HARU BIRU GURU BARU

HARU BIRU GURU BARU
AIR PUTIH


__ADS_3


Langkah Dita mantap menuju kelas sembilan pagi ini,  sebait tanya masihselalu ada di lubuk hatinya.


“ Akankah, anak-anak menanti kehadirannya di


kelas, ataukah mereka bosan .” padahal tiap hari Dita selalu membuat rencana untuk selalu mneyegarkan kelasnya supaya tidak membosankan.


Dari hari ke hari dunianya berubah menjadi penuh  warna. Belum genap setahun dia menjadi guru, Dita banyak mendapat pengalaman yang berharga. Dia terlihat anteng dengan pikirannya  sendiri sambil berjalan.


“ Kebiasaan kalau jalan sambil ngelamun bu guru..” pak Toni tahu-tahu sudah ada disampingnya.


“Biarin suka-suka…” Dita pura-pura ngambek.


“Kamu cantik, kalau lagi ngambek.” Makin jadi dia godain.


“Dasar buaya…” Dita balik jawab.


“Hati-hati lho, lama-lama buayanya masuk ke hati,” sambil tertawa dia berlalu masuk ke kelasnya.


Dita bengong lihat pak Toni berlalu gitu aja sambil ngetawain pake muka nyebelin.


“Ya Allah jauhkan orang itu dariku.” Dita komat-kamit.


“Aku denger lho bu guru… jangan terlalu sebel nanti kwalat, masuk hati beneran.”


pakToni tiba-tiba nongol lagi dari kelasnya, sambil ketawa kesenengan.


“Gak bakalan,” Dita cepat-cepat menjauh dari kelas pak Toni menuju kelasnya. Masih terdengar suara tawanya, bikin hati Dita makin jengkel.


Dari kejauhan terlihat Yati melambaikan tangannya minta disamperin.


Dita memberi isyarat mau masuk kelas, akhirnya Yati ngasih kode istirahat mau ngomong penting. Dita ngangguk sambil masuk ke kelas.


Anak-anak menjawab salam, serempak menyambut gurunya. Kelihatannya Dita mulai bisa lebih cepat


mengkondisikan kelas karena mereka sudah besar, dan sudah memahami kebiasaan belajar dengan bu gurunya.


Dita sengaja belum memberitahukan materi yang akan diterima anak-anak hari ini. Maka saat disuruh mengeluarkan uang, mereka saling lirik satu sama lain.


“Buat apa bu.” Devi memberanikan diri bertanya


“Pokoknya keluarkan saja, hari ini kita akan belajar tentang Uang, “ Dita mengingatkan.


“Ooooooh…”semua menjawab serempak.


Anak-anak sibuk buka tasnya masing-masing cari uang.


“Ini bu uangnya digimanain,” anak-anak melambaikan uangnya masing-masing sambil dilambai-lambaikan ke atas.


Tapi tiba-tiba Lila teriak, : “Ibu… uang aku hilang, uang aku gak ada di tas .


Dita mendekatinya dan membantu mencari uang Lila.


“Memang kamu bawa uang berapa Lil.”


“Lima puluh ribu ibu, tadi udah di pake buat ongkos angkot sama beli sarapan waktu


sebelum masuk jam pertama, aku inget uangnya udah dimasukin tas.”Lila makin panic, apalagi setelah tas dikosongkan, si uang tetap tidak ada.


Dita berusaha menenangkan  Lila, dan mulai bicara sama anak-anak di kelas.


“Silahkan kalian buka tas masing-masing dan keluarkan isinya termasuk dompet.” Dita


memberikan instruksi.


Mereka mulai sibuk mengeluarkan barangnya, dan Dita berkeliling memeriksa satu persatu barang yang ada, bahkan sampai di anak terakhir Dita belum menemukan juga. Lila mulai menangis. Dan ditenangin sama teman sebangkunya.


Dita menenangkan kelas yang mulai ribut, setelah tahu pak Toni sedang dipanggil, mereka kelihatan segan sama pak Toni yang sangat tegas sebagai Pembina OSIS.


