
“Pelan-pelan Ray, sakit tau!” pekik Anaya saat Rayya mengoleskan salep ke punggungnya. Dimana luka akibat pukulan Sandra masih meninggalkan bekas di sana. “Kamu dendam ya sama aku. kasar banget sih!” ketusnya dengan bibir cemberut.
Rayya terkekeh melihat, “astaga, ini udah paling pelan loh.” Rayya kembali mengoleskan salep tersebut. “Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dari keluarga Alfredo? Seharusnya kamu kasih tahu mereka Nay, karena bagaimana pun juga tuan Abian udah jadi suami kamu.”
Anaya terdiam cukup lama memikirkan ucapan Rayya. Memang benar, seharusnya mereka tahu tentang keadaanya. Tidak perlu ada yang di tutup-tutupi. Tapi bukankah sama saja ia membongkar aib keluarganya sendiri di depan keluarga mertuanya?
Toh percuma saja Anaya mengatakannya karena selama ini Abian sama sekali tidak peduli padanya. Bahkan terkesan cuek. Sikapnya yang berubah baik dua hari ini pasti karena pria itu memiliki maksud lain padanya.
“Gak apa-apa nanti juga sembuh,” jawab Anaya.
Rayya mendengus kesal, bagaimana bisa Anaya masih tahan dengan sikap keluarganya yang seenaknya saja seperti ini. “Ya udah, sekarang kamu makan ya. Keburu dingin,” ucap Rayya lalu kembali merapikan pakaian Anaya.
Gadis itu beranjak dari tepi ranjang, hendak mengambil nampan yang berisi nampan di atas meja. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat Abian berdiri di ambang pintu.
“T-tuan, sejak kapan anda berada di sini?” tanya Rayya. Ia langsung menundukkan kepalanya. Apalagi saat melihat pria yang ada di samping Abian, yang saat ini sedang menatapnya dengan sorot mata tajam.
“Keluar kamu, aku ingin bicara dengan istriku!” titah Abian.
“Baik tuan.”
“Gak boleh! Rayya harus tetap berada di sini menemaniku!” sahut Anaya, tak terima jika Rayya keluar dari ruangannya. Apalagi meninggalkan dirinya berdua sana dengan Abian.
Rayya menoleh ke arah Anaya dan Abian bergantian. Sungguh, gadis itu benar-benar bingung harus mendengarkan perintah siapa. Di sisi lain Anaya sahabatnya sekarang, tapi Abian juga majikannya.
Hingga sebuah tangan mencengkeramnya kuat dan menarik paksa Rayya keluar dari sana. “Eh, tuan lepaskan tanganku!” teriaknya.
“Diam dan jangan membantah!” Theo menutup pintu ruangan itu dari luar. Entah kemana pria itu akan membawa pergi Rayya.
Sedangkan di dalam, hanya ada Abian dan Anaya. Canggung itulah yang terjadi. Untuk sesaat, kedua netra mereka saling bertemu, menatap satu sama lain sebelum memalingkan wajah masing-masing.
“Ehem…” Abian berdehem untuk menetralisir kan rasa gugupnya. Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Anaya, lalu duduk di kursi yang berada di sisi ranjang.
Sepuluh menit berlalu, tidak ada pembicaraan apapun yang keluar dari bibir keduanya.
“Ngapain kesini?” tanya Anaya dengan wajah ketus.
__ADS_1
“Kamu nanya?” Abian balik bertanya.
Anaya mendengus kesal. “Gak!”
“Aku cuma bercanda Nay, gitu aja ngambek.” Abian menahan senyuman nya. Entah kenapa melihat Anaya yang sedang marah dengan bibir mengerucut ke depan begini, membuatnya gemas.
Mengingat malam itu Abian pernah mencuri ciuman Anaya secara diam-diam, membuatnya ingin mengecupnya lagi dan bahkan menggigitnya.
“Bercanda kamu gak lucu!”
“Jangan marah-marah, nanti cepet tua.”
“Aku gak peduli!” Anaya merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu membelakangi Abian. Malas sekali berdebat dengan pria menyebalkan itu.
“Udah makan?” tanya Abian.
“Kamu nanya?” Anaya membalikkan pertanyaan Abian yang pria itu lontarkan padanya.
“Makan dulu Nay, aku gak mau liat kamu sakit gini. Mama pasti nyalahin aku lagi.” Abian beranjak dari tempat duduknya, lalu meraih nampan berisi nasi dari atas meja. “Sini aku suapi.”
Anaya langsung membuka kedua matanya dan mengerjap perlahan. Apa gadis itu tidak salah dengar? Abian ingin menyuapinya? Ataukah ini hanya bagian dari rencananya?
