
Selama satu jam berada di perjalanan, mereka sama-sama diam. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya.
Anaya yang lebih memilih melihat keluar jendela, sedangkan Abian, pria itu fokus pada ponselnya. Padahal mereka berada di satu mobil yang sama.
Luna dan Darrel saling menatap lalu menghela nafas panjang melihat interaksi menantu dan juga putranya. Apakah sesulit ini menyatukan mereka berdua?
Padahal Luna berharap rumahtangga mereka harmonis sama seperti dirinya yang dulu menikah karena sebuah perjodohan.
Setelah mobil yang dikendarai Darrel berhenti di halaman mansion, Anaya langsung turun begitu saja tanpa menghiraukan mereka. Bahkan gadis itu terkesan mengabaikan mertuanya. Padahal biasanya gadis itu selalu bersikap sopan.
“Apa kalian bertengkar?” tanya Luna. Wanita itu memutar tubuhnya ke belakang agar bisa melihat wajah Abian. “Kamu apa in lagi istri kamu?”
Abian menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu menghela nafas. Ia sudah menebak pasti ibunya akan menanyakan perihal diamnya Anaya.
“Gak Abian apa-apain Ma. Dia aja yang tukang ngambekan mirip bocah!” jawab Abian.
Pertemuannya dengan Sandra beberapa waktu lalu membuatnya kesal. Bagaimana tidak kesal, bayang-bayang masa lalu saat wanita itu bercinta dengan seorang pria yang amat dia kenali kembali hadir dalam ingatannya. Membuka luka lama yang sudah ia tutup rapat.
“Gak usah bohong! Mama tahu istri kamu itu lagi ngambek. Padahal kemarin Naya baik-baik aja, kenapa sekarang berubah ketus gitu ya?” Luna menatap ke arah Darrel lalu beralih menatap Abian.
“Lagi dapet kali Ma, makanya sensi!” celetuk Abian.
“Dasar anak nakal ini!” Luna memukul lengan Abian yang hanya meringis menahan sakit. “Cepat kejar sana, rayu dia. Kalau terus-terusan begini kapan Mama punya cucunya!” Luna melengos lalu melipat kedua tangan di bawah dada.
“Dan mulai sekarang gak ada pisah-pisah ranjang!” imbuhnya.
“Maksud Mama apa? Siapa yang pisah ranjang?” tanya Abian. Ia terkejut mendengar ucapan Luna. Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau dirinya pisah ranjang dengan Anaya?
“Udah gak usah pura-pura lupa ingatan. Ingat ucapan Mama tadi, kamu harus segera kasih cucu! Atau Mama–” Luna berhenti berucap saat jendela mobil diketuk oleh seseorang.
Lalu dengan cepat, Luna membukanya. “Ada apa lagi Theo?! Kamu gak liat kami sedang bicara serius, hah?!” sentaknya, membuat Theo tak bisa berkutik dan diam tempat.
“Maaf Nyonya, tuan Gavian sudah sampai. Dia sedang menunggu di ruang tamu.” setelah mengatakan itu Theo langsung pergi dari sana sebelum kena amuk Luna dan juga Abian.
__ADS_1
Karena Abian pasti tidak akan pernah setuju kalau Gavian tinggal di sana bersamanya.
“Apa Theo bilang tadi? Gavian tinggal sama aku?!” geram Abian.
“Pasti Mama sama Papa yang nyuruh ‘kan? Buat apa sih Ma. Kalau Mama pengen cepet-cepet punya cucu harusnya Gavian itu tinggal aja sama Mama!” protesnya tak terima dengan keputusan Luna.
Melihat bagaimana sikap Gavian selama ini pada istrinya saat berada di rumah sakit saja sudah membuatnya hatinya terbakar. Apalagi sekarang, adiknya itu harus tinggal bersama dengannya. Mereka akan lebih sering bertemu setiap hari.
“Gak ada penolakan! Pokoknya Gavian akan tetap tinggal dan kamu juga harus segera kasih Mama cucu titik!”
“Tapi, Ma–”
“Cukup!” kali ini bukan Luna yang menjawab, melainkan Darrel. Melihat istri dan anaknya berdebat membuat kepalanya pusing. “Sekarang kamu masuk! Urusan Gavian nanti kita pikirkan lagi. Karena ini masalah sepele yang gak harus di besar-besarkan, ngerti!” tegasnya tanpa mau di bantah.
