
"Dit kok aku ditinggalin." Yati mengejar.
"Maaf Yat, aku mau samperin dulu kak Andra, kita ngobrol abis jam terakhir ya!" Dita bergegas menuju kantor kepala sekolah.
Setelah mengucakan salam Dita masuk ke ruangan.
"Ayo bu Dita, silahkan disini saja ngobrolnya." pak Husein menyuruh Dita dudduk.
"Terima kasih pak, biarkan saya bicara diruang tamu kantor saja." Dita memberi isyarat supaya Andra mengikutinya.
Pak Husein tidak menahan mereka, karena memahami situasinya:
Sambil berjalan ke arah kantor Dita bicara: "Kak Andra mau apa sih ke sekolah, ini jam kerja lho kak. Emang kakak gak ada kerjaan."
"Habisnya kamu kalau kakak ke rumah tidak pernah mau ngobrol." dengan entengnya Andra menjawab.
"Lho emang kakak ke rumah buat nemuin aku! "
Pas mau masuk ke kantor, Andra menghentikan langkahnya.
"Dit, dikantor banyak guru-guru, kita ngobrol di luar yah."
"Subhanallah kakak, aku lagi kerja. sebentar lagi aku harus ngajar. Kalau gitu kakak pulang aja." Dita meninggalkan Andra seorang diri.
"Neng kok tamunya tidak disuruh masuk." bu Yuli heran melihat Dita meninggalkan tamunya.
"Dia sudah mau pulang bu, kan bentar lagi jam terakhir mau mulai.". Dita beralasan.
Matanya melirik ke luar dan kelihatan Andra sudah tidak ada. Dita mengusap dadanya.
"Neng tidak boleh sepertti itu memperlakukan tamu. Sebenci apapun kita sama orang itu, tamu tetap harus dihormati. sini duduk sama ibu." bu Yuli menasehati.
Dita mengikuti bu Yuli, dan menceritakan masalahnya.
"Kita sudah dewasa neng, sebisa mungkin tampilkan wajah ramah sama siapapun, apalagi sama yang menyenangi kita.Ingat lho kita perempuan, kalau bisa tidak menolak siapapun yang menyenangi kita. Eneng jangan takut, jodoh itu Allah yang atur." kembali bu Yuli mengingatkan Dita.
Tak terasa obrolan mereka sampai melewati waktu masuk. Dita terpaksa menghentikan obrolannya dan pamit mau bawa buku dimejanya. Begitu mengangkat buku, kembali Dita melihat secarik kertas dilipat rapi. Karena waktu sudah lewat maka Dita hanya memasukkan kertas itu ditasnya.
-ooo-
“Selamat siang anak-anak, maaf ibu terlambat sepuluh menit, barusan ada urusan mendadak; baik silahkan jadikan kelas ini menjadi dua baris saja,berarti dua bangku ke pinggir di satukan” Dita terdengar sedang mengatur ruang kelasnya. Terlihat anak-anak serempak membereskan bangku sesuai petunjuk gurunya.
“ Hari ini kita akan mempelajari tentang uang, ibu mau bertanya, ada berapa macam uang yang kita ketahui?” Dita memulai pembelajarannya.
“Duaaaaa…” terdengar serempak anak-anak menjawab
“Apa saja?” kembali Dita bertanya
“Uang kertas dan uang logam “
“Anak hebat, mari kasih tepuk tangan untuk kita semua,” kelas dipenuhi suara tepuk tangan.
“Sekarang coba kalian keluarkan uang yang kalian bawa, cukup satu saja.” perintah Dita, mulutnya berdoa supaya kejadian di kelas sebelumnya tidak terjadi.
Anak-anak sibuk mengeluarkan uangnya dan di lambai-lambaikan di ataskepalanya.
Kembali terdengar Dita bertanya:”Ari berapa uang yang kamu pegang?”
“Dua ribu bu”
“Anti punyamu berapa?”
__ADS_1
“Sepuluh ribu bu”
“Punyaku lima ribu..” Anti bicara tanpa ditanya. Diikuti oleh yang lainnya
yang lain menjawab tanpa di tanya “punyaku seribu”
Tiba-Tiba Rohman menyambung:”Gope bu “ sambil menunjukkan uang logamnya.
