Hasrat Suami Lumpuhku

Hasrat Suami Lumpuhku
Bab 18 Panggilan Sayang


__ADS_3

Keesokan harinya, terjadi drama percekcokan antara Abian dan juga Luna. Dimana pria itu menginginkan Anaya segera pulang. Ia bahkan bersedia merawatnya, daripada berada di rumah sakit dan di tangani oleh Gavian.


Sungguh Abian tidak rela dan tidak akan pernah rela. Entah kenapa melihat perlakuan Gavian pada Anaya membuatnya kesal dan marah. Bukan karena ia cemburu, tapi karena Anaya selalu saja meminta bantuan Gavian daripada dirinya.


Anaya selalu saja tersenyum dan bicara lembut pada Gavian. Sedangkan padanya, Anaya sama sekali tidak pernah memperlihatkan senyum itu. Dia bahkan menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


“Ma, aku mau istri aku dibawa pulang sekarang! Gak mau nunggu besok apalagi harus nginep di sini selama dua hari!” Abian merengek pada Luna dengan sikap manja yang belum pernah pria itu perlihatkan pada siapapun kecuali keluarganya.


Dan sekarang, Anaya harus melihatnya. Abian tak peduli apa yang akan gadis itu pikirkan tentangnya.


“Kamu ini kenapa sih, istri kamu itu lagi sakit dan butuh perawatan. Kamu gak denger apa yang adik kamu bilang tadi? Anaya harus di rawat dua atau tiga hari lagi dan semua karena ulah kamu!” ketus Luna. Ia melipat kedua tangan di bawah dada lalu memalingkan wajahnya.


Malas menatap Abian. Karena kecerobohan pria itu, menantu kesayangannya harus masuk ke rumah sakit. Luna juga terpaksa menutupi semuanya dari keluarga Anaya dan mengatakan kalau dia baik-baik saja.


“Bukan salah aku Ma, aku gak ngapa-ngapain istri aku kok. Kalau Mama gak percaya tanya aja sama dia.” Abian menatap Anaya, berharap istrinya itu akan membelanya.


Namun, siapa sangka jika Anaya malah melengos dan memilih menatap ke luar jendela. Mulutnya sedikit terbuka, menerima beberapa suapan bubur dari Rayya.


Gadis itu seakan-akan sedang mengatakan kalau semua memang kesalahan Abian.


Abian mengerang kesal. Ia melangkahkan kakinya perlahan dengan bantuan walker, mendekat ke sisi ranjang dan duduk si samping istrinya. “Sayang, kamu kok gak belain aku sih. Kamu tega liat aku di hukum sama Mama, iya?”


Uhuk!


Mendengar Abian memanggilnya dengan sebutan sayang. membuat Anaya tersedak. Lalu dengan cepat, Rayya meraih segelas air yang ada di atas meja dan memberikan padanya. 


“Nay, kamu gapapa ‘kan?” Anaya mengangguk. “Pelan-pelan makannya. Segitu kagetnya ya di panggil sayang sama tuan Abian,” ledeknya, berbisik lirih ke telinga Anaya.


“Mana ada, aku malah mual tahu,” jawab Anaya malu-malu dengan berbisik pula. Membuat Abian menautkan kedua alisnya dan menatapnya bingung.


Sebenarnya Abian juga tidak mau memangil Anaya dengan sebutan sayang. Itu ia lakukan hanya untuk membuat Gavian menjauh dari sang istri. Tapi bukannya menjauh, Gavian malah semakin dekat dengannya.


Abian mungkin lupa, karena memang Gavian dokter yang bertugas untuk merawat Anaya atas permintaan Luna dan Darrel.

__ADS_1


“Pelan-pelan aja makannya. Aku gak bakalan minta kok.” tangan Abian terangkat, mengusap sisa kotoran yang menempel di bibir gadis itu. 


Yang sontak membuat Anaya langsung menunduk dengan wajah memerah. Untuk pertama kalinya pria menyebalkan itu memberikan perhatian padanya.


Tentu saja ia tahu kalau perhatian Abian hanya pura-pura. Tapi, tetap saja hatinya membuncah tak karuan.


Gavian yang sejak tadi berdiri di ambang pintu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd Abian. Ia lalu melangkahkan kakinya, masuk ke dalam dan menghampiri mereka. “Kalau mas mau bawa Aya pulang gapapa, asal aku juga ikut bersama kalian. Biar aku bisa mengecek keadaan Aya langsung.”


