Hasrat Suami Lumpuhku

Hasrat Suami Lumpuhku
Bab 23 Panggil Aku ‘Sayang’


__ADS_3

Seharian ini Anaya benar-benar dibuat kesal dengan tingkah Abian. Setelah drama pagi tadi di meja makan. Dimana Abian meminta untuk di suapi di atas pangkuannya, dan dilihat semua penghuni mansion. Sekarang Abian tidak mengijinkannya keluar dari kamar. Lebih tepatnya pria itu mengurungnya.


Abian sengaja tidak pergi ke kantor dan memilih mengerjakan semua pekerjaannya dari rumah.


Hening, itulah yang terjadi. Bahkan Anaya terlihat seperti gadis bodoh sekarang. Ia hanya duduk dan memperhatikan apa yang sedang Abian lakukan. Ponselnya bahkan di sita oleh suaminya itu.


“Abian, aku–”


“Sayang!” potong Abian. “Mulai sekarang kamu harus panggil aku sayang!” Abian kembali fokus pada laptop yang ada di depannya.


“Apa kamu bilang? Sayang?” Abian mengangguk. Sedangkan gadis itu hanya bisa mendengus kesal mendengar permintaan suaminya yang menurutnya aneh.


Anaya tadi hanya berniat mengerjai Theo karena menolak untuk memanggil Rayya dan mengadu pada Abian. Tapi malah sekarang jadi senjata makan tuan.


Sepertinya suami menyebalkannya itu ketagihan dipanggil ‘sayang’.


“Aku gak mau!” Anaya memalingkan wajahnya dan memilih turun dari atas tempat tidur. Terlalu lama berada di dekat Abian membuat detak jantungnya tidak stabil.


Bagaimana tidak, Abian memakai kemeja namun dua kancing bagian atasnya sengaja dibuka olehnya. Memperlihatkan bagian otot dada sempurnanya.


Abian meletakkan laptopnya, dengan cepat ia merengkuh pinggang Anaya agar gadis itu tidak pergi kemana-mana. Lalu menariknya dan memeluknya erat dari belakang.


Anaya memutar bola matanya malas. Ia bisa menebak, pasti akan ada drama lagi setelah ini.


“Apa permintaanku terlalu berat buat kamu? Aku ngerti kalau kamu belum siap ngasih ‘itu’ sama aku. Tapi seenggaknya kamu gak boleh nolak saat aku nyuruh kamu panggil aku dengan sebutan sayang.” Abian membenamkan kepalanya di ceruk leher Anaya dan mengecupnya perlahan. Membuat sang pemilik menggigit bibir bawahnya sendiri dengan desahaan tertahan.


“Abian…”


“Hmm.”


“Lepas!” pinta Anaya.


Abian menyeringai tipis, tangan nakalnya sudah menyusup masuk ke dalam pakaian Anaya. Menyentuh perut datar gadis itu, lalu mengusapnya dengan gerakan tak naik turun tak beraturan.


“Abian jangan macem-macem!” Anaya melotot tajam. Entah sejak kapan Abian jadi semakin berani padanya.


“Jangan dekati bocah nakal itu. Aku gak suka!” lirihnya.


Anaya mengernyit bingung. Ia benar-benar tidak paham dengan ucapan Abian. Sejak kapan di mansion nya ada bocah?

__ADS_1


“Maksud kamu?”


“Gavian!” jawabnya. “Aku gak suka kamu deket-deket sama dia, aku gak suka kamu kasih senyuman sama dia aku juga suka kamu–”


“Lalu Sandra?” Abian menautkan kedua alisnya. “Dia bebas peluk kamu, kamu juga kelihatannya gak nolak ‘kan?” ketus Anaya.


Abian terdiam. Sepertinya memang benar, kalau Anaya melihat Sandra memeluknya saat berada di lobby rumah sakit. Padahal pertemuan mereka itu tanpa di sengaja.


Bukannya marah mendengar ucapan Anaya, pria itu malah senyum-senyum tidak jelas. “Kamu cemburu sama Sandra?” tanya Abian, kembali memberikan kecupan bertubi-tubi di tengkuk leher Anaya.


“Ya, aku cemburu.” Anaya mengepalkan tangannya erat. Mengingat kembali kejadian itu. Dimana Sandra terlihat seperti wanita gatal yang masih mengharapkan suaminya. “Apalagi Sandra itu kakak tiri aku,” lirih Anaya.


“What?” pekik Abian tak percaya mendengar ucapan Anaya. “Kakak tiri kamu? Kok bisa?” tanya nya.


Anaya memutar tubuhnya, lalu mendongak ke arah Abian. Hal yang sama juga dilakukan oleh pria itu. Mereka saling berhadapan dan menatap satu sama lain.


