HARU BIRU GURU BARU

HARU BIRU GURU BARU
KECEWA


__ADS_3

“Kalian tidak akan sholaaat?....”


Pertanyaan yang datang tiba-tiba menyentakan ketiganya.


“Iiih kalian ada di situ dari kapaan?” akhirnya Nuri yang bicara, setelah mereka bengong sesaat melihat temannya sudah kembali.


“Nguping dosa tahuuu….”Dita cemberut sambil berdiri keluar dan menggamit tangan Yati.


“Makanya kalau bicara jangan pake rahasia-rahasia segala… aku tunggu jawabanmu Ditaaa…” Toni kesenangan, diikuti tawa Rudi.


“Jangan haraaaap…” ujar Dita sambil cemberut.


“Ingaat aku suka lihat wajah cemberutmuuuu…hahaa.” Toni makin menjadi-jadi menggoda.


Dita bergegas meninggalkan gazebo menuju mushola, diikuti ke dua temannya sampai sepatu juga diinjak bagian belakangnya saking ingin cepat berlalu.


Sepeninggalan cewek-cewek,tetiba Rudi mencolek temannya.


“Broo… kelihatannya kamu bener-bener suka ya sama dia,” Rudi bertanya.


“Gak tahu laah, pokoknya seneng aja kalau lihat dia emosi gara-gara aku ganggu,”Toni tersenyum sendiri membayangkan setiap reaksi Dita.


“Jangana main api bro, urusan kamu sama Lutfi aja masih rumit udah ditabah lagi.” Rudi


mengingatkan.


“Nanti lah tunggu mereka, aku ingin tahu bagaimana reaksi Dita…”


"Kenapa Dita yang jadi tolok ukur… kalau gitu kamu gugur  jadi cowok setia “ Rudi menggoda.


“Aku bukan pria setia kaliii, cuman kemaren belum ada yang bisa memalingkan hati sekuat sekarang…” Toni mengarahkan pandangan ke arah air terjun mini dan menerawang mengingat masa-masa indah bersama Lutfi, yang sudah setengah tahun ini semua hanya tinggal kenangan. Rudi mendiamkan temannya tanpa mengganggu, karena tahu apa yang sedang berkecamuk di hatinya.


“Hayyooo melamuuun, tuuuh ayaam tetangga mati ntar dibengongin mulu…?” Yati sekonyong-konyong menepukkan kedua tangannya kebahu Toni.


“Astaghfirullaah…Yatiii bikin kaget aja” Toni terperanjat, diikuti tawa teman-temannya.


“Lanjutin yuk ah ngobrolnya biar gak ke sorean pulang,” Nuri mengingatkan.


Mereka malah diam. Tak ada yang bicara satupun. Toni malah saling ngasih isyarat ke Rudi, dita maenin minumannya, Yati ngipas-ngipasin badannya.


“Kalau gak jadi ngobrol kita pulang aja atuh yuk Diiit,”sengaja Nuri menekankan nama Dita.


“Bentar… bentar bener aku mau ada yang diomongin,…” Toni akhirnya bicara juga.


Matanya kembali melihat ke arah Rudi minta di bantuan, akhirnya Rudi memberi gambaran sepintas tentang kemelut yang sedang dihadapi temannya.

__ADS_1


“Lho… peran kita apa, buat nyelesaikan masalah si bapak itu… yang bersangkutannya saja tidak berani mengambil sikap tegas saat pasangannya berselingkuh.” Nuri mengingatkan.


Masalahnya tidak sesederhana itu Nuuur… orang tua kita sudah sepakat mempersiapkan amaran.” suara Toni sedikit putus asa.


“Yaa sudaaah jika begitu kasih tahu mereka tentang perkembangan yang terjadi. Mudaah kaan?” Yati menimpali.


“Jadi selama enam bulan perkembangannya bagaimana?” Nuri heran.


“ Ya… begitu … berubah sebentar, lantas ketahuan lagi,


aku coba bersabar dengan memberikan  kesempatan buat Lutfi."


“Enam bulaaan brooo… masih begitu dan kamu masih raguuu…” Rudi menepuk bahu temannya.


“Aku tahuu…”terdengar suara Dita tiba-tiba.



Semua mata memandangnya penasaran, karena dari tadi diam, tiba-tiba dia bersuara. “Yaa… aku tahu …. berarti cinta kak Toni  sangat tulus. Maka jangan ragu-ragu, lanjutkan melangkah seperti yang  disarankan sama


Yati tadi. Beres kaan…!!” Sahut Dita sambil mengedarkan pandangannya kearah temannya satu persatu.


“Bener itu Diiit, “Yati dan Nuri mengaminkan.


Yang dipandang terlihat salah tingkah tidak berani mengangkat wajahnya. Kalau punya kekuatan, mau rasanya dita menghilang dari tempat itu, dia menyesali apa yang sudah di katakannya tadi.


