
Tiba-tiba hape Dita berbunyi.
“Tuuh panjang umur, nak Toni telpon., Ayo angkat” Ibu memberikan hape ke tangan Dita
“Biarin aja bu, Dita belum mau bicara sama dia,” ujar Dita
“Ibu tidak akaan pergi dari sin, angkat aja. Jadi kalian tidak ngobrol berdua.” Ibunya membujuk.
“Enggak ah bu biarin aja, Dita mau mengurangi rasa bersalah dalam hati Dita,”
Ibu tidak memaksa, karena tahu seberapa kuat prinsip yang di pegang anaknya.
-oo-
Dengan gontai Dita akhirnya berangat juga ke sekolah.
“Diiit, tunggu akuu,” terdengar Nuri memanggil namanya.
Dita berhenti menunggu Nuri mendekatinya. Dan mereka beriringan menjuju kantor buat siap-siap upacara bendera., Didepan lapang terrlihat petugas dari Polsek buat penyuluhan tentang bahaya narkoba.
“Kita masuk barisan yuk,” Nuri mengajak Dita ke barisan guru-guru. Yati sibuk dibarisan paduan suara,
“Kamu baik-baik aja bu Dita…” terdengar ada yang bicara pelan, pas di tengok orangnya sudah berlalu ke barisan belakang siswa.
“Ituu pak Toni cuman nanya gitu aja?,” Nuri tertawa.
“Biarin aja, gak usah diperhatiin, sok kegantengan entar dia” Dita menahan jengkel.
“Ssttt, jadi pak Toni ganteng menurut kamu? Aku baru tahu tuh hihii” Nuri tertawa kecil.
“Udah aah, upacara mau mulai,” Dita mengingatkan.
Upacara berjalan dengan tertib,. Anak-anak yang biasa suka agak ribut terlihat tertib dan khidmat.
"Coba tiap senin upacara seperti ini, kan bagus.", begitu pikir Dita.
***
Beres upacara Dita langsung menuju mejanya diikuti Nuri. Pas mau duduk kembali Dita melihat secarik kertas diatas bukunya..
"Dit, masih ada kirimang surat dari penggemar rahasiamu?" Nuri melihat Dita yang memegang kertas itu.
"Gak tahu nih siapa ya orang yang iseng nyimpennya.Padahal tidak aku hiraukan satupun."
"Coba aku lihat." Nuri mengambil kertas dari tangan Dita. Tapi tiba-tiba.
“Diiit, kita di tunggu di ruang OSIS yu,” tiba-tiba Yati menyela pembicaraan.
“Kamu aja yang kesana, aku lagi serius nih. ” Dita beralasan.
“Yeh kata pak Toni kamu mau bantuin aku .” Yati heran.
“Iyaa aku mau, tapi jangan di masukin kepanitiaan, tolong bilangin pak Toni ya,” Dita tetap menolak ,
__ADS_1
“Ya udah … aku ke ruang OSIS dulu ya, eeh jangan lupa janji kamu kemaren malem, jadi kan kita nanti pulangnya caru tempat buat ngobrol, kamu gak ada acara kan hari ini Nur ” Yati mengingatkan temenanya dan
berlalu.
“Ada cerita apa memangnya, “ Nuri bertanya kebingungan.
“Banyak lah, kayaknya aku juga pengen sedikit masukan dari kalian,” sahut Dita.
“Sekarang emang gak bisa?’ Nuri penasaran.
“Kita urus surat ini dulu." Dita mengingatkan sahabatnya.
Akhirnya Nuri membuka suratnya. Dia membaca suratnya.
"Dit kayaknya dia merhatiin banget kamu deh. Coba kamu balas ssuratnya dan simpen di meja ini. Kita lihat apa dia akan membawanya tidak. sekalian kita pancing biar tahu siapa orangnya." Nuri mengeluakan idenya.
Obrolan mereka terhenti karena bel masuk pelajaran berbunyi, Dita beriringan dengan Nuri menuju kelas.
“Nur cepetan, kalau kamu jalannya nyantai , aku tinggal ya." Dita bergegas mendahului Nuri.
“Diiit, koq gitu siii, kita kan searah, kenapa pula harus cepet-cepet kan sampai jam belajar itu masih ada 5 menit dari bel berbunyi.” Nuri jadi termangu melihat temannya.
“Nuur,…, tunggu,” terdengar pak Toni memanggilnya, Nuri bingung antara mengejar temannya atau menunggu pak Toni.
“Ada apa sii, jadi aku ketinggalan sama Dita,” Nuri bersungut
“Gak bakal telat masuk kelas, tenang ajaaa…” Toni mesem, sambil berjalan .
“Nah ini dia nih, pantesan Dita ngacir, rupanya… hmmmm..” Nuri tidak melanjutkan.
“Tafsirin aja sendirii, nah sekarang memangnya bapak ini, ngejar aku mau apa,” Nuri juga balik nanya sambil jalan agak cepat.
“Dita cerita apa sama Nuri,” Toni mulai ke sasaran.
“Baanyak lah macem-macem” sahut Nuri sambil mulai agak cepat berjalannya.
“Nyeritain aku gak,” Toni penasaran sambil mengikuti kecepatan jalan Nuri.
