HARU BIRU GURU BARU

HARU BIRU GURU BARU
PENAT


__ADS_3


Dita tergesa-gesa keluar dari ruang OSIS, tapi  didepan kantor , terlihat ada orang yang sedang ngobrol dengan pak Husen kepala sekolah, Dita kaget melihat sosok yang ingin di hindari datang ke sekolahnya .


Terlihat mereka seperti sedang mencari seseorang. Sebelum pandangan pak Husen sampai pada sosok Dta, maka sekonyong-konyong Dita menarik tangan Yati.


“Yat ayo lari….”


“Dit kenapa harus lari, ini tangan aku sakit tahu,” Yati bingung .


“Dah nanti ceritanya, pokoknya sekarang kita secepatnya menghindar dari sini,”Dita terus berlari nuntun tangan Yati.


Sementara dari ruang OSIS pak Rudi sama pak Toni keluar dan heran melihat temannya lari ke belakaang. Kemudian dia mengamati sekitar, terlihat ada seorang tamu dengan pak Husein. di pojok lain mereka melihat Anton.


“Ton… lihat tuh guru baru kita , kenapa lagi dia lari-lari di siang bolong gini,” Rudi tertawa mengamati temannya.


“Ya ampun itu anak, kalau tidak melamun, pankc , dan sekarang lari dia,”Toni melihat ke arah mereka  sambil geleng-gelang kepala .


“Kita samperin yuk! Barangkali ada masalah, ujung-ujungya kamu juga akan di panggil kayak tadi .” Rudi ke luar ruang Osis diikuti Toni.


baru juga mereka mau nyusul Dita, tahu-tahu pak Husein memanggil.


“Pak Rudi,pak Toni kesini sebentar.”Pak Husen memanggil.


“Lihat bu Dita tidak? Ini ada tamu mau ketemu sama dia .”pak Husen menjelaskan.


“O  tadi dia ke belakang pak, mau saya panggilkan?”


Dia melirik tamunya Dita, orangnya tegap, tinggi dengan meggunakan pakaian dinas, sepertinya pegawai Pemda,


“Iya.. tolong panggilkan ya?” tamunya Dita yang jawab. Toni agak gusar mendengar nada memerintah dari orang itu.


“Jadi sosok kayak gitu, ternyata yang disenengin sama guru baru kita.” Toni ngedumel sambil berjalan.


“Nada-nadanya ada yang cemburu .” Rudi menepuk bahu temannya.


“Cemburu embahmu…. Bukannya kamu tuh yang naksir guru baru kita, kata guru-guru, kamu gak mau lepasin tangan Dita waktu pertama dia masuk sekolah.” pakToni balik menggoda temannya.


“Sembarangan aja kalau pada ngegosip.”Rudi terkekeh. Sambil terus berjalan menuju belakang sekolah.


Mereka mencari Dita dari mulai perpustakaan, mushola sampai kantin tapi gak ketemu.


“Nyari siapa pak” Mang Ayo bertanya.


“Lihat bu Dita enggak mang.”

__ADS_1


“Bu Dita tadi ke pintu gerbang belakang .” Kata mang Ayo.


“Ke rumah emih pak,” tiba-tiba istrinya pak Uli pegawai TU memberi tahu ke duanya.


“Makasih miih ..” mereka berlalu.


***


“Aduh Diiit kenapa pula kita kayak yang ngumpet gini si,” Yati terengah-engah kecapean.


“Emang kita ngumpet.” Dita mesam-mesem.


“Dasar kamu kayak anak kecil aja, inget lho kamu ini sekarang udah jadi guru, kayak abege menghindar dari orang yang gak disukai gitu tahu…lagaknya sok tua nasehatin aku, sendirinya berlaku kayak anak kecil.”Yati tertawa.


“Aah pokoknya menghindar aja dulu, urusan kedewasaan kita bicara belakangan.”Dita membela diri.


Jjangan-jangan kamu ge..er lagi, memangnya ada orang yang nyari.”Yati mengingatkan


“Aku cerita deh, yang mau kuhindari itu namanya Andra temen seangkatan kakak laki-laki aku di APDN. Minggu kemaren aku dia datang nunggu di kantor kepala sekolah. Nah masih bisa menghindar tuh, kebetulan lagi ngurus Fatah waktu di bully."


"Kamu kok gak cerita." Yati menyela.


"Belum sempet aja non sory ya!"


"Trus... gimana selanjutnya." Yati mulai penasaran.


“Masalahnya dimana Dit, dia calon camat lho, kamu nyari yang kayak apa si.”Yati bingung.


