
Dita agak berlari menuju ruang kepala sekolah, Hatinya bertanya-tanya urusan apa dia sampai dipanggil. Begitu masuk kantor matanya tak berkedip, hatinya heran kenapa orang yang ingin dihindari ada di kantor kepala sekolah.
“Bu Dita ayo masuk, kenapa dipintu saja.” Pak Husein mengingatkan Dita.
“Ma’af pak, dikira tidak ada tamu, saya permisi mau ke BP tadi ada anak yang di buly temannya. nanti saya kesini lagi, Assalaamu Alaikum.” Dita berbalik dan cepat-cepat keluar dengan setengah berlari.
“Dit…Dita tunggu sebentar.” Tamu itu berdiri menatap Dita.
Melihat situasi itu pak Husein menunggu apa yang akan dikatakan tamunya itu.
“Pak mungkin saya pamit dulu karena kebetulan lagi mengurus sesuatu di daerah sini,
dan harus kembali ke kantor.”
“Jadi tidak menunggu bu Dita.” Kata pak Husein.
“Mungkin lain hari pak,” tamu akhirnya keluar, dan mencoba menyusul ke arah Dita pergi.
Melihat itu Dita makin mempercepat jalannya sampai setengah berlari sambil matanya terus melihat ke arah belakang, takut orang itu menyusulnya. Tiba-tiba kakinya tersandung tembok pembatas, tubuh Dita oleng dan ‘hap’ badannya terasa ada yang menahan.
“Astaghfirllaah,“ Dita terpekik.
“Ibu ini senang sekali ya kalau berjalan tidak fokus, entah bicara sendirilah. Eh sekarang malah lari-lari sambil meleng tidak melihat jalan.”
“Bapak kalau tidak ingin menolong ya sudah, kenapa harus menangkap saya?” Dita sewot saking terkejut. matanya masih terus melihat ke arah orang yang akan menyusulnya.
"Alhamdulillah dia pergi juga" gumamnya.
Baru saja hati Dita tenang tahu-tahu. “Bruk…”
tiba-tiba badan Dita jatuh, karena orang itu melepaskan pegangannya dari badan Dita. Dengan santainya dia melenggang meninggalkan Dita yang masih terduduk.
“Bu Dita mari berdiri saya bantu.” tiba-tiba suara Pak Anton menyadarkannya.
“Lain kali hati-hati kalau berjalan ya bu?” tanpa menunggu jawaban dari Dita, pak Antonpun berlalu.
Dita sampai mengurut dada, sambil bergumam :“mimpi apa aku semalam.”
Begitu sadar, Dita menengok kiri kanan takut si usil ada di dekatnya. Akhirnya Dita cepat tersadar ada yang harus diselesaikan.
Sampai diruangan BP, ternyata di sana sudah ada mamahnya Fatah dan Bu Tuti wali kelas Fatah.
: “Fatah tidurnya tidak nyenyak bahkan sering bangun tiba-tiba dalam keadaan bermandi keringat, setelah dipeluk dan ditemani tidurnya dia baru bisa tidur tenang.”
“Jadi ibu sebetulnya sudah tahu masalah berat yang di alami Fatah”. Pak Adi guru BP
__ADS_1
bertanya
“Dia hanya bilang tidak betah di sekolah, mungkin maksudnya di kelas”
Mendengarkan hal itu, Dita memberikan penjelasan apa yang terjadi sama Fatah selama ini. Mendengar bu gurunya bisa menceritakan kejadian yang menimpanya, Fatah akhirnya berani mengatakan kejadian yang tidak
diketahui teman-temannya.
“Memang mereka berani cerita sama ibu?”Fatah mulai berani bertanya.
“Iya…mereka sayang sama Fatah dan takut Fatah pindah.” Dita makin membesarkan hati Fatah.
“Tapi mereka gak tahu bu, kalau tendangan-tendangan itu tidak hanya dilakukan di
kelas, saat aku lari ke luar kelas kalau tertangkap aku di bopong rame-rame ke
benteng belakang sekolah dan diusung ke atas. Badanku di tempelin di dinding
dan diperosotin seketika belom lagi nanti aku dilempar ke atas rame-rame.”
