
Dita merasa puas telah membalas kekesalannya. Dia melenggang kearah kelas sembilan. Mereka terlihatsudah tidak sabar ingin mempraktekan pembelajaran dengan menggunakan bintang yang telah dibuat dipertemuan sebelumnya. Tapi belum juga sampai ke kelas yang dituju tau-tau seseorang mengagetkannya lagi.
“segitu dendamnya-kah bu Dita sama saya?”
“Astaghfirullah bapak, senang sekali mengagetkan saya.”Dita menghentikan langkahnya.
“Ibu mau bikin saya kesal ya!.”
“Iya... memang enak digituin, . kesel kan?.” imbuh Dita.
“jelas lah.” Suara pak Toni agak tinggi.
“Itulah yang saya rasakan selama ini. Sudah ah, lihatlah anak-anak sudah menunggu.” Kembali Dita melenggang.
Melihat Dita seperti itu hatinya jadi bertambah kesal.
“Kenapa jadi aku yang jengkel sama dia ya! “ PakToni bergumam.
“Astaghfirullaah,ketularan juga sama dia ngomong sendiri.” Matanya geleng-geleng, dan berlalu.
-ooo-
Dita asyik mengajar di luar kelas,mempraktekan Get a star. Tiap orang menyiapkan 5 bintang yang diisi dengan pertanyaan untuk digantungkan dipohon. Mereka akan menjawab bintang dipohon kelompok lain, diberi waktu limabelas menit.
"Silahkan ambil bintangnya dan yang sudah bisa menjawab langsung berbaris didepan ibu”
Anak-anak berlarian ke pohon yang berisi bintang yang bergelantungan warna-warni, dan mengambilnya.
lima menit pertama antrian anak masih tertib. Lama-lama Dita mulai kerepotan karena mereka berebut ingin menjawab.
“Ibu gak akan nilai jika kalian berebut. Ayo berbaris kiri kanan ibu dan silahkan tertib menjawabnya.”
Seseorang di pojok lapangan memperhatikan Dita dengan anak-anak yang begitu semangat menjawab pertanyaan. Banyak hal yang terekam di lapangan. bintangnya di gantungin di baju mereka. Ada pula yang jingkrak-jingkrak sambil lari muterin lapang. Bahkan ada yang menggantungkan bintangnya di kupingnya sambil joget-joget. Pokoknya anak terlihat bahagia.
“Dulu mana ada belajar kayak gini.”
“Bicara sama siapa pak Anton.” Pak Andi yang kebetulan lewat mendengar gumaman temannya.
“He…he…itu pak, lihat anak-anak sedang belajar sama Bu Dita saya jadi ngiri sama mereka.”
“Ingin jadi muridnya apa ingin jadi pendampingnya!” Pak Andi menggoda sambil ikut mengamati mereka.
__ADS_1
“Ayo kamu Riska kan sudah dapat lima bintang jadi kamu boleh ngetes temannya ya,jika jawaban temanmu benar di kasih paraf .” Terlihat Dita memberi tanggung jawab sama anak.
Langkah yang diambil Dita, membuat anak-anak lain terlihat lebih semangat buat menjawab soal yang ada dibintang.
“Bu… aku tinggal satu bintang lagi , biar bisa bantuin .”Ruri mengacungkan bintangnya.
Dita mulai terlihat santai dan mengamati jalannya pembelajaran, karena tiap kelompok sudah ada yang menangani untuk menilai.
“Waktunya lima menit lagi ya, jika ibu bilang stop maka kalian akan mengumpulkan bintang di ketua kelompok masing-masing, dalam keadaan terikat dan pakai nama.”Terdengar Dita memberi perintah sama anak-anak.
Kembali ke sudut lapangan, dimana pak Andi dan pak Anton yang makin tertarik dengan cara mengajar guru baru yang kreatif.
“Dengan cara bermain begini ternyata ampuh juga ya pak.Anak berebut menjawab pertanyaan.”PakAndi kembali bicara .
“Iya lah pak, kalau kita yang bertanya anak malah takut untuk menjawab. Bertarti anak sekarang maunya ditantang ya.” Pak Anton menyimpulkan.
Suara bel mengentikan candaan mereka.
“Aduh saya mau ngambil foto copy soal buat ulangan di jam terakhir, mari pak.”
“Iya saya juga mau ke ruangan PKS,” Pak Anton juga mengikuti langkah pak Andi.
-000-
Dita kembali ke kantor untuk mengambil buku bahasa Sunda.
“Ada yang senang rupanya.” Nuri duduk disisi Dita.
“Yang ada cape lah.” Dita menjawab sambil mengambil makanan yang dibawa Nuri.
“Doyan apa lapar neng.” Nuri menyenggol bahu Dita.
“Jangan goda deh biarkan aku makan bentaran, soalnya mau lanjut ke kelas berikutnya nih.” Dita menikmati makanannya.
“Bagian di kelas berapa.” Nuri memperhatikan temannya seperti yang kelaparan.
"Dikelas tujuh.. Untung kegiatannya mau ngetes dongeng rakyat Sunda. Jadi aku bisa agak, yuk ah.” Dita bangkit dan berdiri. Tanpa disadarinya ada yang jatuh dari lembaran buku Bahasa Sunda. Nuri memungutnya.
“Dit…” tapi yang dipanggil sudah jauh.
“Itu anak, semangat amat ngajarnya.”
__ADS_1
Nuri menyusul Dita, karena kebetulan dia juga mau ke perpustakaan mengambil contoh buku yang akan diperlihatkan sama anak-anak.
“Dit tunggu, ini ada yang jatuh tadi dari bukumu.” Nuri memberikan kertas.
Dita terlihat heran dengan kertas yang diberikan Nuri, karena tidak merasa menyelipkan kertas itu.
“Buka aja Dit kali pekerjaan anak yang belum dikasiin.” Nuri menyarankan, sembari penasaran.
Begitu kertas itu dibuka, Dita langsung memberikannya sama Nuri.
“Buang aja.”
“A…cie-cie ada penggemar rahasia rupanya ya.” Nuri meledek setelah membaca tulisan di kertas itu..
“Au ah, kayak anak kecil aja ya.” Dita terlihat kurang senang.
“Jadi si ibu ini mau ditembak langsung nih!!” Nuri makin menggoda Dita.
“Jangan mulai deh,”
“Iya ibu Dita shantik, selamat mengajar dan jangan lupa konsentrasi ya.” Nuri berbelok ke perpustakaan sambil tersenyum melihat temannya.
-oo-
Dita bersungut-sungut mengingat candaan temannya. Lepas dari godaan Nuri, dia berpapasan dengan Yati persis di depan kelas yang akan Dita masuki.
“Dit ,hari ini pulang sekolah gak kemana-mana kan, “: Yati mendekati.
“Gak sih, emang mau apa?” Dita menengok.
“Anter ke terminal yu?” sahut Yati.
”Ngapain ke terminal.”Dita keheranan.
“Adalah pokoknya aku minta anter, bentaran koq, ntar pulangnya aku anterin mpe rumah deh.” Yati setengah maksa, merasa gak enak hati sama sahabat barunya, akhirnya
Dita menganggukan kepala tanda setuju.
"Makasih ya Dit." Yati terlihat sumringah.
Dita menggelengkan kepala sambil masuk ke kelasnya........
__ADS_1