Hasrat Suami Lumpuhku

Hasrat Suami Lumpuhku
Bab 24 Selalu salah


__ADS_3

“Apa kamu bilang? Kamu hamil anak Dion, suamiku?” teriak seroang wanita yang berdiri di ambang pintu. Pipinya memerah menahan amarah, perlahan ia melangkah masuk dengan emosi yang menggebu-gebu di hatinya.


Sontak, mereka bertiga langsung menoleh ke asal suara yang tidak asing tersebut.


Ya, wanita itu adalah Sandra.


Sandra berniat mencari keberadaan Dion. Sudah dua hari suaminya itu tidak pulang ke rumah. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Terakhir mereka bertemu, Sandra memintanya untuk mencari wanita lain yang bersedia mengandung benihnya. Namun, siapa yang menyangka kalau wanita itu adalah adik kandungnya sendiri.


Kesal? Tentu saja.


Jika itu wanita lain, mungkin Sandra akan mengijinkannya. Tapi kenyataannya, Amara yang Dion pilih.


Apa pria itu tidak tahu siapa Amara?


“K–kak Sandra?” lirih Amara. Wanita itu menunduk ketakutan lalu bersembunyi di belakang Vania, yang sedang duduk menenangkan suaminya.


Ketakutan Amara akhirnya terjadi. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan Sandra lakukan padanya sekarang. Apalagi Sandra sudah tahu pria yang menghamilinya.


Kalau tahu akan jadi begini, seharusnya tadi Amara tidak perlu memberitahu Mario yang sebenarnya. Lihat saja, pria paruh baya itu sekarang hampir tak sadarkan diri karena shock.


“Jawab sialan! Kenapa kamu malah diam, hah?!” Sandra mendekati Amara lalu menaik kasar pergelangan tangannya.


“Lepas Kak, sakit!” pekiknya.


“Sekarang katakan dimana Dion!” ucap Sandra.


Amara menggeleng. Lalu ia berkata, “aku bener-bener gak tahu Kak.”


“Bohong! Mana mungkin kamu gak tahu dimana keberadaan suami aku! Bukankah selama ini kamu itu simpanannya, Amara?!” tuduhnya.


Pantas saja akhir-akhir ini Dion lebih sering menghabiskan waktu diluar daripada bersamanya saat wanita itu sedang libur bekerja. Dion selalu pulang dalam keadaan mabuk dan sikapnya berubah tempramental.


Melihat Amara yang diam dan terus mengatakan kalau tidak tahu apapun membuat Sandra geram. Ia menarik rambut Amara dan menampar pipinya berulang kali.


“Rasakan! Ini hukuman buat kamu karena udah berani nusuk aku dari belakang Amara!” Sandra menyeret Amara. “Aku mau kamu gugurkan bayi ini sekarang. Karena aku gak sudi punya anak dari rahim wanita murahan seperti kamu!”


“Gak Kak! Aku gak mau!” ucap Amara. “Aku janji gak akan ganggu rumah tangga kalian berdua. Tapi, ijinkan aku melahirkan dan membesarkan bayi ini Kak.” Amara berlutut dan menangkupkan kedua tangannya di bawah dada. Memohon pada wanita itu.


Vania yang melihat itu, langsung memapah Mario dan mendudukkannya perlahan di sofa. Lalu beranjak menghampiri mereka berdua. “Cukup Sandra! Jangan sakiti adik kamu. Dia gak bersalah, yang salah itu suamimu karena udah—”


“Gak perlu belain Amara, Bu! Wanita murahan ini pantas mendapatkannya!” ucap Sandra. Mendorong pundak Vania agar wanita itu tidak ikut campur urusannya. “Jangan sampai Ibu membuat kesalahan yang sama karena terus membela anak gak tau diri ini!”


Vania diam. Tenggorokannya tercekat. Ia pernah melakukan kesalahan dengan membuang Sandra, hanya karena Sandra adalah anak dari hasil perselingkuhannya dengan mantan kekasihnya. Setelah itu, Vania juga


melakukan hal sama pada Anaya. Yang tak lain adalah anak dari kakak kandungnya.


“Sepertinya sekarang Ibu juga pura-pura lupa ingatan?” cibir Sandra.


Wanita itu menarik Amara dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


“Hentikan itu, Sandra!”

__ADS_1


“Jangan mencampuri urusan ku dan—” kalimat Sandra terhenti saat melihat tangan seseorang mencengkram kuat lengannya. “Berhentilah menyusahkan orang lain!”


“A–abian? Kamu disini?” pekiknya tak percaya melihat pria yang pernah ada di dalam hatinya itu berdiri di hadapannya.


Plak.


Anaya yang sejak tadi ada di samping Abian menepis tangan suaminya dan melirik tajam bergantian ke arah mereka berdua.


“Puas pegang-pegang nya?!” lirih Anaya dengan nada kesal. “Awas aja kalau kamu macem-macem. Bersiaplah malam ini tidur di luar!” ancamnya.


Mata Abian langsung membola dengan sempurna mendengar kalimat ancaman dari Anaya. Tidur di sofa saja membuat seluruh tubuhnya sakit, apalagi harus tidur di luar.


“Nay, dengarkan aku kamu salah paham.” Abian mengabaikan Sandra dan lebih memilih mengejar sang istri.


