Hasrat Suami Lumpuhku

Hasrat Suami Lumpuhku
Bab 8 Selamat Malam Suamiku


__ADS_3

“Apa yang sedang kamu lakukan di kamarku, hah?!” pekik Abian, menelan saliva nya dengan susah payah saat melihat punggung mulus istrinya.


Ia langsung memalingkan wajahnya dan mendorong kursi rodanya, menjaga jarak dengan Anaya.


“Apa kamu bilang? Kamarmu?” tanya Anaya.


“Iya kamarku,” jawab Abian singkat.


Anaya terdiam. Bukankah ini kamar yang sudah di sediakan mama Luna untuknya? Bahkan Theo juga tadi bilang ini adalah kamarnya. Kenapa sekarang jadi kamar Abian?


“Ga usah bohong! Jelas-jelas Theo bilang ini kamarku, bukan kamarmu!” ucapnya.


“Mungkin kamar kamu ada di sebelah.” Alana mencoba meyakinkan Abian kalau pria itu lah yang salah masuk ke kamar.


“Enak saja kamu kalau bicara! Ini jelas-jelas kamarku!” Abian masih saja keras kepala. Ia tidak terima jika kamarnya di masuki oleh orang asing. Meski Anaya bukanlah orang lain melainkan istri sahnya di mata hukum dan agama.


Anaya hendak memutar tubuhnya, namun kakinya menginjak ujung gaunnya sendiri. Sehingga membuat tubuhnya menjadi tak seimbang dan akhirnya gadis itu terjatuh.


Brugh!


“Oh shits! Apa yang kamu lakukan, hah?!” geram Abian tertahan. Apalagi saat ini Anaya bukan terjatuh di lantai, melainkan di atas pangkuannya.


“M-maaf. Aku benar-benar ga sengaja! Tadi aku menginjak gaunku sendiri dan--”


“Sepertinya kamu itu suka sekali jatuh di pangkuanku ya?!” ucapnya seraya menahan sesuatu yang mulai bangkit di balik celananya. “Sial! Ga mungkin ‘kan dia bangun karena gadis cengeng dan menyebalkan ini?” gumamnya namun hanya dalam hati.


“Menyingkir lah dari atas tubuhku, kamu itu berat!” Abian memejamkan matanya sekilas, lalu dengan cepat mendorong tubuh Anaya.


“Maafkan aku!” Anaya berlari masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan kuat lalu menguncinya dari dalam.


Sedangkan Abian, ia hanya diam saat melihat punggung Anaya menghilang dari hadapannya.


“Dasar tidak sopan! Berani-beraninya gadis itu masuk ke kamarku tanpa izin, lalu duduk di pangkuanku dan membangunkan--” Abian tak melanjutkan kalimatnya. Ia meringis menahan sakit karena miliknya di bawah sana mulai terasa sesak. “Kenapa harus bangun di saat seperti ini,” gumamnya lirih.


“Tidak mungkin ‘kan kalau Anaya adalah gadis malam itu?” tak mau ambil pusing, Abian memilih pergi dari sana. Menuju balkon untuk mencari angin segar. Setelah Anaya menyelesaikan mandinya, Abian akan mencoba bicara padanya.


Anaya mengatur nafasnya yang naik turun. Karena lagi-lagi ia melakukan kesalahan yang sama. Jatuh di pangkuan seorang pria dan menyentuh tong kat sakitnya.

__ADS_1


“Haish! Memalukan sekali. Kenapa harus menyentuh bagian itu sih!” Anaya terus mengumpat kebodohannya sendiri.


“Sekarang aku harus bagaimana? Masa iya aku harus keluar hanya memakai handuk ini? Kalau Abian melihat keadaanku pasti--” Anaya mencoba menepis pikiran kotornya dan mulai melepaskan satu persatu gaun yang ia pakai.


Anaya masuk ke dalam bathub yang sudah ia isi dengan air hangat dan mulai membersihkan diri.


Selesai dengan aktifitas mandinya, Anaya memakai handuk yang sudah tersedia di dalam kamar mandi. Entah milik siapa, gadis itu tidak peduli. Yang jelas ia sudah kedinginan sekarang dan harus segera keluar.


Anaya membuka sedikit pintunya dan mengintip. Melihat keadaan sekitar apakah Abian masih ada di sana atau tidak.


“Akhirnya pria menyebalkan itu pergi juga,” lirihnya seraya melangkahkan kaki perlahan dan mengendap-endap menuju walk in closed.


Anaya ingat kalau mama Luna sudah menyiapkan pakaian untuknya di dalam lemari. Jadi, ia membukanya dan mulai mengambil salah satu gaun tidurnya.


