HARU BIRU GURU BARU

HARU BIRU GURU BARU
BUBUR CILAMAYA


__ADS_3

“Kamu gak apa-apa kan Diiit ? pak Andi membantu Dita buat berdiri


“Maafkan saya pak!“ dengan rikuh Dita melepaskan  tangan pak Andi,


“Kenapa kamu mau ngambil dus mie sih…. Aku kan cuman mengomentari petugas posko yang jadi ikut direpotin karena kita mau ke sini” terdengar suara pak Toni sedikit marah, sambil memegang tangan Dita  erat.


“Sudahlah pak Toni tidak usah dimarahin bu Ditanya, lihat mukany saja sampai pucat,” pak Andi membela.


“Ibu….ibuu tidak apa-apa kan?” terdengar anak-anak menghawatirkannya.


“Gak apa-apa Alhamdulillah, ayo kita jalan lagi hati-hati tempatnya licin, ternyata.” Dita tidak mau membuat anak-anak khawatir, dan mencoba melepaskan tangannya, dari genggaman pak Toni,


“Aku tidak akan melepas tanganmu sampai kita kembali ketempat yang kering.” pak Toni sedikit memaksa.


Dita diam tidka mau menarik perhatian orang-orang dan berjalan beriringan.


Ternyata di rumah tersebut ada sekitar enam orang yang bertahan karena, ada dua anak kecil kebetulan demam tinggi, ditambah orang tua yang sudah sepuh yang kalap melihat air membludak.


"Kayaknya  mungkin mereka takut membahayakan banyak orang dalam penyelamatan." ungkap Dita.


"Iya bu makanya kami sekalian membawa  petugas kesehatan untuk memeriksa dan membeikan obat.".


Dita manggut-manggut mendengar penjelasan petugas..


“Pak pantesan kita didampingi mereka, ternyata ada petugas kesehatan juga, jadi kita tidak terlalu merepotkan” Dita berbisik sama pak Toni yang masih kelihatan marah,


Dita heran kenapa temannya sampai semarah itu , yang mau jatuh kan bukan dia. Dita menarik nafas panjang sambil geleng-geleng kepala.


“Kenapa,? “Tanyanya


"Boleh tanganku dilepas, pegel ini." Dita melihat tangannya.


“Ayo  kita cepet kasih bantuannya.” Toni  melepaskan genggamannya.


Dia  berjalan mendekati ibu pemilik rumah dan berusaha ngobrol dengan neneknya, sementara pak Andi dan Pak Toni memberikan bantuan, sambil membesarkan hati  pemilik rumah.


Seisi rumah masih berantakan namun air sudah surut, dan lantai sudah bersih. Kebetulan posisi rumah tersebut agak tinggi.


Anak-anak-pun  ngobrol dengan penghuni rumah nanya ini itu, dan sesekali mereka tertawa mendengar cerita lucu di tengah kepanikan melihat air meluap masuk ke rumah mereka. apalagi saat mendengar cerita waktu ibu nya mau menggendong adik kecilnya, ternyata yang di gendong adalah guling.


“Ayakhu lebih parah. Dia bolak-balik ke atas ke bawah dengan bingung. Nenek teriak-teriak kalap melihat air masuk rumah. saat ayahku sadar bolak-balik tanpa nenek, dia langsung ke bawah lagi e...malah aku yang digendong." Kembali terdengar anak-anak tertawa.


Mereka dibiarkan mengobrol ke sana ke mari, paling tidak memberikan ruang buat anak pemilik rumah untuk melepaskan beban .


Rupanya tiga hari mereka terisolasi di sana, tidak mendatangkan trauma, karena perhatiannya tercurah kepada ibunya yang sepuh dan anak yang sakit, sehingga kepedihan akibat musibah banjir sudah sedikit sirna,


apalagi mendapat perhatian dari petugas, dan orang-orang jauh yang peduli terhadap mereka, pantes kalau yang tersisa adalah cerita lucu


***


Saat kembali ke posko pak Hasyim dan yang lain sudah menunggu buat pulang,

__ADS_1


“Pak… ayo cepat, kita foto dulu buat dokumentasi, juga sebagai bukti bahwa bantuan kita sudah sampai.”


Pak Hasyim mengingatkan  pak Toni,


“Ayo perwakilan OSIS yang menyampaikan bantuan, terus Pembina OSIS, baru terakhir kita semua berfoto,” pak Jaja mulai mengatur sesi fotonya.


Dita sibuk menjelaskan sama bu Teti dan bu Yuli karena bajunya basah.


“Eneng cepat ganti baju yang basahnya, ka masuk angin.”  bu Yuli mengingatkan Dita.


“Untung kemaren ibu ingatkan kita buat bawa baju ganti ya,” bu Teti tertawa melihat guru barunya basah dan sedikit kotor.


“Nanti aja habis di foto bu, takutnya mereka nunggu kita.”  kata Dita, sambil senyum malu,


“Iya yah, tuh mereka sudah memanggil kita,  yuk sepertinya tinggal foto bareng-bareng,” bu Yuli ngajak ke dua temannya mendekati rombongan.


\=ooo-



“Kita jadi makan di bubur Cilamaya nih bu” dalam perjalanan pulang pak Toni bertanya.


“Iya… pak Hasyim sudah setuju koq.” Dita yang menjawab.


“Karena terlewati sama jalan pulang aja sih pak Toon,”bu Yuli menimpali.


