
Dita dengan memantapkan hati mulai memasuki kelasnya. Anak-anak terlihat penasaran mendapatkan guru baru yang cantik. Dita terlihat agak rikuh melihat sekian mata anak memandang hanya padanya, tapi semua dia tepis dan mencoba menyapa mereka. l.
“Alhamdulillah…lancar..” begitu pikir Dita. Tetapi saat mulai sesi perkenalan anak-anak mulai agak tidak terkontrol karena saling ejek, saling sahut, apalgi saat mereka menyebutkan nama orang tuanya.
Peringatan Dita tidak diindahkan, maklum mereka kelas tujuh, akhirnya Dita hanya menyimak sahut-sahutan mereka sambil berpikir bagaimana cara menenangkan kelasnya. Akhirnya Dita mencoba memanggil mereka :
“Halloo…haloo…”. Satu dua anak mulai ada yang bereaksi.
“Mana anak-anak hebat ibu?” Dita sambil bertepuk tangan tiga kali. Dan berhasil mereka menghentikan keributannya.
“Anak-anak hebat, kalau ibu bilang halloo, kalian jawab hai.. sambil melambaikan tangan.” Dita memperagakan apa yang harus dilakukan anak-anak.
“Mau mencoba”
“Mauuuuu…” mereka mulai antusias memperhatikan.
Dita mencoba sapaan yang Dita jelaskan tadi. Anak-anakpun terlihat mulai santai menyimak pelajaran bahasa Sunda. Kebetulan materinya adalah Kaulinan Budak Lembur,
"Ayo siapa yang tahu kaulinan budak lembur apa aja cung?" Dita mencoba melempar pertanyaan.
"Budak lembur teh apa bu?" seorang anak bertanya malu-malu.
Dita baru ngeh biarpun ada di daerah Jawa Barat, anak-anak sekarang terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. akhirnya Dita langsung memberikan gambaran bentuk kaulinannya.
"Kalian tahu ular?" Dita bertanya.
"Tahu...." serempak mereka menjawab.
"Bahasa sundanya apa?""
"Oray," kembali mereka menjawab.
Dita mulai merasa percaya diri untuk menyemarakkan suasana di kelas.
"Kita main oray-orayan yuk!"
Anak-anak mulai ramai, sahut-sahutan. Ada yang cerita tentang ularnya, ada juga yang certia pernah main ular-ularan. Kelas mulai gaduh.
"Hallo..." Dita mencoba menarik perhatian.
"Haii.." Seketika mereka menjawab dan memperhatikannya.
__ADS_1
Dita mendekati anak-anak yang tadi ribut, sambil menuntun tangannya.
"Mari ikuti ibu, yukkk yang duduk di jajaran ini ikuti ibu,"
Anak-andk mulai penasaran apa yang akan dilakukan ibu gurunya. Mereka makin terpesona saat mendengar Dita menyenandungkan lagunya.
"Oray-orayan luar leor mapay sawah, entong ka sawah parena keur sedeng beukah"
Anak-anak dipandu saling berpegangan pada bahu temannya yang ada di depan sambil mengikutti lagu tersebut.walau tersendat karena belum semuanya tahu lagu itu.
Antrian ular makin panjang karena anak anak yang lain secara spontan mengikutinya antrian ularnya.
Dita terus memandu lajunya ular melanjutkan lyriknya, dan diambilnya dua anak untuk jadi terowongan untuk dilewati ular.
"Ayo nak, ikutin lagunya, nanti pas lagunya berakhir orang yang terakhir tangkap ya?" Dita memberi instruksi, dan melanjutkan lagunya.
"Mending ka leuwi Di leuwi loba nu mandi ...Saha anu mandi Anu mandi na pandeuri"
saat anak yang paling belakang ditangkap temannya, dia tidak mau ditangkap dan malah lari. temannya yang lain mulai mengejar. Kelas dipenuhi teriakan. Dita sudah mencoba menyapa dengan hallo, anak tidak menjawab dan tetap saling kejar.
.Keringat dingin mulai terasa menetes hampir di seluruh tubuh. Akhirnya Dita menggebrak meja, sseketika mereka berhenti saling kejar. Dita menyuruh mereka duduk kembali.
.
"Pertemuan berikutnya kita akan bermain di luar ya, silahkan nanti berkelompok dengan temannya dan masing-masing harus memperagakan permainan yang berbeda.
