Hasrat Suami Lumpuhku

Hasrat Suami Lumpuhku
Bab 20 Masa Lalu


__ADS_3

Sandra keluar dari ruangan Dokter Andre dengan wajah murung. Wanita itu menghapus butiran bening yang terus menetes dari sudut matanya.


“Sekarang aku harus gimana? Apa aku minta cerai saja sama Dion dan kembali pada Abian?” gumamnya. “Gak! Aku gak yakin Abian mau menerimaku lagi, apalagi setelah apa yang sudah aku lakukan padanya.”


Sandra terlihat berantakan sekarang. Sungguh wanita itu benar-benar menyesal karena sudah menyakiti Abian. Jika tahu seperti ini, dia akan tetap mempertahankan Abian dan berselingkuh dengan Dion.


Meski Abian tidak berguna sekalipun, hartanya masih bisa untuk dimanfaatkan. Tidak punya anak bagi Sandra tidak masalah. Yang wanita itu butuhkan adalah uang, untuk menunjang hidupnya juga masa depannya.


Sandra tetaplah Sandra, wanita licik yang bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


“Lebih baik aku menemui Abian. Aku dengar dia masih sendiri sampai sekarang. Dan aku yakin itu pasti karena dia masih mencintaiku.” Sandra tersenyum bangga. Berharap kalau setelah mereka bertemu Abian mau kembali padanya dan tentu saja ia akan menduakan Dion.


Sandra terus berjalan menyusuri lorong yang cukup sepi itu. Karena waktu sudah hampir mendekati malam, ia mempercepat langkah kakinya.


Hingga tanpa sengaja, Sandra yang masih fokus pada ponselnya menabrak seseorang. Membuatnya terhuyung ke belakang, namun segera ditangkap oleh pria itu.


Sandra mendongak, bermaksud melihat siapa yang sudah menolongnya.


Kedua matanya membulat sempurna, pria yang baru saja ia bayangkan sudah ada di depan mata. Ya, siapa lagi kalau bukan Abian.


Pria itu menahan nyeri di kakinya, akibat menahan beban tubuh Sandra terlalu lama. Mengetahui siapa wanita yang ada di depannya ini, Abian langsung melepaskan rengkuhannya begitu saja.


“Aww! Abian Alfredo! Apa yang kamu lakukan hah!” pekik Sandra.


Abian terdiam tanpa melirik Sandra ataupun membantunya sama sekali. “Menyingkir dari hadapanku!” ucapnya ketus.


“Bantu aku berdiri dulu, Abian!” Sandra mengulurkan kedua tangannya, namun abaikan begitu saja oleh Abian.


Kesal, tentu saja. Setelah sekian lama tidak bertemu, Abian mengacuhkannya dan bahkan menjatuhkannya ke lantai begitu saja. Sesuatu yang tidak akan pernah Abian lakukan dulu, menyakitinya.


“Cih. Kamu punya kaki dan tangan ‘kan. Gunakan itu untuk berdiri!” Abian kembali berjalan.


“A-apa kamu bilang?” Sandra baru sadar kalau saat ini mantan suaminya itu sudah berdiri dengan kedua kakinya. Masih sama, tampan dan menggoda. Hanya saja impoten! “Sial, sejak kapan dia terlihat mempesona seperti ini. Bahkan saat bersamaku dulu dia sangat membosankan dan tidak tahu caranya berpakaian rapi,” gumamnya, namun hanya dalam hati.


Terdiam cukup lama, Abian langsung meminta Theo untuk membawanya pergi dari sana. Sepertinya kedua kakinya tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. “Theo, cepat bantu aku,” ringisnya pelan.

__ADS_1


Mengerti, Theo langsung memapah Abian. “Pelan-pelan Tuan. Saya sudah bilang pada anda untuk menggunakan kursi roda, bukan? Karena anda belum pulih sempurna. Kenapa anda ngeyel.”


“Berisik kamu Theo! Memangnya aku minta pendapatmu hah!”


Keduanya saling beradu pendapat seperti biasa dan menganggap kalau Sandra seakan-akan tidak ada di sana.


“Kurang ajar, mereka mengabaikan wanita cantik sepertiku?” lirihnya, lalu berdiri merapikan gaunnya.


“Kalian tunggu! Kenapa mengacuhkan aku seperti ini?” Sandra menghalangi mereka berdua. “Aku merindukanmu Abian. Apa kamu--”


“Singkirkan wanita ini dari hadapanku Theo!” perintahnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding yang ada di belakangnya.