“Iya ibu juga kangen sama bubur Cilamaya, perasaan sudah lama sekali tidak mencicipinya, tuuuh mereka sudah menepi ke warung buburnya ” Bu Teti nimbrung


“Di warung ini mah gak pernah sepi atuh nona.., justru serunya itu pas nunggu ya bu.” pak Toni tertawa.


Tanpa sadar Dita memukul bahu pak Toni.


“Memang istimewanya dimana sih bubur Cilamaya itu, sampai penuh gini yang beli,” Dita bertanya penasaran.


“Cita rasanya itu neng, sangat enak terutama kuah kecapnya dan  yang menjadi pembedanya adalah bubur Cilamaya ini ditaburi  kerupuk emi, ,pokoknya harus nyoba dulu lah,” bu Yuli menjelaskan,


“Bu waktu Dita ke Cirebon, disana banyak yang jual bubur kayak yang ibu gambarkan, sama enggak ya"  Dita penasaran..


“Sama neng, memang bubur ini tadinya merupakan bubur khas tanah budaya Cirebon, tetapi dikembangkan dengan resep sendiri, jadi pastilah banyak dijumpai di sana,”  bu Yuli menjelaskan.


Yang di mobil manggut-manggut mendapat pengetahuan baru.


Mobilpun akhirnya  parkir, tapi  agak jauh dari warung.


Sambi berjalan, Dita mengamati sekeliling tempat bubur, memang tempatnya biasa hanya sebuah saung, tidak terlalu besar. Disana  terdapat beberapa meja dengan kursi plastik. Sisanya adalah meja panjang dengan


bangku panjang.


Pak Jaja sama pak Andi terlihat sudah mendapat tempat duduk dan bu Yuli sama bu Teti nyelip diantara pembeli lain dalam satu meja. Akhirnya Dita mengurus anak-anak ke meja panjang, walaupun kebagian  di ujung bangku.


“Bu di sini masih sisa dua tempat duduk, ayo sini sama aku.” Kata pak Toni.

__ADS_1


“Enggak ah aku sama anak-anak saja, ini masih bisa kok. ”Dita menolak.


Tak lama dua pembeli selesai makan, akhirnya pak Toni yang mengalah duduk bersama meja anak-anak. Dita duduk diam-diam terlihat rikuh entah kenapa.


Akhirnya saat bubur datang, dia menyibukkan diri dengan anak-anak.


“Awas Irfan hati-hati, itu buburnya masih panas, dan geser sedikit jangan terlalu mepet duduknya sama Neni, itu tempat masih lega.” Dita mengingatkan ketua OSIS.


“Iya nih bu modus dia."  Neni menggeser duduk agak ke tengah.


“Palan-pelan dong makannya, jangan kelihatan laparnya.” Bu Dita memperhatikan, bagaimana lahapnya  mereka.


“Kamu kapan makannya kalau terus recokin anak-anak.” Pak Toni mengingatkan.


“Iya…iya aku makan, bawel amat sih bapak," Gak pake galak kali."  Dita berbisik di sela tawa anak-anak.


“Memang harus di galakin biar focus, kamu orangnya mudah teralihkan perhatiannya, “kembali Toni bergumam.


“Apa pedulimu ? sok merhatiin aku, urus saja cewek pemarahnya,” Dita kembali berbisik


Belum sempat menjawab bu Dita, tiba-tiba pak Toni mengingatkan Irfan  yang diujung untuk berdiri,  karena orang yang duduk di ujung lainnya hendak beranjak karena sudah selasai makah.


“Nanggung pak niih dikit lagi….” Irfan malah anteng melanjutkan makannya.


“Ituuu…ituuu bangkunya… bangkunyaaa “ bu Dita tidak bisa melanjutkan bicara.


“Aaaah ! “ Anak-anak teriak jatuh  saling tindih  karena bangku jadi terangkat gara-gara orang di ujung berdiri


seketika.


“ Irfaaaan…Nenii …Doniii!!! “ Dita melupakan buburnya lari membantu anak-anak.


“Hahahaaaaaa…..hahaaaaa….” bukannya kaget mereka malah tertawa…


Sampai perjalanan pulang anak-anak tidak berhenti mentertawakan kejadian di tukang bubur, bagaimana tidak? Orang lagi enak-enak makan tahu-tahu bangku terjungkal berat sebelah.


“Yang mau kawin siapa niiih sampe jatuh bertumpuk gitu.ha…haa..haa” kata Doni


“Paling juga Irfan niiih pengen dikawinin paaak, hahaa…haa “ tambah Akbar


“Kalian pada jahat ternyata yaa, orang kena musibah malah ngomongin kawin segala,”Neni memberengut, sambil menahan tawa juga.


“Ha..ha…haaa, paaak ada yang merasa tuh paak, Irfan sama Neni, haha…haa”  Doni dan Akbar makin tertawa lebar.


“Sudah bercandanya, kalian sampai lupa bersyukur, dapat makan enak, bisa  tertawa,  walau agak


sakit terjatuh,” pak Hasyim mengingatkan mereka sambil tertawa juga.


“Alhambulillaah Ya Allah, perut kenyang tertawa kenyang. Haha…haa” mereka tetap tidak bisa menghentikan tawanya.


--oo--

__ADS_1


Bu Dita gimana ya di mobil satu lagi......


__ADS_2