
“Hei….Ayo ah kita langsung berangkat, nih tasnya sudah ku bawakan” dengan tidak sabar Yati menunggu di depan kelas.
“Aduh yang gak sabar.. aku jadi curiga kayaknya ada yang mau ditemuin ini mah… ehem-ehem.” Dita
nyandain.
“Aku gak diajak nih!” tiba-tiba Nuri nyalip pembicaraan.
Yati bingung tapi gak bisa melonak juga akhirnya mereka pergi bertiga.
"Mau kemana sih." Nuri penasaran, karena melihat Yati seperti rikuh.
“Kalau kamu ada janji, mending ketemuan di tempat makan aja Yat,” bener gak Dit, Nuri minta dukungan.
Yati memerah mukanya karena ketahuan janjian sama seseorang.
“Iyalah nanti ku telepon dulu orangnya ya?” Yati mengalah.
“Syik kita jadi gak kelaparan" Dita dan Nuri saling pandang sambil ketawa kegirangan.
“Ya udah Kita ketempat itu ya, makan cobek enak banget kayaknya." Yati memutuskan.
"Yang ada gazebo di atas danaunya kan?” Dita meyakinkan.
“Iya neng geulis, hayu ah cepet, kita kan belom sholat duhur." Yati mwnggamit tangan Dita.
"Pake mobil aku aja ya! kalian tunggu di parkiran , aku ke air dulu.” Nuri lari keci menuju
toilet guru.
***
“Ih penuh … kita dapet tempat gak ya.” kata
Nuri sambil mencari tempat parkir, kebetulan ada tempat satu disamping brio
orange. Yati turun duluan sekalian mencari temannya barangkali sudah sampai.
Nuri dan Dita menyusul kemudian, terlihat Yati sedang bersama seseorang yang berseragam LLAJR. Yati melambaikan tangan sama temannya untuk bergabung.
“Maaaf kami telat ya pak,” Nuri membuka
pembicaran sambil duduk
“Ah enggak, saya baru datang. kata bu Yati kalian mau cobek ayam kampung ya, bapak udah pesen tadi, kenalkan saya Budi.”
“Ini Dita dan itu Nuri,”Yati balik memperkenalkan temannya.
“Kita ganggu gak ni pak,” Nuri mencoba
mencairkan suasana.
“Enggak, ayo makan, kalian pasti lapar kan?" Pak Budi mengingatkan ke tiganya.
“Sttt…kita cepet-cepet makannya biar Yati bisa bicara tanpa kita ganggu ,” Nuri menyenggol tangan Dita.
Saat makan sesekali pak Budi berbisik sama Yati. Nuri dan Dita mempercepat makannya biar bisa meninggalkan mereka berdua
“Kenapa siih kalian berbisik-bisik.” Yati curiga
“Enggak, tuh Dita pengen es degan di warung sebelah,” Nuri menjelaskan sambil senyum
simpul, dan beranjak berdiri, meninggalkan mereka berdua.
Nuri dan Dita sedang mencari tempat untuk minum, karena dipinggir irigasi itu ada
beberapa gazebo tempat beberapa pedagang minuman, terlihat membuat betah
pembeli.
__ADS_1
“Nur.. Dit, sini , ayo gabung sama kita”
Mereka mencari sumber suara yang memanggilnya sambil celingukan. Dita kaget ternyata di gazebo sudah ada pak Toni, sama Pak Rudi.
" Kok mereka ada di sini si? Males ah aku.Yang satu kecentilan yang satu lagi nyebelin " Dita mau mencari tempat lain.
“ Kenapa Dit, mereka kan teman kita. Jangan-jangan kamu naksir salah satunya ya!”
Nuri mencoba menahan kepergian Dita.
“ Enggak lah, males aja aku sama mereka,” Dita masih keukeuh dengan pendiriannya.
Melihat perdebatan Nuri dan Dita akhirnya Pak Rudi berinisiatif mendekati mereka.
“ Ayolah bu Dita, kita kan temen. Oh ya maafkan aku ya karena pernah bikin kamu rikuh saat hari pertamamu di sekolah. Jangan diambil hati ya? Ayo” pak Rudi meyakinkan Dita.
Mellihat Dita hanya berdiri saja, pak Toni nepuk-nepuk tempat duduk di pinggir dia
untuk diduduki Dita.
“Aku disini aja, boleh kan…?” Dita memilih tempat di pojok agak menjauh dari mereka.
" Bu Dita masih marah ya."
Mendengar pak Toni bicara, Nuri sama pak Rudi saling pandang. Nuri mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.
" Ehem..rupanya temen kita sudah sampai berantem aja nih!" pak Rudi memecah keheningan.
" Temen bapak tuh nyebelin." Dita bersungut.
"Hati-hati lho bu Dita, nanti sebelnya jadi berbuah manis sampai berbunga-bunga." Pak Rudi senym senyum.
" Sudah ah..tuh yang manismah es kelapa muda, pa...es kelapanya dua lagi ya? “ Nuri
memesankan minum.
‘Eh… Nur ada guru cuek banget lho sama aku… masa dia minta tolong gak ingat bilang
terima kasih.” Pak Toni melirik Dita, yang dilirik malah anteng sama es kelapanya sambil lihatin bebek yang berenang beriringan di danau sekitar
“Nur…itu ada bebek-bebekan bisa dipake gak si.”Dita bertanya.