“Baik Tuan.” Theo melakukan apa yang Abian perintahkan, menarik pergelangan tangan Sandra lalu menyeretnya.


“Lepaskan aku Theo! Aku ingin bertemu mantan suamiku!” Sandra terus memberontak, bahkan berteriak seperti wanita tidak waras. “Abian, kumohon maafkan aku. Kita bisa bicara baik-baik ‘kan dari hati ke hati.”


“Jangan mempersulit pekerjaan saaya Nyonya Wijaya!”


Deg.


Seketika Sandra langsung terdiam saat Theo memanggilnya nyonya Wijaya. Jadi selama ini Abian tahu kalau dirinya sudah menikah lagi?


“Shits! Wanita bar-bar!” pekik Theo.


***


***


“Kamu mau pulang hari ini? Yakin udah mendingan?” Gavian memeriksa keadaan Anaya untuk terakhir kalinya. Memastikan kalau gadis itu baik-baik saja.


Anaya menganggukkan kepala, “Ya, aku baik-baik aja.”


“Kamu masih saja keras kepala, sama seperti dulu Aya.” Gavian terkekeh seraya melirik Anaya. Baginya, dari dulu sampai sekarang Anaya masih gadis yang sama. Sederhana dan tidak neko-neko.


“Ya, keras kepala sama seperti kak Sandra,” celetuknya.

__ADS_1


Ucapan Anaya berhasil membuat Gavian tak bisa berkutik. Wajah pria itu memucat, “Kenapa jadi bahas Sandra. Aku ‘kan lagi ngomongin kamu Aya.”


“Berhenti panggil aku Aya! Aku gak mau buat suamiku salah paham karena panggilanmu itu padaku!” ketusnya. Anaya hendak menapakkan kakinya ke lantai, namun dengan cepat Gavian meraih tangannya. “Rayya, bantu aku!”


“Ya, Nay.” Rayya berjalan mendekati Anaya dan memapah gadis itu.


Sedangkan Gavian, menarik kembali tangannya dan tersenyum tipis. Ia mengurungkan niatnya yang ingin bicara empat mata dengan Anaya, karena ada Rayya.


“Biar aku aja yang bawa barang-barangnya,” ucap Gavian dan diangguki oleh Rayya.


“Kami permisi ya Dok.”


“Hati-hati.”


Rayya mengangguk, lalu mengajak Anaya keluar menuju ke lobby dimana Luna dan Darrel sudah menunggu mereka.


“Kamu kenapa sih pake nyautin Gavian?”


“Kenapa, kamu cemburu Nay?” sindir Rayya menyenggol pelan lengan Anaya.


“Gak lah! Udah masa lalu.”


Langkah mereka berdua terhenti saat melihat seorang pria dan wanita sedang bertengkar di seberang sana. Jantung Anaya membuncah hebat, apalagi pria dan wanita itu sangat ia kenali.


“Kak Sandra, Abian...” gumamnya lirih.


“Kenapa berhenti Nay? Buruan, tuan sama nyonya sudah--” kalimat Rayya terhenti saat melihat kemana kedua mata Anaya tertuju. “Loh itu bukannya Tuan Abian ya, terus wanita yang meluk-meluk dia siapa Nay?” Rayya melirik Anaya.


“Mana aku tahu, ngapain kamu nanya sama aku!” jawabnya ketus. “Udah ah, ngapain ngurusin mereka. Aku mau pulang, istirahat!” Anaya berbalik, memilih melewati jalan lain. Malas berpapasan dengan mereka berdua.


Seketika, Anaya mengingat ucapan Luna. Jika Abian pernah menikah dengan seorang wanita bernama Sandra. “Gak mungkin ‘kan wanita itu Sandra yang sama. Jika ya, berarti…” lagi, tangan Anaya terkepal erat.


Entah kenapa melihat mereka berdua membuat Anaya kesal. “Dasar buaya darat kelas kakap! Buat apa minta aku mengulang semua dari awal jika dia sendiri saja belum bisa move on dari mantan istrinya.”


Tak mau ambil pusing, Anaya memilih masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Rayya yang masih berjalan di belakang sana seorang diri.

__ADS_1


“Astaga Naya, kamu itu kenapa sih,” gerutunya kesal. Lalu masuk ke mobil yang berada di belakang mobil Anaya.


Bersambung...


__ADS_2