
Golden dipilih mereka buat kumpul, karena selain tempatnya luas juga terhitung nyaman karena dirimbuni pohon besar yang rindang. Jadi cocok buat yang mau ngadem dan menghabiskan waktu melepaskan penat.
Ruang parkirnya luas, semua jajanan tersedia. Sebelah kiri khusus aneka minuman dari mulai minuman dingin sampai minuman tradisional seperti wedang jahe juga ada. Makanan berat ada disayap kanan plus meja kursi buat yang mau makan , dan aneka kue-kue ada di pojok belakang. Daya tarik yang lainnya adalah lappangan futsal, letaknya pojok kiri belakang setelah toilet dan mushola.
Ditengah ramainya pengunjung, terlihat Yati dan Nuri terlihat gelisah, mata mereka terus mencari-cari sosok
temannya, sambil sesekali melihat jam tangan yang sudah menunjukkan angka lima. Tidak biasanya temannya ngaret. Akhirnya mereka mencari tempat untuk duduk, dan sengaja mencari yang agak mojok di gazebo belakang, biar ngobrolnya tidak terganggu oleh pengunjung lain.
“Aku khawatir lho sama Dita, kira-kira apa ya, yang membuat dia telat?” kata Yati
“Apa jangan-jangan Andra sudah ada di rumahnya kali ya.” Nuri menebak.
Tak lama mereka menatap seseorang..
“Nur… siapa tuh yang senyam senyum sama kita sambil dadah-dadah, dih, segitu sama ceweknya juga.”
Tiba-tiba Yati menyela pembicaraan Nuri sambil menunjuk seorang pemuda diikuti seorang perempuan
berkaos putih dipadukan dengan kardigan hitam dengan jilbab pink terlihat sangat cantik..
“Pake kacamatamu nona, itu temen kita masak kamu gak kenal” Nuri tertawa,sambil memberi isyarat pada temannya buat nyamperin.
“Bentar… bentar… itu Dita kan?”Yati meyakinkan penglihatannya.
“Kok mereka bisa barengan gituh? Gak mungkin pak Toni nyamper Dita kan, dia gak tahu kita mau kesini.”Yati makin bingung
“Bingung kan kalian, kenapa dia bareng aku.” pak Toni senyum melihat kekagetan yang diperlihatkan teman-temannya.
Dita tidak banyak bicara matanya menunduk terus, sambil duduk di dekat Nuri.
“Iya kita kaget, diculik dimana teman kita sampai terlambat datang kesini,” Nuri memberondong pak Toni.
“Kasih tau jangan ya!..” pak toni kesenengan lihat temannya makin penasaran.
“Dit, ketemu dimana sama si bapak ini.” Yati akhirnya melihat ke arah Dita. Yang ditanya tetap tidak bergeming.
“Pak diapain dia sampai gak bisa jawab gitu?” Yati melotot sama pak Toni,
“Ketemu dijalan dia lagi nunggu angkutan, aku lewat, ya berhenti lah. Saat tahu mau ke sini ya sudah aku ajak bareng, walaupun dengan sedikit paksaan.”pak Toni mesam-mesem.
“Iyaa aku kesel sama dia, orang mau naek angkot, di tarik maksa, bilangnya aku utang maaf sama dia karena tadi marah gak karuan.” Akhirnya Dita menjelaskan juga.
“Yaaah si bapak ini, bukannya di tenangin punya teman malah di tambah kemarahannya.”Yati mukul pundak pak Toni. Yang di jawab dengan tertawa lebar. .
“Mana permintaan maafnya,”pak Toni melirik, sambil mencondongkan wajah ke dekat Dita.
“Ih ngapai deket-deket, aku belum mau minta maaf.” Dita keukeuh.
__ADS_1
“Eh teman-teman, lihat ternyata bu Dita kalau lagi marah tambah cantik ” pak Toni menggoda temannya . Apalagi setelah. melihat Dita salah tingkah.
"Gombal ah, sana katanya mau futsal." Dita mengusir.
"Bentar atuh bu, aku nunggu Rudi, tadi dia telpon agak telat datangnya. sok atuh mau pada pesan apa,” akhirnya pak Toni berinisiatif untuk menawari temannya karena terlihat di meja belum ada makanan apapun.
memangnya ke sini mau futsal ya…”Nuri baru ngeh karena temannya bawa tas besar berisi pakaian futsal.
“Iya… tapi kayaknya gak bakal jadi kalau lihat sampai jam segini dia belum nongol.” Toni menjelaskan sambil sesekali lihat jam tangan..
Setelah makanan yang mereka pesan datang, terlihat Dita mulai santai dan wajahnya sudah mulai ceria, dan sesekali ikut bercanda juga.