"gerrrrr...." kelas dipenuhi tawa.
Dita jadi ikut tersenyum, karena usahanya untuk membuat anak tidak mengantuk di jam terakhir membuahkan hasil. Dari situ karena anak sudah focus menghadapi pelajaran maka Dita mulai memberikan umpan-umpan yang memancing reaksi positif dari kelasnya.
"Selamat...selamat, tidak ada yang hilang uangl lagi." Dita bergumam.
"Silahkan bergabung di kelompok empat ya, tinggal balikkan kursinya menghadap meja di belakang kalian. Mulai!" Dita memberi instruksi.
"Waktunya dua puluh menit ya, nanti dari tiap kelompok mempresentasikannya." Dita membagikan soalnya.
Waktu rasanya cepat berlalu jika sudah bersama anak-anak.Ditapun memberikan kesimpulan setelah proses diskusi berakhir.
-oo-
Dita bergegas menuju kantor karena ingat janjinya sama Yati. Tiba di kantor mereka sudah menunggunya.
"Dit cepet sini, kita mau denger ceritanya." Nuri menggamit tangan Dita supaya duduk.
"Sudahlah, aku gak mau cerita apapun sekarang. beok-besok aja ya. Mendingan kita urus masalah Yati. Gimana Yat apa yang mau kamu ceritain tadi sama aku." Dita merasa ada alasan untuk menghindar.
"Rupanya aku banyak ketinggalan cerita nih." Nuri mengambil posisi duduk lebih mendekat.
“Denger nih ya, Jadi i Pak Budi ngajak nikah, tapi aku bingung,” Yati membuka pembicaraan,
“Kenapa bingung, itu artinya dia benar-benar serius sama kita.” Ujar Dita
"Pasti kamu inget cerita pak Rudi waktu itu ya." Nuri nyamber pembicaraan.
"Ya iyalah kan dia udah gagal tiga kali dalam kehidupan rumah tangganya." Yati menegaskan.
“Istikharah aja Yat, " saran Dita.
"Bener tuh, terus gimana menurut orang tuamu.” Nuri mengacungkan jempolnya.
“Kalau orang tua sudah menyerahkan semua sama aku, maklum mereka masih kolot pemikirannya, saat mengetahui pak Budi datang pake mobil, dan kehidupannya mapan, mereka merasa bangga aja lihat anaknya akan dipinang.“ imbuh Yati kelihatan .
“Aku nanya nih Yat, kamu sebetulnya sama pak Budi lihat apanya. Tanya pada hatimu, kalau cinta kenapa harus bimbang. Yang mau rumah tangga kan kamu bukan teman-teman. Soal dia pernah gagal dalam rumah tangga memangnya siapa yang mau.” Dita mulai memberikan pemahaman lain.
“Iya juga ya Dit, mungkin awalnya aku juga gak baik niat deket sama dia karena lihat hartanya.”Yati mengakui.
“Sekarang, tinggal lurusin niat aja, dan doa yang khusyu minta yang terbaik sama Allah, kalau perlu mohon sama Allah jika dia jelek buat kita, minta dirubah sama Allah menjadi baik . Allah maha kuasa, … jangankan merubah yang buruk menjadi baik, menjadikan yang tadinya tidak ada menjadi ada saja Allah mampu. Jangan lupa tambahkan niatnya untuk membahagiakan orang tua.beres.” Dita panjang lebar menguatkan tekad temannya.
Nuri dan Yati jadi terpukau dengan apa yang temannya paparkan.
"Maasya Allah Dita, aku jadi mendapat pencerahan seandainya ada seseorang yang mendekati mau kupraktekan ah." Nuri memeluk temannya.
"Non, bisakah dalam menghadapi masalahmu-pun kerjakan apa yang kamu ajarkan sama kita." Yati mengingatkan temannya.
"Iya juga ya! emang paling gampang kalau ngasih saran sama orang." Dita tersenyum sambil memeluk kedua temannya.
"Terima kasih ya, kalian telah jadi sahabat aku." pelukan Dita makin erat.Sejenak terlupakan masalah yang dihadapinya.
