
“Dasar menyebalkan! Kenapa air mata ini terus saja menetes. Kamu tidak boleh menangis Naya. Kamu wanita kuat. Buktinya kamu masih bertahan sampai sekarang ‘kan?”
Anaya berusaha menyemangati dirinya sendiri. Ia kembali menghapus butiran-butiran bening yang sejak tadi mengalir dari kedua sudut matanya.
“Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin kembali ke rumah ayah? Pasti Ibu akan mengusirku dan memintaku untuk tetap tinggal bersama suamiku.”
Anaya kembali termenung. Ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa kehidupan pernikahannya dengan Abian nanti.
“Nona, kenapa anda ada di luar? Disini dingin.” Theo menghampiri Anaya dan berdiri di samping gadis itu.
“Kenapa kamu mengikuti aku? Pergi sana dan biarkan aku sendirian Theo!” pinta Anaya.
Jika sedang sedih seperti ini, Anaya memang selalu menyendiri dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.
“Nona, hapus ingus anda dengan ini. Gaun anda sudah cukup basah untuk menampungnya,” Theo mengulurkan tangannya, memberikan sebuah sapu tangan pada Anaya.
“Kamu pikir aku ingusan?!” kesal Anaya. Bagaimana bisa di saat seperti ini Theo malah mengajaknya bercanda.
“Bisa tidak sehari saja kamu tidak muncul di depanku?!”
“Soal itu, sepertinya saya tidak bisa Nona. Selain menjaga tuan Abian, tugas saya sekarang bertambah satu lagi..,” Theo menatap ke atas, melihat langit malam. Dan kebetulan banyak bertaburan bintang-bintang di sana, “menjaga kalian berdua. Jadi, jangan pernah mengusir atau meminta saya menjauh dari Nona.”
Anaya menghela nafas kasar. Ia bahkan sudah terbiasa pergi kemanapun sendiri tanpa di temani siapapun.
“Terus sekarang kamu mau apa? Jangan bilang kalau pria menyebalkan itu yang menyuruhmu datang kemari agar aku mau masuk ke dalam!”
Theo mengernyit bingung mendengar ucapan Anaya. Lalu memutar tubuhnya. “Pria menyebalkan? Apa yang anda maksud tuan Abian?” Anaya mengangguk sebagai jawaban.
“Kenapa anda bisa berpikir kalau tuan Abian menyebalkan? Padahal anda belum pernah bertemu dengannya.”
Anaya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ucapan Theo memang ada benarnya. Ia asal menyimpulkannya begitu saja seperti apa sikap Abian, tanpa mengenal pria itu luar dalam.
“Ya pokoknya dia itu pria menyebalkan, egois dan tidak bertanggung jawab! Mana ada suami yang meninggalkan istrinya begitu saja setelah menikah?” ketus Anaya, melipat kedua tangan di bawah dada lalu memalingkan wajahnya.
Malas menatap Theo yang lagi-lagi memasang senyum mengejek.
__ADS_1
“Sebelum kecelakaan itu terjadi, tuan Abian adalah sosok pria yang ceria dan manja,” celetuk Theo tiba-tiba.
Reflek membuat Anaya menoleh padanya, “manja?”
“Ya, Nona. Tuan selalu bersikap seperti anak kecil meski usianya sudah dewasa. Namun setelah kecelakaan itu terjadi, sikap tuan berubah drastis. Tuan lebih banyak murung dan selalu menyendiri.” Theo menghela nafas panjang.
“Lalu datanglah nona Sarah, mantan istri tuan. Wanita itu tiba-tiba hadir dalam hidupnya dan berhasil mengambil hatinya. Tak lama setelah itu, mereka memutuskan untuk menikah. Sayangnya di saat malam pertama mereka, nona Sarah--”
Theo tak melanjutkan lagi kalimatnya. Sepertinya ia sudah terlalu jauh menceritakan masa lalu Abian tanpa izin darinya.
“Maafkan saya, Nona.”
“Tidak apa-apa Theo. Aku tahu semuanya, karena Mama Luna sudah menceritakannya saat perjalanan menuju kemari.”
Kedua tangan Anaya terkepal erat. Entah kenapa mendengat cerita tentang Abian dan mantan istrinya membuat Anaya kesal.
“Apa boleh aku meminta sesuatu padamu Theo?” pintanya dengan kedua mata berkaca-kaca.
