HARU BIRU GURU BARU

HARU BIRU GURU BARU
INDAHNYA PERSAHABATAN


__ADS_3


“Ayo berangkat..” tiba-tiba Nuri sudah ada di pinggir meja Dita.


“Kalian kemana aja siih, aku telat nih sholat,” Dita menggerutu.


“Maaf nona, kita langsung ke mushola karena bapa bisis minta waktu buat ngomong sama dirimu". Nuri memijit hidung Dita.


“Kalian jahat iih, kalau gitu  aku sholat dulu.” Dita berdiri meninggalkan Nuri.


“Jangan pake lama , doanya yang pendek aja…” Nuri bercanda.


“Suka-suka aku” ujar Dita sambil berlalu, dengan muka cemberut.


Nuri tersenyum memperhatikan temannya dan memahami kenapa dia sering digodain, yaaa reaksinya itu yang bikin orang terpancing buat menggoda Dita.


***


Dita tergesa-gesa menuju parkiran, karena temannya sudah menunggu dimobil.


“Aku mau duduk di belakang aja ah.”


“Udah dooong cemberutnya… nanti cantiknya ilaang, sama aku aja di depan sini, memangnya aku sopir kalian apa!!” Nuri mengingatkan temannya.


“Au aaah aku masih kesel tahu?” . sahut Dita.


“Aku kan udah minta maaf..ayo masuk nona..” Nuri membukakan pintu depan mobilnya.


“Aku juga kesel sama Yati, pastinya kamu kan yang cerita kita mau pergi sekarang?” serungut Dita sambil duduk di samping Nuri.


“Maaf,,, aku gak mau bohong, abisnya kamu gak ikut rapat, coba ikut, jadi dia tidak akan nanya macem-macem.” Bela Yati.


“Bentar Dit, kenapa sih kamu kayak menghindar gituh dari pak Toni,” Yati mulai nanya.


"Enggak juga, aku gak mau keg e eran, yang pasti jika dia keseringan godain aku, aku khawatir…” Dita menghentikan kata-katanya keburu di samber…


“Kamu bakal sukaaaaa…” yati dan Nuri menjawab bareng memotong pembicaraan Dita.


“Lihat ke depan neng … kamu lagi pegang setir lho, “ Dita diam sejenak karena mobil sudah masuk pintu tol.


“Bentar,,bentaaar, kita akan ke mana ini..” kembali Dita bertanya.


“Es ha es deeeee…. Hahahaaaa…” kembali mereka kompak menjawab.


“Kok jauh amat siii… ini siapa yang nentuin tempat..”


“Pak Toooooniiii hahaaaaa…” mereka menjawab barenan


“Gak mauuu aku mau balik ajaaaa…”


“Telat nona nanti keluar tol yaaa” Yati mentertawakan temannya.


“Gak mauuu… kalian jahat, pintu tolnya langsung es ha es deee…” Dita mukul-mukul bahu Nuri.


“Jangan Dit, bahaya niiih kecepatan kendaraan seratus kilometer ini, kalau setirnya gak seimbang emang kamu mau mobilnya oleng” Nuri memperingatkan temannya.


Akhirnya Dita diam,


“Naaah gitu kan lebih manis.” Nuri kembali tersenyum


“Diiit denger aku ya, kamu pinter banget ngasih saran berharga buat aku, kenapa sekarang kok sepertinya kamu tidak bisa menghadapi masalahmu sendiri? “Yati mengingatkan.


“Iya lho Diiit, jika kamu dapat masalah apapun atau dengan siapapun jangan lari, karena semakin jauh kamu berlari… akhirnya tetap ada masalah lain nanti di hadapanmu, kita menyetujui rencana ini biar kamu bisa enak berhubungan sebagai taman dengan pak Toni, coba renungkan.” Nuri sok bijak menasehati


“Aku juga setuju sama Nuri. Dengar ya Diiit, sangat wajar seorang yang masih sendiri ada yang mendekati, apa lagi kamu imut dan cantik, pinter lagiii” Yati sengaja menggoda.


“Tapi dia sudah ada yang punya, aku gak suka aja sama kelakuannya, bener-bener buaya.”


“Hayo jangan berprasangka… kita gak tahu yang terjadi dengan mereka, Jadi hadapi aja apa yang akan dia ceritakan.” Kata Yati.


“Yaa udaah aku nyeraah… awas tuuh pintu tol udah ada di depan ntar pembatasnya ketabrak lagi..” Dita mengingatkan.


Akhirnya mobil masuk ke parkiran terlihat mobil orange sudah terparkir disana.


"Kita baru nyampe nih, kalian dimana.” terdengar Nuri menghubungi lewat telpon genggamnya. Terlihat Nuri manggut-manggut.

__ADS_1


Ternyata posisinya ada di undakan ke dua setelah tempat parkir, jadi agak enak lah pemandangan ke bawah bisa lihat kolam kecil dan tempat mainan anak-anak, ada juga jembatan kecil dan air terjun kecil di dinding batu, spot yang bagus buat foto-foto.


