HARU BIRU GURU BARU

HARU BIRU GURU BARU
GUNDAH


__ADS_3

“Kak Andra lepas deh tangan aku, maksudnya kak Andra apa siih?” Dita mencoba melapas tangan Andra sambil duduk kembali di ruang tamu.


“Sengaja, biar tidak ada yang dekatin kamu,” sahut Andra.


“Kok gitu? Dia kan hanya teman di pekerjaan, jangan ke kanak-kanakan deh,” Dita mengeluarkan


kekesalan yang di tahan dari tadi.


“Tapi yang kak Andra lihat, kalian bukan hanya sekedar teman, aku ini laki-laki Dit, bisa melihat hubungan teman atau bukan.” Andra memberikan argumennya.


“Dia sudah punya pacar, “ujar Dita tegas.


“Punya pacar bukan berarti kalian tidak akan saing tertariki.” Kembali Andra menegaskan.


“Terserah Kak Andra aja lah, sekarang kakak mau ngomong apa sama aku, katanya ada hal penting.” Dita mengingatkan maksud kedatangan Andra.


“Nanti dulu, kak Andra belum selesai urusan dengan Toni, kenapa kalian sering sekali berhubungan.  waktu kakak  ke sekolah, yang manggil kamu, dia kan?” kembali Andra sewot.


“Iya memang dia manggil aku, bahkan sampai membujuk biar  mau nemuin kakak,” Dita membela.temannya.


“Pokoknya kakak tidak suka Dita dekat-dekat dengan Toni.” Kembali Andra memperlihatkan egonya.


“Ya gak bisa atuh kak, kita kan satu tempat pekerjaan, gimana siih?” Dita jadi terpancing.


“Kan bisa diatur, bagaimana caranya kamu tidak selalu berdua sama dia, seperti hari ini,” Andra mengingatkan Dita.


“Maasya Allah kak Andra, kita tadi berempat,  Tapi bu Yuli dijemput suaminya dijalan tadi. bu Teti ikut karaena rumahnya searah.” Dita sudah mulai tidak sabar menghadapi Andra.


“Terus, itu tadi Toni bilang Dita mau dimasukin ke panitiaan segala di kegiatan selanjutnya.” Andra masih ngeyel.


“Au aah Dita cape jelasinnya, kalau gini caranya kak Andra bener-bener egois, gak mikirin perkembangan karir Dita, inget kak, Dita ini guru baru, perlu banyak belajar,  jika kakak maen ngelarang ini itu di sekolah, Dita mau jadi guru kayak apa!,” Dita menahan amarahnya.


“Cemburu tinggal cemburu, tapi harus rasional juga atuh kak, kalaupun kak Toni ada rasa sama aku, dia juga punya tanggung jawab sama pacarnya, apa lagi mereka sudah mulai serius.” Kembali Dita melanjutkan’


“Bagaimana kakak tidak khawatir cobaa…buktinya  Dita sampai tahu sejauh itu tentang Toni,”


“Udah aah Dita jadi bingung jelasinnya, sekarang udah mau maghrib aku mau mandi, kakak sholat


di sini?” Dita memotong pembicaraan Andra.


“Kak Andra pulang aja “ Andra bergegas berdiri mau pamit ke ibu dengan muka masam.


“Tapi pembicaraan kita belum selesai, Kak Andra mending sholat maghrib di sini, nanti sekalian imamin kita, karena ayah masih di jalan.” Dita mencoba menahan, tapi Andra bergegas ke belakang mencari ibu, dan pamit….


-oo-

__ADS_1


Namanya seorang ibu, hatinya tahu kegundahan seorang anak.  Dita  tidak kunjung ke luar, sejak Andra pulang tadi. Bahakan saat dipanggil makan malam-pun Dita tetap dikamarnya.


"Coba lihat anakmu bu, ayah khawatir."



Akhirnya ibu memasuki  kamar Dita.  Terlihat anaknya masih bersimpuh di atas sajadah, dengan  isakan lembut disela doa yang sedang dipanjatkannya.


Dengan kesabaran seorang ibu dia menunggu duduk di kursi kerja sambil ikut mendoakan kebagagiaan anaknya, dia tahu anaknya tidak suka sama Andra, dia juga tahu anaknya hanya tidak ingin menyakiti ibunya, lama-lama air matapun  menetes pelan dipipi ibunya Dita..


Dita larut dengan doa panjang sama sang pemilik segalanya, sampai tidak sadar ibunya sudah ada di kamar, dan ikut menangis diam-diam.


“Ditaaa, sini dekat ibu…Kamu nangis nak? “ Ibu melihat air mata yang coba disembunyikan Dita dan ibu pindah duduknya ke kasur supaya bisa dekat dengan anaknya.


“Ibu dengar tadi kalian berselisih faham ya.”


“Maafin Dita bu, …” Dita tidak bisa melanjutkan bicaranya dan menunduk, mencoba menyembunyikan air mata yang akan jatuh.


“Sini nak menangislah di pelukan ibu…” ibu meraih badan Dita ke pelukannya. Da membiarkan tangis anaknya sampai puas sambil mengelus punggungnya.


“Maafin Dita buu… maafin Dita, …” tangisannya tak tertahan lagi.


“Sudah gak apa-apa, ibu ngerti … ibu ngerti, “ Ibu makin mempererat pelukannya.


“Andra merasa tersaingi sama nak Toni ya” ibu mulai menyelidiki, dan Dita hanya menganggukkan kepalanya.


