
“Kenapa diam Nay? Aku butuh jawaban kamu sekarang. Tapi, kalau kamu belum siap, aku gak akan maksa.” perlahan, Abian melepaskan pelukannya. “Sial! Terpaksa solo lagi!” gumamnya namun hanya dalam hati. Lalu melangkahkan kakinya perlahan menuju ke kamar mandi.
“Mau aku mandikan?” kalimat Anaya berhasil menghentikan langkah Abian.
Pria itu menelan saliva nya dengan susah payah, tiba-tiba saja pikiran kotor melintas di otaknya. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika mereka berdua melakukannya di dalam sana. “Shits!”
Anaya mendekati Abian, meraih tangan kekarnya lalu meletakkan lengan pria itu ke pundaknya. “Kaki kamu masih belum sembuh ‘kan? Jadi biar aku bantu.”
“Kamu sengaja mancing aku lagi?” satu kalimat sama yang lagi-lagi keluar dari bibir Abian. Pandangannya tertuju pada bibir merah mungil milik Anaya, rasanya ingin ia menggigitnya lalu menyusupkan lidahnya ke dalam sana.
“Mancing apa? Aku cuma mau bantu kamu kok.” sejujurnya jantung Anaya juga tengah berdegup dengan kencang saat ini. Apalagi mengingat ucapan Abian yang ingin meminta hak nya sebagai suami.
Tentu saja, Anaya menolaknya karena belum siap. Tapi, bayang-bayang Luna yang menginginkan seorang cucu membuat gadis itu tidak tega.
Apalagi saat ia tahu kalau Sandra adalah mantan istri Abian. Bagaimana seandainya kalau wanita itu hadir di dalam kehidupan rumah tangga mereka. Anaya takut, Abian masih mencintainya dan ingin kembali padanya.
“Sama aja kamu lagi mancing aku!” ketus Abian.
“Aku belum siap, Abian,” lirihnya. Gadis itu memalingkan wajahnya. Entah apa yang membuatnya belum siap memberikan mahkotanya pada Abian. Meski mereka kini sudah sah menjadi suami istri.
“Kenapa belum siap? Kamu tinggal tiduran aja aku yang beraksi, gampang kok.” celetuk Abian, membuat Anaya mengerucutkan bibirnya kesal.
“Katanya tadi gak mau maksa, kok sekarang beda ngomongnya?” Anaya menatap tajam permusuhan pada Abian. “Ini pertama kalinya buat aku! Katanya kalau yang pertama kali itu sakit” ketusnya.
Abian mendengus kesal. Lalu memijat pelipisnya. “Kamu pikir ini bukan yang pertama buat aku? Lagian kamu ini kenapa percaya aja apa kata orang. Rasakan dulu baru ngomong!”
“Terus mantan istri kamu gimana? Yakin kamu sama dia gak ngapa-ngapain selama ini?” celetuk Anaya.
Susah payah Abian mencoba melupakan pertemuannya dengan Sandra, Anaya malah membuatnya teringat lagi. Bagi Abian perasaannya untuk Sandra sudah mati bersamaan dengan penghianatan yang wanita itu lakukan padanya.
“Gak usah bahas dia, gak penting. Ini tentang aku sama kamu, kenapa malah bahas orang asing?”
“Gak penting kok peluk-peluk!” Anaya masih kesal saat melihat suaminya ini dipeluk oleh wanita lain. Meski Sandra adalah kakaknya, tapi mereka sama sekali tidak memiliki hubungan darah.
__ADS_1
Abian menaikkan salah satu alisnya ke atas. Jangan-jangan ini yang membuat sikap Anaya berubah ketus padanya. Atau Anaya memang melihatnya bersama Sandra tadi saat wanita itu memeluknya.
“Kamu cemburu?” tanyanya.
Anaya mengangkat kedua bahunya acuh. Lalu memapah Abian. “Jadi mandi gak? Kalo gak aku mau ganti baju trus nyiapin makan malam!”
“Gak usah ngalihin pembicaraan.” dengan gerakan cepat Abian menarik tengkuk leher Anaya, lalu mendekatkan wajahnya. Menyambar bibir gadis itu tanpa meminta izin darinya.
Ini adalah pertama kalinya Abian mencium Anaya secara terang-terangan. Padahal sebelumnya ia mencuri ciuman Anaya saat gadis itu sedang tertidur lelap.
Anaya mengerjapkan kedua matanya, bingung harus melakukan apa. Ia masih tidak menyangka kalau Abian akan berbuat nekat seperti ini padanya.