"Iya bu.." serempak mereka menjawab.
Setelah menutup pembelajaran, Dita cepat-cepat keluar kelas ingin segera ke kantor untuk mencoba membuat perbaikan scenario pembelajaran jika terjadi hal yang tidak terduga, karena kebetulan jam ke 3-4 kosong.
Sampai di kantor hanya ada dua orang guru yang kebetulan kosong , Dita langsung menuju mejanya dan membuat orat-oret pembelajaran di kelas berikutnya.
“Mestinya tadi aku menulis dulu lyrik lagunya dan menyanyikannya bersama-sama, sehingga yang main ular tetap hanya satu baris dan tiga baris berikutnya yang menyanyikan, jadi aku tidak cape nyanyi sama mengurus antrian ularnya."Dita bergumam sendiri
Tanpa disadarinya ada orang yang baru masuk kantor diam-diam memperhatikan Dita. Sesekali orang itu tersenyum melihat tingkah lucu Dita yang sedang bicara sendiri.
Dita dikagetkan oleh bel istirahat, dan dia baru ngeh kantor sudah ramai sama guru-guru yang baru datang.
“Hayooh lagi mikirin apa sendirian anteng dari tadi, kayak di dunia lain aja kamu Dit?” Yati mendekati .
__ADS_1
“Gimana pengalaman pertamamu, menggoda apa bikin kapok?”Nuri ikut nimbrung
“Tahu nggak, aku pengen masuk ke tanah kalau bisa, saking gak tahu harus bikin apa di kelas.” Dita menutup mukanya.
“Hei gagal di pengalaman pertama biasa atuh neng tenang ajah, kan ada kelas kedua dan kelas berikutnya. Aku lihat kamu sudah bikin rencana cadangan buat di kelas berikutnya.” Nuri membesarkan hati Dita.
“Dit kamu gak tahu aja pengalamanku waktu pertama ngajar malah lebih parah, materi yang sudah dihafal, buyar semua gara-gara ada anak laki-laki godain. Kebayang enggak coba pas kita lagi jelasin ngasih contoh beberapa syair lagu dari beberapa aliran, dia nyeletuk menyanyikan sebuah lagu cinta sambil bertingkah konyol, terus meniru orang yang lagi melamar, sambil bilang I Love you ibu “ Yati cerita menggebu-gebu.
“Aku juga sama tuh, bahkan hampir marah sama anak yang kedapatan meggambar hal yang aneh, saat aku menjelaskan tentang alat reproduksi.” Nuri menambahkan.
“Tenang ajaa… namanya anak sama guru baru ya ada aja tingkahnya supaya kita memperhatikan mereka, ingat kuncinya hanya satu, tidak panik” Yati menegaskan
“Jadi rencanamu kedepan mau gimana Dit” yati kembali bertanya penasaran.
“Adalah pokoknya aku akan siaga melihat perkembangan kelas yang terjadi , dan otakku harus merespon menggunakan apapun untuk menarik perhatian anak, secara mereka kan baru keluar dari sekolah dasar, nah berarti aku mau lihat hal yang bisa menarik minat anak.” Dita terlihat bersemangat sampai tanganya ikut
memperagakan apa yang akan di lakukannya.
“Gini deh Dit, jika ada kejadian anak nyobekin buku temennya, kamu tinggal ambil kertas yang disobek, lalu tulis pertanyaan, gulungkertasnya dan lemparkan ke salah satu teman lain yang juga membikin ribut"
“Oooh…itu snaw ball ya…oke aku akan coba praktekan di kelas sembilan” Dita terlihat lega.
Ketiganya tertawa merasa sudah sedikit meringankan kegundahan temannya.
“Sekarang kita ke kantin beli baso Mang Eman yuk “ ajak Yati.
Dita memilih minta dipesankan dan melanjutkan kerjaannya, sampai terdengar perutnya berbunyi.
Di pojok ruang guru orang itu masih memperhatikan Dita, sambil sesekali makan soto yang
dipesannya.
“itu anak lucu amat si… mpe lupa makan” dia bicara sendiri.
Setelah sadar dia menepuk kepalanya :"Kenapa aku ketularan bicara sendiri ya !"
Senyum tersungging dibibirnya sambil terus memperhatikan Dita.......
---oo0oo
Gimana guys, semoga kalian suka cerita berlatar sekolah ya..
__ADS_1
tolong tinggalin jejaknya, dan kasih masukan ya