HARU BIRU GURU BARU

HARU BIRU GURU BARU
HARI YANG PANJANG


__ADS_3

“Diiit, itu teleponmu berbunyi, angkat dulu giih, “ ibu memanggil anaknya yang sedang cuci piring.


“Bentar bu nanggung, tinggal dikit lagi nih, ntar kalau gak diberesin bisa-bisa ibu yang ngerjain,” Dita melanjutkan pekerjaannya.


Begitu masuk kamar, Dita melihat panggilan masuk dari nomor tak dikenal jadi dia abaikan. Tak lama terdengar bunyi pesan  masuk dari Yati.


"Dit aku mau telpon banyak yang pengen diceritain."


"Oke!" Dita membalas pesannya.


Tak lama kemudian panggilan telpon  berbunyi.



Tanpa melihat nama pemanggilnya dia langsung bicara : “ Assalaamu Alaikum Yat,  aku juga banyak yang mau diceritain.”


“Sama aku aja ceritanya gak apa-apa…” terdengar suara seorang laki-laki yang menjawabnya. Dita jadi kaget dan langsung  mematikan panggilannya..


Saat panggilan masuk kembali berbunyi, Dita  melihat layar telponnya. Setelah yakin bahwa Yati yang memanggil barulah dia berani menjawabnya.


“Diiit, aku kan udah bilang mau telpon kok barusan hape kamu nada sibuk siiih,” terdengar suara yati di ujung sana.


“Justru aku yang heran, kamu bilang mau telpon. Pas  aku angkat tahunya  salah sambung. “ Dita ngasih penjelasan.


“Berarti barengan kali telponnya. Yang duluan masuk yang salah sambung..” Yati tertawa.


Dan merekapun  ngobrol lama.  Yati menceritakan bahwa pak Budi sudah menentukan rencana pernikahan.


"Masalahnya dimana sih Yat. Mestinya kamu sujud syukur, berarti dia tidak main-main."


"Tahu nih kok berat rasanya buat melepas masa lajang." Yati menarik nafas panjang.


“Lho kenapa jadi begitu!  Hasil istikharah kamu gimana yat?” Dita mengingatkan


“Gak tahu, emangnya kalau istikharah petunjuknya lewat mimpi, tapi aku tidak mimpi apapun yang berhubungan dengan pak Budi, aku jadi bosen solatnya” Yati menggerutu.


“Husy… kok sama Allah bosen, kalau kata ustadzah aku sih gak selalu lewat mimpi.  Bisa kecenderungan hati atau bisa juga kabar dari orang tentang pasangan yang akan kita nikahi,” sahut Dita.


“Terus kalau aku ragu-ragu pertanda apa tuuh,” Yati penasaran.


“Keraguan datangnya dari setan ibuuu…, dan nikah itu ibadah, maka kamu di bikin ragu buat ibadah..” Dita menguatkan tekad Yati.


“Terus aku udah ada kabar bahwa pak Budi duda tiga kali, artinya negative dong.” Kembali Yati bertanya.


“Nonaaa.. kabar itu sebelum kamu *istikharah *lho! Jawaban dari Allah itu harus setelah solat istikharah, gimana sih ibu ini?” Dita mengingatkan.


“Kamu yang sabar doong sama aku, tahu lagi bingung gini, pelan-pelan naapaa.” Yati mengingatkan.


“Oke… maafkan aku, sekarang aku nanya sama kamu, Sebetulnya kamu lihat apanya dari pak Budi."


“Mmmmm…. Apa  karena hartanya ya. Tapi kan gak apa-apa kita mempertimbangkan hartanya.” tanya Yati.


“Ya tidak apa-apa juga siiih, tapi kalau bisa lihat yang agamanya bagus”


“Teruuus, kamu sama Andra gimana? Bukannya kamu juga mau sama dia karena harta dan keturunannya?” Yati malah balik kemasalah Dita.


“Iiiih kamu jahat Yat, aku belum mau sama kak Andra, sampai dia terlihat agamanya bagus. Memang dia dari keturunan yang baik dan yang kaya mah orang tuanya kali.“ Dita membela diri.


“Lantas, kenapa kalian masih bersama?” Yati memberondong.


“Aku tidak mau menyakiti orang tua, makanya sedang mencoba ikhlas menjalani ini, sambil melihat sebaik apa dia.  Tadi sore pas aku tahan untuk sholat maghrib, dia malah pulang,” Ujar Dita.


“Bentaaar, kenapa jadi ngurusin masalah aku, ayo balikin lagi ah urusanmu lebih mendesak Yat.” Dita mengingatkan.