Mau tidak mau, Abian menurut. Apalagi kalau Darrel sudah bicara tegas seperti tadi. Ia langsung masuk ke dalam rumah setelah mobil Luna dan Darrel pergi meninggalkan mansion.
Ia melangkah perlahan dengan kedua kaki menahan sakit, menopang tubuhnya yang besar. Abian mencoba membiasakan diri untuk kembali berjalan tanpa menggunakan kursi roda.
“Dimana bocah itu Theo?”
Theo mengernyit bingung. “Apa maksud anda tuan Gavian?”
“Menurutmu siapa lagi?”
“Tuan Gavian sudah masuk ke kamarnya yang ada di lantai atas, tepat di sebelah kamar anda,” jawabnya enteng tanpa dosa.
“What? Di sebelah kamarku?!” pekik Abian dan lagi lagi dengan terkejut. Lihat saja wajahnya saat ini sudah memerah menahan amarah. “Apa ini juga bagian dari rencana Mama?” tanyanya.
Theo mengangguk. Pria itu sudah menebak kalau Abian pasti akan terkejut mendengar jawabannya. Tidak ada unsur kesengajaan sama sekali, karena ia melakukan itu karena permintaan Luna.
Theo terpaksa melakukannya. Jika tidak nasibnya akan berakhir di kolong jembatan.
“Masih ada kamar tamu, Theo! Kenapa harus di–”
__ADS_1
“Tuan Gavian bukan tamu, tapi adik kandung anda. Bukankah sudah seharusnya kalau kita memperlakukannya dengan spesial?” Theo tersenyum dalam hati, sepertinya rencana Luna berhasil.
Ya, wanita paruh baya itu sengaja meminta Gavian tinggal di mansion putranya hanya untuk membuat Abian cemburu. Selain itu Luna juga masih kesal saat melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Anaya dan Abian tidur di kamar yang terpisah.
Setelah berdebat cukup lama dengan asisten pribadi nya, Abian memutuskan untuk masuk ke kamarnya.“Sejak kapan dia jadi pembantah seperti itu?!” gumamnya.
Abian lalu menoleh saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia melihat sang istri keluar dari sana hanya dengan mengenakan handuk yang melilit di dada nya. Memperlihatkan kulit putih bersihnya yang mulus tanpa noda.
“Shits!” umpat Abian dalam hati. Apa gadis itu sama sekali tidak melihatnya dan seakan-akan di kamar ini hanya ada dia seorang.
Tersadar seperti ada yang memperhatikannya, Anaya langsung berbalik. Kedua matanya membola dengan sempurna saat melihat suaminya menatapnya. Seakan ia adalah santapan empuk.
“Aaamph!” belum sempat Anaya berteriak, bibirnya sudah di bungkam lebih dulu oleh Abian.
“Sstt. Aku lepas tapi janji gak usah teriak. Kamu mau bocah nakal itu dan Theo mikir macam-macam?” Abian berbisik lirih tepat di telinga Anaya.
Hembusan nafasnya bisa gadis itu rasakan, menerpa kulit lehernya. Membuat bulu kuduk Anaya meremang seketika.
Anaya mengangguk sebagai tanda kalau ia setuju dengan ucapan Abian dan tidak akan berteriak. “Dasar mesum!” pekik Anaya tak terima di sentuh tiba-tiba seperti ini.
“Ck! Mesum sama istri sendiri apa salah?”
Posisi mereka masih saling membelakangi. Abian hanya melepaskan tangannya dari bibir Abaya, tapi tidak dengan tubuhnya.
“Kamu mau apa?” Anaya gugup setengah mati. Apalagi saat merasakan sesuatu di balik celana suaminya menusuk pahanya.
Sungguh ia benar-benar menyesal karena sudah menolak permintaan Luna untuk tinggal bersamanya beberapa hari di mansion wanita itu. Dan malah memilik tinggal bersama suaminya.
“Apa boleh aku minta hak ku sekarang sebagai suami kamu?” tanya Abian dengan menekan setiap kalimatnya. Menahan gairah yang membuat kepala atas dan bawahnya pusing.
“A-apa?!” pekik Anaya.
Bersambung...
__ADS_1