" Emang enak dicuekin." Pak Rudi menyenggol bahu temannya.
Nuri dan Dita menoleh.
"Siapa yang cuek." keduanya serentak bicara.
" Itu bebek yang nyuekin ketua OSIS kita." pak Rudi senyum sambil melirik temannya yang kesal.
“Kacaang…kacaaang..” pak Toni nyamber pembicaraan Dita
“Mana tukang kacang, aku mau dooong.” Dengan polosnya Dita celingukan mencari tukang
kacang, dan geeerrrrr… terdengar temannya pada ketawa.
“Kenapa kalian ketawa? ih ngerjain aku ya" Dita melempar tisu yang ada di depannya.
“Habisnya kamu si kebiasaan nyuekin orang yang ngomong.” Pak Toni tertawa sambil berusaha
menangkap tisu yang dilempar Dita.
“Iya…neng kalau orang bicara dengerin, jangan malah lihatin bebek renang, jadi pengen
naik bebek-bebekan lah akhirnya.” Pak Rudi nambahin, sambil tertawa lihat temennya bingung.
“Oke…aku vokus nih, tadi bicara apa pak?” Dita sok serius sambil menatap pak Toni
“Enggak ah keretanya udah lewat, kalau sayuran udah basi kali ya Nur?” kembali pakToni tertawa.
“Bisa enggak sihjadi orang, ga bikin jengkel sekali aja,” Dita akhirnya mengeluarkan unek-unek yang selama ini dipendamnya.
__ADS_1
“Jadi selama ini sebetulnya kamu jengkel ya sama aku.“
“ Iyalah sok jadi orang paling ganteng aja,”
“Jadi aku ganteng dimatamu,”
Mereka bertukar kata satu sama lainnya sampai melupakan teman-teman yang ada disitu
“Ah cie…cieeee rupanya kalian sudah menyimpan sesuatu ya,” Nuri memotong perdebatan mereka.
“Enggak” keduanya menjawab bersaman.
“Duuuh udah kompak pula isi kepalanya,” Pak Rudi menyenggol pundak temannya.
Suasana di gazebo menjadi cair seketika. tak tampak lagi perseteruan diantara Dita dan Pak Toni.
Mereka ngobrol dengan asik sampai Yati datang mengajak pulang.
“Eiiit nanti dulu, pulang duluan berarti yang bayar minumnya.”pak Toni ngancam.
“Masih mau dilempar tisu lagi ya.. sekarang mah di lemparnya mau pake tempat tisunya
sekalian.” Dita mengangkat tempat tisu. Mereka malah ketawa makin kesenengan.
“Duduk dulu aja Yat.Mana pak Budi"
“Harus balik lagi ke kantor barusan ada yang telepon.” Yati mendekati Nuri.
“jadi kantornya dia di terminal gituh?” Dita bingung karena Yati tadi minta dianter ke terminal .
“Enggak…kantornya yang di deket sekolah kita itu, kalau ke terminal emang dia lagi tugas jaga di sana.”Yati menjelaskan kepenasaran temennya.
“Yat, Pak Budi yang di LLD itu ya…”pak Rudi nyamber
“Iyaa, kamu kenal?”
“Gak kenal, tapi tahu. Kamu pacaran sama dia?“ kembali pak Rudi nanyain agak serius.
Yati ragu-ragu jawabnya,” Hanya teman biasa aja kok “
“Hati-hati aja ya… dia sudah cerai tiga kali.” Rudi mengingatkan.
“Masa sih, katanya dia baru menikah sekali.”
“Denger kata kita Yat, seorang laki-laki bisa tahu mana buaya mana biawak,”pak Rudi mengingatkan lagi.
“Iya Yat, tuh temennya buaya ngasih tahuu.”Dita nyeletuk.
Dan kembali gazebo dipenuhi gelak tawa.
“Nah gitu dong bu Dita, ternyata kamu pandai bercanda juga ya” pakToni mau nyolek Dita. Tangan Dita sibuk nepisin tangannya sambil teriak, :”tolong, aku mau ditangkep buaya darat,” mereka kembali pada ketawa lagi.
“Hati-hati sama mereka berdua, pacarnya antri dimana-mana.”Yati ngasih informasi
“Ya Allah jauhkan aku dari mereka,” Dita menengadahkan tangan, sambil mengulum senyum.
Melihat Yati jadi pendiam, Nuri mengalihkan pembicaraan.
Pak Ton jadi gimana kasus pembulian itu akhirnya."
" Di skor 4 hari."
" Itu lho si Tono bisa juga ya nangis." Dita menimpali.
"Nangislah, kalau anak sudah tersentuh hatinya. sebatu-batunya hati anak saat diingatkan betapa jerih payah ayahnya banting tulang hanya untuk dia, siapa yang tahan kali ibu guruuu..." Mata pak Toni kedip-kedip
“Ih takut liatnya ah, kita tinggalin para buaya.” Dita berdiri.
" Bayar dulu." keduanya serempak bicara.
"Makasih traktirannya." Ketiganya kompak berlalu, tanpa mengindahkan perkataan mereka.
__ADS_1
" Pengeretan juga ya mereka." Rudi bicara sambil geleng-geleng kepala memperhatikan kepergian mereka.
***