“Abis aku merasa di berondong gitu sama kamu, udah mah lagi pusiing gini hihi.” Yati mengaku sambil tertawa’

__ADS_1


“Jadi gini deh buat meyakinkan hati kamu. Lanjutkan istikharahmu sampai tujuh kali, itu aku baca di fikih islam karangan Zuhili Rahimahullah dengan mengutip riwayat Ibnu Sunni,


'Hai Anas, jika engkau menginginkan sesuatu, maka mintalah petunjuk kepada Allah sebanyak tujuh kali. Setelah itu, lihatlah urusanmu mana yang masuk dalam hatimu pertama kali karena di situlah tempat kebaikan,'


"Iya bu ustadzah."


"Inget lho ini buat masa depanmu sendiri, sekalian aku mau belajar dari pengalamanmu ini,” Dita senyum.


“Diih ketahuan aku dijadiin kelinci percobaan rupanya ya” terdengar yati tertawa.


“Ya enggak lah kita sama-sama akan istikharah. “ Dita juga tertawa.


Yati akhirnya mengakhiri pembicaraan telepon.


Selesai sholat isya, Dita baru mendengar ayah datang, tapi dia masih tetap di kamar rebahan memikirkan apa yang akan dia lakukan dalam hubungannya dengan Andra.  Hatinya malu sama apa yang sudah dia katakana sama temannya sementara dia sendiri pun masih belum bisa mengambil sikap, bahkan untuk istikharah pun dia belum melakukannya, ada perasaan takut kalau jodohnya memang Andra, Dita jadi membolak-balikan badan tidak bisa tidur, saat nama Toni muncul seketika  dalam pikirannya,


” Kenapa Toni… ini tidak benar, dan ini jelas salah,” hati Dita bicara .


“Ingat Dita jaga hatimu, percayakan semua pada Allah. Allah tidak akan salah menjodohkan.” Dita Istighfar berkali-kali.


“Jika kamu tergoda, kamu tidak termasuk wanita shalihah, seperti apa yang ingin kamu raih, dan jika kamu sudah memutuskan untuk menghadapi Andra maka kamu harus jaga, tidak boleh teralihkan sampai ada keputusan dari Allah, itu baru wanita sholihah. Kamu hanya tinggal memantaskan diri untuk mendapatkan laki-laki yang baik.” hati lain kembali menasehati.


Dita makin gelisah, dia langsung ke kamar mandi untuk ngambil air wudhu. Dia perlu menenangkan diri dan mencurahkannya sama yang maha mengetahui rahasia langit dan bumi.


Hening dan tenang suasana dikamar Dita. Doa khusyuk yang terpanjatkan melahirkan bulir-bulir bening di sudut matanya. Pertanda penyerahan diri yang sangat dalam pada Sang Maha Pengasih.


Suara telpon berdering, menyentakan keheningan kamar Dita. Yang sedang berdoa tetap bergeming, Sampai berkali-kali dering itu berbunyi. Barulah Dita berdiri untuk mengangkat panggilannya.


“Assalaamu Alaikum ..….” suara disebrang telpon menyapa.


Dengan enggan Dita menjawab salamnya.


“Alaikum salam, maaf ya kak ada apa .” ujar Dita dingin.


“Enggak, kak Andra cuman mau denger suara Dita aja.Kak Andra kangen…”


“Diiit …, nanti dulu, jangan di tutuup dulu, kamu marah? “ Andra menimpa salam Dita dengan kaget, sambil melanjutkan bicara takut keburu ditutup.


“Oke… kak Andra minta maaf, sudah bikin Dita marah, jangan di tutup telponnya yaa..” Andra membujuk.


Dita urung menutup telponnya : “Dita enggak marah kak, tapi tidak baik kita bertelepon malam-malam seperti ini, karena sama aja kita sedang berkhalwat. Dan itu di larang dalam agama kita, karena kita belum muhrim.”


“Berkhalwat,… apa tuh Dit ?” dengan malu dia bertanya.


“Berkhalwat itu adalah berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim di tempat sunyi atau tersembunyi.


“Tapi kita di tempat berbeda. ” Andra heran


“Kalau kak Andra ada kepentingan yang sangat mendesak untuk di bicarakan sama Dita yang sifatnya jauh dari syahwat mungkin Dita sependapat dengan kakak. Tadi kakak bilang apa coba., bukankah itu syahwat? itu jelas terlarang kak. ” Dita hati-hati menjelaskan.


“Tadi kamu baik-baik saja menerima aku” Andra mengingatkan.


“Karena di rumah ada ibuuuu…ingat kan aku tadi duduk menjauh dari kakak sepulangnya pak Toni ” jawab Dita.


“Jangan bawa nama dia , aku gak mau denger…” Andra agak marah.


“Astaghfirullahal adziim kaaaak, udah ya aku tutup  teleponnya” kembali Dita mau mengakhiri sambungan telponnya.


“Sebenetaar…bentaar Diiit, maaf…maaf, oke kakak mau denger lagi prinsip Dita dalam hubungan kita.” Andra sadar apa yang sudah dia lakukan.


“Bener kakak mau denger apa yang akan Dita katakana, tapi jangan tersinggung ya?” Dita mengingatkan.


