HARU BIRU GURU BARU

HARU BIRU GURU BARU
KASUS


__ADS_3

Tidak terasa sudah dua bulan Dita mengajar. Seiring berjalannya waktu, Dita mulai menemukan keseruan disetiap kelas yang dia masuki.  Pengalaman mengajar di kelas sembilanpun sangat menambah kepercayaan diri. Memang beda mengajar kelas tujuh dan kelas sembilan. meereka lebih mudah diatasi.


Hari ini kebetulan masuk di kelas tujuh, dengan langkah  mantap Dita menuju kelasnya, tapi belum juga sampai,   terdengar anak  teriak, bahkan ada yang nangis. Terlihat ada anak yang berlari keluar dari kelas. Tak lama  diikuti oleh lima orang yang mengejarnya. Saking panik si anak  yang ternyata Fatah, sampai menabrak Dita.


 “Ibu... tolong bu....” Nafas Fatah tersenggal, dan bajunya kotor dan basah oleh  keringat..


“Hai Fatah tanang nak, .  ada apa?’ Dita menangkap tangan Fatah, tapi anak itu malah lari sampai Dita terbawa.


.


"Berenti nak, kamu tenang yah, kita duduk disini," Dita menuntun Fatah untuk duduk.


Melihat Fatah bersama bu Dita, kelima anak yang mengejarnya akhirnya  lari balik arah, ke belakang kelas. Dita berdiri mencari bantuan supaya anak yang bikin keributan bisa ditangkap. Terllihat seseorang keluar dari kelas sebelah,   Dita langsung menarik bajunya : “Pak, pak tolong kejar anak-anak yang lari barusan” Dita menunjuk arah larinya anak-anak.


Orang itu langsung berlari ke arah yang ditunjuk Dita sambil bergumam :“Ditaaa....Ditaaa...kamu makin lucu aja kalau lagi panik”


 Setelah melihat ada yang mengejar anak-anak, kembali konsentraasi Dita tertuju sama Fatah yang kelihatan bersimbah peluh dan bajunya agak kotor.


“Ayo...cerita  kenapa mereka mengejar kamu.”


 Fatah.hanya diam  dan badannya sedikit gemetar, sesekali maatanya nyalang menengok ke setiap arah seperti ketakutan anak-anak itu akan muncul tiba-tiba.


 “Ayo  jangan takut, kan ada ibu di sini” Dita menenangkan.


"Aku mau pulang bu, aku takut... aku gak mau sekolah lagi." Fatah menangis.

__ADS_1


"Memangnya Fatah diapaiin sama mereka."


"Gak mau...aku takutt, pokoknya  mau pulang aja.panggil mamah...panggil mamah bu" tangisnya makin keras.


"Sttt... malu nak, Fatah kan udah gede, ikut ibu yuk  kita ngobrolnya di BP ya?”. Dita menuntun Fatah menuju ruang BP. Kebetulan  Pak Adi.ada di ruangan maka Dita bisa leluasa menjelaskan kejadiannya..


Dengan berat hati  Dita kembali menuju kelas. Dia mau menggali informasi lengkap dari anak-anak.Tadinya


tidak ada satu orangpun yang berani memberikan jawaban sama Dita, tapi setelah mereka tahu bahwa Fatah ketakutan untuk kembali ke kelas dan berencana untuk pindah, anak-anak mulai berbisik-bisik.


Tibak-tiba ada anak yang berani bicara.


 “Jangan dipindahin atuh bu, Fatah orangnya baik, suka bantuin aku  saat gak bisa jajan”. Nando bicara pelan.


“Iya bu, Fatah uangnya banyak tapi dia gak pelit”  Nurdin menambahkan..


"Ada yang mau bantu ibu siapa aja mereka?"


"Iya bu mereka adalah Tono, Manda,Wandi, Nursi dan Pino." tanpa ditanya ketua kelasnya memberikan informasi.


Mulailah satu persatu anak berani bicara..


"Fatah suka dipalakin  bu,  pulpennya diambil , makanannya direbut , bahkan suka didorong dari satu anak ke anak yang lain seperti mainin bola“ Listy mulai ceritanya.


Tak lama Ruli menambahkan: “ pernah lho bu waktu itu Fatah dibawa ke pojok, terus Tono menendang sambil berputar katanya permainan  hard core “

__ADS_1


“Kata mereka olah raga.” Yang lain menimpali.


Dita terlihat tertegun sampai menggelengkan kepala.


“Anak-anak  olah raga itu tidak akan sampai  nyakitin temen. Karate saja untuk sampai kepertandingan itu kan latihannya tidak saling menyakitkan. Denger nih ibu mau cerita.  Hard core itu dari sananya adalah sebuah aliran musik keras memang, tapi filosofi mereka malah pantang narkoba, dan pantang kekerasan”. Dita menjelaskan


pelan-pelan, supaya mereka memahami.


"Kenapa Tono jahat ya bu." Mirna bicara.


"Ada baiknya kalian tidak membiarkan hal itu terjadi. kalau kalian bersatu tentu Tono dan kawan-kawan tidak akan berani. Coba banyakan mana lima banding tiga puluh lima." Dita mencoba memberikan pemikirannya.


"Ibu, biarpun mereka berlima tapi kami takut karena diancam akan dipukul juga."


"Ya sudah, nanti kita lihat apa yang akan dilakukan terhadap anak-anak itu. yuk sekarang bisa  belajar kan?."


"Iya bu."


Dita menyuruh anak-anak berkelompok dan mengeluarkan kertas origami yang sudah ditugaskan di hari sebelumnya.. Baru juga mau menjelaskan apa yang akan dilakukan anak-anak. Terdengar ada yang mengetuk kelas.


"Bu, diipanggil menghadap kepala sekolah"


Dita tertegun .........


                                                        0o0

__ADS_1


Jeng...jeng... ada apa ya Dita dipanggil kepala sekolah.


Ayo dong komennya....


__ADS_2