“Kamu mau foto di situ Diit, “ Toni menyambut kedatangan temannya.


“Kita pulang yu Yat … “ Nuri nyindir


“Haahaa… gatel sebadan-badan kalau sehari gak gangguin ibu guru satu ini.” Toni malah ketawa


“Emangnya dia bawa virus gatel apa..hehe” yati menimpali.


“Sekarang kalian lihat kan nyebelinnya dia, “Dita bicara juga


“Haa..haa.. hati-hati lho bu gurukuuu…jangan terlalu sebel, nanti jadi berbalik lhooo..” malah menjadi-jadi Toni mengganggunya.


“Udah lah Toon, nanti pundung lho dia… kalau mau pulang repot, mari nona-nona silahkan masuk, makanan sudah siaaap..”Rudi memotong pembicaraan mereka berlagak seperti pramu saji sambil membungkukan badan segala.


Akhirnya mereka menikmati santapan yang sudah terhidang, dan yang jadi rebutan adalah cimplungnya.. karena perkedel itu di buatnya bulat-bulat, dan rasanya berbeda dari perkedel yang biasa Dita bikin, padahal bahannya sama dari kentang, tapi kayaknya pake tepung. Pas ditengah-tengah makantahu-tahu...


“Astaghfirullaah…” Dita tersentak


:Ada apa Dit…” mereka bertanya serempak


“Aku belum ngasih tahu ibu, “ Dita bergegas mengambil telpon genggamnya


“Gak usah Diiit….” Toni melarang Dita


“Gimana siih, jangan becanda keterlaluaan deeeh, biarin Dita telpon ibunya “Nuri membela temannya


“Nggak bercanda, serius gak usah telpon, tanya aja Rudi.” Toni ngeyel


Semua menatap Rudi penasaran.


“Iyaaa..gak usaaah, karena tadi kita mampir dulu ke rumah Dita…”jawab Rudi enteng.


“Haaaaaaah….. Serius kalian mampir ke rumah Dita tadi.” Nuri bertanya sambil geleng-geleng kepala.


“Serius lah, aku harus tanggung jawab, ingaat kita mau kupas tuntas hari ini tentang apapun yang menjadi permasalahan kita, “ Toni menegaskan.


“Yang punya masalah siapa, kita enggaak kaan Diit?”Nuri membangunkan lamunan Dita.


“Aku yang punya masalah, dan ingin masukan dari kalian,” Yati menyelamatkan Dita yang gelagapan.


Akhirnya Yati menceritakan masalah keraguannya untuk melangkah ke jenjang pernikahannya, sambil melanjutkan makan.


“Denger yaa, yang menjadikanku ragu adalah karena informasi dari kalian waktu kita minum es degan ingeeet!” Yati mengingatkan temannya.


“Jangan salah faham Yat kita tidak ingin menumbuhkan keraguan sama kamu, tapi memberikan kenyataan tentang calon suamimu.” Rudi membela diri.


“Bener Yat serius niih, kalau kata aku, jika setelah kamu konfirmasi ulang, dan dia meminta maaf telah berbohong, kamu harus menerimanya., apa lagi dia memperlihatkan kesungguhannya untuk memperistri kamu.” Toni menambahkan penjelasan temannya.


“Yaaa enggak sesederhana itulaah, perempuan mikirnya beda dengan kalian,” Nuri menimpali.


“Bedanya di mana….”Rudi heran.


“Bedaaa laah karena di mata kita, jika seorang laki-laki mengawali sesuatu dengan kebohongan, jangan-jangaaan kebohongan lain akan mengikuti selama perjalanan hidupnya kedepan.” Kembali Nuri berargumen.


“Enggak gitu juga siih Nur, aku setuju sama mereka, jika sudah minta maaf kita harus kasih kesempatan buat dia memperbaikinya.” Dita akhirnya mampu memberikan pendapatnya.


“Jadiii… aku udah minta maaf sama kamu kan Dit, berarti aku bisa nagih kesempatan dooong,”Toni kesenangan bisa memanfaatkan situasi.


“Aaaa. Cie…cieee “ kompak mereka menyoraki.


“Gak ada, bukan itu. Bentar dengarkan aku dulu..” Dita diam sebentar sambil melihat ke arah teman-temannya dan berakhir di Toni


“Kamu main nyamber aja, kita akan selesaikan satu-satu dulu..” Dita menegaskan kata-katanya.


“Aa….cie…cie.. sudah ber aku kamu rupanya teman kita..”Rudi menggoda


“Siik asyiiikkk… bakal ada dua pasangan pengaaantin ini maaah…” Nuri tergoda menggoda mereka.


Terdengar gelak tawa mereka, kesenangan bisa menggoda Dita, tapi Toni menghentikan mereka:


“Bentar... bentar aku mau ngomong nih,Jadi  kita punya hal yang harus di selesaikan kaaan?” Toni mencondongkan mukanya ke arah Dita.


“Iyaa… kita punya hal yang harus diluruskan, puaaasss…”Dita menjawab.

__ADS_1


Kembali tawa mereka pecah, karena Dita terpancing untuk memberikan jawaban yang sedang di tunggu oleh mereka.


