Hasrat Suami Lumpuhku

Hasrat Suami Lumpuhku
Bab 29 Kedatangan Dion


__ADS_3

Setelah mengetahui kenyataan kalau Abian tidak impoten, Sandra memutuskan untuk mendekatinya. Namun, Abian sepertinya terus menjaga jarak dengannya. Terlebih lagi, Anaya selalu ada disamping pria itu setiap detik.


Pagi ini saja, mereka terlibat perang dingin fi meja makan. Drama sarapan pagi, dimana Sandra mencoba untuk melayani Abian layaknya seorang istri. Tapi, tiba-tiba saja Anaya berdiri di depan Abian dan menganggap seolah-olah Sandra itu adalah penjahat.


“Mau apa?” tanya Anaya dengan berkacak pinggang, menatap Sandra dengan sorot mata tajam.


“Masih nanya? Aku ingin memberikan ayam goreng pada Abian. Dia menyukainya apalagi di bagian paha.” Sandra tersenyum malu-malu, otak kotornya mulai berpikir yang tidak-tidak.


“Suamiku sudah tidak menyukai paha ayam sejak menikah denganku, tapi bagian dada. Karena lebih banyak dagingnya dan enak saat di gigit!” Anaya menjawab ucapan Sandra dengan wajah ketus.


Uhuk!


Abian yang sedang menyesap teh hangat buatan Anaya langsung tersedak. Air teh yang keluar dari mulutnya itu membasahi wajah Theo, yang tepat berada di sampingnya sejak tadi.


“T–tuan, apa yang anda lakukan?” geram Theo tertahan.


Pria mengusap wajahnya lalu diam, sama seperti Abian yang sedang memperhatikan dua orang wanita dewasa sedang beradu mulut hanya karena paha dan dada ayam.


Kebetulan di meja makan tidak ada kedua orang tua Anaya. Karena pagi-pagi sekali mereka pergi ke rumah sakit bersama Amara. Berniat untuk memeriksakan keadaan wanita itu, sejak semalam Amara terus saja mual dan muntah.

__ADS_1


“Aku sudah kenyang!” bukan Anaya atau Sandra yang bicara, melainkan Abian. Ia meminta Theo untuk membantunya berjalan ke kamar. Meninggalkan kedua wanita berisik itu.


Baru saja akan melangkah, Abian dikejutkan dengan hadirnya seseorang saat ini sedang berdiri di hadapannya. Pria yang sangat Abian kenali. Dion, suami Sandra, sekaligus pebinor yang hadir di tengah-tengah rumah tangga pernikahan mereka.


“Selamat pagi, Abian.” Dion mengulurkan tangannya, berharap kalau Abian akan membalasnya.


Nyatanya, Abian berlalu begitu saja mengabaikan Dion dan berjalan melewatinya. “Bawa istrimu itu pergi dari ini, sebelum aku yang mengusirnya!” ancam Abian lalu kembali melangkah pergi.


Dion tersenyum tipis, karena memang kedatangannya sepagi ini untuk menjemput Sandra. Pandangannya tertuju pada dua orang wanita yang saling menatap tajam penuh permusuhan di seberang sana.


“Lihat, suamimu sudah datang, Kak. Segeralah pergi dan berhenti mengganggu suamiku!” Anaya bangkit.


Anaya mendengus kesal. Apa wanita yang ada di depannya ini tidak peka?


“Sudahlah, aku malah berdebat dengan Kakak. Membuat mood pagiku jadi berantakan saja!” Anaya menyusul Abian dan masuk ke dalam kamarnya. Sengaja membiarkan Sandra dan Dion berduaan.


“Sayang, ijinkan aku menjelaskan semuanya padamu. Aku dan Amara, kami tidak--”


“Cukup! Aku sedang malas mendengar penjelasanmu, Dion. Jika kedatanganmu kemari hanya untuk itu maka pergilah. Karena aku tidak berminat!” Sandra mendorong dada Dion, meminta agar pria itu menyingkir dari hadapannya.

__ADS_1


Kedatangan Sandra ke rumah ini karena khawatir dengan keadaan ayah tirinya. Siapa sangka, ia malah bertemu dengan Abian. Yang membuatnya harus mengetahui kenyataan pahit, kalau mantan suaminya menikahi adik tirinya, Anaya.


“Kamu mau kemana?” Dion menarik pergelangan tangan Sandra, menahan wanita itu agar tidak pergi.


“Lepaskan! Bukankah beberapa hari ini kamu lebih suka meninggalkan aku sendirian, Dion? Lalu kenapa sekarang kamu menahan ku dan memintaku untuk tidak pergi kemanapun?” ucap Sandra dengan dada naik turun menahan emosi. “Oh, atau jangan-jangan kamu berniat untuk menikahi Amara? Bertanggung jawab pada bayi yang sedang ia kandung saat ini, begitu?”


Dion menggeleng, ia datang kemari karena merindukan Sandra. Kepergiannya beberapa hari ini hanyalah untuk menenangkan diri. Merenungi kesalahannya yang tidak sengaja meniduri Amara dalam keadaan mabuk dan tak sadarkan diri, juga memaksa Sandra melahirkan keturunan untuknya.


“Maafkan aku,” lirihnya.


Sandra diam tanpa menjawab ucapan Dion.


“Kita pulang ke rumah, aku janji tidak akan lagi menuntut mu untuk memiliki seorang anak. Aku juga akan bicara pada orangtuaku. Aku memilihmu, sayang. Pulang ya...” Dion menarik pundak Sandra, agar mereka berdua saling berhadapan.


Sesaat kemudian, Dion langsung memeluk Sandra yang terlihat pasrah dengannya.


“Lalu bagaimana dengan bayi ini, Kak?” ucap Amara yang baru saja masuk dan melihat mereka berdua berpelukan mesra.


Bersambung... Maaf kalau banyak typo akan aku perbaiki pelan-pelan🤭

__ADS_1


__ADS_2