Secara tak sadar Fatah menceritakan kejadian yang dialaminya sehari-hari.
“Astaghfirullaahal Adziiim nak kenapa gak cerita ke mamah?”
“Aku takut mah, setiap aku bilang sama mereka mau lapor ke bu Tuti, besoknya mereka bukan berhenti malah makin kasar. Jadi bagaimana Fatah mau cerita? Temen-temen juga diancam sama mereka.” Fatah menjelaskan terbata-bata.
Semua yang ada diruangan itu tercenung dan menarik nafas dalam, tidak menyangka kenakalan anak sekarang bisa sampai seperti itu.
“Fatah besok sekolah lagi ya,” Bu Tuti membelai kepala Fatah.
.
***
Sepeninggalan mamahnya Fatah, Dita meminta maaf sama bu Tuti dan pak Adi, karena ikut nimbrung
di ruangan itu.
“Gak apa-apa neng Ibu seneng eneng sebagai guru baru mau peduli sama permasalahan anak.”
“Iya bu…tenang aja, itu bagus buat ibu sebagai guru baru bisa menambah pengalaman
bagaimana kompleksnya masalah yang ada di sekolah. “ Pak Adi menambahkan.
“Iya sih pak tapi saya juga jadi ngeri bayangin perlakuan anak-anak zaman sekarang, kok bisa seperti itu ya, secara… mereka kan baru kelas tujuh, walaupun badannya besar, mereka tetap anak-anak. Gemeteran
lho saya pak.” Dita memperlihatkan tangannya yang basah karena keringat.
__ADS_1
Pak Adi tertawa dan memberi kekuatan buat Dita untuk terus peka terhadap anak, tidak
hanya fokus sama pelajaran saja.
“ Oke ibu lulus menghadapi satu masalah, jangan pingsan ya?” Pak Adi mencoba
menetralisir keadaan.
Dita tersenyum dan pamit bersamaan dengan orang yang masuk berikutnya.
“ Jawab dulu salam saya baru keluar bu guru pelamun,” sebuah suara
mengagetkan Dita.
“Wa Alaikum salam, permisi,” Dita menjawab dan keluar dengan tergesa takut terpancing emosinya, apalagi kalau ingat tadi dia ditinggalkan dalam keadaan terjatuh.
“Dita… kamu pendendam juga rupanya.” Pak Toni bergumam pelan, sambil geleng-geleng kepala.
“Apa pak, saya denger lho…” Pak Adi tersenyum.
“Ibu juga denger lho paaak…” Bu Tuti juga menimpali.
“Jaga hati lho pak, inget ada hati yang sedang menanti keputusan dihalalkan.” Pak Adi menepuk bahunya.
Pak Toni hanya tersenyum kecil. Lantas melaporkan bahwa anak-anak yang melakukan bulying
sama Fatah sudah diurus di ruang OSIS, dan akan diproses pemanggilan orang tuanya.
“Jadi apa yang akan diputuskan sama kelima anak ini Pak!”
“Berikan skorsing empat hari dengan tugas yang harus dikerjakan sesuai jadwal pelajaran, Pak Adi memutuskan sanksinya..
"Kalau begitu saya permisi,".
“Sebentar pak,” pak Adi menahan langkah pak Toni.
“Ya pak…” pak Toni menengok ke arah pak Adi.
“Halalkan segera… “
“Aduh bapak, kirain ada apa.” Pak Toni keluar sambil geleng-geleng kepala.membuka pintu.
“Bruk…!!”Pak Toni menabrak orang yang kebetulan lewat persis dihadapannya.
“Aw…bisa enggak bapak keluar ruangan sambil melihat ke depan!” Dita melenggang meninggalkan si usil yang sedang termangu dibelakangnya…….
****
__ADS_1
Gaess semoga kalian penasaran dengan lanjutannya!!
Tinggalkan jejak dong!