HARU BIRU GURU BARU

HARU BIRU GURU BARU
TAK TERGAPAI


__ADS_3

“Diiit bentar Diiit….” Toni mau menggamit tangan Dita,namun di tahan sama Rudi.


“Bro…brooo, tenaang… percayakan sama mereka.” Rudi menenangkan temannya.


“Aku heran, ini seperti bukan kamu sampai kehilangan control gini, kenapa sih”


“Astaghfirullaahal  Adziim, memang tadi gua nyudutin dia ya…” Toni mulai menyadari sesuatu.


“Seperti itulah kira-kira."


Toni merenung sebentar dan berkata, “oke gue salah,  terus sekarang gimana”


“Tunggu sebentar … gue yakin mereka akan balik lagi.”


Tapi yang  ditunggu tidak juga kembali. Toni dan Rudi berdiri serentak mau mencari keberadaan mereka.


“Itu sekalian tas mereka bawa. “ Toni mengingatkan temannya.


“Kita langsung ke parkiran aja siapa tahu mereka ada disana.” Toni bergegas menyamai langkah temannya.


Saat sampai diparkiran terlihat Dita sudah  naik kemobil biru.


"Anton?" serentak keduanya kaget melihat Dita pergi.


“Nur, Yat… kok bisa dia sama Anton dibiarkan pergi sih.”


“Nanti aja penjelasannya, sekarang kita susul aja yuk, sini tas kita.” Nuri menyambar tasnya dan berjalan menuju mobilnya.


“Kita nyusul kemana?” Rudi balik nanya.


“Rumah Dita lah.”


“Jangan, mending coba telpon dulu. Kita gak enak sama orang


tuanya Dita, kalau datang tanpa dia.” Toni ngasih saran.


“Iya juga ya mending kalau dianya sudah sampai, nah kalau


belom ada. Apa yang harus kita katakan sama mereka.” Yati menimpali.


Akhirnya Nuri mencoba menghubungi Dita, walau agak lama


akhirnya dijawab juga.


“Dit kamu tunggu di rest area, kita ngobrol di masjid ya? Ingat


lho ibumu tahunya kamu pergi sama kita.” Nuri mengingatkan temannya.


Sepertinya usaha Nuri berhasil, “Kita ketemu di rest area


ya.” Nuri melajukan mobilnya diikuti mobil Rudi.


-oo-


"Kenapa kita harus berhenti di rest area bu." Anton bertanya, setelah sekian lama Dita hanya terdiam.

__ADS_1


"Aku terlalu gegabah langsung naik mobil bapak, tolong kita mampir disana ya." akhirnya Dita bicara.


Anton tidak bisa memaksakan kehendaknya karena dia tahu Dita pasti akan memaksa, takutnya dia akan turun dengan paksa.


Baru saja mobil Anton parkir tak lama mobil Rudi berhenti tepat sampingnya. Toni langsung keluar dan menghampiri mobil Anton, mau membuka paksa pintu mobil.  Rudi keburu mecegah temannya.


"Sabar bro, ingat ini tempat umum. kamu gak mau kan Dita makin benci sama kamu?"


Dita terlihat ketakutan melihat ada kilat emosi dimata Toni.


"Pak tolong saya."


"Apa kita pergi saja?"


Dita mengangguk pelan. Tapi baru saja Anton menstarter mobilnya,Nuri berdiri merentangkan tangan  didepan mobil.


"Turun Dit, kamu sama aku, gak apa-apa. ." Yati menghampiri pintu mobil.


"Aku ikut turun bu Dita, yuk kita selesaikan apa yang menjadi masalah kalian." Anton menenangkan.


"Tahu apa bapak tentang masalah saya." Dita keheranan.


"Matamu berurai air mata saat menabrak saya diparkiran." Anton mengingatkan.


Obrolan mereka terhenti karena ketukan dikaca mobil. Akhirnya Dita mau turun, takut menjadi perhatian banyak orang.


"Pak Anton silahkan pulang saja, maaf kami telah merepotkan." Nuri bicara setelah sadar Anton ada bersama mereka.


"Iya pak, saya gak apa-apa sama Nuri saja.Makasih sudah menolong saya." Dita menguatkan.


"Yuk Dit biar tenang kita ngobrolnya dipelataran mesjid,tuh mereka sudah menunggu.


-oo-


Sambil berjalan, terlihat Dita berpikir, sepertinya sedang menguatkan tekad untuk menghadapi masalah dan menuntaskannya hari ini juga.


"Bismilahirrahmannirrahim." gumamnya.


Yati dan Nuri menggenggam tangan Dita menguatkan.


"Kamu tenang ya, biarin aku yang bicara duluan sama kang Toni." Nuri berbisik, dan dibalas dengan anggukan.