“Yat, Nur… di sana ada kue baru lho, pesenin ya. “pak Toni memberi isyarat pada tamannya untuk meninggalkan mereka berdua.
“Sama aku aja, …”Dita mau berdiri
“Enggak kamu di sini aja nunggu, biar Nuri ditemenin sama aku.”Yati berdiri faham temannya perlu bicara berdua .
“Kenapa… kamu takut ya sama aku.”terdengar suara pak Toni
“Enggak lah ngapain takut emang si bapak ini bisa makan orang,” Dita engelak
“Tuh tahu aku gak bakal makan orang.”Toni sedikit menggeser duduknya.
“Jangan deket-deket, nanti apa kata orang,” tangan Dita memberi isyarat.
"Apa yang ibu takutkan, kita kan teman kerja." Toni menelisik Dita
“Ma'af maksud aku, takut ada yang salah faham aja..” Dita menganulir pembicaraannya.
“Takut ketahuan sama si tamu yang tadi ya" Toni mengingatkan.
“Udah deh, jangan mulai lagi. Rupanya bapak ini suka ya kalau aku marah."
"Maaf, aku gak akan bicara tentang dia. Tapi kalau kamu butuh saran aku siap mendengarnya. Toni menenangkan Dita.
"Aku minta maaf ya, gak seharusnya tadi aku marah mpe segitunya,” Dita mengatakannya sambil mendunduk, sampai tidak tahu bahwa temannya sudah bergeser agak mendekat kepadanya.
“Tenang aja aku faham kok, makanya aku bilang juga kita sama-sama dewasa jangan takut buat minta saran.” Toni mencoba mendalami apa yang dipikirkan temannya.
“Terlalu panjang ceritanya, ..” Dita berdalih
“Enggak apa-apa, aku pendengar yang baik kok.” Toni kembali mencoba berusaha mendapat kepercayaan temannya.
Tanpa mereka sadari seorang perempuan bertubuh tinggi semampai mendekati tempat duduk mereka .
“Ternyata Kak Toni lagi di sini ya, pantesan dari tadi ditelepon tidak di jawab, rupanya sedang ada janji kencan nih “ terdengar nada sinis orang tersebut.
“Lutfii…” pak Toni berdiri agak menjauh dari Dita,
__ADS_1
“Sini duduk sama kita, kamu salah faham” pak Toni berusaha menjelaskan
“Silahkan di lanjut saja, aku gak mau jadi pengganggu, “ jawaban Lutfi makin ketus, sambil mau meninggalkan mereka.
Tiba-tiba dari arah belakang seseorang bicara.
"Bu Dita, maaf aku terlambat ya, tadi kena macet." orang itu menatap mereka yang sedang bersitegang.
"Eh Pak Anton?" Tono terlihat kaget.
Dita mulai menyadari bahwa temannya berusaha menyelamatkan dari situasi salah faham yang terjadi.
"Aduh pak Anton ini gimana sih, aku udah pegel nungguin tahu..."
Anton mendekat dan memperkenalkan diri.
"Dia Lutfi." kata Toni.
"Oh jadi ini ya calon pendamping sesurganya pak Toni." kata Anton.
Toni hanya tersenyum, hatinya jadi gak enak buat ninggalin Dita berdua. Tapi dia juga dihadapkan dengan Lutfi yang marah. Akhirnya dia mengambil keputusan.
"Kalau begitu silahkan kalian ngobrol, aku pamit." Toni menyusul Lutfi.
“Lut…Lutfi kita bicara disana yah.” pak Toni membujuk Lutfi yang caemberut.
Tapi Lutfi tetap berjalan makin cepat, bahkan samapai agak baerlari.
-oo-
“Ada apa Dit, kok kamu jadi bengong begitu, itu tadi kenapa pak Toni lari mengejar cewek” tiba-tiba Nuri sudah ada diantara mereka.
"Eh ada pak Anton, dari mana pak, kok ada disini." Yati bertanya keheranan
“Gak tahu …..”Dita yang menjawab sambil matanya terus mengikuti arahToni berlalu.
Mendengar jawaban Dita, Anton jadi gak enak hati.: "Kalau begitu aku pamit ya..."
Anton pergi tanpa menunggu jawaban.
Dita tersadar dan menengok ke arah penyelamatnya.
"Pak...pak.." Dita memanggil. Tapi Anton tidak menengok dan tetap berjalan menjauh.........
-oo--
Kasih semangat author dooong, tinggalkan jejak kalian kalau baca cerita perdanaku ini.
Nantikan lanjutannya ya?
__ADS_1
.