HARU BIRU GURU BARU

HARU BIRU GURU BARU
EGO


__ADS_3

"Cantik Ingin rasa hati berbisik. Untuk melepas keresahan Dirimu


Oo cantik Bukan 'ku ingin mengganggumu. Tapi apa artimerindu Selalu"


Alunan lagu Cantik mengalun sayup-sayup. terdengar pak Toni mengikuti lagu itu. Sesekali melirik sambil tersenyum melihat Dita salah tingkah, karena mereka tinggal berdua.


Baru saja bu Yuli dan bu Tuti pindah mobil. Tadi sehaabis makan bubur,  bu Yuli ditelepon suaminya untuk menunggu dijalan arah pulang.


"Bu Tuti bareng kita aja." Dita menahan.


"Neng rumah ibu searah sama bu Yui, enggak apa-apa ya?" Bu Tuti beralasan.


Jadilah  Dita terjebak berdua dimobil.


"Kenapa kamu gelisah, aku gak bakal ngapa-ngapain ibu." Toni menenangkan Dita.


"Ya gak enak aja kita hanya berdua, tadi aku mau pindah ke belakang dilarang.." Dita menunduk


"Aku kan temanmu, bukan sopir" Toni mengemukakan alasan.


Dita hanya diam dan tetap duduk mepet ke arah pintu.


"Ada hati yang termanis dan penuh cinta Tentu saja 'kan


Tentu saja kan kubalas seisi jiwa. 


Tiada lagi, tiada lagi yang ganggu kita.Sungguh aku sayang kamu"


Inikah sungguhan, Sungguh aku sayang kamu"


Pak Toni mengeraskan bagian bait itu sambil terus memandang, orang yang ada di sampingnya.


“Apaan siih, itu lihat ke depan banyak mobil lewat Aku belum mau meninggal sekarang, masih banyak dosa, apa lagi berteman dengan si bapak ini, nyebelin,” Dita sekenanya bicara


“Kamu jangan marah dekat aku, karena kamu makin… Caaantik, bukan ku ingin menggngguuumu “ dia mengikuti alunan lagunya  sambil tertawa.


“Ih ..., aku mau turun ah,!” Dita merajuk


“Bener mau turun,! “ pak Toni pura-pura mau menghantikan mobilnya.


“Gak bakaaal, biarin aku turun di sini,” Dita masih keukeuh.


Akhirnya pak Toni betul-betul menghentikan mobilnya kepinggir jalan, kebetulan agak teduh karena di bawah pohon rindang..


Lagu cantik masih terdengar mengalun.


Seketika Dita membuka pintu mobil dan keluar.


"Dit...Bu Dita." Toni kaget dan segera menyusul.


"Aku gak sukan ya bapak seperti tadi."


"Maksudmu apa bu."


"Tanya aja sama dirimu sendiri.  Pantesan pacarmu marah sama aku, karena memang  kegenitan." Dita berjalan cepat menjauh.


Toni agak berlari dan menangkap tangan Dita.

__ADS_1


"Maafkan aku. Yuk balik lagi ke mobil,  Aku janji tidak akan bercanda lagi." Toni menunjukan kedua jarinya sebagai tanda janji.


Akhirnya Dita mau masuk lagi ke mobil.


“Tolong  matikan  lagunya."


"Memang kenapa! Kamu tidak suka ya."


"Lagu itu cocoknya di putar saat kamu sama dia, “ kata  Dita.


“Kalau aku sengaja mutar lagu ini buat kamu gimana.” Toni lupa dengan janjinya.


"Tuh kan mulai lagi ….. “ Dita kembali mau membuka pintu.


"Maaf aku lupa.. Yuk kita jalan lagi, nanti kamu datang terlambat sampai rumah.” Pak toni kembali menjalankan mobilnya.


"Boleh aku panggil namamu saja Dit," Toni kembali membuka pembicaraan.


Dita hanya mengangguk. Mobilpun melaju tenang,


“Dit kapan-kapan aku mau certain tentang hubungan aku sama Lutfi. sekalian aku juga penasaran dengan tamu kamu waktu itu, boleh kan?” di tengah keheningan pak Toni kembali membuka pembicaraan.


“Aku gak tahu, belum bisa janji.” Sahut Dita pelan menunduk.


“Anggap aja kita saling butuh pendengar untuk masalah yang kita hadapi.” Pak Toni membujuk


“Kita lihat saja nanti.” kata Dita  pelan..


“Aku minta maaf atas nama Lutfi ya… , dia tidak berhak mempermalukan kamu waktu itu, sekali lagi maafin ya.”


“Ya, aku maafin..”


Didepan rumah terlihat mobil  sudah terparkir. Tanpa sadar ke duanya saling memandang.


"Iya itu kak Andra." Dita menjelaskan pemilik mobil yang terparkir.