“Apa saat menjalin hubungan dulu, kamu gak tau asal usul Sandra?” Abian menggeleng. Tapi sepertinya Anaya tidak percaya padanya. “Yakin?”


“Aku yakin Nay.” Abian menangkup pipi Anaya. Lalu menempelkan bibirnya ke bibir Anaya. “Seandainya saat itu aku ketemu kamu lebih dulu, pasti aku akan menikahi mu, bukan Sandra,” jelasnya setelah ciuman itu terlepas.


“Dasar gombal.”


Sejujurnya, Abian memang tidak tahu siapa dan seperti apa keluarga Sandra. Wanita itu hanya bilang kalau kedua orangtuanya sudah meninggal. Tentu saja Abian percaya saja dengan ucapannya yang ternyata semua hanya kebohongan belaka.


“Kenapa? Kamu sakit?!” Anaya panik, melihat kedua pipi Abian yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


Abian menggelengkan kepalanya. “Aku udah gak tahan nih.” Abian menggigit bibir bawahnya sendiri, meringis menahan hasratnya yang menggila jika sedang berdekatan dengan Nayla.


“Ya udah sini aku anter ke kamar mandi.” Anaya buru-buru turun dari atas ranjang, lalu meletakkan lengan Abian di pundaknya. Bermaksud memapahnya. “Kok diem? Katanya udah gak tahan.”


“Aku gak tahan mau makan kamu Nay.” bisiknya.


“Ih Abian! Gak lucu tau!” Anaya mencubit kecil perut Abian.


“Sayang Nay, sayang. Kok Abian lagi?” protesnya dengan bibir memberengut ke depan.


Anaya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. “S–sayang…” ucapnya malu-malu.


Pipi Abian semakin merona dibuatnya, jantungnya berdetak tak karuan. Panggilan sayang yang Anaya berikan membuat seluruh tubuhnya seakan lemas kecuali sesuatu dibalik celananya. Yang sudah tidak sabar ini menjebol pertahanan Anaya.

__ADS_1


*****


*****


Sedangkan di rumah milik keluarga Anderson…


Plak.


Satu tamparan keras mendarat di pipi Amara.


Ya, siapa lagi pelakunya kalau bukan Mario. Pria paruh baya itu murka mendengar putrinya hamil. Dan usia kandungannya sudah memasuki dua bulan.


Meski, selama ini Mario hanya ayah sambung bagi Amara. Tapi, Mario sangat menyayanginya seperti ia menyayangi anak kandungnya sendiri. Emosinya sudah tidak terbendung lagi.


“Sekarang bilang sama Ayah, siapa laki-laki brengsek yang sudah lancang menanam benih di rahim kamu, Amara!” teriak lantang Mario menggema, membuat seisi rumah berlari ke ruang tamu.


Amara hanya bisa menunduk dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Ia tidak mungkin mengatakan pada kedua orang tuanya siapa ayah dari bayi yang ia kandung.


Yang terjadi padanya hanyalah unsur ketidaksengajaan. Karena mereka melakukannya dalam keadaan mabuk dan tidak sadar.


“Jawab Amara! Kenapa kamu diam saja hah?!”


“Ayah, cukup! Kasian Amara. Dia korban disini kenapa Ayah malah memojokkannya. Ingat, putrimu ini sedang hamil!” sahut Vania yang sejak tadi diam saja menyaksikan semua itu.


Vania memang sempat kecewa pada Amara, tapi semuanya sudah menjadi bubur. Waktu tidak akan bisa diulang kembali.


“Maaf Yah. Maafin Amara.” Amara berlutut di kaki Mario. “Jangan usir Amara Yah, Amar udah gak punya siapa-siapa lagi disini,” mohonnya.


Mario memalingkan wajahnya, gadis kecil yang selama ini ia besarkan malah berbuat hal memalukan seperti ini.


“Gugurkan bayi itu!” titah Mario. Ia tidak mau keluarganya menanggung malu akibat perbuatan Amara. Mau ditaruh mana wajahnya jika rekan bisnis dan besan nya tahu, salah satu anak Mario hamil di luar nikah tanpa suami.


Amara menggeleng. “Gak Ayah! Amara gak mau! Jangan minta Amara buat gugurin bayi ini Yah. Bayi ini gak berdosa. Amara yang salah.”


“Kalau begitu katakan pada Ayah, siapa pria itu!” Mario berlutut lalu mengguncang kedua lengan Amara. “Jangan takut, Ayah pastikan kamu akan menikah dengannya.”


Amara menghapus air matanya, lalu mendongak menatap Mario. “Laki-laki itu, dia kak Dion Yah. Suami kak Sandra,” jawabnya.


Deg.

__ADS_1


“Ini gak mungkin…” Sandra jatuh lemas ke lantai. Sedangkan Mario, meremas dadanya yang terasa sesak dan sakit.


Bersambung.....


__ADS_2