“Katakan saja Nona. Saya akan membantu sebisa sa--”
“A-apa? Pisah ranjang?” Theo menganga tak percaya dengan permintaan Anaya yang menurutnya tidak masuk akal.
Bukankah seharusnya suami istri itu tidur di ranjang yang sama. Kenapa malah tidur terpisah?
“Tidak Theo, tidak boleh! Kalau mereka sampai pisah ranjang kapan Abian kecil akan segera launching? Aku malah berharap kalau nona Anaya juga bisa membangunkan burung tuan yang sedang hibernasi itu,” gumamnya namun hanya dalam hati.
Theo melirik Anaya yang sepertinya masih menunggu jawaban darinya. “Bagaimana kalau nyonya dan tuan sampai tahu kalian berdua tidak tidur satu ranjang?” tanya pria itu.
“Kalau mereka datang aku akan berpura-pura tidur di kamar Abian. Lagipula mana mungkin Mama mau mengecek kamar tidur kami,” ucap Anaya penuh percaya diri. Gadis itu belum tahu saja seperti apa mama mertuanya. “Gimana?”
Cukup lama berpikir, akhirnya Theo mengiyakan ucapan Anaya dan mengantar gadis itu masuk ke kamarnya. Ralat, lebih tepatnya kamar milik Abian.
“Kamu yakin ini kamarku?” tanya Anaya penuh selidik.
“Iya Nona, ini kamar tuan eh maksud saya kamar Nona Anaya.” Theo langsung menutup mulutnya karena hampir keceplosan.
“Silahkan masuk. Besok saya akan menyuruh sopir untuk membawa pakaian anda kemari. Untuk sekarang, anda pakai saja gaun tidur yang sudah disiapkan oleh nyonya Luna,” kata Theo.
__ADS_1
“Mama sudah menyiapkannya?”
“Ya, Nona. Kalau begitu saya permisi.” Theo pamit pada Anaya dan pergi dari sana.
Gadis itu benar-benar terharu karena mertuanya begitu baik padanya. Berbeda sekali dengan Vania. Bahkan selama mereka tinggal bersama, belum pernah sekalipun Vania membelikan gaun untuk Anaya.
“Besok aku akan menghubungi Mama dan mengucapkan terima kasih padanya.” tak mau berlama-lama di luar, Anaya langsung meraih handle pintu, membukanya dan segera masuk ke dalam.
“Kenapa aku merasa kamar ini ada penghuninya?” lirih Anaya, kedua manik matanya mengedar dan dahinya berkerut. Menerka-nerka apakah memang benar ini kamarnya atau bukan.
“Ah sudahlah, lebih baik aku membersihkan diri. Rasanya tubuhku lengket dan berkeringat.”
Anaya duduk di depan meja rias. Kedua tangannya terangkat, mencoba untuk melepaskan resleting gaun bagian belakangnya.
Namun sepertinya gadis itu mengalami sedikit kesulitan.
“Kenapa susah sekali sih. Semua gara-gara kak Amara yang menyuruhku memakai gaun jelek seperti ini. Sempit dan membuatku susah bernafas!” kesalnya. Entah ada angin apa, tiba-tiba Amara memberikan perhatian padanya.
Cukup lama Anaya berusaha, tapi resleting gaunnya masih berada di posisi yang sama dan tidak bergerak sama sekali.
“Apa sebaiknya aku memanggil Theo dan meminta bantuannya? Ya, mungkin lebih baik aku memanggilnya dan--”
Sret!
Tiba-tiba saja sebuah tangan menyentuh punggung Anaya dan menurunkan perlahan resleting gaunnya hingga sampai ke pinggang.
Terlihatlah kulit putih mulus milik gadis itu.
“Haruskah Theo yang melakukannya sedangkan aku ada di sini?” suara bariton milik seorang pria terdengar, membuat Anaya merinding seketika.
“S-suara ini…” Anaya menelan saliva nya dengan susah payah, mengingat suara yang pernah ia dengar tepat saat dirinya terjatuh dan memegang tongkat sakti seseorang.
“Ga! Ini ga mungkin!” teriak Anaya tertahan.
“Apanya yang tidak mungkin, gadis cengeng?” lirihnya tepat di samping telinga Anaya.
Bersambung...
__ADS_1