
“Dit… bukannya kamu ada rapat di OSIS ya, “Nuri mengingatkan temannya yang sedang asik makan baso saat istirahat..
“Aku gak ikutan ah , lagian namaku tidak ada dikepanitiaan baksos, kok dipanggil ikutan rapat.”Dita berkelit
“Ya kalau dipanggil berarti kamu dipercaya dalam kepanitiaan ini, sana pergi, jelek tahu masa guru baru yang diberi kepercayaan buat bantu kegiatan menolak”Yati menimpali.
“Bentar..bentar, kamu tidak lagi menjauhi pak Toni kan?”
Nuri mulai curiga, karena sejak kejadian di Golden temannya selalu saja beralasan untuk menghindar berurusan dengan kantor OSIS, kalaupun kebetulan berpapasan dengan pak Toni, Dita selalu menghindar.
“Non, sudah dua minggu lho kamu menghindari pak Ton,oke lah itu hakmu untuk berinteraksi dengan siapapun yang kamu mau, tapi sekarang urusannya tapi ini urusan kedinasan, “Nuri kembali mengingatkan temannya.
Tiba di kantor OSIS rapatbaru mau dimulai. Dita terlihaat rikuh karaena semua memandangnya.
“Silahkan duduk bu, rapat akan segera dimulai."
"Baik kita lanjutkan rapatnya tadi saya memberikan alternative daerah yang akan mendapat bantuan dari sekolah kita, yaitu Rengas Dengklok, Kuta waluya, Batujaya, Tempuran dan Cilamaya Wetan, silahkan ada yang mau ngasih masukan sasaran baksos kita akan ke mana,”pak Toni menawarkan kepada peserta rapat untuk memberikan tanggapannya".
“Kita cari yang paling parah dampaknya teman-teman,”pak Andi yang bicara
“Kalau saya sebaiknya yang paling dekat dengan sekolah kita,”pak Jamal menambahkan.
“Saya setuju, yang terdekat dengan sekolah kita berarti Cilamaya wetan, menurut berita, ada warga perumahan yang dihuni oleh 344 kepala keluarga mereka bertahan dilantai dua, karena pada banjir sebelumnya air surut dalam beberapa jam, tetapi pada banjir kali ini, air bukan surut malah lama-lama air naik dan sambungan listrik padam mereka mulai panic, terlebih ada lansia dan anak-anak yang sedang sakit, saat petugas BNBP sampai di lokasi, warga makin panic karena melihat perahu karet hanya dua, mereka berebutan minta duluan untuk di angkut.”pak Hasyim guru senior memaparkan panjang lebar.
Dita memperhatikan dengan kagum bagaimana semua memberikan masukan. sampai terjadi kata sepakat.
“Baik, sepertinya sebagian peserta rapat sudah condong ke satu daerah yaitu Cilamaya Wetan, dengan ini saya putuskan bantuan sekolah
kita akan di salurkan ke wilayah Cilamaya Wetan, tok..tok" pak Toni memberi tanda bahwa keputusan rapat sudah syah.
Rapat terus berjalan sampai ke pembagian tugas dan teknis penjaringan dana dari anak.
Saat rapat usai, Dita bergegas meninggalkan ruangan
“Bu Dita … Diiit !!! “pak Toni memanggil Dita.
Yang dipanggil malah bergegas meninggalkan ruang rapat sambil menggandeng bu Yuli.
“Neng, kenapa dipanggil pak Toni keanap pergi.itu tidak baik."
"Dita takut disalah fahami aja bu."
__ADS_1
"Maksudnya gimana neng." bu Yuli terlihat penasaran.
Akhirnya Dita menceritakan semuanya.
"Oh ibu mengerti kalau begitu ceritanya, tapi boleh ya ibu kasih saran sama neng Dita."
Dita mengangguk.
"Seorang gadis kalau bisa bisa menyimpan rapat perasaannya, baik senang maupun benci,” bu Yuli menasehati Dita sambil jalan kearah kantor diikuti tatapan mata pak Toni yang nanar sambil menarik nafas dalam.
***
Hari-hari disibukan dengan pengumpulan bantuan yang datang dari siswa, terlihat bapak-bapak mengurus bantuan yang berupa sembako, dan Dita kaget setelah di hitung ternyata dana yang terkumpul hampir sepuluh juta, belum yang menyumbangkan beras.
Kesibukan terlihat di ruang OSIS, karena besok bantuan akan di distribusikan sesuai jadwal yang sudah direncanakan.
Pak Andi gimana ini barangnya, kelihatannya sudah dipak ya.” pak Toni mengontrol bagian pengumpulan barang.
“Iya itu tinggal sedikit lagi, sedang diurus sama anak-anak OSIS di ruangan mereka.”pak Andi menjelaskan.