“Udah yaa.. kita kembali ke masalah Yati, aku akan kasih saran sebagai seorang laki-laki niih,” Toni berhenti sejenak ingin melihat reaksi temannya.


Ya lanjutkan gak pake dicicil kayak ngutang ajaa..” Yati greget udah gak sabar, tak urung Dita tersenyum juga.


“Gini… jika kamu sudah memutuskan untuk maju , maka jalani saja, malah lebih bagus kita berangkat dari kekurangan pasangan kita. Jadi suatu saat ada hal yang baik dari dia, maka rasa syukurnya bisa sampai ke hati,” Toni memperlihatkan kebijaksanaannya.


“Gimana.. gimanaa aku belum konek niiih…” Yati mengerutkan keningnya.


“Gini Yaat,  jika kamu berangkat dari kelebihan dia, maka suatu saat kamu akan kecewa berat seandainya apa yang kamu lihat bagus di awal itu tidak terbukti saat kalian sudah bersama…” Kembali Toni menjelaskan pelan-pelan.


“Aku kasih contoh simple deeh. Saat kamu memulai hubungan, jika kamu lihat dia kaya, punya kedudukan, tampan, baik banget akhirnya kamu di butakan dengan semua itu, naaah saat sudah menikaaaah, ternyata dia tidak sekaya yang kamu kira. Betul ada mobil dan rumah besar tapiiii ternyata utangnya banyak, dan dia sebetulnya pemarah dan gak sabaran, mau gimana coba, apa gak pingsan nantinya” Rudi menambahkan.


“Ya…yaa.. aku faham sekarang” yati manggut-manggut.


“Satu lagi ni Yat, kebanyakan laki-laki, ingin selalu terlihat sempurna dimata orang yang sedang diincarnya.” Toni mengingatkan.


“Naaah ketahuaaan, akhirnya dia ngaku juga tuuuh…hati-hati lho jangan sampai kena jeratnya..”Nuri menyenggol bahu Dita,


“Kok ke akuuu…. Jagan mulai deeh.”Dita balik mendorong bahu Nuri.


Tak lama terdengar suara adzan Ashar,


“Maaf Nona-nona karena Allah sudah memanggil, kita pamit sholat duluan ya…”Toni dengan jenaka pamit sama temannya. Dijawab anggukan oleh teman-temannya.


“Jadi gimana Yat, “ Dita bertanya sepeninggalan mereka.


“Insya Allah aku akan Istikharah lagi tanpa rasa takut dan ragu, makasih kalian ada untuk aku.” Yati memeluk teman-temannya.


“Kamu gimana Dit,”Yati balik bertanya.


“Stt.. ini hanya untuk kita ya..” Dita berbisik.


“Aku Bismillah akan memberikan kesempatan kak Andra untuk menyiapkan dirinya supaya bisa jadi imam yang baik.”


Ditapun  menceritakan obrolannya dengan Andra di telepon waktu itu.


“Lantas Pak Toni bagaimana" Nuri keheranan.


"Gak ada hubungannya dengan dia lah!."


“Ehh.. denger Diiit, kita kaget lihat pak Toni ya Nur, selama kita kenal, mana ada dia mau curhat sama kita, noo…nooo. Paling yang tahu hanya Rudi, karena mereka satu angkatan waktu kuliah.” Yati menambahkan dengan berapi-api,


“Ssstttt… aku bilang pelan-pelaaan “Dita menempelkan telunjuk ke


bibirnya.


“Aku heran aja sama kamu Diit, kemaren-kemaren kamu sampai ngumpet gitu


menghindar, selang dua minggu ceritanya udah lain,” Nuri mengingatkan,


“Dua minggu lama saaay, karena banyak yang terjadi setelah itu, yang membuat aku memutuskan melangkah.” Dita mengingatkan.


“Tanpa istikharah, seperti saranmu padakuuu…” Yati mengingatkan.


“Beluuum, kan belum melangkah jauh ini mah baru mau memulai melangkah jjadi aku sholat hajat nonaaa…” Dita berdalih.


“Okee..yang jadi bahan pertimbangan apaa?…” Yati penasaran.


“Aku mau bakti sama orang tuaku, dan aku mau meyakinkan diri untuk percaya sepenuhnya sama Allah, bahwa Dia tidak akan salah memberikan jodohnya.” Sahut Dita.


“Jadi kata kamu kak Andra jodoh yang Allah kiriiim !!” Yati dan Nuri bareng bertanya.


“Belum tentuuuu…” Dita menggerakan ke dua tangannya.


“Koook… au aaah aku gak ngerti jalan fikiiranmu,” Nuri mengerutkan keningnya.


“Aku nanya deh sekarang..,, kamu suka kang Toni kan..” Yati bicara menggebu.


“Sssttttt…. Kamu kayak pake toa aja ngomong Yaat…” Dita kembali mengingatkan temannya sambil kepalany menengok ke kiri ke kanan takut temannya sudah pada datang… daaan


“Kalian tidak akan sholaaat?....”


???????

__ADS_1


__ADS_2