“Oh my god!” pekik Anaya dengan bibir yang menganga lebar, tak percaya saat melihat gaun tersebut. “Gaun tidur macam apa ini?” Anaya menelan saliva nya berulang kali.


Gaun tidur yang seperti jaring itu lebih mirip di sebut saringan tahu. Sangat tipis dan menerawang.


Wajah Anaya saat inu bahkan memerah karena saking malunya membayangkan dirinya sedang memakai gaun itu.


“Mama Luna pasti salah beli. Ya, pasti begitu.” Anaya meletakkan kembali gaun tersebut pada tempatnya dan mulai mengambil gaun yang berbeda.


“Gimana dong? Masa iya aku haru pakai salah satunya. Mana gaunnya terbuka semua, ga ada yang tertutup sama sekali,” lirihnya. Anaya berpikir sejenak dan terpaksa memakai salah satu gaun tersebut lalu menutupnya dengan handuk.


“Mama benar-benar sengaja melakukan ini. Gimana coba kalau Abian tiba-tiba datang dan menyerang ku?” Anaya memutar tubuhnya, berniat untuk bersembunyi di balik selimut yang ada di atas ranjang.


Matanya terasa berat, ia sudah sangat mengantuk.


Gadis itu mengurungkan niatnya dan malah diam di tempat dengan wajah pucat. Ia langsung melipat kedua tangan di depan dada untuk menutup asetnya. “Kenapa kamu masih disini?” tanya Anaya pada pria yang saat ini tengah menatapnya.


“Siapa yang mau menyerang mu, hm?” bukannya menjawab pertanyaan dari Anaya, pria itu malah balik bertanya padanya. Wajahnya bahkan sudah memerah seperti kepiting rebus saat melihat apa yang Anaya pakai.


“Apa yang kamu lihat dasar mesum!” Anaya melempar bantal ke wajah Abian dan berhasil ditepis oleh pria itu.


“Siapa yang kamu bilang mesum? Ini kamarku jadi aku berhak melakukan apapun di sini!” teriak Abian. “Dan itu, kenapa kamu memakai pakaian menjijikan itu? Apa kamu pikir aku akan tertarik dengan tubuh jelek mu?”


“Ini, gaun yang mama Luna--”

__ADS_1


“Jangan pernah berharap kamu akan menjadi Nyonya Alfredo, Anaya Anderson! Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu. Dan pernikahan ini hanyalah sebuah kebohongan. Aku menikahi mu karena terpaksa!” Abian menatap Anaya penuh kebencian.


Baginya, semua wanita itu sama. Hanya awalnya saja baik, tapi akhirnya mereka akan menyakitinya lagi dan lagi.


“Kamu pikir aku mau menikah denganmu?” Anaya membela dirinya.


Sungguh, semua kalimat yang Abian ucapkan membuat dadanya sesak dan sakit. Ia bisa menerima perlakuan kasar dari siapapun, tapi tidak jika menghina dirinya seperti ini.


Apalagi yang mencacinya adalah suaminya sendiri. Jika tidak ingin menikah, kenapa Abian menerima perjodohan sialan ini?


“Tidak usah banyak alasan! Ganti baju sekarang!” Abian menjalankan kursi rodanya menuju ke sisi ranjang.


“Aku harus pakai apa?” tanya Anaya.


“Terserah kamu mau pakai apa. Kenapa malah bertanya padaku.”


“Pinjami aku bajumu,” lirih Anaya dengan nada memohon.


“Kamu pikir aku menyediakan pakaian wanita?” Abian mencoba berdiri dari duduknya, hendak berpindah ke atas tempat tidur.


“Biar aku bantu,” ucap Anaya.


“Tidak perlu! Aku bisa sendiri,” tolak Abian. Meski sebenarnya ia sedikit kesusahan.


Biasanya Theo yang akan membantunya. Namun mulai malam ini ia harus terbiasa melakukannya sendiri.


“Kamu tidur di sofa dan aku di ranjang!” ucapnya.


“Ga mau! Aku ga bisa tidur di sofa. Badanku bisa pegal-pegal.” Anaya langsung duduk di sisi ranjang tanpa peduli dengan ucapan Abian.


“Hei, turun dari atas ranjangku! Jangan mengotorinya dengan tubuhmu itu!”


Brugh!


Bukan Anaya namanya jika menurut begitu saja. Gadis itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang empuk milik Abian. Lalu menoleh ke arah Abian dan tersenyum tipis.


“Selamat malam suami ku,” ucapnya seraya mengedipkan salah satu matanya pada Abian dan berhasil membuat pria itu duduk lagi di atas kursi rodanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2