“Eh kita jalan sore yu, cari yang anget-anget di Golden, di sana kan banyak makanan
__ADS_1
macem-macem jadi kita tinggal milih mau makan apa,”Yati memberi usulan
Nuri dan Dita saling pandang dan mengangguk tanda setuju.
“Nanti ketemuan di sana ya, jangan terlalu sore ah biar bisa nyantai agak lama”
Yati pamit duluan, dan disusul oleh keduanya.
***
“Tiba di rumah dengan tubuh lunglai Dita tadinya mau langsung ke kamar tetapi ibu sudah
menunggu diruang tamu dan menahannya.
“Duduk dulu sebentar Diit, “Ibu sambil menepuk tempat disampingnya.
Dita sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan ibunya katakana, tetapi tak urung
hatinya tetap tegang melihat ibunya begitu tenang , maunya Dita ibunya langsung marah, jadi dia bisa langsung membela diri, tetapi ketenangan yang ibunya perlihatkan malah membuat hatinya lebih ketar-ketir.
“Maafkan Dita bu..” Dita mendahului minta maaf
“Apa yang harus dimaafkan Dit, memang nya bikin salah apa?”Ibunya balik bertanya
“Dita yakin ibu sudah tahu." Dita menundukan wajahnya.
"Jadi benar Dita berlaku seperti itu." Ibunya menatap wajah Dita
"Dita hanya gak senang aja kak Andra datang ketempat kerja saat Dita sibuk. Maafin Dita ya bu."
“Kok minta maafnya sama ibu . …dengar sayang, ibu tidak akan memaksa apa yang tidak kamu inginkan, Mamihnya Andra hanya punya keingingan baik, kenapa kita harus menghindar. Manusia tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi jodohnya kelak. Ketemu jodoh itu ibarat sebuah perjalanan yang harus melewati beberapa etape. Bagaimana jika jodohmu itu ketemunya harus melalui episode ini, kamu harus menghadapinya, dan percayakan semua sama Allah." ibunya diam sejenak
“Maafkan sikap Dita ibu, kak Andra juga kayak bukan orang dewasa. Dia kan sering kesini, kenapa gak langsung bilang perlu bicara sama Dita, kan bisa bu."
“Bener Dita mau menemui Andra kalau dia datang ke sini, bukan untuk kakak.”ibunya
menegaskan. Mau tidak mau Dita mengangguk walau ragu,
“Inget Dit,kamu seorang pendidik yang harus bisa menjaga sikap ,,,, hargai orang lain maka anak ibu akan dihargai pula."bunya bicara panjang lebar bahkan yang dibicarakan bu Yuli, ibunyapun mengingatkan hal yang sama.
Dita hanya mengangguk tidak sanggup menjawab sepatah katapun. Hatinya sadar dan merasa malu atas sikap yang diperlihatkan di sekolah tadi.
Tetapi ibunya belum berhenti sampai di situ, terdengar ibunya melanjutkan pembicaraan
"Sayang, perempuan baik pantang menolak laki-laki baik, Dita sering ngaji kemana-mana ingat tidak hadits yang diriwayatikan dari Abu Hurairah – rhadiyallahu anhu – dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata:
“Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya,
karena kecantikannya, (atau) karena agamanya.”
“Dita mau yang agamanya bagus bu…”
“Memang Andra agamanaya gimana, Dita tahu sejauh apa tentang kesholehan seseorang? Hati-hati
jangan gampang mengambil kesimpulan tentang sikap keagamaan seseorang, ibu khawatir nanti terjebak dalam kesombongan.”Ibu mengingatkan.
“Astaghfirullaahal Adziiim maafkan Dita bu,,,, maafkan Dita, ” Dita bersimpuh memeluk ibunya….
“Ya sudah ,sekali lagi ibu akan katakan, tidak ada paksaan dengan niat baik mamihnya Andra, kita jalani saja bagaimana Allah akan menyajikan scenario terindah untuk mu. Yakinlah Allah tidak akan salah dalam menjodohkan umatnya. Perbaikilah terus akhlakmu anakku karena Allah mengingatkan dalam firmannya di quran surat An-Nur-26.
__ADS_1
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang."
Dita makin erat memeluk ibunya …