
“Kenapa diam saja? Cepat jawab apa yang sedang kamu lakukan!” sentak Theo. Karena baru pertama kali pria itu melihat seorang wanita selain Anaya ada di mansion milik Abian.
Rayya memutar tubuhnya perlahan dengan jantung yang berdegup sangat kencang. Berharap kalau pria yang ada di belakangnya saat ini tidak melepaskan tembakan padanya.
“S-saya Rayya, Tuan. Pelayan baru di mansion ini,” jawab gadis itu seraya mendongak ke atas menatap Theo yang saat ini tengah melihatnya dengan tatapan penuh selidik. “Dan saya juga bukan pencuri,” imbuhnya.
“Halah alasan! Bilang saja kalau kamu ini–”
Brugh!
Rayya yang tidak terima dituduh sebagai pencuri langsung duduk berlutut dan memohon pada Theo agar tidak membunuhnya ataupun melaporkannya pada polisi.
“Saya benar-benar pelayan baru. Tuan Abian yang mempekerjakan saya mulai hari ini. Sungguh saya bukan pencuri Tuan. Kalau anda tidak percaya, anda boleh bertanya langsung pada beliau.”
Rayya mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Dengan butiran-butiran bening yang terus menetes dari kedua sudut matanya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau kedatangannya yang tiba-tiba ke mansion Abian, membuat Theo salah paham.
“Saya masih ingin hidup Tuan, saya butuh pekerjaan ini untuk membiayai operasi bapak saya di kampung,” jelasnya. Padahal Theo sama sekali tidak meminta gadis itu untuk menjelaskan apapun padanya.
Ya, setelah menyelamatkan Abian saat kecelakaan itu, Abian menawarkan Rayya sebuah pekerjaan untuk membalas budi. Karena ia tahu gadis itu membutuhkannya.
Waktu itu Rayya menolak dengan alasan keadaan bapaknya masih baik-baik saja. Tapi semakin lama penyakitnya bertambah parah.
Rayya memutuskan untuk menemui Abian dan meminta pekerjaan padanya.
“Memangnya siapa yang mau membunuh kamu?!” tanya Theo, ia kembali menyelipkan senjatanya di pinggang belakang.
Pria itu mengurungkan niatnya yang ingin membawa Rayya ke kantor polisi setelah mendengar alasan dia bekerja di sana. Mengingat Theo sendiri sudah tidak punya siapapun di dunia ini kecuali Abian.
“Cepat berdiri!” tegasnya.
“Tuan tidak jadi menghukum saya ’kan?!” tanya Rayya dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak!” Theo hendak melangkahkan kakinya, namun sudah terlebih dulu ditahan oleh Rayya.
“Terima kasih Tuan.”
“Lepaskan! Aku harus segera kembali ke kamar!” Theo menghempaskan Rayya begitu saja hingga gadis itu terjatuh ke lantai. “Satu lagi, jangan memanggilku Tuan. Karena aku juga pelayan di mansion ini.”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Theo langsung pergi menuju ke ruangan Abian. Ia meninggalkan tuan nya sebentar dan berniat untuk mengambil minum. Tapi tiba-tiba ia dikagetkan oleh sosok wanita asing.
“Tuan bahkan tidak mengatakan apapun padaku kalau dia membawa pelayan baru,” gumamnya seraya membuka pintu ruangan Abian, namun ia sudah tidak menjumpai siapapun di dalam.
“Lho, bukannya tadi tuan ada di dalam dan tertidur lelap? Kenapa sekarang tidak ada?” Theo menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Ia menghampiri beberapa bodyguard yang berjaga di sekitar mansion. Tapi, tidak ada satu orang pun yang melihat Abian keluar dari mansion.
“Atau jangan-jangan Tuan kembali ke kamarnya?” tanyanya pada diri sendiri.
“Bagus dong, berarti hukumanku selesai dan aku bisa tidur nyenyak sekarang.” Theo bernafas lega. Ia keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju ke kamarnya untuk beristirahat.
Karena pukul delapan pagi, ia harus segera pergi ke bandara untuk menjemput Gavian.
“Haish! Kenapa aku malah tidak bisa tidur begini?!” bukannya memejamkan kedua matanya, Theo malah teringat oleh sosok Rayya. Gadis dengan pakaian sederhana dan tatapan sayu yang begitu meneduhkan.