“Sudah kalian jangan ribut, ibu mau tanya memangnya kalian hari ini ada pelajaran di

__ADS_1


luar kelas enggak?”


“Jam ketiga bu, kita pelajaran olah raga!.” Anak-anak menjawab serempak.


Tanya jawab Dita dengan anak-anak terhent dengan kedatangan pak Toni.Dita langsung


menceritakan kronologisnya.


“Oke aku ngerti, kita coba beresin urusannya ya,?” pak Toni menenangkan.


“Bu, boleh aku minta tolong dibelikan aqua botol satu bu..” pak Toni berbisik


“Buat apa?, jangan bercanda ah …anak lagi kebingungan itu sampai nangis”Dita heran.


“Beliin aja , nanti kamu juga bisa lihat apa yang akan aku lakukan,”pak Toni menjawab santai .


Dita pergi juga beli aqua, dan entah apa yang akan dilakukan orang nyebelin itu.


Pas kembali ke kelas, anak-anak pada nunduk seperti sedang berdoa. Pak Toni


menyapukan tangannya di atas kepala anak-anak. Dita menahan untu tidak  tertawa melihat tingkah temannya.


Sambil ngambil botol aqua dari tangan Dita dia komat kamit baca doa. Suasana kelas makin


hening. Satu dua anak mencuri lihat, karena penasaran sama yang dilakukan gurunya. Ada juga yang mulai gelisah.


Tak lama kemudian terdengar pak Toni bicara:“Anak-anak, bapak mau kalian minum air dari


botol ini bergantian, asal keminum aja sedikit. Dari tadi bapak sudah memberi


kesempatan orang yang merasa menyimpan uang Lila untuk mengaku dengan sukarela,


tidak ada yang maju satupun, maka bapak mau minta pertolongan Allah dengan


wasilah air ini, nanti kalian rasakan, akan ada pengaruhnya buat yang ngambil


uang Lila.”


“Bapak beri waktu untuk yang merasa menyimpan uang Lila silahkan maju ke depan.”


Pandangan  mata pak Toni menyapu setiap anak satu persatu. Beberapa anak ada yang makin menundukan mata ada yang gelisah, ada juga yang menatap pak gurunya takut-takut.


Setelah sepuluh menit berlalu akhirnya pak Toni bicara: “baik… nanti bapak akan


memegang pundak kalian satu persatu, yang bapak sentuh pundaknya boleh keluar


kelas ya? pak Toni menjelaskan.


Tak lama Pak Toni menepuk pundak anak satu persatu dan yang tertinggal ada tiga orang.


“ Kalian bertiga… ikut sama bapak ke kantor OSIS.” Pak Toni ke luar dari kelas Dita tanpa pamit.


Pembelajaran dilangsungkan dengan lancar.


***


Dita cepat-cepat lari menuju mushola begitu bel istirahat ke dua berbunyi, tanpa mampir di kantor


dulu, karena niatnya sehabis sholat mau ke ruang OSIS. Untung masih kebagian sholat berjamaah, karena memang mushola sekolah tempat Dita ngajar kecil, jadi biasanya mereka bergilir berjamaahnya per empat kelas. Begitu selesai sholat baru saja mau lari ke ruang OSIS, tiba-tiba;


“Dit, tunggu dulu, tadi kan aku perlu bicara sama kamu penting, please..”Yati


mohon-mohon, karena kelihatan Dita sudah siap-siap lari .


“Bisa di pending nggak,nanti kita ngobrolnya pulang sekolah. Aku mau ngurusin kasus kehilangan uang di kelas.” Dita menjelaskan.


“ya udah, ayo aku anter ke ruang OSIS.” Yati menuntun Dita menuju ruang OSIS, terlihat ada pakRudi sedang asik makan pecel.


“Lho anak-anak yang tadi kemana pak.”Dita keheranan .


