HARU BIRU GURU BARU

HARU BIRU GURU BARU
BIRUNYA HARI PERTAMA


__ADS_3

 "Buu...sepatu  Dita mana ya,.. aduh ini sudahsiang takut telat ke sekolah." terlihat Dita panik mencari sepatunya.


"Maasya Allah Ditaa... mau pake sepatu yang mana siih.. itu sepatu berjejer, masa gak ada." ibunya geleng-geleng kepala sambil menahan senyum.


Hari ini anaknya mau melangkah menuju dunia baru dalam hidupnya.  Dita baru mendapat panggilan mengajar di sebuah SMP dekat rumah.


Dari kemarin dia sudah terlihat sangat antusias mempersiapkan segalanya, tapi rupanya ada yang terlupakan. Jadilah pagi ini semua ikut mencarikan sepatu. Bukannya ketemu malah jadi berantakan..


“ Sudah-sudah biar ibu yang carikan, ayah sama Rubi lanjutkan saja sarapannya.”  ibu mengambil alih pencariannya.


"Sepatu ini kan yang Dita cari? tuh  cocok dengan baju yang dipakai." ibunya memperihatkannya pada Dita.


Dita langsung mengambil sepatu yang ibunya pegang.


"Kok tadi dicari-cari gak ada ya?" Dita mesam-mesem sambil memakai sepatunya, dan berla


Melihat hal itu ayah dan  Rubi-kakaknya Dita, ikut geleng-geleng kepala, sambil melanjutkan sarapan yang tertunda oleh kehebohan mencari sepatu.


Tak lama kemudian,di meja makan,  mereka menghentikan suapannya teringat sesuatu dan saling berpandangan. seketika  langsung menengok ke arah pintu.


“ Dita belum sarapan! “ ketiganya bicara kompak. Tapi Dita sudah berlalu.


                                                                        --0--


Hari ini terlihat sangat beda. Mentaripun ramah menghangatkan hati. Suasana jalan tenang, walaupun beberapa mobil lewat, dan suara anak-anak berceloteh sambil berlarian menuju sekolah terdengar sangat riang. Dita terus berjalan sambil menyunggingkan senyum manisnya, ingin segera sampai di sekolah.


Walau hatinya berkecamuk dengan berbagai pertanyan,’ apakah dia bisa menyampaikan ilmu ? akan berhasilkah  dia mengantarkan  anak didiknya  menjadi pribadi yang lebih baik dan berwawasan luas?’.  Dan beribu pertanyaan lainnya silih berganti memasuki relung hatinya. Tapi semua ditepis  dengan sebuah keyakinan  bahwa apapun harus dihadapi dengan ketulusan dan tekad yang kuat untuk mengerjakan segala sesuatu dengan maksimal. Kalaupun dalam perjalanannya ada hal yang salah, itu adalah hal yang wajar.


Terlihat wajahnya mulai menyunggingkan senyum, dan langkahnya makin mantap. Matanya berbinar indah, dan tangannya  direntangkan sambil menengadah merasakan hangatnya mentari. Sampai satu suara mengagetkannya,


“ Kalau jalan lihat-lihat ya gak pake ngelamun,”


“Astaghfirullahal adziim“ Dita kaget dan membuka matanya, terlihat seseorang berlalu sambil sambil menyungginkan senyum mengejek dan terus melangkah tanpa menunggu jawabannya.


Sambil menahan  dongkol Dita melangkah kakinya dengan tergesa karena ternyata  sudah sampai di pintu gerbang sekolah.  Sampai seseorang menyapanya ramah.


"Ibu guru baru ya, kenalkan nama saya Yati."


"Oh saya Dita, senang bertemu ibu," terlihat Dita menyambut tangan yang diulurkan penyapanya.

__ADS_1


"Mari bu Dita kita masuk, nanti saya langsung kenalkan dengan gur-guru yang lain." Yati menunjukkan letak kantor gurunya.


Dita dicarikan meja yang akan ditempati. Kemudian dituntun untuk menyapa teman teman guru yang lain. Kantor  mulai ramai saling menanyakan berbagai hal pada Dita  dari  yang biasa sampai menanyakan status. Saat tahu Dita masih sendiri  beberapa guru senior mulai nyerempet-nyerempet, dan menggoda


"Pak Anton... ini ada yang single ,  cepat sini nanti disamber Pak Rudi lho"


Bu Yuli memanggil Pak Anton. Yang dipanggil hanya mesam-mesem.


Sontak saja yang lain menimpali: "Kalau kamu enggak mau biar buat anak bapak aja


lho... nyesel nanti."


 geerrr kantor ramai dengan gelak tawa guru-guru, Dita tersipu malu-malu mendapat sambutan yang hangat ini. Candaan belum berhenti sampai di situ, karena Pak Rudi mendekati Dita,


"Kenalkan aku Rudi ya Bu, " Rudi menjabat tangan Dita, dan pegangan tanggannya tak dilepas.  Pak Yoyo pun ikut nimbrung


"Hayoh Pak  Rudi itu tangan orang lepasin, kalau mau digenggam sana pake cincin dan lamar BuDita sekalian"  kembali gelak tawa memenuhi ruang kantor . Akhirnya  pak Rudi melepaskan tangan Dita.