Tidak dengan Sandra, wanita itu menatap heran ke arah mereka berdua. Bukankah suami Anaya Gavian? Kenapa disini Abian malah terlihat seperti suaminya?


“Sandra, kamu disini?” tanya Gavian. Pria itu tersenyum lalu melewati. Sandra begitu saja.


“Gavi, tunggu!”


“Maafkan aku, Sandra. Kita bisa bicara nanti setelah aku selesai memeriksa keadaan ayahmu.”


Sandra pasrah. Padahal ia ingin sekali menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka berdua.


“Kak…” lirih Amara.


“Diam kamu! Urusan kita belum selesai!” Sandra merogoh ponselnya yang bergetar sejak tadi.


“Katakan, apa kalian menemukannya?” tanya Sandra pada seseorang yang berada di balik benda pipih itu.


“Apa dia bersama wanita lain?” tanya Sandra. Karena jika Dion bersama wanita lain, ia tidak akan segan-segan memukulnya. Padahal ia sendiri yang meminta Dion mencari rahim pengganti.


“Tidak sama sekali nyonya.” jawab pria itu lagi.


“Bagus, awasi saja terus. Jangan sampai kamu kehilangan jejaknya.” perintahnya lalu kembali fokus pada Amara.


Sandra memijat pelipisnya. Ternyata Dion masih setia padanya. Lalu bagaimana dengan Amara? Apa jangan-jangan wanita ini yang menggoda suaminya.


“Dasar bodoh!” ucap Amara dalam hati.


Ular tetap saja ular, tidak akan berubah menjadi seekor kelinci.


*


*


“Gimana keadaan ayah? Dia baik-baik saja ’kan?” tanya Anaya pada Gavian yang baru saja selesai memeriksa keadaan Mario.


“Hanya gejala serangan jantung ringan. Untuk saja kita segera datang. Kalau gak mungkin saja…” Gavian melirik Abian yang saat ini sedang menatapnya tajam permusuhan. Seakan-akan Gavian ingin merebut Anaya darinya.


“Mungkin aja apa? Kenapa gak dilanjut?” Anaya penasaran.

__ADS_1


“Sepertinya ada seseorang yang sedang kepanasan Nay. Ajak dia keluar gih.” Gavian menunjuk Abian dengan dagunya.


Mengerti, Anaya langsung keluar dari kamar Mario dan di susul oleh Abian.


“Tunggu Nay.” Abian melingkarkan kedua tangan kekarnya di pinggang Anaya. “Kamu marah?” tanyanya.


“Udah tau nanya! Dasar gak peka.” Anaya memberontak, berharap bisa terlepas dari Abian.


Bukan Abian namanya jika melepaskan Anaya begitu saja. Pria itu malah membenamkan kepalanya di ceruk lehr Anaya dan menggigitnya kecil, sengaja meninggalkan bekas kemerahan di sana.


“Shh Bian…”


Abian semakin menggigitnya kuat, dan kali ini hisapannya lebih kasar dari sebelumnya.


“Lupa sama panggilan kamu ke aku?”


Seketika Anaya benar-benar lupa kalau ia harus memanggil Abian dengan sebutan ‘sayang’.


“Tapi ini masih di rumah ayah, aku gak bisa—” Anaya berhenti berucap saat tangan Abian sudah naik dan me re mas salah satu gundukan kenyalnya. “Bian!”


“Oh sepertinya istri aku udah mulai bakal ya, hm?!” ucap Abian dengan nada penuh penekanan.


“Bian em maksud aku sayang, tolong lepas!” pinta Anaya.


Abian tersenyum puas. Sekarang pria itu tahu apa yang harus ia lakukan saat Anaya membantah dan tidak menuruti ucapannya.


Lalu dengan cepat, ia mengurai pelukan. Membalik tubuh Anaya agar menghadapnya. “Cium aku.” ucapnya seraya menunjuk bibirnya sendiri.


“Hah?”


“Apa kalimat aku gak jelas buat kamu? Cium aku Nay, cium!” Abian memonyongkan bibirnya ke depan dengan mata tertutup. “Gak usah banyak mikir, kita udah nikah wajah kalau sepasang suami istri itu berciuman.”


“T—tapi sayang, aku belum—”


Cup.


Tak menunggu lama, Abian menempelkan bibirnya ke bibir mungil milik Anaya dan me lu matnya perlahan. Membuat desiran-desiran aneh yang timbul dari tubuh mereka berdua.


“Balas ciuman aku Nay.”


“Aku gak bisa,” jawab Anaya malu-malu.


Abian mendengus kesal. “Ya udah nanti malam aku ajarin caranya. Dasar udik!”


“Apa kamu bilang? Aku udik?” Abian mengangguk lalu menggeleng cepat.


“Dasar nyebelin!” Anaya mendorong dada Abian, lalu pergi meninggalkan pria itu sendirian.


“Salah lagi salah terus. Kenapa pria selalu salah di mata wanita!” gerutu Abian.


Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, sejak tadi ada seorang wanita yang melihat semuanya dengan tangan terkepal erat dan dada sesak.

__ADS_1


“J—jadi selama ini aku salah. Bukan Gavian, tapi Abian lah suami Anaya?” gumamnya.


Bersambung....


__ADS_2