“Masalahnya aku tahu dia dari SMA, dia kakak kelas aku, kalau ada Nuri dia juga bakal tahu da, kenapa aku males ketemu dia."


“Terus kita mau ngumpet sampai kapan, lima belas menit lagi kita harus masuk kelas.” Yati mengingatkan temannya.


“Ya udah kita tunggu sampai bel masuk aja, kan enak langsung ke kelas.” Dengan entengnya Dita menjawab.


“Oh  jadi bu guru kita memang sedang ngumpet, hayoh ketahuan.” Tiba-tiba Rudi dan Toni sudah ada di pintu sambil masuk .


“Ya  Allah bikin kaget orang aja iih!. ucapin salam kek “ Dita kaget.


“Assalaamu alaikuum “ nada Toni terdengar agak marah


“Alaikum Salam! Tenang pak , jangan marah, minum niih.”Yati tertawa menyodorkan minuman di depan temannya


“Ibu Dita, ada  tamu menunggu sama Bapak di kantornya, kita disuruh manggil tadi,”Rudi mengingatkan.


“Bisa minta tolong nggak, bilangin sama bapak dan tamunya aku lagi di toilet mules,” Dita minta pertolongan temannya.

__ADS_1


“Silahkan  aja bilang sendiri sama  bapak, kita gak mau bohong ya Rud.” Toni menolak,


“Siapa juga yang minta tolong sama bapak Toni, aku minta tolong sama yang baik aja,”Dita menengok ke arah Rudi.


“Aku juga gak mau bu, mending sekarang kita temuin tamunya.” Rudi mengingatkan.


Akhirnya mereka pergi menuju kantor kepala sekolah. Cuaca hari itu yang kebetulan panas, menambah panasnya hati.


Dita melangkahkan kaki dengan gontai.


“Hai pelamun, butuh saran tidak?”


“Sok perhatian!,”Dita menjawab ketus sambil terus berjalan, diikuti Yati.


“Memangnya gak butuh saran apapun dari teman!” kembali Toni mencoba lagi.


“Aku butuh saran, tapi bukan dari bapak…” sengaja Dita menekankan kata bapak, karena saat itu dia lagi tidak membutuhkan untuk bicara dengan siapapun.


Rudi mencolek tangan temannya untuk diam. Tapi rupanya pak Toni penasaran.


“Bu Dita, kita orang dewasa kenapa takut untuk minta pendapat dari teman, atau heeeiiii jangan-jangan kamu naksir aku ya?” Toni mencoba bercanda.


“Tuh kan,  ujung-ujungnya bukan mau mengurangi beban pikiran, malah nambah mumet.” Dita terlihat marah dan langkahnya makin cepat,meninggalkan.


***


“Kenapa bu guru kita marah, kamu pasti keterlaluan ya…”Rudi menepuk bahu Toni.


“Gak tahu, bawaannya kok aku malah mancing kemarahannya dia aja ,” ujar Toni


“Ya udah salip aja kenapa siii, kamu gak berani ya lawan orang yang tadi… “ Rudi tertawa.


“Bukan gak berani, tapi kamu tahu sendiri kan masalah yang sedang kuhadapi.”


Memang Rudi tahu Toni sedang menghadapi masalah dengan tunangannya yang ketahuan di dekati oleh teman sekantornya . memang Lutfi tidak mengakui mempunyai hubungan tetapi bukan sekali temannya memergoki mereka sedang jalan di tempat makan berdua.


"Memang mereka bener sodara bro!" Rudi penasaran.


"Iya sih dia saudara jauhnya." Toni menjawab malas.


“Aku gak mau mikirin urusan Lutfi lah, biarkan waktu yang akan menyelesaikannya, karena dua keluarga sudah saling mengenal, mau gimana lagi,” Toni mengangkat pundak.


“Iya  tapi sekarang jangan main api sama teman, ingat lho dia kelihatannya sedang kebingungan dengan hidupnya. Jangan malah kamu tambah lagi bebannya. Kalau mau berteman ya berteman aja, jangan ngasih harapan palsu. “ Rudi mengingatkan.


“Yang nyaranin nyalip siapa… sekarang sok menasehati, banguun buuung, perlu aqua paaak?” Toni memepuk pundak temannya.

__ADS_1


” Duluan aaah, nanti kita jadi futsal kan ? di tunggu yaaa…” Toni berlalu sambil melambaikan tangan


Kembali tanpa disadari oleh mereka seseorang mencuri dengar pembicaraan.....


__ADS_2