
Mereka semua sedang menikmati makan malam dengan khidmat. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
“Malam ini kalian jadi menginap ‘kan?” Mario membuka suara terlebih dulu. Agar suasananya tidak semakin canggung. Apalagi saat ia tahu kalau Sandra dan Abian adalah mantan suami istri.
Mungkin masa lalu kedua nya membuat Anaya rikuh, karena saat ini berada di antara mereka. Jangankan Anaya, ia sendiri saja baru tahu kalau Sandra pernah menikah dengan Abian.
Sandra sama sekali tidak pernah menceritakan masalah pribadinya pada siapapun dan memilih dia. Ditambah lagi, hubungannya dengan sang istri sedikit renggang.
“Ayah harap kalian nggak nolak. Sudah lama ayah ingin sekali bertemu dengan Anaya. Saking sibuknya Ayah belum sempat mengunjungi kalian,” imbuhnya.
“Lain kali aja ya, Yah. Mas Abian sepertinya sedang repot. Naya gak mungkin meninggalkannya sendirian.” Anaya mencari alasan agar mereka tidak menginap dan tidur satu ranjang dengan Abian.
Setiap berdekatan dengan Abian, jantung Anaya rasanya ingin lepas dari tempatnya. Entah apa yang terjadi pada gadis itu.
“Aku gak apa-apa kok. Kita bisa menginap satu atau dua malam disini. Pekerjaan kantor biar di handle oleh Theo.” Abian menyeringai tipis. “Iya ‘kan Theo?!” ucapnya dengan nada penuh penekanan.
Theo yang sejak tadi berdiri di samping Abian berdehem pelan. “Ya, Tuan. Tentu saja saya yang akan menghandle semua pekerjaan anda,” jawabnya tegas.
Meski sebenarnya Theo sangat sibuk. Salah satunya ia harus menjaga Rayya yang sedang sakit. Semua atas perintah Anaya yang tidak mau melihat sahabatnya itu sendirian saat dia berada di rumah ayahnya.
Anaya mendengus kesal. Padahal gadis itu berharap kalau Abian akan menolaknya. Namun, ternyata dugaannya salah. Abian lebih licik darinya.
“Naya antar ke kamar ya, Yah,” ucap Anaya. Gadis itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Mario. “Habis ini minum obatnya.”
Mario mengangguk, lalu menoleh pada Abian. “Suami kamu gimana? Ayah bisa pergi ke kamar sendiri kok. Kamu temani Abian aja.”
__ADS_1
Tatapan Anaya langsung tertuju pada Abian, dengan kedua sorot mata yang seakan sedang memohon agar ia mengizinkannya untuk menjaga Mario.
Abian menghela nafas kasar. Sebenarnya ia tidak rela karena Anaya lebih memperhatikan orangtuanya ketimbang dirinya. Namun, karena keadaannya darurat terpaksa mengiyakan permintaan sang istri.
Kondisi Mario memang sudah mulai membaik, tapi tetep saja Anaya khawatir padanya. Takut kalau sakitnya kambuh lagi.
“Hmm, aku tidak apa-apa. Kesehatan ayah jauh lebih penting sekarang,” jawabnya. Meski jauh dari dalam lubuk hatinya pria itu dongkol setengah mati.
Anaya tersenyum lalu mengecup pipi Abian. “Makasih, sayang.”
Abian bengong sekaligus malu. Bisa-bisanya gadis itu menciumnya di hadapan banyak orang. Termasuk Sandra.
Wanita itu mengepalkan tangannya erat, lalu beranjak dan pergi dari sana.
“Hubungan kamu sama Abian baik-baik saja ‘kan?” tanya Mario. Ia meminum obat yang baru saja diberikan oleh Anaya, lalu merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
“Syukurlah. Ayah tenang sekarang.”
Anaya duduk di tepi ranjang seraya memijat kaki Mario. Entah sudah berapa lama Anaya tidak melakukan ini pada ayahnya. Sibuknya Mario membuat hubungan keduanya sedikit renggang.
“Kapan mau ngasih cucu buat Ayah?” tanyanya.
“Uhuk!” Anaya tersedak air liurnya sendiri mendengar pertanyaan Mario. “Cucu, Yah?” pekik Anaya.
“Iya cucu. Kamu gak liat Ayah udah tua gini. Mungkin aja sebentar lagi Ayah--”
__ADS_1
“Kok Ayah ngomong gitu sih!” potong Anaya. “Naya gak suka ya, Ayah bicara yang aneh-aneh! Emangnya Ayah gak mau liat cucu Ayah nanti?”
Anaya menenggelamkan kepalanya di dada Mario. Sungguh, ia tidak siap jika harus kehilangan ayahnya sekarang.
“Makanya buruan kasih Ayah cucu yang lucu dan menggemaskan seperti kamu,” ucapnya seraya mengusap punggung Anaya. “Kamu mau ‘kan janji sama Ayah.”
“Janji apa, Yah?”
“Apapun yang terjadi dalam rumah tangga kalian. Tetaplah bersama dan jangan ada kata perpisahan. Ngerti?”
“Iya, Yah. Naya janji.”
Anaya beranjak dari duduknya. Lalu menyelimuti tubuh Mario. Pria itu ternyata sudah masuk ke alam mimpi.
“Naya sayang Ayah.” Anaya mencium kening Mario dan berjalan keluar menuju ke kamarnya.
Ia meregangkan kedua tangannya untuk melemaskan otot-otot tubuhnya yang pegal karena hampir satu jam memijat kaki Mario sampai pria paruh itu tertidur.
Greb.
Tiba-tiba saja sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Membuat gadis itu tersentak kaget dan langsung menyikut perutnya.
“Argh! Sakit Nay!” pekiknya meringis menahan sakit.
“S-sayang? Apa yang kamu lakukan disini?!”
__ADS_1
Bersambung....