“Nak Toni mendekati mu?.” kembali ibu bertanya dan dijawab dengan anggukan lagi, terdengar ibu menghela nafas panjang.


“Bu, Dita ngak pernah menggoda pak Toni, kami dekat begitu saja bahkan Dita sering sebel sama dia yang agak pecicilan…” melihat ibu masih menarik nafas panjang Dita melanjutakan bicara sambil mendekati wajah


ibunya


” Bu, dekat bukan berarti suka kan? Karena dia juga punya pacar, Dita juga nggak  mau ke ge e ran, malah membuang jauh-jauh pikiran ke arah itu bu.”


“Dit, semua ada jalannya, semua berproses, ibu setuju Dita menetralisir kedekatan dengan nak Toni, Ibu nitip jangan sampai menyakiti perasaan siapapun.  jika sekarang  ada  Andra, jalani saja dulu. Ingat Allah akan memberikan jalan yang baik untuk kalian, ibu akan bantu doa, yakinkan itu hati ya?” ibunya  menepuk punggung Dita.


“Bu, pak Toni mau menceritakan masalah yang sedang dihadapi dengan pacarnya sama Dita, tapi Dita belum menyanggupi, saran ibu apa?” Dita melepas pelukan karena ingin melihat reaksi ibunya.


Agak lama ibu menjawab pertanyaan anaknya, akhirnya:


“Sebagai seorang teman, gak ada salahnya Dita dengarkan masalah nak Toni, bahkan lebih bagus dengan jalan keluarnya, tapiiiii… kalau dia ngajak ketemu berdua itu yang harus Dita tolak, kecuali ngajak teman yang lain.” Terlihat ibunya bicara sangat hati-hati.


“Kalau dia maunya hanya bicara sama Dita saja? “Dita kembali bertanya ragu-ragu.


“Ibu yang akan melarang Dita, “ ibu menegaskan.

__ADS_1


Dita keheranan melihat jawaban tegas dari ibunya. Penasaran dengan penjelasan yang akan ibu katakan.


“Jika nak Toni orang baik dan memilik pemikiran dewasa dan berlandaskan agama, ibu yakin dia akan menjaga kehormatan Dita. Percaya sama ibu dia tidak akan memposisikan Dita untuk jadi bahan gunjingan orang, sebagai orang ke tiga di antara hubungan nak Toni dengan pacarnya. “


“Dita sayang ibu… Dita beruntung punya ibu yang selalu ada buat anaknya, terima kasih ibuuuu..” Dita memeluk dan menciumi ibunya.


“Sudah, ayo kamu makan, ayah khawatir dari tadi nungguin anak kesayangannya."  ibunya  membantu Dita melepaskan mukena dan menuntun ke tempat makan.


***


Tiba di rumah, Andra langsung menemui orang tuanya.


“Mamih, kapan akan melamar Dita buat aku,” Andra bicara, karena kebetulan orang tuanya sedang di ruang tamu habis sholat maghrib.


“Sholat dulu, terus berdoa biar Dita jadi jodohmu,” Mamihnya mengingatkan, dan terlihat ayah Andra hanya menikmati rokoknya tanpa berkomentar apapun.


“Ayah sudah bicara kan sama Om Santika? “ Andra malah bertanya sama ayahnya.


“Ikutin perintah ibumu Andra, kamu sudah ada kemauan meminang anak orang tapi masih belum mau bertanggung jawab untuk jadi seorang imam. Ayah tidak mau malu di hadapan teman ayah,“  ayahnya tegas menjawab pertanyaan Andra.


“Andra takut Dita keburu dipinang orang yaah… miiih,” Andra masih belum sadar juga.


“Ini niih , sikap seperti ini, yang bikin mamih sama ayah belum mau melangkah jauh.” Suara mamih terdengar agak keras.


“Kamu jangan merasa percaya diri karena lulusan APDN dan ayahmu seorang pejabat di daerah Andra…, lihat siapa ayah Dita, Lihat juga Dita, dia berkerudung rapat pertanda agamanya bagus,” ayah mulai agak keras bicara,


“Kakekmu ulama besar.  kamu dari kecil dididik agama. Kemana sekarang kebiasaan masa kecil kamu!  Ayah nyesel nyekolahin kamu ke kota besar waktu SMA kalau tahu keimanan kamu akan terkikis seperti ini.”


Kembali ayahnya  bicara  mengingatkan anaknya.


“Sebetulnya mamih ragu Dita akan mau sama kamu, jika dia tahu kelakuanmu seperti ini, pantesan maghrib-maghrib kamu pulang, takut disuruh sholat kan?” Mamihnya menimpali berondongan ayahnya.


“Sekarang mamih mau telepon Dita nih… “ mamih mau mengangkat telepon di sampingnya.


“Iya…iya … aku sholat sekarang.” Dengan terpaksa Andra menuju ruang mushola di rumahnya, Diikuti gelengan kepala ke dua orang tuanya…


“Gimana nih mih, ayah jadi ragu besanan sama pak Santika, malu kita kalau Andra sikapnya masih kayak begini.”Ayah melanjutkan pembicaraan sepeninggalan Andra.


“Tadinya mamih berpikir, barangkali ada perubahan positif pada anak kita, jika di sandingkan dengan Dita yang agamanya kuat, tapi kita lihat saja lah satu dua bulan ke depan,” ..........


-oo-


Apa yang akan terjadi dengan hubunhan mereka?


Ikuti terus ceritanya ya...

__ADS_1


__ADS_2