“Oh jadi namanya Andra.! Jadi gimana nih, aku turun atau langsung pulang.”  pak Toni terlihat  rikuh


“Kita turun aja pak, kan ibu harus tahu aku pulang tidak sendiri..”


Dita ke luar , diikuti pak Toni di belakangnya.


-oo-


Mendengar suara mobil ditutup, Andra menghentikan obrolannya, dan langsung menengok ke arah datangnya suara.


“Tan, kayaknya Dita datang." Andra keluar diikuti Ibunya Dita . dan menyambut anaknya dengan agak kaku.


“Bu, kenalkan ini pak Toni, Pembina OSIS di sekolah aku,”


Dita  mendorong pak Toni buat salim sama ibunya,


"Maafkan saya Tante, kita terlambat." dengan santun dia mencium tangan ibu Dita,


Saat berhadapan dengan Andra,ke duanya berjabat tangan sambil menatap dengan tatapan saling menilai diri masing, terasa suasana diantara ke duanya tegang, mata mereka bertatapan sangat dalam dan dingin,


“ Andra…”

__ADS_1


“Toni…”


Melihat ketegangan diantara keduanya, Ibunya Dita akhirnya menyuruh mereka masuk.


“Terima kasih tante, saya langsung pulang saja, sekali lagi, maafkan kami kesorean.” Toni menolak halus.


“Masuk dulu bentar pak, aku ambilkan minum “ Dita memberi isyarat bahwa dia butuh teman,


akhirnya pak Toni mengerti dan masuk ke dalam diikuti tatapan mata tidak suka dari Andra.


“Silahkan nak Andra ngobrol dulu sama nak Toni ya, Ibu ada yang mau di urus dulu di belakang.” Ibu mengikuti Dita ke belakang.


“Diit, kenapa nak Toni tidak dibiarkan pulang,  kasian tuh nak Andra  sudah lama lho dia menunggu.”Ibu berbisik takut terdengar tamunya.


“Ibu… kak Andra sudah tahu bahwa hari ini Dita ada acara ke Cilamaya, kenapa ngeyel datang juga?” Dita mencoba beralasan.


“Ya  mungkin dia punya waktunya hari ini,” kembali ibunya mengingatkan anaknya.


“Iya bu,  maaf, Dita pikir gak sopan aja kalau orang yang sudah ngantar tidak dikasih minum. Kata ibu tamu harus dihormati..” Dita sengaja bermanja-manja mengatakan alasan kepada ibunya.


“Kamuuu… paling bisa deh redain kejengkelan ibu, ya sudah cepetan bikin minumnya, gak enak ninggalin tamu lama-lama.” Ibunya mengalah, sambil geleng-geleng kepala.


***


Saat Dita kembali ke ruang tamu, terdengar mereka hanya bicara basa-basi seputar pekerjaan.


“Mari pak Ton, diminum dulu the nya mumpung masih anget, “ Dita menyimpan minum di hadapan


temannya, sambil melirik ke kursi Andra yang terlihat minumnya sudah kosong.


“Kak andra mau d tambah lagi minumnya? Maafin Dita ya tadi gak kelihatan,” Dita mengambil gelas Andra, namun tangannya di tahan


” Gak usah Dit, duduk aja di sini,." Andra menarik lengan Dita untuk duduk di sebelahnya.


Andra mau memperlihatkan sama Toni, bahwa Dita adalah miliknya.


Dari situ Andra  hanya bicara dengan Dita macaam-macam. Toni seperti dianggap tidak ada.  Beberapa kali  Toni bicara selalu di sela oleh Andra, Tangan Ditapun  tidak di lepas dari genggaman Andra,


Perhitungan Dita ternyata meleset.  Tadinya kehadiran  Toni diharapkan bisa membuat suasana tidak terlalu pribadi, malah jadi kebalikannya, Andra menggunakan kesempatan ini utuk menunjukkan bahwa hubungan mereka bukan sekedar main-main.


Melihat situasi itu akhirnya Toni berdiri.


“Aku pulang ya Dit, sampai jumpa senen pagi di sekolah ” pak Toni sengaja menyebut namanya,


Ego laki-lakinya terusik, dirinya merasa tertantang sebagai seorang laki-laki. Andra terpancing dan memperlihatkan  tatapan tidak suka.


“Kamu aku masukan di kepanitiaan  kita bisa kerja saberikutnya, biar bisa kerja bareng ya Dit? “ kembali pak Toni imenggoda Andra, yang terlihat menahan marah.


“Salam sama ibu aku gak pamit sama beliau” sambil melambaikan tangan Toni melajukan


mobilnya meninggalkan rumah Dita.


-oo-


“Kak Andra lepas deh tangan aku,......” Dita  melapas tangan Andra........


---------------------------

__ADS_1


Lho kok Dita marah... mau tahu lanjutannya?


ikutin tarus yaa...


__ADS_2