“Dih ngapain kami ngobrolin orang lain, *ghibah *tahuuu,”Nuri tertawa, sambil belok ke kelasnya.
“Nuur.. tunggu bentar..”Toni masih menahannya
“Tidak pak bisis, aku harus ngajar, memangnya muridmu tidak lagi nunggu yaa. Byee…” Nuri melambaikan tangannya sambil tertawa kesenangan.
Pas lewat kelas Dita, pintu sudah tertutup rapat, dan kedengaran mereka sedang melantunkan Asmaul Husna, Akhirnya dengan hati penuh tanda tanya, Toni menuju kelasnya.
-oo--
“Cring…cring..criing.., aku bisa..aku bisaa,” terdengar suara kancing berbunyi
“Gak mau ah aku dulu, kan aku juga bisa jawab,” yang lain gak mau kalah.
__ADS_1
“Sudah…sudah gantian jawabnya, nilainya gak berkurang kok.” Dita mendekati kelompok anak yang rebutan mau jawab duluan.
“Denger anak-anak, di kelas tadi ibu udah kasih tahu cara belajar dengan model 'Kancing Gemerincing', tiap kelompok kan sudah ada pertanyaan yang ada di gelas aqua, nah jika bisa menjawab, yang boleh bunyi adalah kancingnya, mulutnya mah diam ya?” Dita jadi mesem
“Bu… kan kita bertiga tadi bunyiin kancingnya samaan, terus jawabnya gimana” Tanti bertanya.
“Iya buuu, nanti nilai kita gimana kalau ke rebut sama temen yang lain.” Lila menimpali
“Denger sayang, jika yang bunyiin kancing di kelompok ada 2 orang yaa gantian jawabnya, kemudian dua-duanya juga dapat nilai yang sama ya?” Dita kembali mengingatkan muridnya. Mereka mengangguk, tanda mengerti. Tetapi pas soal yang keluar dari gelas aqua keluar dan di bacakan , anak-anak di tiap kelompok kembali ramai antara bunyi kancing dan suara mereka..”
Dita tersenyum melihat tingkahnya. Apalagi saat melihat kegiatan ditiap kelompok saat bunyi kancing bareng. Ada yang teriak minta di suit, ada yang push up, pokoknya macam-macam tingkah mereka.
Rupanya saat kegiatan dengan anak-anaklah yang bisa menghibur kegundahan hati Dita.
-oo-
“Alhamdulillaah hari yang melelahkan dan menyenangkaaaan “ gumam Dita saat jam terakhir di hari senin itu berakhir. Dita mencari jalan kelorong kelas sebrang untuk sampai dikantor, supaya tidak berpapasan dengan orang yang ingin di hindarinya. Tapi pas masuk kantor ke dua temannya belum ada di sana, Dita celingukan mencari-cari.
“Kamu cari aku ya…” Sekonyong-konyong ada yang bicara
“*Astghfirullaahal Adziiim…*iiih kamu senengnya ngagetin orang mulu kenapa sih” Dita duduk merapihkan barang-barang di atas mejanya.
“Kalau gak gini kamu bakal lari lagi, bentar Dit, aku perlu bicara sedikit saja, abis itu aku pergi janji…” Toni menunjukan dua jarinya.
“Iya cepet mau ngomong apa “ jawab Dita ketus.
Saat Toni mau duduk disampingnya, Dita sontak berdiri.
“Bapak duduk didepan saya aja, gak boleh di samping.” Dita kembali menekankan kata bapak sebagai tanda dia memberikan jarak.
“Galak amat ibu-ibu ini,” Toni mengikutinya juga duduk di depannya,sambil senyum-senyum.
Dita terus celingukan berharap teman-temannya segera datang.
“Aku mau jawab langsung ya,,, aku maafkan kamu, dan urusan kita selesai, ya “Dita tidak menunggu Toni mengatakan sesuatu pun.
“ Kata siapa aku mau meminta maaf, “ kembali Toni senyum-senyum yang bikin Dita makin gerah.
“Aku mau nanya kapan kita bisa bicara dengan tenang, ingat, aku mau certain segalanya…” lanjut Toni.
“Aku gak janji kan” Dita ingat belum memberikan kepastian
“Iyaa, tapi kamu waktu itu bilang mau memikirkannya, ini penting Diiit, kamu mau kasih waktu kapan? Kamu boleh ajak Nuri sama Yati juga, aku juga tidak mau mengundang fitnah” Toni menegaskan,
“Kalau begitu, kamu cerita aja sama yati sama Nuri, tanpa aku kan sama aja,”Dita tetap menyibukan dengan pura-pura membereskan mejanya.
“Beda… kepentingan aku cerita , karena akan ada hubungannya dengan kamu Dit.” Toni memelankan suaranya, dan ini membuat bulu kuduk Dita merinding, dia memperlihatkan wibawa sebagai seorang pemimpin. Dita tidak berkutik dibuatnya.
“Gimana…katanya sehabis pulang sekolah kalian mau pergi kan !!, aku sama Rudi akan
nyusul ya…, ingat bu kita akan rame-rame dan tidak berdua, jadi jangan takut," Toni berlalu tanpa menunggu jawaban Dita.......
Seseorang dipojok ruangan memandang mereka dengan tangan mengepal menahan kesal.........
__ADS_1
.