjelang siang. Di meja makan, Pravita menyiapkan tiga porsi spaghetti yang telah dia masak.
"Sayang, makanan sudah siap. Ayo kita makan." Ucap Pravita yang sedang berperan di depan wanita menyebalkan yang sejak tadi tertawa riang dengan suaminya.
"Oh ya baik, ayo kita makan." Ajak Naufan pada wanita itu.
Pravita menyiapkan piring sesuai kehendaknya. Dia yang sejajar dengan Naufan, sedangkan piring wanita itu berada di depan Naufan. Namun dia wanita bermuka tebal, dengan tak melepaskan tangannya pada lengan Naufan dia berhasil menggeser posisi berdiri Pravita dan duduk di sebelah kursi Naufan.
Sebelum itu, Pravita menukar piring yang sudah harusnya milik dia dan milik wanita itu.
"Auh, terlihat menggiurkan. Tapi, aku sedang diet karbo." Ujar Lee Minna.
"Hush, untuk kali ini makanlah beberap suap. Tubuhmu juga memerlukan karbo sesekali." Ucap Naufan.
"Baiklah. Demi permintaanmu." Ucap Lee Minna. Wanita itu menggulugkan sedikit spaghetti pada garpu dan memasukkannya ke mulutnya.
"Auh, pedas sekali." Komentarnya dengan tangannya yang mengipas-ngipas mulutnya.
"Ah, masa. Ladanya pas kok, ini enak." Ujar Naufan.
"Tidak, punyaku sangat pedas seperti ada cabainya." Ujar Lee Minna. Wajahnya berubah merah dan dahinya berkeringat.
"Tidak sama sekali," Naufan lagi-lagi menyuapkan spaghetti miliknya untuk memastikan rasanya.
"Punyaku sangat pedas, coba kau 'A'," Lee Minna menyuapkan Naufan segulung spaghetti miliknya.
"Pedas kan?"Lee Minna meminta pendapat pria yang duduk di sampingnya.
"Buset, pedes banget. Dia masukkan apa ke pastanya? Bumbu seblak jeletot ini mah." Ujar Naufan dalam hatinya seraya menatap mata Pravita.
Pravita–dia tersenyum puas seraya menikmati spaghetti miliknya.
"Spaghetti rasa apa ini? Sangat pedas membakar lidahku." Ujar Lee Minna mengipas-kipas dan menjulurkan lidahnya berkali-kali.
"Spaghetti rasa api asmara ala Pravita." Ujar gadis itu bangga. Dia bahagia karena rencananya berhasil memberikan dua sendok bubuk cabai pada piring Lee Minna untuk memberikan pelajaran pada wanita yang kurang ajar itu menurutnya.
__ADS_1