Mendengar Gavian menyebut istrinya dengan panggilan Aya, membuat Abian bertambah kesal. Pikiran negatif mulai berkeliaran dalam hatinya. Apa sebelum bertemu dengannya mereka berdua saling mengenal?


“K-kamu ngapain sih ikut pulang? Kerjaan kamu di sini juga masih banyak ‘kan!” ketus Abian. 


“Yaelah mas, aku kan pengganti papa di sini. Suka-suka aku mau kerja apa gak. Ia ‘kan Ma?” Gavian mengedipkan matanya berulang kali pada Luna, sengaja memberi kode pada wanita itu. Agar setuju dengan sarannya.


“Lagipula, aku sekalian mau ngerawat kamu supaya bisa jalan lagi seperti semula,” imbuhnya.


Abian berdecak kesal. “bilang aja itu cuma alasan kamu biar bisa deket-deket sama istri aku, iya ‘kan?”


“Mas tau aja,” jawab Gavian dengan enteng. “Siapa tahu Aya tertarik padaku dan meninggalkan kamu.”


“Ampun mas, ampun! Gitu aja ngambek.”


Mereka semua tertawa melihat tingkah kedua bersaudara itu. Hubungan keduanya seakan kembali menghangat setelah kehadiran Anaya. Meski gadis itu tidak melakukan apapun secara langsung.


******


******


Sedangkan di tempat berbeda, Sandra terlihat sedang bertengkar dengan seorang pria yang tak lain adalah suaminya sendiri, Dion.


Semenjak kedatangannya ke rumah keluarga Anderson sampai sekarang, mereka sering sekali bertengkar hanya karena masalah sepele.


“Sayang, sebenarnya kamu itu kenapa? Apa aku buat salah? Kamu jarang pulang ke rumah. Dan saat pulang, kamu dalam keadaan mabuk. Apa kamu udah gak anggap aku sebagai istri Dion?!” teriak Sandra.

__ADS_1


Deretan pertanyaan yang keluar dari bibir wanita itu membuat Dion muak. Bagaimana tidak muak, setelah menikah pria itu mengetahui sisi asli Sandra.


“Oh aku pikir kamu itu gak butuh aku dan lebih memilih karier kamu di dunia model.” Dion bangkit, menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang.


“Kenapa masih bahas itu Dion. Kamu udah tahu ‘kan aku gak bisa ninggalin pekerjaan aku.” Sandra yang sejak tadi duduk di depan meja rias mendekati pria itu, lalu naik ke atas tempat tidur dan mengusap rahang tegas suaminya.


“Tapi keluarga aku menginginkan cucu Sandra! Bukan karir modeling kamu itu!” sentak Dion, menepis tangan Sandra yang sudah berada di dada bidangnya. “Kita bisa ‘kan menggunakan bayi tabung?”


“Gak, aku gak mau Dion!”


Dion tersenyum miris, “terus mau kamu apa?”


“Kamu cari saja wanita yang bisa ngasih keluarga kamu anak tapi dengan satu syarat...” Sandra menarik nafas panjang dengan tangan terkepal erat, “jangan pernah ceraikan aku!”


“Apa kamu bilang?!” pekik Dion dengan wajah tak percaya. “Kamu gila Sandra. Kita bahkan bisa--”


“Aku gak peduli Dion. Lakukan saja permintaan aku atau keluarga kamu gak akan pernah punya keturunan sama sekali!” potong Sandra. 


Setelah mengatakan itu, Sandra beranjak dan pergi dari sana.


“Wanita keras kepala!” Dion mengusap wajahnya frustasi. Memilih masuk ke kamar mandi dan berendam untuk menenangkan pikirannya.


Namun, saat akan melangkah, ponsel miliknya berdering. Don memutar tubuhnya menuju ke tempat tidur.


“Gimana, lo udah dapetin informasi mengenai gadis itu?”


“Ya, seperti mau lo. Gue udah dapat alamat dimana dia tinggal. Dan satu hal yang bakal buat lo tercengang,” jawab pria yang berada di sebrang sana.


“Maksud lo?”


“Nanti malem dateng aja ke tempat biasa. Jam sembilan gue tunggu lo! Jangan lupa bawa uangnya.”


“Oke.”

__ADS_1


Panggilan terputus begitu saja. Dion menggenggam erat ponselnya dengan rahang mengeras. Akhirnya hari yang telah ia tunggu cukup lama telah tiba.


Bersambung....


__ADS_2