
Mario dan Anaya saling menatap untuk sesaat lalu kembali melihat ke arah Abian.
“S–sayang, kamu pasti lapar ya? Maaf karena ceroboh tadi aku terjatuh di dapur dan belum.sempat masak untukmu. Jadi–”
“Kubilang berikan dia padaku, Ayah!” ulang Abian dengan nada penuh penekanan di setiap kalimatnya.
Entah apa yang terjadi pada Abian, kenapa tiba-tiba emosinya meledak-ledak. Padahal baru beberapa menit lalu, pria itu bersikap manis pada Anaya.
Mau tidak mau, Mario menyerahkan Anaya pada Abian saat itu juga.
“Kita pulang sekarang!” Abian bicara tanpa melihat Anaya sama sekali. “Theo, bawa barang-barangku yang ada di kamar atas tanpa ada yang tertinggal!” titah Abian.
Theo mengangguk dan langsung berlari ke atas, menuruti perintah Abian sebelum pria itu bertambah murka.
Sesampainya Theo di kamar Abian, ia menunduk lesu melihat ponselnya yang hancur berantakan karena ulah tuan nya itu.
Setelah merekam semua kejadian di dapur tadi, Theo langsung memberitahu Abian.
Awalnya, Abian bersikap biasa saja tanpa memberi respon sama sekali. Namun, saat melihat Vania mendorong Anaya, hingga kepala istrinya membentur ujung meja, Abian membanting ponsel milik Theo hingga hancur berkeping-keping.
“Apes sekali nasibku. Padahal disana ada nomor gadis penjual bunga yang aku temui kemarin.” Theo menghela nafas. “Sepertinya aku dan dia gak mungkin berjodoh!” gumamnya.
“Mau sampai kapan kamu ada di atas sana, Theo!” teriak Abian dari bawah.
“Y–ya, Tuan. Tunggu sebentar lagi.” Theo memungut kepingan-kepingan ponselnya lalu mengambil koper milik Anaya yang sudah wanita itu siapkan tadi, lalu turun kebawah.
__ADS_1
“Sebenarnya ada apa, Nak? Kenapa kamu marah-marah seperti ini? Apa Ayah buat salah? Kalau memang iya, katakanlah.” Mario menghampiri Abian, menepuk pundaknya lalu mengusapnya perlahan. Mencoba menenangkan pria yang sedang emosi itu.
“Tanyakan semuanya pada istrimu, apa yang sudah dia lakukan pada istriku, Ayah mertua!”
Mario benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Abian. “Vania? Apa yang sudah Vania lakukan? Saat aku pulang dia bahkan tidak ada di dapur dan–”
“Dia sudah berani menyentuh istriku dan menyakitinya, Ayah! Aku tidak terima dan lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian!” Abian melewati Mario begitu saja, berjalan keluar menuju ke mobilnya.
Sedangkan Anaya, wanita itu terus menunduk ketakutan. Ini adalah pertama kalinya ia melihat sisi lain Abian yang menakutkan baginya.
“Kenapa diam? Biasanya kamu banyak bicara?” Abian menarik dagu Anaya, agar istrinya itu melihatnya.
“Aku takut,” jawab Anaya lalu memalingkan wajahnya. “Kamu kenapa?” dan balik bertanya pada Abian.
Abian terdiam. Ia menyentuh pelipis Anaya yang mulai membengkak karena ulah Vania. Dengan hati-hati ia menyentuhkan lalu meniupnya perlahan.
“Kenapa minta maaf? Kamu gak salah!” Anaya menggeleng. “Aku yang harusnya minta maaf, karena ceroboh aku–”
Abian menempelkan wajahnya di ceruk leher Anaya dan menggigitnya gemas.
“Sayang! Apa yang kamu lakukan! Sakit!” Anaya mengusap lehernya yang memerah akibat perbuatan Abian.
“Mau sampai kapan kamu terus menyembunyikan kejahatan wanita itu? Aku gak suka kamu bela dia, Nay! Gara-gara dia, kamu sekarang terluka begini!” sentak Abian. “Mulai besok jangan pernah menemui keluargamu lagi”
“K-kamu udah tau kalau Ibu–”
__ADS_1
“Aku janji padamu, akan kubuat wanita itu menangis dan berlutut memohon ampun padamu!” Abian mengeraskan rahangnya dengan tangan terkepal erat. Ia paling tidak suka jika ada yang menyentuh dan menyakiti miliknya.
Melihat ekspresi wajah Abian, Anaya menelan salivanya berulang kali, takut kalau pria yang ada di depannya ini benar-benar nekat.
“Tenanglah, Nay! Abian gak akan pernah menyakiti keluargamu! Ya, gak akan pernah!” gumamnya namun dalam hati.
***
***
Keesokan harinya, Vania sudah bersiap untuk menemui teman-teman arisannya. Ia diantar oleh Mario dan ditemani Amara.
“Nanti Ayah jemput jam sebelas seperti biasa, ya. Ibu sepertinya akan pulang cepat,” ucap Vania sambil berkaca, memeriksa apakah rasanya belepotan atau tidak.
Amara hanya bisa menggeleng melihat tingkah ibunya yang seperti anak abg. Sangat diluar ekspektasi.
Berbeda dengan Mario, pria itu menjawab dengan deheman saja. Entah kenapa perasaannya hari ini tidak enak. Apalagi saat mengingat kalimat terakhir sebelum Abian pergi dari rumahnya.
“Oh, iya kapan kalian menikah, sayang. Keluarga Wijaya pasti senang karena sebentar lagi punya cucu dari kamu,” tanya Vania dengan senyum bangga. “Ibu janji, pesta pernikahanmu akan Ibu buat semewah mungkin! Biar Ibu bisa pamer sama temen-temen arisan yang sok kaya itu.” Vania mengibaskan rambutnya ke belakang.
“Gak usah aneh-aneh. Ayah gak setuju kalau Ibu–”
“Ayah diam aja deh! Gak usah ikut campur. Cukup kasih uang dan Ibu yang atur semuanya, ngerti!” Vania membenarkan posisi duduknya. “Awas aja Ayah kalau nyuruh Ibu hemat. Malu sama besan, kalau pestanya sederhana!”
“Iya, Bu. Iya. Lakukan saja apa yang kau inginkan!” Mario memilih fokus mengendarai mobilnya. “Kok perasaanku gak enak gini ya…”
__ADS_1
Bersambung...