“Aku salah ngomong yaaa…” akhirnya Dita berani


mengangkat wajahnya.


“Yaaa… kamu salah .“ suara Toni berat, dan yang membuat Dita merinding.


“Ya… maaf, “ Dita kembali menundukkan wajahnya.


“Lantas apaaa…”Nuri dan Yati kembali keheranan.


Rudi menyenggol bahu Toni, yang melayangkan pandangannya


jauh…


“Ayoo broo, ngomong sekarang atau tidak sama sekali, “


Pandangan Toni kembali mengarah ke teman-temannya, sambil menghela nafas lagi.


“Kalau sekarang aku merasa berat menjalani kesabaran ini ada penyebabnya…”. Toni diam sebentar, dan matanya kembali di arahkan sama Dita.Yang lain jadi ikut-ikuta mengamati Dita tidak mengerti.

__ADS_1


“Kamu Diiit, kamu yang membuat aku berat menjalaninya sekarang…” Toni menekankan kata-katanya.


Mendengar namanya yang menjadi penyebab, membuat Dita merasa di sambar petir.


“Kenapa aku… aku melakukan aapaaa…” dita menengadahkan wajahnya bingung.


“ Yaa… karena kamu sudah merampas hatiku tiba-tiba”


Degg… ulu hati Dita rasanya ada yang menusuk, diikuti mata kekagetan Yati dan Nuri


“Kamu tahu Diiit, aku sedang menjalani semuanya dengan sabar dan penuh keyakinan bahwa hubungan aku bisa selamat. Tetapi kedatangan kamu membuat aku kehilangan rasa samaLutfi. Hari-hari  aku sering mengganggumum tanpa di sadari mengundang semua tentang kamu masuk di hati dan pikiranku. melamunnya kamu…paniknya kamuu… cerobohnya kamu…pokoknya semua tentang kamu merampas relung hati ini selama kita kenal,” Toni beradu pandang sekilas dengan Dita, karena Dita mengalihkan pandangan ke tempat lain.


Semua tidak ada yang berani bicara, dan tidak menyangka, bisisnya yang selama ini terlihat tenang, menyenangkan karena sering pecicilan, bisa juga seserius ini mengungkapkan semua.


“Aku berubah karena kamu…dan makin berat beban menghimpit, mendengar kamu sudah memberikan kesempatan itu untuk Andra,”


“Brooo gak boleh gitu lho, urusanmu saja belum selesai, jangan dulu mencercar Dita sejauh ini,”Rudi mengingatkan temannya sambil menepuk-nepuk bahunya.


“Aku tahu, tidak berhak apapun atas keputusan hidupmu Dit, kamu kenal Andra jauh sebelum kenal aku, seperti aku sudah dekat dengan Lutfi…”


“Naaah itu kamu tahuu….” Kembali Yati kompak dengan Nuri ingin membantu temannya yang makin menundukkan wajahnya.


“Tapi Dita perlu tahu perasaanku, “Toni membela diri.


Kembali semua terdiam, semilir angin yang sejuk sore ini, tidak mampu menyejukkan hati orang-orang yang ada disitu. Andai semua bisa melihat relung hati Dita yang tidak karuan, dia juga goyah bahkan hampir ambruk seperti jembatan yang runtuh kena air bah. Betapa Dita perang batin untuk  tidak boleh lagi melarikan diri, dan harus menghadapinya sebagai orang yang sudah dewasa, terutama sebagai seorang muslimah yang harus bisa di pegang kata-katanya.


“Kak Ton, aku tidak bisa mundur setelah memutuskan untuk melangkah… aku harus konsekwen saat memberi kesempatan buat kak Andra.Aku juga harus sabar  untuk melihat langkah apa yang akan


kak Andra lakukan. Nah hal yang sama  juga berlaku sama kang Tonii. Tolong jangan Dita yang dijadikan alasan untuk mundur,”Dita mengambil nafas sebentar, sambil mengamati teman-temannya yang manggut-manggut.


“Tapi memang kamu yang membuat aku robah Ditaaa…” terdenganr nada bicara Toni sedikit memelas.


“Kalau begitu aku kecewa sama kamu..”


“Koook”


“Yaa… karena suatu saat kak Toni akan melakukan hal yang sama pada Dita jika ada sosok lain yang lebih menggetarkan hati.”


“Enggaaak… bukan begituu…”


“Memang begituuu, tadinya aku sangat berharap kak Toni akan mengatakan bahwa penyelesaian masalah dengan Lutfi tidak ada hubungannya dengan akuu..” Dita siap-siap berdiri mau mengambil tasnya.


“Kita pulang aja yuk Nuur…” Dita berdri dan berlalu dari tempat mereka ngobril..


“Diiit bentar Diiit….”

__ADS_1


__ADS_2