
Dion segera mengurai pelukannya, lalu menggenggam tangan Sandra. Menyakinkan pada wanita itu kalau semuanya akan baik-baik saja.
“Jawab aku, Kak! Bagaimana dengan bayi ini? Dia butuh sosok ayah. Aku tidak mau melahirkannya dan membesarkannya sendirian!” Amara terbawa emosi, apalagi saat melihat Sandra dan Dion memeluk satu sama lain tadi.
Tidak di pungkiri ada perasaan aneh yang muncul di dalam hatinya. Niatnya memang untuk membalas dendam pada Sandra karena dulu pernah merebut Gavian darinya.
Namun, siapa sangka Amara malah jatuh cinta pada sosok Dion. Ceo dimana ia bekerja selama ini sebagai model. Perhatian Dion padanya juga senyum pria itu membuat Amara terpesona.
“Malam itu kita memang tidur bersama, Amara! Tapi aku sama sekali tidak menyentuhmu. Jika kamu hamil sekarang, itu bukan perbuatanku tapi karena kesalahanmu sendiri!” Dion mengeraskan rahangnya kesal.
Saat bangun, mereka memang dalam keadaan tanpa memakai busana dan hanya terbalut selimut yang ada di kamar hotel. Tapi, Dion yakin kalau tidak menyentuh Amara sama sekali.
Karena saat itu, Dion hanya bermaksud menyelamatkan Amara yang sudah pingsan di atas tempat tidur seorang diri. Lalu, saat akan membopongnya. Tiba-tiba saja seperti ada seseorang yang memukulnya dari belakang, hingga membuat pandangannya gelap seketika.
“Bohong! Jelas-jelas saat bangun kita --”
“Cukup!” sahut Sandra yang sejak tadi diam dan mendengarkan perdebatan mereka berdua, seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun. “Kalian berdua selesaikan sekarang. Aku sedang malas melihat drama menjijikan ini.”
“Bagus kalau sadar diri. Pergi aja sana!” gumam Amara namun hanya dalam hati.
__ADS_1
Amara langsung merangkul lengan Dion, menarik pria itu agar mau ikut bersamanya. “Sekarang Kakak harus nikahin aku!”
Dion melotot tajam. “Menikah kamu bilang? Ogah! Menyentuhmu saja tidak!” elaknya seraya menepis tangan Amara yang ada di lengannya. Menyesal karena selama ini kebaikannya di salah artikan oleh wanita itu.
Sandra memijat pelipisnya. Ia tahu Amara memang licik, tapi mau tidak mau ia harus mengambil keputusan karena tidak punya cukup banyak bukti untuk membongkar kebusukan Amara.
“Sudahlah. Aku sudah mengambil keputusan.” Sandra menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. “Suamiku, akan tetap menikahi kamu tapi setelah bagi itu lahir. Dan melakukan tes Dna.”
“Sayang!” sahut Dion. Ia tak habis pikir kalau Sandra akan membuat keputusan tanpa meminta ijin darinya.
“T-tidak mau!” tolak Amara. Wajahnya pucat dan terlihat gugup mendengar keputusan Sandra. “Disini aku yang dirugikan kenapa jadi Kakak yang mengambil keputusan seenak jidat sendiri!”
Setelah mengatakan itu, ia menarik Dion. “Urusan kita belum selesai!” bisiknya lirih. Lalu membawanya masuk ke kamar, menutup rapat pintunya dan menguncinya dari dalam agar tidak ada yang menganggu mereka berdua.
“Sial! Kenapa harus menunggu melahirkan. Kalau sampai Sandra tahu ini bukan anak Dion, gagal rencanaku untuk menjadi pewaris harta keluarga Wijaya seperti yang ibu inginkan.” Amara menggigit ujung kukunya, mondar mandir kesana kemari. Memikirkan cara agar Dion mau menikah secepatnya.
*
*
__ADS_1
Sedangkan di dalam kamar milik Anaya, terdengar suara de sa han dan lenguh an yang bersahut-sahutan. Dimana kedua insan yang sudah dimabuk cinta itu mengulangi kembali pergulatan panas semalam.
“Ahh, sayang! Pelan!”
“Ini udah paling pelan, Nay!”
Abian menye sap kedua pucuk gunung yang sudah menegang itu bergantian dan memainkannya dengan lembut. Membuat Anaya menggelinjang nikmat.
Sejak pertengkarannya di meja makan tadi, Anaya memberikan Abian hukuman. Ia cemburu pada Sandra yang lebih tau kalau Abian lebih menyukai paha daripada dada. Namun siapa sangka, Abian lah yang sekarang lebih mendominasi dan membuat Anaya terus meneriakkan namanya.
“Ya Abian, di sana! Lakukan seperti itu!”
“Dasar nakal!” Abian me re mas kasar gundukan milik Anaya lalu me lu mat bibir wanitanya penuh gairah. Mengeluarkan dan memasukkan miliknya berulang kali.
Hingga tak lama, keduanya mencapai pelepasan bersama. Abian menarik Anaya ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat.
“Abian, aku--”
“Sstt! Aku ingin tidur sebentar. Bersiaplah, karena nanti malam kita harus kembali ke mansion utama!” Abian tak membiarkan wanita itu untuk bicara ataupun bertanya. Dan memilih membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman. Jika tidak, pasti akan ada pertengkaran yang kembali terjadi.
__ADS_1
Bersambung.....