Setelah lama mereka terdiam, dan beberapa kali Toni hendak bicara tapi dicegah oleh Rudi, akhirya Nuri bicara.


“Kang Toni sadar gak sudah memposisikan Dita di tempat yang sulit. Ingat lho kalian pernah ketemu sama Lutfi sedang berdua.Terus saat nanti hubungan kalian kandas, bagaimana dengan posisi Dita, dia jadi perusak hubungan orang lho kang Tooon.” Nuri bicara menggebu-gebu.


Suasana kembali hening, akhirnya terdengar Toni bicara :


“ Dit aku minta maaf, aku  salah menempatkan posisi sulit sama kamu, maafkan aku ya…”


Dita tidak mengatakan sepatahpun malah air matanya yang menjawab, Yati menegusap bahunya menenangkan.


"Kamu boleh benci aku sekarang, tapi tolong maafkan aku." kembali Toni dengan penyesalannya.


“Udah Diit, memang perasaan itu anugrah dia bisa datang kapan saja tanpa diundang, kadang ada orang yang ingin sekali menghadirkan rasa itu tapi gak bisa, dan orang yang tadinya benci,  malah berbalik jadi suka banget. Bener gak gaess…” Yati cari dukungan, dan terlihat temantemannya mengiyakan.

__ADS_1


“Aku boleh nanya gak Dit..” pelan-pelan Rudi bertanya. Dijawab anggukan oleh Dita.


“Kamu mulai memutuskan melangkah sama Andra dasarnya cinta atau terpaksa” sambung Rudi


“Pengabdian dan tanggung jawab “ sahut Dita mantap.


“Maksudnya… tanpa cinta” Rudi penasaran, diikuti mata penasaran teman-teman yang lain


“Cinta bisa datang belakangan.” jawab Dita mantap .


“Jadi tidak terpaksa…” Nuri heran, karena tahu perasaan Dita yang sesungguhnya.


“Insya Allah harus dipaksakan supaya kelak aku ridho mengabdi sama suami.”


“Kamu bisa menekan perasaan kamu sendiri untuk orang tua Dit?” Toni penasaran.


“Yaa… harus aku usahakan… “ Dita berhenti sebentar melihat Toni


“Jadi,  Dita rasa hal yang sama perlu kak Toni lakukan untuk Lutfi. Jangan libatkan aku didalamnya."


“Tapi kamu suka kan sama akuuu..” Toni ingin memastikan


“Aku gak akan jawab. Biarkan saja ini menjadi rahasia hati kita masing-masing.” Jawaban Dita mengandung banyak makna tapi Toni merasakah ada yang menusuk hatinya, dan itu baru kali pertama dia rasakan.


Pelan-pelan matanya mencari mata Dita, tapi yang di cari selalu memalingkan pandangannya ke arah lain, dan ini makin mengiris hatinya.


"Kenapa kamu lari sama Anton." Toni tidak bisa menahan kepenasarannya.


Tiba-tiba Dita berdiri kemali menggamit tangan Nuti untuk pergi.


"Kita pulang Nut, pembicaraan ini gak akan ada ujungnya. maafkan aku pamit pulang." Dita berdiri diikuti Nuri dan Yati.



Suasana sore di reast area itu terasa berbeda dari biasanya. Mentari yang akan kembali ke peraduan, biasanya redup tenang, sekarang terasa seperti mengeluarkan semburat sinar yang agak tajam menghujam relung hati. Toni tersentak menyadari kepergian Dita yang keduakalinya. Dia tidak bisa ditahan lagi oleh Rudi dan mengejar mereka.


“Sebentar  Dita, oke aku hanya ingin mengetahui apa yang kamu pikirkan sekarang. Yuk ngobrol sebentar lagi." Toni membujuk.


“Apalagi si kak Ton.” Dita merasa enggan.


“Aku harus punya kekuatan untuk berjalan ke depan Dit,“ Toni memandang Yati.


“Lantas apa pengaruhnya dengan perasaan Dita” sahut Yati.


“Besar banget buat aku.. “


“Nggak boleh begitu kak Ton, kekuatan utama kita adalah  cinta Allah ada untuk kita. Kalau terlalu menempatkan cinta terhadap manusia, nantinya akan terjebak dengan syahwat yang akan menjerumuskan .” Dita mencoba menenangkan.


“Jadi kekuatan yang kamu miliki adalah dasarnya kasih sayang Allah?” Toni terperanjat.


“Iyalah, aku takut rasa suka yang ada di hati kita bisa  melenakan, sehingga menyisihkan cinta sama Allah.”


Toni hanya terpaku mendengarkan itu, separuh hatinya terasa remuk, dan separuhnya lagi meronta tapi tak kuasa.


.....

__ADS_1


__ADS_2