Hasrat Suami Lumpuhku

Hasrat Suami Lumpuhku
Bab 26 Belalai Gajah!


__ADS_3

“S-sayang? Apa yang kamu lakukan disini?!”


Anaya ingin berbalik, namun lagi-lagi Abian menahannya. Pria itu malah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.


“Kenapa lama sekali. Kamu tau, aku bosan menunggumu di dalam sana!” ketus Abian seraya menunjuk kamar milik Anaya yang tidak jauh dari kamar Mario.


“Kamu sengaja ya membuatku kesal karena terlalu lama menunggu? Aku kangen kamu, Nay. Entah kenapa rasanya gak bisa jauh--” kalimat Abian terhenti saat Anaya berbalik dan menarik pipinya. Lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir Abian.


“Uluh uluh, manja sekali suamiku.” Anaya menjauhkan wajahnya, lalu menarik hidung mancung suaminya. “Maaf, aku tadi nemenin ayah bentar. Jangan marah,” lirihnya.


Raut wajah kesal yang sejak tadi Abian tunjukkan berubah menjadi sebuh senyuman. Pipinya merona seketika mendapat perlakuan lembut seperti itu oleh Anaya.


“Mau tidur sekarang atau mau yang lain?” tanya Anaya.


Abian mengernyit bingung. “Apa maksud kata-kata kamu?” tanyanya penasaran. “Kamu gak lagi godain aku ‘kan? Nanti ujung-ujungnya kamu bilang belum siap.”


Abian membopong Anaya. Membawa gadis itu masuk ke kamar lalu menutup pintunya kembali. Tak lupa ia menguncinya supaya tidak ada yang menganggu mereka berdua.


“Sayang, kaki kamu emang udah sembuh? Kok kamu sering banget gendong-gendong gini. Kalau sakit lagi gimana?” Anaya masih melingkarkan kedua tangannya di leher Abian saat pria itu menurunkannya perlahan ke atas tempat tidur.


“Sekarang bukan kakinya yang sakit, tapi belalai gajah aku,” lirihnya seraya mengecup kening, hidung dan bibir Anaya.

__ADS_1


Mengerti kemana arah pembicaraan Abian, dengan cepat Anaya memalingkan wajahnya. Jantungnya kembali berdetak kencang saat kedua manik mata mereka bertemu tadi.


Apalagi Anaya bisa merasakan hembusan nafas Abian yang menerpa wajahnya.


“Tadi ayah nanya sama aku, kapan aku ngasih dia cucu,” ucap Anaya sedikit malu.


“Terus kamu jawab apa?” tanya Abian.


“Aku bilang bakalan ngasih secepatnya. Tapi sejujurnya aku takut kalau harus melakukannya sekarang dan dikamar ini,” jawab Anaya. Kedua matanya mengedar mengelilingi setiap sudut kamar.


Anaya memiliki kenangan yang buruk di rumah keluarga Anderson. Dimana Vania selalu menyakitinya, bahkan menyiksanya tanpa ampun.


Kedua manik mana gadis itu berkaca-kaca. Butiran bening itu akhirnya menetes dari ekor matanya.


Anaya menangis sesenggukan di dada Abian. Tidak mungkin ‘kan ia mengatakan kalau Vania lah yang sudah menyiksanya. Apalagi alasan dirinya masuk rumah sakit waktu itu adalah Sandra.


“Kalau kamu gak mau bilang, aku bakalan cari tau sendiri!” ancam Abian.


“Jangan, sayang. Gimanapun juga mereka keluarga aku. Aku udah maafin mereka.” Anaya mengusap dada Abian. Bermaksud untuk menenangkannya. “Yang terpenting sekarang adalah rumah tangga kita. Aku mau mulai semuanya dari awal sama kamu.”


Abian menarik dagu Anaya agar gadis itu melihatnya. “Kamu serius?”

__ADS_1


“Iya, aku mau belajar jadi istri yang baik buat kamu dan anak-anak kita nanti.” Anaya tersenyum.


Abian kembali memeluk tubuh mungil Anaya dan mendekapnya erat. Sungguh, ia benar-benar merasa menjadi pria yang paling beruntung karena selama satu bulan pernikahan mereka dan sampai sekarang Anaya masih setia berada di sisinya.


Dengan segala tingkahnya yang menyebalkan dan juga sering bersikap ketus padanya.


“Terimakasih sayang. Aku janji gak akan pernah buat kamu nangis. Aku janji akan membahagiakan kamu.” Abian memberi kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala Anaya.


“Udah gak usah kebanyakan janji kayak di sinetron-sinetron ikan terbang! Ujung-ujungnya kamu yang merengek dan nangis, minta aku buat gak pergi ninggalin kamu.” Anaya memukul dada Abian kesal.


“Ih kamu kok gitu aku serius loh.” Abian memberengut.


Anaya terkekeh melihat tingkah Abian yang sedang marah pun terlihat menggemaskan. “Aku bercanda sayang. Udah malam kita bobok yuk.”


“Gimana bisa bobok kalau belalai gajahnya aja masih berdiri tegak gini!” Abian melihat ke bawah.


Anaya menelan saliva nya berulang kali saat melihat sesuatu yang mengembung di balik celana milik suaminya.


“Coba kamu pegang gih.” Abian menarik tangan Anaya dan meletakkannya di sana.


“Abian Alfredo!” geramnya dengan mata melotot tajam.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2