“Aku janji… aku janji…” Andra menegaskan.


“Kak Andra, kita tidak lagi pacaran ya?”Dita memulai bicaranya.

__ADS_1


“Kook?”


“Jangan di potong dulu, katanya mau dengeeer..”


“Ya..yaa aku mau denger,” Takut Dita mutusin telepon.


“Dalam islam kedekatan kita sekarang adalah proses ta’aruf, proses saling mengenal tetapi dengan batasan-batasan yang harus di jaga. Maaf yaaa… kenapa aku marah kakak memegang tangan aku di depan pak Toni, itu bukan karena pak Toninya, tapi karena kakak sudah melanggar batasan. Pemahamanku mungkin salah, tapi kakak harus menghormati keyakinan Dita, jika ingin proses ta’aruf kita berlanjut ke jenjang halal.”sahut Dita,


Andra lama tak menjawab entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Kakak masih denger Dita kan?


“Iya kakak denger Dit. Kakak lagi mikir ternyata  banyak hal yang tidak boleh aku lakukan padamu."  Andra terdiam sebentar.


"Dit, aku gak main-main sama kamu. Keluargaku  serius memilihmu bakal calon mantu. Tapi kenapa kamu segitu susahnya aku deketin."


"Maksud kakak aku susah dideketin itu apa kak."


"Ya itu, banyak sekali larangannya." Andra mengeluh.


"Memangnya kak Andra mau ngapain aja sama Dita." suara Dita mulai terdengar  jengkel.


“Masa pegangan tangan gak boleh? “ Andra masih ngeyel.


“Gak boleh lah , karena batal wudhu …ingat kak, kita belum muhrim,” Lanjut Dita.


“Kalau udah dilamar, boleh?”


“Tetep enggak boleh, karena belom ijab kobul, lamaran atau khitbah dalam islam hanya memberikan kepastian sama calon istri bahwa dia terikat janji dengan seseorang dan dilarang menerima lamaran orang lain.”


“Jadi harus nikah baru bisa ngapa-ngapaiin”


“Begitulah kira-kira, kalau sudah nikah mah kakak melakukan apapun sama Dita, jangankan cuman pegangan tangan, yang lebih dari itupun Dita bolehin karena akan jadi ibadah.” Sahut Dita.


“Kalau begitu kak Andra jadi pengen cepet-cepet lamar Dita terus nikah “


“Ya nggak gitu juga kak, Dita belum tentu baik untuk kakak,  Masih  banyak yang ingin dipelajari dalam pekerjaan Dita, dan boleh jadi kakak tidak suka dengan semua yang Dita inginkan”


“Kakak bolehin Dita mengembangkan karir, asal mau sama kakak,”


“Kakak belum lulus untuk poin itu, ingat peristiwa tadi sore?”


Adra terdiam, ingat kejadian sore tadi. Terdengar Dita melanjutkan bicaranya.


“Banyak yang harus kita persiapkan kak, yang pasti mari kita saling memperbaiki ahlak dan ibadah kita sama Allah supaya kita layak dipersandingkan satu sama lain, kakak jangan terjebak dengan pengetahuan agama Dita yang secuil ini, karena masih banyak hal yang belum bisa Dita lakukan dalam kehidupan sehari hari. makanya Dita berharap  seorang pendamping yang bisa menjadi pemimpin bagi Dita, bisa meluruskan kalau Dita salah, bisa meredakan emosi jika Dita marah, dan yang pasti orang yang bisa bertanggung jawab dunia akhirat buat Dita.”


"Berat amat syaratnya Dit !” suara Andra terdengar lemes.


“Gak berat kak, itu standard dalam islam sebagai seorang suami.Kakak akan mengambil alih tanggung jawab ayah ibu Dita kelak. Makanya Dita bilang gak bisa buru-buru, Makanya mari kita mempersiapkan semuanya sesuai syariat, itupun kalau kakak mau.  Maafin Dita ya kak, Dita udah lancang seperti ini” Dita mengakhiri pembicaraannya,


“Enggak Dit,  kak Andra malah seneng Dita mau membuka diri, jadi kakak tahu harus melakukan apa ke depannya.” Kembali suaranya terdengar makin berat . Nggak tahu apa yang bergejolak dipikiran Andra.


Sepi menyeruak diantara keduanya. Sampai telpon ditutup mereka terlihat dengan pikirannya masing-masing.


-oo-


Baru saja Dita mau merebahkan badannya , terdengar suara ibu memanggil:


“Diiit, tolong buka pintu, ibu lagi nanggung itu sepertinya ada tamu,”


“Sebentar bu, Dita pake kerudung dulu,” sambil berjalan ke ruang tamu.


Saat pintu di buka


“Kaaamuuuu…. !!

__ADS_1


-------


Nah lho siapa lagi tu yang datang.


__ADS_2