“Gadis itu sangat mengganggu pikiranku! Lebih baik aku mandi dengan air hangat agar bisa melupakannya!” Theo beranjak dari tidur menuju ke kamar mandi. Istirahat pun percuma, karena sebentar lagi pagi tiba.
*******
*******
Pria itu menjalankan kursi rodanya menuju ke tepi ranjang.
Namun, lagi-lagi Abian harus melihat pemandangan yang menggoda imannya. Anaya tidur tanpa memakai selimut, memperlihatkan paha mulus miliknya.
“Untung saja aku yang masuk kemari. Bagaimana kalau orang lain? Bisa habis kamu dijamah olehnya!” kesal Abian seraya menelan saliva nya berulang kali.
“Tahan Abian, tahan!” dengan perlahan, Abian menarik selimut tebal tersebut lalu menyelimuti istrinya. “Kamu ini tidur atau pingsan?!” gumamnya.
Kedua manik mata Abian tertuju pada bibir Anaya yang sedikit terbuka.
Dan entah sejak kapan, Abian sudah berada di depan wajah Anaya. Lalu menyambar bibirnya begitu saja. Ralat, lebih tepatnya mencuri ciuman Anaya.
Tidak hanya sebuah ciuman, Abian bahkan me lu mat nya lembut. Saking lembut nya, Abian sampai tidak bisa melepaskan ciuman itu.
Gairah yang Abian tahan beberapa saat lalu kembali bangkit. Seluruh aliran darah di dalam tubuhnya seakan mendidih. Sesuatu dibawah sana sudah mulai sesak dan tersiksa.
__ADS_1
Sadar sudah melakukan kesalahan, Abian langsung melepaskan tautan bibirnya dan menjauhkan wajahnya. Ia memilih masuk ke kamar mandi. Menuntaskan sesuatu yang memang harus pria itu selesaikan sendirian.
“Sial! Mau sampai kapan aku melakukan ini?” ucapnya seraya mengatur nafasnya yang naik turun setelah melakukan pelepasan pertamanya.
Abian mengambil beberapa tisu dan membersihkan sisa benih yang terbuang sia-sia itu.
“Ck! Menyebalkan!” gerutu Abian.
Abian terdiam cukup lama, ia mencoba untuk berdiri dan menahan tubuhnya. Tapi akhirnya, ia terjatuh lagi dan kembali duduk di atas kursi roda.
“Aku juga ingin bisa kembali berjalan. Aku tidak mau merepotkan orang lain!” Abian memukul kedua kakinya bergantian dengan kedua tangan yang terkepal erat.
Sebenarnya kedua kaki Abian belum dinyatakan lumpuh total dan masih ada kesempatan untuk bisa berjalan kembali.
Hanya saja, Abian masih trauma dengan masa lalunya. Ia ingin melihat, apakah ada wanita yang benar-benar menerima keadaannya tanpa melihat harta yang ia miliki.
“Andai saja wanita seperti itu ada di dunia ini.” Abian tersenyum kecut. Baginya semua wanita itu sama, mata duitan.
Keesokan harinya Anaya terbangun dan meregangkan otot-ototnya lalu menyandarkan tubuhnya ke dashboard tempat tidur.
Ia menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok Abian yang ternyata sedang duduk di kursi roda dengan mata terpejam.
“Apa semalaman dia tidur dengan posisi seperti itu?” gumamnya, merasa bersalah karena suaminya harus tidur di atas kursi roda.
Anaya turun dari atas tempat tidur, menyambar selimut dan menghampiri Abian.
“Bukankah sudah kukatakan untuk tidur di sampingku. Kenapa malah tidur disini. Bagaimana kalau kamu sakit?” Anaya terus mengoceh, namun juga menyelimuti tubuh Abian.
Ia tidak mau dicap sebagai istri yang tidak bertanggung jawab karena membiarkan suaminya tidur sambil duduk.
“Tampan sih, tapi menyebalkan!” lirih Anaya.
“Siapa yang kamu bilang menyebalkan, hum?!” tanya Abian.
Anaya langsung menghentikan langkahnya dan berbalik saat mendengar suara Abian. Yang ternyata sejak tadi ia hanya pura-pura tertidur.
Bersambung....
__ADS_1