“Sedang di ruang BP buat pemanggilan orang tuanya.” Jawab pak Toni

__ADS_1


“Jadi bener mereka yang bawa uang Lila” Dita penasaran


“Duduk dulu atuh ibu, sini makan dulu, urusan anak mah sudah beres sama pawangnya.”pak Rudi


tersenyum


Sambil duduk, Dita terus bertanya, “Pak, yang dibacakan di air doa apaan tuh, itu mantra apa doa


sih!”


“Emang pak Toni di kelas ngapain gitu Dit,” Yati jadi ikut penasaran.


Toni sama Rudi jadi ketawa bareng kayak yang enak banget lihat teman gurunya penasaran. Karena Rudi tahu banget trik yang Toni pakai.


“Makanya hati-hati buuu, nanti di baca-bacain lho sama si bapa itu,”Rudi makin ngakak.


“Serius atuh pak aku mau tahu, kok bisa langsung ketahuan mereka pelakunya padalah aku tidak melihat ada ñ⁷'barang bukti sedikitpun karena tas mereka sudah di keluarkan semua.” Dita kesel


“Wani piro.” pak Toni menggoda.


“ Udah ah yu Yat, gak beres ngobrol sama buaya, kita nanya pak Adi aja,” Dita narik tangan Yati.


“Gak bakalan nyesel nih ngatain buaya mulu. Nanti buayanya manjat ke hatimu” pak Toni kembali menggoda.


“Udah Ton, nanti ibu guru kita mabur baru nyesel “ Rudi mengingatkan.


“Oke… aku serius sekarang sini duduk lagi, sambil makan ya, nih kebetulan tadi kita nitip beli pecel


tiga, jadi kalian bisa sambil makan.” Akhirnya Dita duduk lagi karena aslinya dia juga lapar.


“Sini pak Rud aku makan pecelnya berdua Yati,” Dita mengambil Pecel dekat Rudi.


***


Setelah makan pak Toni menjelaskan : “ ibu Dita, gak usah takut di manterain sama aku yaaa,


sebetulnya tadi itu aku tidak menggunakan kekuatan ilmu apapun, apalagi membacakan mantera, yang dilakukan adalah membuat sugesti sama anak-anak bahwa aku punya ilmu tinggi untuk mengetahui perbuatan mereka,”


“Lantas itu tangannya pake ngusap-ngusap di atas kepala anak-anak ngapaiiin.” Dita masih belum


memahami.


“Justru itulah cara membuat sugesti sama anak, bu guruuu…” Rudi menambahkan.


“Nah saat anak dibiarkan selama sepuluh menit adalah waktunya melihat anak yang gelisah, karena kalau mereka tidak punya salah apapun , dia akan tenang, tetapi bagi yang bersalah duduk juga jadi gelisah dan keringetan, ingat enggak saat aku suruh anak-anak nunduk, dan aku mendoakan air aqua,” Toni balik nanya, dan dita mengangguk


“Sebetulnya aku sedang meyakinkan kecurigaan kepada ke tiga anak itu. Karena dari mulai aku bicara di depan kelas, mereka sudah gelisah.” Toni menutup penjelasannya.


“Terus uangnya memangnya dimana? Aku gak lihat mereka bawa uang, di tasnya juga tidak ada” Dita


memberondong pertanyaan.


“Di Sepatu .”


“Lho koq?” Dita melongo keheranan.


“Ya iya di sepatu ,makanya sampai belel juga matamu mencari, gak bakalan ketemu.”


“Bu Dita… seiring berjalannya waktu, nanti juga kamu bakal memiliki tehnik menjebak anak-anak


yang dalam tanda kutip nakal” Rudi sok tua menasehati. Tak urung Dita senyum juga sambil ngangguk.


“Makanya jangan alergi sama kita ya Rud.” pak Toni mengingatkan,


“Mulai modus da Yat dia mah , yuk ah kita pergi , makasih makanan nya ya, …” Dita menarik tangan Yati keluar ruang OSIS. Kembali Toni dan Rudi dibikin bengong melihat kepergian


mereka…


Di pojok lapangan seseorang terus  memperhatikan kedua guru yang baru keluar dari ruang OSIS....


***

__ADS_1


__ADS_2