
“Apa kamu sudah melakukan apa yang aku perintahkan, Theo?” tanya Abian, memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya dan melihat keluar jendela.
Entah apa yang sedang pria itu pikirkan sekarang. Yang jelas Abian tidak akan pernah hidup tenang sebelum membalas perbuatan Vania dan mempermalukan wanita itu. Atau bahkan menghancurkannya.
Melihat keadaan Anaya dan luka yang diberikan oleh wanita sialan itu membuat Abian ikut merasakan sakit. Ini pertama kalinya Abian bersikap peduli pada seorang wanita, terlebih lagi dia adalah istrinya.
“Ya, Tuan. Saya sudah melakukan apa yang anda perintahkan,” jawab Theo seraya menghela nafas kasar.
Pria itu terus bertanya dalam hati, bukankah yang tuan nya sekarang lakukan bisa membuat Anaya marah dan murka padanya?
Theo sudah melarang Abian, namun pria itu lebih keras kepala dari sebelumnya. Mungkin lebih baik Abian duduk di kursi roda dan jadi penurut daripada bisa berjalan tapi malah membangkang.
“Sudah selesai mengumpat ku?” celetuk Abian tiba-tiba membuat Theo tersedak air liurnya sendiri.
“M–maksud anda, Tuan? Saya sama sekali tidak mengumpat anda!” elak Theo. Padahal jelas sekali ia baru saja melakukan itu tanpa sepengetahuan Abian.
Dan sialnya, tuan nya itu sangat peka.
“Jangan sampai Anaya tahu tentang semua ini, Theo!” Abian berbalik, lalu menghampiri Theo. “Jika dia tahu, kamu adalah orang pertama yang akan aku beri pelajaran!” ucapnya dengan nada penuh penekanan.
__ADS_1
Ya, pria itu memang tidak pernah main-main dengan ucapannya sejak dulu.
“Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak–” belum selesai Theo bicara, Abian sudah tidak ada lagi di tempatnya. “Astaga, kenapa anda malah pergi tanpa saya, Tuan!” gumamnya kesal.
Lagi, setelah bicara panjang lebar Abian langsung pergi begitu saja tanpa mengajaknya. Kebiasaan baru Abian yang membuat Theo harus mencari keberadaan pria itu jika tiba-tiba saja menghilang.
Mau tidak mau, Theo segera menyusulnya sebelum pria itu pergi jauh. “Sikapnya benar-benar aneh beberapa hari ini. Menyusahkan ku saja!”
Dugh.
“Aww! Hidungku!” pekik Theo merasakan sakit luar biasa saat hidung mancungnya mencium pintu. “Siapa si brengsek yang sudah berani masuk tanpa mengetuk pintu dulu dan–”
Tatapan sama yang dimiliki hampir semua keluarga Alfredo.
“T–tuan Juna?!”
“Dimana Abian? Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting padanya!” Juna duduk di sofa, kedua bola matanya mengedar melihat seisi ruangan Abian. “Lumayan nyaman.”
Theo mengusap hidungnya yang masih terasa sakit akibat perbuatan Juna. Pria itu membuka pintu tanpa melihat apakah masih ada orang atau tidak di dalam. Sekarang, hidungnya yang jadi korban.
__ADS_1
“Aku sedang bertanya padamu, Theo! Dimana Abian?” ulang Juna. “Aku sibuk, jadi tidak punya banyak waktu!”
“Kalau anda sibuk, kenapa malah datang kemari? Seharusnya anda di rumah dan menikmati masa hukuman yang ayah anda berikan!” sahut Theo dengan perasaan kesal.
Hilang satu masalah, sekarang muncul masalah baru. Dan sialnya pria yang membuat masalah adalah keponakan Abian. Pria yang sama-sama keras kepala dan susah diatur.
Juna berdecak kesal. Lalu beranjak dari tempat duduknya. Maju perlahan mendekati Theo.
“Tuan mau apa?!” tanya Theo dengan berkacak pinggang. Ia mundur ke belakang menghindari Juna yang semakin dekat dengannya dan bahkan saat ini Theo terpojok tanpa bisa berkutik sama sekali. “Menyingkir dari hadapan saya, Tuan!”
“Ha ha ha!” tawa Juna meledak saat melihat raut wajah Theo yang ketakutan, apalagi mereka tadi berada di posisi yang begitu dekat tanpa jarak.
“Aku masih normal, Theo! Kamu pikir aku tertarik padamu?” Juna mendorong Theo. “Katakan pada Abian, aku menunggunya di cafe biasa!”
Setelah mengatakan itu, Juna pergi dari sana. Meninggalkan Theo yang masih diam di tempat seperti orang bodoh.
“Astaga, jantungku rasanya mau lepas,” lirihnya, mengusap dada dan keringatnya lalu keluar dari ruangan Abian. Bermaksud memberitahu tuan nya kalau si bocah pembuat onar itu sudah kembali.
Bersambung…
__ADS_1