Abian menarik pinggang Anaya, lalu memojokkan gadis itu tembok. Kembali mencium Anaya dengan rakus, sampai membuat bibir mungil itu bengkak karena ulahnya. Tangannya terulur, menyentuh paha mulus Anaya. Perlahan menyingkap bathrobe-nya ke atas.
“Abian, aku belum siap…” lirih Anaya saat tautan bibir mereka terlepas. Ia mendongak dengan mata berkaca-kaca.
Abian mengatur nafasnya yang terengah-engah seraya mengusap sisa saliva di sudut bibir Anaya. “Maaf, aku kelepasan.” lalu dengan cepat masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya sedikit kuat. Meninggalkan Anaya seorang diri.
Brak!
Anaya terus merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa ia dia saja saat Abian menciumnya? Kenapa ia tidak menolaknya?
“Jadi ini rasanya ciuman saat udah halal?” gumamnya. Kemudian merapikan bathrobe nya dan menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.
********
Anaya sudah selesai menyiapkan makan malam tanpa ditemani Rayya. Sahabat sekaligus asisten rumah tangganya itu sedang terbaring lemas di dalam kamarnya karena tidak enak badan.
Anaya duduk di salah satu kursi, menunggu Aiden dan Gavian turun.
Namun, sepertinya mereka sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
“Theo!” teriak Anaya saat melihat Theo berjalan menaiki anak tangga.
__ADS_1
“Ya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Theo. Ia tersenyum dan menghampiri Anaya. Tatapan matanya tertuju pada bekas merah yang terukir di leher gadis itu. “Ternyata tuan ganas juga,” gumamnya lirih.
“Tolong panggilkan Rayya lalu ajak kemari. Sejak kemarin dia gak mau makan. Katanya gak enak badan,” pinta Anaya seraya menyiapkan air putih di dalam gelas.
Theo mengernyit bingung. “Kenapa harus saya Nona? Ada pelayan lain ’kan. Nona minta suruh saja mereka. Saya harus pergi menemui seseorang.”
Theo malas sekali jika harus bertemu dengan Rayya. Selama ini ia selalu menghindar jika berpapasan dengan gadis itu.
Anaya melirik tajam Theo, ia paling tidak suka jika ucapannya dibantah oleh siapapun. “Sekarang atau aku akan–” kalimat Anaya terhenti saat melihat Abian berjalan ke arahnya.
“Sayang…” Anaya berlari menghampiri Abian dan memeluk lengan suaminya.
Kedua mata Theo membola sempurna melihat perubahan sikap Anaya yang tiba-tiba galak seperti Abian dan tiba-tiba manja seperti ini. Perasaannya jadi tidak enak, seakan akan terjadi sesuatu padanya.
Abian berdehem pelan, menyembunyikan rasa gugupnya. Mendengar panggilan sayang dari Anaya membuat banyak kupu-kupu bertebaran di perutnya. “Kenapa? Ada masalah, hum?” Abian mengecup pucuk kepala Anaya lalu beralih pada Theo. “Apa si brengsek itu menyentuhmu?”
Anaya hendak berucap, namun dipotong begitu saja oleh Theo.
“M-mana ada Tuan, saya tidak berani menyentuh Nona. Hanya saja tadi Nona meminta saya untuk membangunkan Rayya. Tentu saja saya menolak karena saya harus pergi menemui seseorang,” jawab Theo.
Anaya dan Abian saling menatap satu sama lain, lalu memalingkan wajah mereka. Keduanya sama-sama gugup, mengingat ciumannya beberapa menit lalu.
“Kalau begitu pergilah, biar aku yang memanggilnya.” Anaya menghentakkan kakinya kesal.
“Aku udah disini Nay,” sahut Rayya, membungkukkan badannya sekilas lalu tersenyum menatap mereka bergantian.
“Aku udah kasih obat buat Rayya. Mudah-mudahan dia segera membaik.” sahut Gavian yang sudah berdiri di samping, namun tatapannya terus tertuju pada satu orang, Anaya.
“Ck! Dasar menyebalkan!” Abian mengepalkan tangannya erat lalu menarik Anaya ke pangkuannya. Hatinya kembali panas melihat keduanya saling melempar senyuman. “Suapi aku!” titahnya.
“Apa kamu bilang?”
“Suapi aku, atau aku gak mau makan!”
__ADS_1
Anaya mendengus kesal. Abian selalu saja berhasil membuat moodnya hancur berantakan.
Bersambung.....