Baru aja  hatinya tenang, Bu Yati ikut-ikutan, manggilin Pak Antooon, untung saja yang dipanggil hanya mesam-mesem. Dita jadi melirik memperhatikan Pak Anton sekejap.


“Hayooo, penasaran ya sama Pak Anton,” Yati mencolek pinggang Dita.


menegaskan.


“ Ya iyalah bu, hari pertama pikirin juga aku, “ seseorang nimbrung dan duduk dekat Dita..


Dita terkejut dan menengok ke arah samping.


“ Kaaamuuuu????” Dita  tidak percaya melihat orang yang ada dihadapannya.


“Nuuriii… ini bener Nuri?” Dita mengguncang bahu Nuri.


“iya..ini aku… Nuri sahabat SMP mu dulu. “ Nuri menjawab sambil memeluk Dita erat.


“Dita ..kamu bener jadi guru? Setahuku dulu kamu menghindar jadi guru, dan aku ingat betul saat kita membicarakan cita-cita, kamu selalu mengolok-olokku waktu aku bilang mau jadi guru” Nuri masih memeluknya.


“Aku juga gak tahu Nur, takdir kali ya, soalnya ikut test dibeberapa Universitas  selalu gagal, sampai akhirnya  yang ku pilih Universitas Pendidikan Indonesia, tak tahunya  aku lulus.” Dita melepaskan pelukannya dan mereka duduk bertiga melanjutkan acara kangen-kangenannya.


Seseorang menghentikan obrolan mereka, karena Dita disuruh menghadap bagian Kurikulum.

__ADS_1


“Kita lanjut nanti ya obrolannya, “ Dita berdiri mengikuti orang yang menyusulnya tadi.


Dita dibawa ke ruang Wakasek, dan matanya tersentak melihat sosok yang tadi pagi sedang duduk di salah satu meja dengan label Pembina Osis. Kejengkelannnya kembali muncul, saat dia dengan acuhnya tanpa melihat sedikitpun kepadanya. Mau tidak mau Dita harus melewati mejanya untuk sampai di meja bagian Kurikulum.


“Selamat  pagi pak, saya Dita. “  Dita memperkenalkan diri dan duduk di depan meja Kurikulum.


Pak Suganda memperkenalkan namanya dan dengan ramah memberikan pengertian pada Dita,  karena diberikan dua mata pelajaran, sehubungan ada guru bahasa sunda yang sedang cuti hamil.


“ Gimana ibu sanggup mengajar IPS di kelas sembilan dan Bahasa Sunda di kelas tujuh?”.


Dita mengangguk dengan pelan, dan dengan senyuman menenangkan.


“Pergunakanlah pertemuan hari ini untuk perkenalan bu, dan coba memahami karakter siswa yang akan ibu hadapi.” Pak Suganda memberikan arahan


“ Ingat juga di kelas sembilan jangan sambil tebar pesona apalagi melamun,” orang


menyebalkan ikut nimbrung.


Sebelum Dita terpancing emosinya kembali pak Suganda menenangkan  “Sudah Jangan


didengar candaan Pak Toni, “


“ Terimakasih pak Alhamdulillah barusan telinga saya tidak mendengar suara orang lain  bicara kecuali bapak. “ mata Dita melirik tak kalah sengit. Melihat hal itu Pak suganda hanya  senyuman bijak. Dan terlihat orang yang disindir menahan emosinya. Dita menahan senyumnya puas.


Setelah menerima mendapatkan denah area sekolah dan jadwal pelajaran, Dita melenggang


keluar ruangan, menuju kelas tujuh. Tanpa disadarinya tahu-tahu seseorang mensejajarkan langkahnya dan menyapa.


“Kenalkan aku Anton, maaf tadi tidak menyapa,” Pak Anton bicara sambil menundukkan wajahnya. Baru saja Dita mau menjawab, Pak Anton sudah mendahului .


Dita menghentikan langkahnya melihat punggung pak Anton, sambil menggelengkan kepala Dita  bergumam,  "Sambutan apa di sekolah ini berkumpul guru-guru muda yang senangnya bikin kaget dan nyeloyor begitu saja.“


“Ternyaata, selain tukang melamun, anda  suka bicara sendiri juga ya,


“ Astaghfirullaahal Adziim, bisa enggak sih bapak tidak selalu mengagetkan saya?” Dita tidak


bisa mengendalikan suaranya, setelah tahu bahwa yang mengagetkannya adalah si Pembina OSIS. Kemballi dia hanya mengangkat bahunya tak peduli meninggalkan Dita dibelakangnya....


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2