Jujur saja mengatakan kalimat seperti ini terlebih dulu pada seorang gadis bukan dirinya sama sekali.
Berbeda dengan perlakuannya pada Sandra dulu, bahkan Abian rela melakukan apapun demi wanita itu. Meski setelahnya, ia dikhianati dan di sakiti.
Masih terdiam dan tak menghiraukan Abian sama sekali, Anaya memilih bungkam. Ia butuh waktu, walaupun sebenarnya Anaya juga ingin mencoba dari awal sama seperti Abian.
“Aku gak maksa kamu buat jawab sekarang.” Abian mendekati Anaya dan menundukkan sedikit tubuhnya lalu mengecup kepala gadisnya. “Setelah pulang dari rumah sakit aku mau jawaban dari kamu,” bisiknya lirih.
Abian pergi dari sana, memberikan kesempatan pada Anaya untuk berpikir. Ya, memikirkan apakah Anaya akan menerima tawarannya atau menolaknya.
“Apa pria menyebalkan itu kesambet? Dia bilang apa tadi, ingin memulainya dari awal?” Anaya tersenyum remeh. “Aku gak percaya! Pasti ada udang di balik bakwan. Ya, pasti karena itu!” Anaya berusaha meyakinkan dirinya sendiri, kalau Abian pasti sedang bercanda dengannya.
Tak mau ambil pusing, Anaya menarik selimutnya ke atas untuk menutup seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Di luar, Abian segera menemui Theo dan Rayya yang sedang duduk di ruang tunggu pasien.
“Kamu harus menjelaskan sesuatu padaku Rayya!” Abian menatap tajam gadis itu. “Awas saja jika ada yang kamu tutup-tutupi dariku!”
“M-maksud Tuan saya harus menjelaskan apa?” tanya Rayya bingung. Apa mungkin Abian mengetahui sesuatu tentang Anaya?
“Luka memar di punggung istriku.”
Deg.
Benar saja, Rayya tak salah menduga. Ternyata Abian melihat saat ia sedang mengobati luka Anaya. “Maafkan saya Tuan.”
“Theo, selidiki tentang keluarga Anaya. Berikan padaku informasinya secepat mungkin!” Abian menepuk pundak Theo, lalu menekannya sedikit kuat. “Jangan sampai ada yang tahu kalau aku yang menyuruhnya!”
Pria itu mengangguk mengerti. Juga heran, tumben sekali tuan nya ingin mengetahui silsilah keluarga istrinya. “Sepertinya kepala tuan baru saja terbentur dinding,” gumamnya lalu berlalu dari sana.
***
***
“Gimana Dok? Apa ada perkembangan?” tanya seorang wanita yang berada di ruang pemeriksaan bersama dengan dokter Andre. “Apa aku masih bisa hamil?” wanita tersebut terlihat gugup, menunggu jawaban dari sang dokter.
“Kemungkinannya sangat tipis,” ucapnya. “Kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol adalah satu penyebab sampai sekarang kamu masih belum hamil.” Dokter Andre mengamati hasil rontgen yang berada di tangan kanannya.
“Apa gak ada cara lain Dok supaya aku bisa hamil? Bayi tabung misalnya?”
Dokter menggeleng pelan, “Kankernya sudah menyebar dan jalan satu-satunya adalah operasi pengangkatan rahim.”
“Apa Dokter bilang? Operasi angkat rahim?” Sandra tercengang mendengar ucapan Dokter Andre. Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya, jika dirinya harus mengalami semua ini. “Dokter pasti sedang bercanda ‘kan?”
“Aku sudah menyuruhmu untuk menghentikan kebiasaan buruk mu itu Sandra. Tapi kamu ngeyel. Dan ini akibat yang harus kamu terima sekarang.”
Tenggorokan Sandra tercekat, dadanya terasa sesak. Tanpa sadar butiran-butiran bening menetes dari kedua matanya. Keinginannya untuk menjadikan anaknya kelak pewaris tunggal keluarga Wijaya musnah sudah.
Dan dengan bodohnya, ia meminta Dion untuk menikah dengan wanita lain asal tidak menceraikan dirinya.
__ADS_1
“Sekarang aku harus gimana,” lirihnya. “Argh! Brengsek! Kalau tau begini aku gak akan melepaskan Abian. Meski gak memiliki anak darinya, kami akan tetap hidup bahagia karena dia kaya.” Sandra mengacak-acak rambut frustasi. Wanita itu menyesal sudah menyakiti Abian. Pria yang begitu mencintainya.
Bersambung....