“Ini berasnya di satukan saja biar kelihatan jadi berapa karung besar, biar bisa ketahuan”terdengar pak Hasyim mengingatkan pak Jaja.
“Pak Ton, tolong ingatkan anak-anak OSIS, buat memasukan obat-obatan, taddi saya lihat masih ada di lemari tuuh,” pak Hasyim menunjukan jarinya kea rah lemari di ruang sebelah.
mereka mendampingi anak-anak OSIS mengimpentarisir barang yang sudah rapi, dan yang masih harus di pak.
“Bu Dita, kita urus dulu anak-anak, buat mengontrol naikin barang ke mobil bak, ,”bu Yuli menggamit tangan Dita yang masih termangu melihat semua orang sibuk menaikan barang ke mobil.
“Oh iya bu… iya…”. Dita lari membantu menaikan barang yang ringan secara estafet dengan anak-anak.
“Sudah, silahkan anak-anak ikut di mobil pak Jaja, sama pak Andi dan pak Hasyim” terdengar pak Toni mengatur..
“Kita naik mobil siapa bu.” Dita berbisik kepada buTuti.
“Ayo neng, kita ikut mobil pak Toni, “bu Yuli mengajak mereka mendekati mobil pak Toni yang sudah membukakan pintu mobilnya.
“Eneng di depan aja, biar ibu sama bu Yuli di jok belakang,”
Bu Tuti mendorong Dita ke jok depan karena melihat Dita mau masuk dibelakang. Dengan enggan Dita akhirnya masuk ke mobil.
***
Sesampainya di daerah Cilamaya Wetan semua terperangah melihat keadaan di sana di beberapa tempat masih tergenang air cukup tinggi, terlihat juga ada rumah yang porak poranda, karena terbawa arus air yang deras.
__ADS_1
Di daerah yang agak tinggi jalanan begitu berlumpur dan becek, jadi rombongan di arahkan ke posko yang memungkinkan untuk menurunkan barang bantuannya,
“Pal Ton kayaknya bantuan jangan di turunin semua, bagaimana kalau yang ringan kita kasih langsung di perumahan yang terendam air. Menurut berita ada beberapa keluarga masih terjebak di sana karena ada yang sakit .” Dita menyarankan ragu-ragu.
“Memangnya bu Dita mau basah-basahan .” jawab pak Toni sambil melihat sepintas.
“Neng, kata ibu mah gak usah karena belum tentu diizinkan,” bu Yuli mengingatkan.
“Pokoknya kita turun dulu saja di sini, nanti kalau eneng penasaran bisa nanya sama petugas,” bu Tuti ngambil jalan tengah.
“Dita hanya ingin bisa merasakan kesulitan mereka saja bu, kayaknya beda aja kalau bantuan itu kita serahkan sama korban secara langsung,” kembali Dita mengemukakan alasannya.
“Bolehlah kalau dapat izin, kita bawa mi instan beberapa dus, kita bisa angkut langsung ke sana nanti saya dampingi bu,”akhirnya pak Toni menengahi.
***
“Pengurus OSIS, siapa yang mau ikut ke lapangan langsung sama bapak dan bu Dita, kebetulan kita sudah dapat, mereka juga akan mendampingi kita,”pak Toni memberi tahu anak-anak.
“Bertiga aja pak, biar saya juga nanti ikut. ”pak Andi berinisiatif.
“Kita bawa beberapa dus, masukan ke mobil bapak, karena tempatnya agak jauh dari sini,”pak Toni berjalan diikuti yang lain.
“Bu Dita yakin mau ikut ke sana?” bu Yuli menyangsikan temannya, dan di jawab Dita dengang anggukan pasti.
Tiba di lokasi, mereka mendapat pengarahan dari petugas posko, dan mulai berjalan menuju lokasi perumahan yang terendam, Pak Andi mendampingi anak-anak dan beberapa petugas membantu membawakan dus mie instan,
“Bu… kita jadi merepotkan mereka,”Pak Toni berbisik
“Hayu atuh kita aja yang bawa, aku juga bisa koq, “ Dita menjawab sambil mau membawa satu dus mie instan.
"Hati-hati Dit, jalanan licin,"pak Toni mengingatkan, tapi tak di indahkan.
“Pak, boleh saya bawa satu,” Dita berjalan mendekati petugas yang membawa dus, tetapi baru saja melangkah dia terpeleset,
“Ibu awaaas!…” terdengar anak-anak berteriak kaget bu gurunya mau jatuh, Dita mencari pegangan untuk keseimbangan tubuhnya, dengan spontan pak Toni dan pak Anddi berusaha menangkap bu Dita.
Hups badan bu Dita tertangkap sebelum seluruh tubuhnya jatuh di genangan air.
“Kamu gak apa-apa kan Diiit ?"
-oo-
yo siapa yang nangkep bu Dita....
__ADS_1